Halaman

Kamis, 06 November 2014

When an episode of a stupid teen drama TV show about vampires hit you right in the feels

Setelah nonton The Vampire Diaries S06E05 jadi mellow parah dan kebetulan iTunes shuffle lagu yang nendang banget sama perasaan gue sekarang.

Well, I'll wait till you listen
I wont say a word
to follow your instincts
would just never worked for me
you're silent but strong, (yeah, I'm playing that card)
and you're noticing nothing again

Now I'm lying on the table
with everything you said
keep that in mind the way that it felt
when the most I could do was to just blame myself

(Feel it out for once and feel nothing like everyone else)
when the most I could do was to just blame myself
and I know you know, everything
I know you didn't mean it
I know you didn't mean it

I know you know, everything (drop everything)
I know you didn't mean it (start it all over)
I know you didn't mean it (remember more then youd like to forget)

So, we're talking forever
and you almost feel better
but, betters no excuse for tonight
you see, it's never bad enough
to just leave or give up
but, its never good enough to feel right

Now I'm lying on the table
with everything you said
it will all catch up eventually
well, it caught up and honestly
the weight of my decisions
were impossible to hold
but they were never yours
they were never yours

Drop everything, start it all over
remember more then you'd like to forget [x2]


Would you like to forget?
would you like to forget?
drop everything, start it all over
well, drop everything start it all over (would you like to forget)
drop everything start it all over
start it all...

This Photograph is Proof (I Know You Know) by Taking Back Sunday

Selasa, 28 Oktober 2014

Yeah.

marketer always has something to celebrate, even if it doesn't relate.
I have subscribed to so many online shop and from their newsletter, you can see, they celebrate weekday or weekend or any little fucking things.
I kinda envy them, the online shop I mean, they never failed to make a-day so meaningful and ask you to celebrate with them and of course...empty your wallet. 
By then.....they will be happier. 

Jumat, 10 Oktober 2014

Kalau bukan gue (kita), siapa lagi?

Pasti temen-temen udah pada denger tentang kasus pembunuhan seorang perempuan Transgender di Australia beberapa hari yang lalu. Sedihnya, pembunuh perempuan itu ngga lain suami/tunangannya sendiri (setiap artikel penjelasannya beda-beda) yang berwarga-negara Australia. Atas dasar ngga bermaksud untuk membawa berita kasus ini makin dibicarakan untuk alasan yang salah, gue ngga akan nyebut nama korban atau detil pembunuhan..

Mungkin kalian sendiri juga udah terekspos dengan berita kasus ini baik melalui facebook maupun twitter. Yang memprihatinkan adalah komentar-komentar yang ditujukan kepada si korban. Atas dasar identitas seksualnya, banyak yang langsung menghujat kalau pembunuhannya terjadi ya karena korban seorang transgender. Mulai dari asumsi bahwa si suami/tunangan melakukan pembunuhan karena ngga tau korban dulunya seorang pria sampai mengatakan kalau pembunuhan itu merupakan bentuk azab dunia. Seriously people!? WOW.

Fortunately, di antara banyaknya artikel yang isinya cukup netral gue nemu satu artikel yang membahas tentang kejamnya komentar-komentar di internet tentang perempuan ini. Awalnya gue ragu untuk share karena banyak temen-temen gue sendiri di facebook yang kasih komentar negatif selama beberapa hari. Akhirnya gue beraniin diri dan share artikel tersebut di halaman facebook gue.

Siang ini Queen Alien ngeliat postingan tersebut dan kaget. Dia bilang, "Kamu ngapain sih naro-naro artikel kayak gitu di facebook? Nanti kamu dikira orang aneh."

Again, seriously?? Aneh karena nanti dikira gue juga transgender? Jadi artinya transgender itu orang aneh?

Gue ngga pake jeda langsung jawab, "Menurut Mithya artikel itu penting untuk di-share. Orang ngga boleh sembarangan komentar jahat tentang korban pembunuhan kalau ngga tau apa-apa."

Queen Alien ngejawab lagi dengan logikanya yang sangat judgmental,"Tapi kan dia...PSK..kelas atas?"

Gue ngga kaget sama sekali dengan komentar nyokap gue karena apa yang dia sebut ya tepat kenapa gue share artikel itu. Gue jawab lagi,

"Jadi orang boleh komentar tentang orang lain layaknya mereka pribadinya lebih baik dari si korban? Ma, Mithya itu bidangnya di Psikologi. Mithya kerjaannya ya ngurus dan ngelindungin orang-orang seperti mereka. Kalau bukan Mithya, siapa lagi?"

Selesai ngomong itu, gue langsung ngerasa deg-degan karena dengan segala prejudis dan (sedihnya) topik transgender di lingkungan kita yang sangat tabu gue ngerasa kayak baru ngelawan ribuan orang. Sama seperti ketika gue memutuskan untuk share artikel itu.

Tanpa bermaksud terdengar seperti orang Jumawa, jujur gue ngerasa bangga bisa stand up atas apa yang gue percaya benar. Because man, it was scary for me! Ngomong panjang lebar di twitter atau di blog anonimus tentang hal ini jauh lebih mudah daripada ketika gue harus berbicara di depan seseorang yang gue kenal. Ternyata mencoba untuk merubah sesuatu yang menurut kita ngga bener hanya "semudah" menekan tombol "share" di facebook atau speak up. Ketika gue bilang, "kalau bukan gue, siapa lagi" bukan berarti gue satu-satunya yang bisa melakukan ini. Tapi memang kalau bukan dari diri kita pribadi yang dengan berani memulai...apa kalian masih terus mau ngarep seumur hidup orang lain yang berubah tanpa ada pencetus? =)

Have a goodnight, Queers!


Senin, 01 September 2014

Kepada segenap rekan-rekan pengemudi sekalian...

Suka gemes sama semena-mena bawa kendaraannya.
Ini tolong dibaca PP No.43/1993   dan UU No 22/2009 untuk menjadi pedoman mendahului/menyalip kendaraan lain dan penggunaan lajur jalan. 

Untuk hak bis sekolah, penyeberang jalan, pengguna sepeda, itu sudah ada aturannya lho. Jadi kalo cukup cerdas untuk mengemudikan kendaraan, harusnya juga punya kemampuan untuk mematuhi aturan. 


----------------------------------------------
Peraturan Pemerintah No. 43/1993, tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan terdapat cara mendahului (yang baik dan benar).

Pasal 52
(1) Pengemudi yang akan melewati kendaraan lain harus mempunyai pandangan bebas dan menjaga ruang yang cukup bagi kendaraan yang dilewatinya.
(2) Pengemudi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), mengambil lajur atau jalur jalan sebelah kanan dari kendaraan yang dilewati.
(3) Dalam keadaan tertentu pengemudi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dapat mengambil lajur atau jalur jalan sebelah kiri dengan tetap memperhatikan keselamatan lalu lintas.
(4) Keadaan tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) meliputi: 
    a. lajur sebelah kanan atau lajur paling kanan dalam keadaan macet;
    b. bermaksud akan belok kiri.
(5) Apabila kendaraan yang akan dilewati telah memberi isyarat akan mengambil lajur atau jalur jalan sebelah kanan, pengemudi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), pada saat yang bersamaan dilarang melewati kendaraan tersebut.

Pasal 53
Pengemudi harus memperlambat kendaraannya apabila akan melewati:
a. kendaraan umum yang sedang berada pada tempat turun-naik penumpang;
b. kendaraan tidak bermotor yang ditarik oleh hewan, hewan yang ditunggangi, atau hewan yang digiring.

Pasal 54
(1) Pengemudi mobil bus sekolah yang sedang berhenti untuk menurunkan dan/atau menaikkan akan sekolah wajib menyalakan tanda lampu berhenti mobil bus sekolah.
(2) Pengemudi kendaraan yang berada di belakang mobil bus sekolah yang sedang berhenti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib menghentikan kendaraannya.

Pasal 55
Pengemudi dilarang melewati :
a.  kendaraan lain di persimpangan atau persilangan sebidang;
b. kendaraan lain yang sedang memberi kesempatan menyeberang kepada pejalan kaki atau pengendara sepeda.


*****
Undang-Undang No 22 Tahun 2009 Lalu Lintas dan Angkutan Jalan 

Pasal 108, ayat  3
"Sepeda Motor, Kendaraan Bermotor yang kecepatannya lebih rendah, mobil barang, dan Kendaraan Tidak Bermotor berada pada lajur kiri Jalan."

 108 ayat 4 
"Penggunaan lajur sebelah kanan hanya diperuntukkan bagi Kendaraan dengan kecepatan lebih tinggi, akan membelok kanan, mengubah arah, atau mendahului Kendaraan lain."

***
Demikan disampaikan
Wahai kalian semua yang belum patuh aturan, berubahlah. 
Wassalam.

Jumat, 22 Agustus 2014

=)

Depression tells you there's no way out but it LIES.
 
Remember that. Depression lies. Depression tells you it is forever.
 
Depression tells you that you are worth nothing. But it lies.
 
It's the hardest thing you'll ever do, but stay strong.`

Rabu, 25 Juni 2014

Ga jadi lucu.

Gue semalem baru nonton "Cahaya dari Timur - Beta Maluku" (harus nontooon), sangat menginspirasi dan menghibur. Senang ngeliat anak-anak muda berjuang melawan trauma akibat konflik dengan olah raga.

Gue ga akan ngebahas kualitas film lebih jauh, gue yakin udah banyak yang nulis review dengan lebih mumpuni.

Semalem gue terhenyak di adegan Salembe ( Bebeto Leutally) mengelus photo mendiang ayahnya, juga saat Jago menantang Salembe apakah dia juga tahu rasanya kehilangan seorang ibu saat kerusuhan.

Di saat itu gue teringat sama satu cerita di Jogja di tahun 2000-an awal. Gue sampai kemarin masih nyengir dalam hati kalau inget, tapi semalam menjadi ga lucu lagi.

Tentang seorang anak Ambon kelas 2SMP, yang dengan kekritingannya itu, juga legam kulitnya, selalu ceria. Satu hari ia tercenung di kelas, ditanya sama temannya, "kowe ngopo kok meneng wae" - kamu kenapa kok diam saja, si keriting menjawab "be rindu, beta pu mama" jawabnya polos dengan logatnya yang kental. Gue ketawa waktu diceritain, mukanya keras tapi kok mellow. 
Atau saat dia pergi ke kantin terus mau jajan permen, ke Ibu Kantin dia bilang "mama, mau beli gula-gula kaki". hahaha


Si Ambon ini adalah teman sekelas dari sodara sepupu jauh gue, Joy. Saat itu, seperti kita tau Ambon baru ada kacau (baca dengan logat Indonesia Timur), anak anak dari pengungsian ini, yang tercerai berai dari keluarganya, oleh beberapa relawan, atas seijin keluarganya di bawa ke Jogja demi keamanan, kesehatan dan agar mereka bisa tetap sekolah.

Si anak Ambon (damn! gue lupa namanya. Maafkan kaka, ye) adalah salah satu dari anak anak pengungsian.  Ayahnya konon sudah meninggal, Ibunya masih di Ambon. 
Sampai kemarin, cerita tentang anak ini lucu. Tapi berhenti sampai tadi malam. Pasti sakit sekali terpisah dari keluarga, memendam rindu pada bunda, tak berdaya. 

Berapa banyak anak yang mati sia-sia karena konflik yang ia tidak mengerti sebabnya, berapa anak yang menyimpan dendam dan amarah dan terbunuh masa depan karenanya. Berapa banyak Ibu atau Ayah yang tidak lagi bisa menautkan jemari ke tangan anaknya dan membisikan doa-doa kala malam. 

Ga ada yang lucu dari konflik. Tidak ada gajah, tak ada pelanduk, semua mati di tengah-tengah.  Jika kau bilang kau mencintai Tuhan, seharusnya kau juga mencintai ciptaanNya, yang beragam itu. 

Terimakasih buat Glenn F dkk yang sudah mengangkat kisah Sani T.
Tuhan memberkati. Semoga kita damai selalu. 



Jumat, 21 Maret 2014

Dear diary, I think I want to marry a donut one day







Hampir sekitar 15 tahun yang lalu, gue pertama kalinya mulai ngerasa kalau gue punya ketertarikan yang beda ke temen-temen sekolah perempuan gue. Perawakan gue yang tomboy dan kadang ngga bisa dibedain dengan anak cowok asli ngga membantu, karena temen-temen sekolah perempuan gue ngga merasa aneh kalau ngungkapin ketertarikan mereka dengan gue. Pada masanya, seorang Mithya ngga dilihat sebagai anak cewek. Mungkin di masa-masa yang serba labil dan tabu, temen-temen gue “memudahkan” keadaan yang membingungkan itu dengan merubah gender gue ke cowok dan semuanya kembali ke “normal”. Gue ngga tau dengan keadaan sekarang, tapi gue yakin sekitar sepuluh, dua puluh tahun yang lalu, gue bukan satu-satunya yang ngalamin ini. Walaupun di satu sisi keadaan itu “menenangkan” kebingungan gue, tapi di sisi lain gue tetap harus dipaksa menghadapi kenyataan kalau rasa ketertarikan gue dengan temen-temen sesama jenis gue itu…”aneh”?

Masa sekolah menengah gue adalah waktunya gue “menikmati” kebingungan gue sebagai seorang queer yang berjuang untuk nyari jawaban. Belum ada internet (LOL), setidaknya tidak dengan akses seperti sekarang atau konten yang mudah dengan buka google.com untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan gue. Bahkan harus ngaku kalau otak gue mungkin belum nyampe untuk paham seutuhnya apa yang bikin gue bingung.

Sebenernya pertanyaan-pertanyaan yang ada mendasar banget. “Perasaan ini apa?”, “Gue harus tanya atau cerita ke siapa?” Lucunya 15 tahun kemudian, gue juga belum dapetin akses yang mudah yang membahas tentang Queer/LGBT itu sendiri untuk pre-teen atau remaja yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Seringnya adalah tulisan-tulisan para queer yang sudah menerima diri mereka atau sama-sama bingung hahaha…atau yang paling mengganggu menurut gue, adalah para queer yang sudah mapan, berdamai dengan diri, lalu tanpa sadar “memaksa” mereka yang bingung untuk bangga sebagai queer kalau perlu mendeklarasikan diri. Ibarat duren yang belum mateng tapi udah dipaksa mau dibelah. Keras dalemnya bok..hehe hush, siapa yang otaknya langsung ngeres?!

Setiap orang punya waktunya sendiri-sendiri untuk belajar tentang dirinya, terlebih kalau masa kebingungan ini di masa remaja. Gila kalau lo pikir ada sedikit perasaan ketertarikan dengan sesama jenis di usia tersebut artinya dia udah pasti homoseksual. Ada alasan yang jelas kenapa masa remaja disebut dengan masa labil. Percaya atau ngga, berlawanan dengan pendapat para homo aliran keras, manusia BOLEH bingung dan bahkan nyoba-nyoba di masa itu. Bahkan melakukan aktivitas seksual dengan sesama jenis di kisaran usia tersebut belum tentu artinya seseorang queer.

Sulitnya jadi queer di Indonesia, tema queer itu tabu- tabu ngga. Apalagi yang tinggal di kota-kota besar karena udah banyak komunitas yang ngga bikin jadi queer itu forever alone LOL tapi pertanyaannya masih sama. Komunitas-komunitas ini seringnya hanya nyeburin para manusia bingung atau beneran ngebuka tangan untuk ngobrol? Untuk sharing? Ngeluarin unek-unek dan segala kebingungan? Bahkan ada queer yang dengan sadis mentah-mentah menolak ngebantu para ababil, diulang-ulang disebut di forum, padahal banyak yang menghormati dia sebagai salah satu queer terkenal di Indonesia. Not me, bro. Gue ngga mau dekat-dekat orang yang empatinya perlu diperiksa psikiater apalagi menghormati si queer ini.

Punya perasaan yang kata banyak orang ngga boleh itu menakutkan. Apalagi dengan iming-iming neraka bagi sebagian besar orang Indonesia yang dibesarkan dengan nilai-nilai agama. Jadi coba deh dibayangin, sedang ketakutan dan bingung tapi malah dijorokin aja tanpa diajakin katarsis tentang apa perasaan dan mau mereka. Dijorokin bisa dua cara pula; Perasaan homo-nya ngga dianggap sama sekali atau langsung disodorin orang-orang yang berpotensi jadi pacar homo. Weleh-weleh…sama-sama ngga bener itu.

Young queers, ngga papa untuk takut ketika lo bingung dengan perasaan lo. Itu wajar banget dan trust me, perasaan itu sayangnya ngga akan hilang gitu aja seiring lo masuk usia dewasa muda. Lo bahkan mungkin makin disodorin potensi-potensi pacar homo yang lebih banyak hahaha…

Saran gue, cari temen yang bisa lo ajak ngobrol. Tanya sebanyak-banyaknya. Kalau lo percaya orang nikah paling lambat 30 (which is a stupid opinion btw), bayangin berapa lama waktu yang lo punya untuk ngerti siapa diri lo sebenernya. Bayangin berapa lama waktu yang lo punya untuk nanya dan cari tau sebanyak-banyaknya (di tempat-tempat yang tepat pastinya). Terkadang rasa takut bisa bikin kita lumpuh dan rasanya kayak ngga ada jalan untuk keluar dari rasa takut itu, padahal bisa diatasi dengan semudah bertanya dan cari tahu. Kalau lo udah punya temen yang sesama queer, ajak untuk sharing. Ngobrol tentang perasaan itu ngga aneh, bahkan PENTING. Jangan dibegoin dengan penyakit orang Indonesia yang malu-malu tentang segala hal tapi ngga punya malu pas berbuat salah.

Lo tau lo ngga sendiri. Dan queers, jangan cemooh mereka yang bingung. Kalian pernah di posisi itu di suatu waktu dan kalian tau rasanya ngga nyaman dan menakutkan. Sebagai manusia kalian akan lebih berguna kalau membantu daripada menjatuhkan orang lain. Cheers.

Selasa, 18 Februari 2014

Vampire Academy is ON, VADDICTS!



Finally..FINALLY setelah bertahun-tahun cuma bisa NGAREP bukunya diadaptasi jadi film dan ratusan vaddicts pledged to push some producers (pada masanya, gue takjub ngeliat fans dedikasi banget ngasih ide-ide siapa aja aktor yang cocok memainkan peran-peran yang ada di buku ini dan di-upload di youtube), film ini akhirnya keluar jugaaaaaaa...and of course me and Lushka are planning to watch it together. YAY!!! (kegirangan sendiri ngeliat website 21 pake mereka sebagai layout).

Filmnya ini disutradai oleh Mark Waters, yang terkenal karena sukses dengan film Mean Girls (kalau belum nonton, coba cari deh. Dijamin bakalan ngakak dengan humornya yang cerdas dan fresh) dan Freaky Friday. Kakaknya, Daniel Waters yang juga terkenal sukses dengan film Heathers di tahun 1988 diangkat sebagai penulis skrip film ini. Kenapa nama-nama ini penting? Karena mereka penulis dan sutradara Hollywood yang terkenal dengan kecenderungan mereka untuk support dan ngebuat film-film dengan girl power yang kuat. Couldn't ask for a better crew for this adaption, me think.

Sebagai Vaddict, I can't help berharap film ini sebagus bukunya. But who am I kidding? Sejak kapan adaptasi film pernah sebagus bukunya hehe..

Jadi kapan nih Lush kita mau nonton bareng? =D

Selasa, 11 Februari 2014

"Dear Straight People" - Denice Frohman


Dear straight people,
Who do you think you are?
Do you have to make it so obvious that I make you uncomfortable?
Why do I make you uncomfortable?
Do you know that makes me uncomfortable?
Now we both uncomfortable.

Dear straight people,
You're the reason we stay in the closet.
You're the reason we even have a closet.
I don't like closets, but you made the living room an unshared place, and now I'm feeling like a guest in my own house.

Dear straight people,
Sexuality and gender, two different things, combined in many different ways.
If you mismatch your socks you understand.

Dear hip hop,
Why are you fascinated with discovering gay rappers?
Gay people rap.
Just like gay people ride bikes, and eat tofu.

Dear straight people,
I don't think god is a sexual orientation, but if she were straight, she'd be a dope ally.
Why else would she invent rainbows?

Dear straight women,
I mean 'straight' women.
Leave me the fuck alone.

Dear straight men,
If I'm flirting with you, it's 'cuz I think it's funny, just laugh.

Dear straight people,
I'm tired of proving that my love is authentic, so I'm calling for reparations on your ass.
When did you realize you were straight?
Who taught you?
Did it happen because your parents are divorced.
Did it happen because your parents are not divorced?
Did it happen because you sniffed too much glue in 5th grade?

Dear straight people,
Why do I have to prove that my love is authentic?
Why do I have to prove that my love is authentic?
Why do I have to prove that my love is authentic?
Why do you have to stare at me when I'm holding my girlfriend's hand like I'm about to rob you?

Dear straight people,
You make me wanna fucking rob you.

Dear straight allies,
Thank you, more please.

Dear straight bullies,
You're right, we don't have to same values.
You kill everything that's different, I preserve it.
Tell me, what happened to José Mengavo, Tikea Gun, Lawrence King?
What happened to the souls alienated in between too many high school walls, who plan the angles of their deaths in math class.
Who imagine their funerals as ticker tape parades.
Who thought the afterlife was more like an after party.
Did you notice that hate is alive and well in too many lunchrooms.
Taught in the silence of too many teachers.
Passed down like second hand clothing from too many parents.

Dear queer young girl,
I see you.
You don't want them to see you, so you change the pronouns in your love poems to 'him' instead of 'her'.
I used to do that.

Dear straight people,
You make young poets make bad edits.

Dear straight people,
Kissing my girlfriend in public, without looking to see who's around, is a luxury I do not fully have yet.
But tonight, I am drunk in my freedom.
Wrap her hand on the busiest street corner in Philadelphia, zip my fingers into hers, and press our lips firmly, until we melt their stares, into a standing elevation.
Imagine that we are in a sea of smiling faces, even when we're not.
And when we're not, we start shuffling, looking deep into each other's eyes.
We say "hey baby, can't nothing stop this tonight, because tonight this world is broken, and we're the only thing that's going to keep it together."

- Denice Frohman


(((AMEEN)))

Sabtu, 01 Februari 2014

Social privilege bukan berarti lo diatas angin dari lahir sampe mati

Seperti yang sebagian besar dari kita tau, Grammy award baru aja diselenggarakan beberapa hari yang lalu. Salah satu pemenang yang jadi bahan pembicaraan adalah Macklemore yang menang 4 nominasi: Best New Artist, Best Rap Performance dan Song untuk lagu "Thrift Shop", dan
Best Rap Album. Terlebih ketika dia melakukan performance penutupan, 34 pasangan gay dan hetero muncul sebagai bagian dari performance melangsungkan pernikahan di acara Grammy (yea, yea, Americans are so dramatic and that is one of the reasons why I'm writing this). Buat yang melek lagu rap, Macklemore sangat menarik perhatian peminat dunia hiphop karena:

1. Orang kulit putih pertama setelah Eminem yg dianggap punya kualitas dan bakat untuk nge-rap
2. Lagu "Same Love" yg intinya mendukung gay marriage (di dunia hiphop, gay masih dianggap tabu. Check out the song though) dan,
3. Sampai sekarang Macklemore belum tanda tangan kontrak dengan record label besar mana pun (ini ngga biasa mengingat besarnya industri musik amerika dan sudah terkenalnya Macklemore. Biasanya orang-orang kayak gini dianggap masih original dan down to earth)




Segera setelah Macklemore jadi bahan pembicaraan lanjut dan berujung dengan tingkat kepo yg tinggi dari masyarakat internasional, diubek-ubek lah timeline twitter-nya sampai 4 tahun yg lalu (or so..) dan ditemukan 1 atau 2 tweet yg isinya bernada homophobic. Heboh lah sekian orang yang dramatis. But DUDE!!!! Here's the thing, berdasarkan point nomer 2 di atas, Macklemore adalah satu-satunya (at least yg terkenal secara internasional) rapper hiphop yg terang-terangan buat satu lagu KHUSUS tentang marriage equality dan sangat vokal. Entah kenapa orang-orang ini stuck in the past dan mempermasalahkan Macklemore PERNAH homofobia.

(insert long silent of confusion and facepalm here........................................................................)

Gue pun mengeluarkan opini pribadi dong di twitter. Gue bilang SO WHAT kalau dia PERNAH homofobia. Masih banyak yang lebih parah dari itu, salah satunya adalah orang-orang yang MASIH homofobia. TERNYATA...ada satu ID twitter yg bernama homophobiaphobe (lo ngerti dong ya objektifnya akun twitter ini apa?) yang ngga setuju dengan opini gue. Katanya intinya homofobia itu SALAH banget. Jadi mau di masa lalu kek, itu sama aja dengan masih terjadi. eng ing eng..bingung dong gue...ni orang ngga ngerti suatu keadaan yang dinamakan pembelajaran diri ya...???? (Atau mungkin orang bule kagak ngerti istilah insaf dan tobat hehe)

Berhubung gue ngga suka dengan yang namanya debat kusir di twitter karena itu media yg sangat tolol untuk bertukar ide panjang lebar, gue pilih untuk mereply satu kali aja dan kalau direply dengan opini tolol lagi, gue ngga mau respon. Gue jawab kalau setiap orang bisa aja berbuat kesalahan dan sepertinya Macklemore belajar sesuatu (makanya berubah jadi suporter LGBT). Apa iya kita harus nyalahin orang terus-terusan yang udah ngga melakukan "kejahatan" lagi? eehh..jawabannya orang ini malah "Tau darimana lo dia udah belajar sesuatu?"

(insert long silent of confusion and facepalm here........................................................................)

Gue kalau udah memantapkan hati (caelah) untuk tidak menjawab, maka gue ga mau jawab reply orang ini lagi. Males bok, kebayang ngajarin anak TK belajar bahasa Prancis lewat Twitter gituh XD. Lucunya pacar gue malah panasan sama ni orang dan melanjutkan "diskusi" menggunakan akunnya sendiri. Kebodohan orang ini pun semakin terbuka. Dia bilang Macklemore mungkin saat ini jadi suporter vokal kaum LGBT, tapi menurut dia Macklemore melakukannya dengan banyak cara yang salah...

Pacar pun bertanya..."Banyak salah gimana ya...?"

homophobiaphobe menjawab: Macklemore itu cowok, kulit putih, dan hetero. Jadi dia punya banyak social privilege.

(insert long silent of confusion and facepalm here........................................................................)

TERUS APA HUBUNGANNYA SAMA CARA DIA DUKUNG LGBT, NYET? Jadi begini ya kengkawan queer dan non-queer yang baik hati dan pinter-pinter...di tumblr beberapa tahun terakhir ini banyak user yang salah asuhan. Umumnya asuhan sesama user goblok tumblr dan kitab mereka mungkin ngga jauh-jauh dari wikipedia dan social privilage diartikan serta digunakan secara bebas, sebebas-bebasnya udel bodong mereka. Menurut para salah asuhan ini, ada trait-trait manusia yang menyebabkan secara otomatis hidup mereka PALING MUDAH diantara semua bentuk manusia di dunia. Tingkat yang paling tinggi itu ya kayak Macklemore: Kulit putih, Pria, dan Hetero (+ sosial ekonomi atas). Secara otomatis pula, para user goblok ini yang sebagian besar trait-nya kebalikan dari itu langsung menghakimi dan ngga suka (bahasa sederhananya sih 'IRI' dan "Krisis PD"). Gue kayaknya ngga perlu menjelaskan kenapa cara berpikir kayak gitu cetek banget. Apa betul kalau lo cowok, kulit putih dan hetero artinya hidup lo udah pasti otomatis MUDAH? Yes, I FUCKING KNOW what social privilege is, but it's not that fucking simple. Kata kaum sosialita jakarta, "Ngga ejuketet benjet deh ni orang".

Supaya kita sepaham, definisi social privilege menurut wikipedia adalah advantages that one group accrues from society as on the disadvantages that another group experiences. Ya, gue setuju bahwa social privilege ini adalah fakta dan realita sosial. Ya, gue setuju bahwa kala lo terlahir cowok, kulit putih, hetero, dan berduit memang lo dapet privilege lebih dari yang bukan. Yang gue ngga setuju adalah sikap membenci, cepat menghakimi dan sok taunya para user goblok ini terhadap orang-orang dengan social privilege. Siapa yang tau masalah-masalah apa yang setiap individu hadapi terlepas dari warna kulit, sex, orientasi seksual dan isi kantongnya?

Kebodohan berikutnya orang ini adalah, dia menyatakan bahwa orang-orang yang punya social privilede ini ngga perlu ikut-ikutan jadi suporter kaum minoritas (LGBT) dan dia sangat menolak uluran tangan dari orang-orang seperti Macklemore. Kenapa? Mana gue tau hahaha...Intinya buat mereka yang boleh jadi aktivis dan suporter kaum LGBT itu ya hanya boleh kaum LGBT.

(insert long silent of confusion and facepalm here........................................................................)

Ironis, ID twitternya benci sama homofobia padahal yang dia lakukan PERSIS dengan sifat yang dia benci.

Dalam beberapa jam tweet Macklemore yang katanya mengindikasikan dia homofobia itu ternyata bisa dijelaskan karena dia ikut suatu event LGBT dan orang keburu main tuduh dengan arti twitter dia. Tapi sekali lagi, kalau dia PERNAH homofobia terus kenapa? Gue malah lebih suka orang-orang yang bisa merubah cara berpikir dan sikap yang salah.

Gue sih cuma bisa geremet-geremet smartphone gue, nahan diri ngga ngasih ceramah panjang lebar ke orang itu. Dasar orang gila. Dia terus-terusan usaha mention gue karena menurut dia gue salah ngerti. Serah apa kata lo deh, nyet. Gue anti orang-orang yang rasis, dongo, ngga nyadar pula. Dadaaaahhhh....


Rabu, 29 Januari 2014

Because.

Kadang sebagai gay masih ngumpet di lemari suka bingung ngadepin temen homophobic atau mereka sebenernya mereka ga homophobic tapi juga ga segitu friendly.

Pernah di situasi ngobrolin kenalan yang gay tanpa mereka tau lo juga gay?
Cara mereka ngomong kaya lagi ngomongin tikus.
"Ya gapapa si tikus ada, tapi geli"


Di tempat kerja sekarang, ditekankan semua orang sama ga memandang suku, ras, agama, gender, orientasi seksual dan bertujuan menciptakan lingkungan yang inklusif.
Ya tapi, di Indonesia sih ya, dimana secara luas gay adalah peristiwa menyimpang.

Gue suka jadinya nge-test air, nunggu mereka mau ngobrol kemana. kalo masih urusan personal si temen yang gay, ya udah gue diem aja. karena gue juga anak baru dan ga juga masih cemen untuk coming out di kantor.
Dan menurut gue kinerja  ga ada hubungannnya sama orientasi seksual gue. 
Tapi kalau sudah main generalisasi, gue gatel nyemplung. 

 "emang apa hubungannya dengan dia gay?"
dan jawaban yang gue terima adalah suara angin dari AC. 

Mereka kaum berpendidikan dan pintar ini sebenarnya tahu bahwa perilaku gay ga melulu berkaitan dengan personalitynya.
Tapi karena masih "nganggep" gay itu kaya tikus jadinya ga dianggep manusia  yang mana, ga ada manusia yang identik satu sama lain.

I am sloppy not because I am gay. It is because I am, ME




Jumat, 17 Januari 2014

PENGHAKIMAN *judul ini nipu, sumpah*

Otak gue jarang dipake kerja kali ya, jadi ini gue lagi agak-agak puyeng mikirin facebook.
hihi. Iya. Facebook.
Gara-gara artikel ini , penulisnya menceritakan tentang teman sekolahnya yang sekarang  temenan di Facebook 

Si Paula, teman yang diceritakan ini adalah tipe yang ngumbar segala macem hidupnya di FB. Dan si penulis Madeline Grimes yang sebenarnya juga emang ga deket pas sekolah pun cuma jadi pengamat saja. Madeline menceritakan tentang Paula post di FB nyeritain suaminya yang di penjara, kehamilannya, ataupun nanya waktu anaknya sakit perlu dibawa ke RS ga atau adakah yang tau soal penyakit X, Madeline bilang dia ngerasa ga enak buat komen, karena rasanya agak ga sopan untuk tiba-tiba SKSD ngasih saran atau respons

Well, gue sepaham dengan yang dirasain Madeline, bawaan  nyinyir gue ngangguk-ngangguk setuju. Di sisi lain, gue juga Madeline agak keji, kaya ngomongin orang susah di belakang dan ga melakukan apa-apa. TAPI. Itu juga yang gue lakuin. Kadang gue lebih kejam malah, orang curhat gue jadiin bahan blog. Itu kan Madeline ga dicurhatin, cuma lihat, nah gue, udah orang curhat malah dibahas di khalayak ramai. hihi

Back to FB, Gue ga aktif di FB, login cuma buat maen game, itu juga kalo bosen nunggu updatean CCS di android. But then, tiap kali gue login, gue akan mengembara ngeklik post temen-temen (?) gue, sodara-sodara gue, komentar di belakang kepala gue.
NGETAWAIN usaha mereka buat bikin image tentang diri mereka (makan di: liburan di:, menikah di:, bla-bla-bla-yada-yada) , NGETAWAIN doa-doa mereka. NYINYIRIN foto-foto  ga lucu anak atau keluarga mereka.
Kadang gue dengan sembrono akan ngerasa superior baca postingan mereka bagaimana buat  gue  mereka  udah jadi pelacur jempol.  (Sampai sekarang ga habis pikir ada yang ngasih jempol ke postnya sendiri).  Dan reaksi gue ya sejauh Madeline, ga cukup berani untuk nyinyir frontal ataupun unfriend kalau emang ga suka. 

Kenapa gue sampai niat buat jadiin tulisan di Salon.com karena gue ngerasa lucu, pas gue baca di kolom komen, banyak yang nyinyir ngomelin Madeline karena dianggap songong, egonya gede ngomentarin orang tapi ga bantuin dan teganya bilang kalau "penderitaan" Paula menjadikan hidupnya kelihatan lebih mudah.  

Buat gue baik tulisan ataupun komen atas tulisan Madeline itu brutal. Menunjukan sisi  gelap egonya manusia. Cela-cela'an atas nama kelayakan. Madeline "menghakimi" Paula karena Paula mengais perhatian dengan segala postingan "menyedihkan" di FB dan Madeline "dihakimi" oleh komentatornya karena menjadi schadenfreude - berbahagia di atas penderitaan orang

Yah. Siapa yang ga pernah, walaupun ga secara literal bahagia, tapi kalo ngeliat orang susah kita bilang "untung gue........"

Who am I to judge?
But, yeah. I'll keep yapping. And please feel free to give your (silent) comments.