Laman

Selasa, 05 Maret 2013

We are destined to do great things

Being forced to read a lot of biography of great names since I was kid
probably is one of the reason why I become so idealistic. Seperti anak
kecil kebanyakan di tahun 80-90an, gue termasuk yang suka banget
dengan komik-komik jepang atau novel-novel pre-teen seperti karangan
R.L. Stine & Enid Blyton. Tapi bokap gue yang juga udah punya penyakit
idealis, "memaksa" gue untuk ngebuka wawasan bacaan gue lebih luas.
Setiap weekend gue dibawa ke toko buku dan diijinkan untuk beli buku
apa pun yang gue suka dengan catatan, gue beli satu buku lain yang
berupa Novel atau biografi orang-orang terkenal. It was an annoying
"job" at first, yang penting gue bisa beli komik atau buku horror
kesukaan gue. Tapi pas gue kehabisan bahan bacaan dan gatel pingin
baca, buku-buku sampingan yang awalnya cuma jadi syarat itu akhirnya
gue baca juga. Perlahan Mithya kecil mulai belajar beberapa hal yang
selalu terjadi berulang-ulang di kehidupan nama-nama besar itu. Untuk
mencapai mimpi, butuh kerja keras.

Ngga hanya sekedar kerja keras banting tulang. Kerja keras di bidang
yang lo punya passion. Yang lo cinta mati. Harus siap menerima juga
kalau yang namanya mimpi dan kerja keras itu pasti bakal menemukan
jutaan masalah dan kegagalan. Who are we to say ketika setelah lusinan
kali gagal, artinya itu jalan buntu? Contoh tokoh yang paling sering
disebut namanya untuk motto sukses, Om Thomas A. Edison yang gagal
RIBUAN kali tapi ngga pernah nyerah. Kalau dibayangin, setelah
kegagalan ke-125 mungkin gue bakal mikir, Udah ah! Ngga mungkin nemu
bahan yang tepat! Mungkin bahannya baru bisa ditemukan 10 tahun lagi,
atau 100 tahun lagi.

Beranjak dewasa, untuk mengerti "mencapai mimpi, butuh kerja keras"
ini penuh proses trial dan eror. Ngga jarang gue berpikir gue udah
cukup usaha. Ngga jarang gue berpikir kalau gue harus dapet mimpi itu
secepat mungkin, saat ini juga. Perlu waktu untuk sadar dan diingatkan
berkali-kali baik oleh diri sendiri maupun orang-orang terdekat kalau
usaha itu ngga ada mati-nya. Kalau mimpi itu, asal diberi umur panjang
sama yang kuasa, mungkin masih bisa diraih pada waktunya.

Pelan-pelan. Gue belajar meraih cita-cita dari yang terkecil,
terendah, dan sejujur mungkin. Kalau mimpi yang super besar itu belum
bisa teraih, coba cari substitusinya, coba cari bentuk terkecilnya.
Gue menulis ini karena seminggu ini gue sadar kalau gue percaya dengan
kalimat "You are destined to do great things". Every single human
being in this planet is destined to do so. "Great" disini ngga harus
berarti menemukan obat kanker. Mana kita tahu kalau dulu mungkin
Edison pernah kecelakaan waktu kecil, luka parah, dan ada satu orang
yang bantu dia sembuh dari lukanya. Satu orang itu mungkin berpengaruh
secara psikologis ke Edison dan bikin dia jadi orang seperti yang kita
kenal. Ngga pantang menyerah. Atau ngga perlu berpengaruh secara
psikologis, ngebantu Edison untuk sembuh aja dan ngga mati (mengingat
pada jaman dulu bakteri bisa dengan mudah membunuh), orang ini udah
ngasih jalan ke Edison untuk tetap hidup dan jadi penemu lampu bohlam.
Ini cuma ngayalnya gue aja, tapi ya maksud gue gitu de, hehe.. Ngga
ada yang terlalu kecil dalam doing "great" things. Bayangin kalau
apalagi kita memang niatnya membuat perubahan. Wuih, bayangin setengah
dari populasi Indonesia punya motivasi untuk membuat perubahan.
Sekecil apa pun. Ke keluarga mereka, ke teman, ke orang asing.

Dari situ gue teringat, itu salah satu tujuan gue ngebuat blog ini
sama Lushka. Untuk berbagi cerita supaya siapa tahu bisa jadi
pelajaran untuk siapa pun yang lewat dan baca. Keburukan kami bisa
untuk dihindari dan mungkin kalau ada yang baik-baik bisa jadi contoh.
Kalau gue sama Lushka ngeselin, mungkin ada yang berpikir "ih,
amit-amit gue jadi orang kayak Mithya dan Lushka". Alhamdulillah…orang
itu bisa jadi terhindar dari sifat buruk haha..Dengan "sekedar"
menulis di blog, gue ngerasa udah berbuat sesuatu. Terutama ketika
dapet email-email dari yang baca dan mereka bilang makasih atas
tulisan-tulisan kami atau sekedar mencari teman atau sekedar mencari
sesama queer yang bingung mau ngapain sama gebetan yang ngga jelas
straight atau queer hihi..Kami mau menyampaikan terima kasih
sebesar-besarnya.

Blog ini adalah salah satu bentuk idealisme gue dalam mencapai mimpi.
I am destined to do great things, no matter how small it is. Everyone
does. And thanks for sharing, for reading, for being our friends, and
jadi orang-orang hebat versi kalian sendiri.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

oh. same here .. masa kecil gw jg penuh bacaan tentang tokoh - tokoh dunia .. karena bokap juga maunya beliin buku yang kayak gitu ..

edison itu kalau di biografi yang gw baca. dia itu dihomeschool sama nyokapnya soalnya dia dianggap mentally slow sm guru sdnya ..

mungkin kalau gak di homeschool si edison ini mungkin akan masuk smp lalu sma terus naksir sama temen smanya dan sibuk ngarang lagu dan berujung jadi penyanyi dangdut #nggaknyambung ..

intinya si guru sd ini jg ada peran penting dong .. hehe ..

anyway , ngerasa gak kalo biografi tokoh2 itu untuk bacaan anak2 dan biografi aslinya sangat2 banyak dieditnya ..

misal soal edison yang stealing credit for some of his 'inventions' , hehe

g

Mithya mengatakan...

Haha iya intinya gitu. Pokoknya jangan mengecilkan bentuk apa pun dari semua perbuatan kita/orang lain. Nyokapnya juga berarti ngga nyerah tuh sama Edison.

Iya, kalau untuk anak-anak sih pasti banyak yang diedit. Diambil bagus-bagusnya aja. Kesannya jadi agak tipu-tipu sih hehe, tapi ya memang harus disaring kan ya kalau untuk ukuran usia si anak beum mampu mencerna dengan baik.

thanks for dropping a comment, G ^^ semoga masih suka baca-baca buku biografi