Laman

Rabu, 29 Januari 2014

Because.

Kadang sebagai gay masih ngumpet di lemari suka bingung ngadepin temen homophobic atau mereka sebenernya mereka ga homophobic tapi juga ga segitu friendly.

Pernah di situasi ngobrolin kenalan yang gay tanpa mereka tau lo juga gay?
Cara mereka ngomong kaya lagi ngomongin tikus.
"Ya gapapa si tikus ada, tapi geli"


Di tempat kerja sekarang, ditekankan semua orang sama ga memandang suku, ras, agama, gender, orientasi seksual dan bertujuan menciptakan lingkungan yang inklusif.
Ya tapi, di Indonesia sih ya, dimana secara luas gay adalah peristiwa menyimpang.

Gue suka jadinya nge-test air, nunggu mereka mau ngobrol kemana. kalo masih urusan personal si temen yang gay, ya udah gue diem aja. karena gue juga anak baru dan ga juga masih cemen untuk coming out di kantor.
Dan menurut gue kinerja  ga ada hubungannnya sama orientasi seksual gue. 
Tapi kalau sudah main generalisasi, gue gatel nyemplung. 

 "emang apa hubungannya dengan dia gay?"
dan jawaban yang gue terima adalah suara angin dari AC. 

Mereka kaum berpendidikan dan pintar ini sebenarnya tahu bahwa perilaku gay ga melulu berkaitan dengan personalitynya.
Tapi karena masih "nganggep" gay itu kaya tikus jadinya ga dianggep manusia  yang mana, ga ada manusia yang identik satu sama lain.

I am sloppy not because I am gay. It is because I am, ME




2 komentar:

Mithya mengatakan...

Salah, bun Yang "berpendidikan" pun masih berpikir bahwa kalau lo gay pasti ada yg mentally wrong with you, BISA disembuhkan dan punya tendensi jadi pembunuh berantai. Jadi ya....

lushka mengatakan...

hahaha. secara general iya bun.
tapi orang yang aku bilang ini, biasa kok kerja sama gay dan sebenernya ya nerima2 aja.
tapi ya gitu, masih kebawa "norma sosial" yang berlaku.