Pasti temen-temen udah pada denger tentang kasus pembunuhan seorang perempuan Transgender di Australia beberapa hari yang lalu. Sedihnya, pembunuh perempuan itu ngga lain suami/tunangannya sendiri (setiap artikel penjelasannya beda-beda) yang berwarga-negara Australia. Atas dasar ngga bermaksud untuk membawa berita kasus ini makin dibicarakan untuk alasan yang salah, gue ngga akan nyebut nama korban atau detil pembunuhan..
Mungkin kalian sendiri juga udah terekspos dengan berita kasus ini baik melalui facebook maupun twitter. Yang memprihatinkan adalah komentar-komentar yang ditujukan kepada si korban. Atas dasar identitas seksualnya, banyak yang langsung menghujat kalau pembunuhannya terjadi ya karena korban seorang transgender. Mulai dari asumsi bahwa si suami/tunangan melakukan pembunuhan karena ngga tau korban dulunya seorang pria sampai mengatakan kalau pembunuhan itu merupakan bentuk azab dunia. Seriously people!? WOW.
Fortunately, di antara banyaknya artikel yang isinya cukup netral gue nemu satu artikel yang membahas tentang kejamnya komentar-komentar di internet tentang perempuan ini. Awalnya gue ragu untuk share karena banyak temen-temen gue sendiri di facebook yang kasih komentar negatif selama beberapa hari. Akhirnya gue beraniin diri dan share artikel tersebut di halaman facebook gue.
Siang ini Queen Alien ngeliat postingan tersebut dan kaget. Dia bilang, "Kamu ngapain sih naro-naro artikel kayak gitu di facebook? Nanti kamu dikira orang aneh."
Again, seriously?? Aneh karena nanti dikira gue juga transgender? Jadi artinya transgender itu orang aneh?
Gue ngga pake jeda langsung jawab, "Menurut Mithya artikel itu penting untuk di-share. Orang ngga boleh sembarangan komentar jahat tentang korban pembunuhan kalau ngga tau apa-apa."
Queen Alien ngejawab lagi dengan logikanya yang sangat judgmental,"Tapi kan dia...PSK..kelas atas?"
Gue ngga kaget sama sekali dengan komentar nyokap gue karena apa yang dia sebut ya tepat kenapa gue share artikel itu. Gue jawab lagi,
"Jadi orang boleh komentar tentang orang lain layaknya mereka pribadinya lebih baik dari si korban? Ma, Mithya itu bidangnya di Psikologi. Mithya kerjaannya ya ngurus dan ngelindungin orang-orang seperti mereka. Kalau bukan Mithya, siapa lagi?"
Selesai ngomong itu, gue langsung ngerasa deg-degan karena dengan segala prejudis dan (sedihnya) topik transgender di lingkungan kita yang sangat tabu gue ngerasa kayak baru ngelawan ribuan orang. Sama seperti ketika gue memutuskan untuk share artikel itu.
Tanpa bermaksud terdengar seperti orang Jumawa, jujur gue ngerasa bangga bisa stand up atas apa yang gue percaya benar. Because man, it was scary for me! Ngomong panjang lebar di twitter atau di blog anonimus tentang hal ini jauh lebih mudah daripada ketika gue harus berbicara di depan seseorang yang gue kenal. Ternyata mencoba untuk merubah sesuatu yang menurut kita ngga bener hanya "semudah" menekan tombol "share" di facebook atau speak up. Ketika gue bilang, "kalau bukan gue, siapa lagi" bukan berarti gue satu-satunya yang bisa melakukan ini. Tapi memang kalau bukan dari diri kita pribadi yang dengan berani memulai...apa kalian masih terus mau ngarep seumur hidup orang lain yang berubah tanpa ada pencetus? =)
Have a goodnight, Queers!
Just a place to share thoughts and opinions. We are definitely not a part of any factions than the truth finders.
Tampilkan postingan dengan label conversation. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label conversation. Tampilkan semua postingan
Jumat, 10 Oktober 2014
Sabtu, 22 September 2012
Words
Ini cuma sekedar kekaguman gue (lagi-lagi) pada otak yang menerjemahkan dan memberi makna pada beberapa kata yang kemudian menghasilkan reaksi metafisika, halah, engga deng, menghasilkan reaksi gegap gempita di dada. Jieh.
Sebut saja namanya, Cinta.
Inget-inget deh, apa sih kata-kata yang ga ada hubungannya dengan 'centah' yang pernah "mantan, pacar, gebetan, ex gebetan" ucapkan ke elo.
Ini contoh ya, contoh lho ini, mithya had me at 'lushka, I was just kidding' .
It strikes me.
Coba mana dari kata-kata itu yang istimewa? Ga ada kan.
Tapi waktu itu, mithya bilang begitu bikin gue meleleh.
Atau waktu gebetan manggil 'jeung' , yang mana sebenarnya biasa aja gitu ganti kalo diucapin oleh yang lain.
Atau bahkan kalau si pacar bilang, 'kamu heh ku' . Apa coba heh ?
Kenapa jadi signifikan?
Bagaimana proses kerja kepala, ngasih tau perasaan, kalau 'kata-kata magis' itu, bisa bikin peternakan kupu-kupu di perut riuh atau melorotin jantung dan dentam jantung bertalu?
Mana lebih dulu?
Si kata-kata? Atau asumsi kita pada penuturnya?
*ps: kalau dulu, gue melted pada penggunaan intonasi pengucapan nama gue. Somehow it made me think that I am special. =)
Elle & Ket, pengambilan sample kalimat hanya karena agar lebih memudahkan penulisan. Terimakasih. Hehe.
Sent from BlackBerry® device ; please kindly excuse typos, brevity, abbreviations or anacoluthia.
Sebut saja namanya, Cinta.
Inget-inget deh, apa sih kata-kata yang ga ada hubungannya dengan 'centah' yang pernah "mantan, pacar, gebetan, ex gebetan" ucapkan ke elo.
Ini contoh ya, contoh lho ini, mithya had me at 'lushka, I was just kidding' .
It strikes me.
Coba mana dari kata-kata itu yang istimewa? Ga ada kan.
Tapi waktu itu, mithya bilang begitu bikin gue meleleh.
Atau waktu gebetan manggil 'jeung' , yang mana sebenarnya biasa aja gitu ganti kalo diucapin oleh yang lain.
Atau bahkan kalau si pacar bilang, 'kamu heh ku' . Apa coba heh ?
Kenapa jadi signifikan?
Bagaimana proses kerja kepala, ngasih tau perasaan, kalau 'kata-kata magis' itu, bisa bikin peternakan kupu-kupu di perut riuh atau melorotin jantung dan dentam jantung bertalu?
Mana lebih dulu?
Si kata-kata? Atau asumsi kita pada penuturnya?
*ps: kalau dulu, gue melted pada penggunaan intonasi pengucapan nama gue. Somehow it made me think that I am special. =)
Elle & Ket, pengambilan sample kalimat hanya karena agar lebih memudahkan penulisan. Terimakasih. Hehe.
Sent from BlackBerry® device ; please kindly excuse typos, brevity, abbreviations or anacoluthia.
Labels:
conversation,
couple,
feelings,
Lushka,
relationship
Sabtu, 01 Oktober 2011
Pelanggaran RUU
Suatu siang cerah...siang ini maksudnya.. gue dan Lushka saling merepet tentang kelakuan FPI akhir-akhir ini yang boleh seenaknya melakukan apa yang mereka mau lakukan. Terakhir kami dapet berita tentang mereka mengancam mau memporak porandakan gereja pantekosta tapi si Polisi cuma jadi satpam aja.
Lushka: Kok FPI bisa dibiarin gitu ya!?
Mithya: Iya, aku kesel deh. Tindakan mengancam itu kan udah tindakan pidana! udah boleh ditangkep.
Mithya: Iya, bego banget. Itu kan udah melanggar RUU!
Lushka: ...Kok RUU sih??
Mithya: Eh, UUD?
Mithya:oh iya..aku tau kok..hahaha...ngasal aja ngomongnya...=P
Labels:
agama,
conversation,
indonesia,
mithya,
phone call
Rabu, 20 Juli 2011
Baunya enak. Parfumnya apa?
Lagi ngumpul nih di cafe sekeluarga, tapi gue dan bokap yang dateng duluan. Setengah jam kemudian nyokap dan ade gue dateng. Pas mereka duduk, kecium bau semerbak wangi dan bokap langsung komentar, "Siapa nih yang pake parfum? Baunya harum banget." Tapi ga ada yang ngaku dan main tunjuk-tunjukkan. Akhirnya yang dituduh nyokap gue. Eh, si bokap ngomong, "Baunya enak deh. Parfumnya apa?"
Hahahahaha..gue langsung mikir eng ing eng..ternyata gue sama bokap sama aja. Kalimat yang persis sama gue ucapin pas pertama kali date sama Lushka 4 tahun yang lalu. Nurun flirtingnya dari bokap toh. Ya, Lush? =P
Hahahahaha..gue langsung mikir eng ing eng..ternyata gue sama bokap sama aja. Kalimat yang persis sama gue ucapin pas pertama kali date sama Lushka 4 tahun yang lalu. Nurun flirtingnya dari bokap toh. Ya, Lush? =P
Labels:
conversation,
family,
flirting,
funny,
mithya
Kamis, 23 Juni 2011
Faith is our own personal matters
Tadi baru dikomentarin sama Lushka, "Kalau sama kamu mah urusannya main dosa". LOL yeap, gue sadar banget makin tua ternyata gue malah makin..umm..religius? ngga jadi buta konservatif dan ekstrimis untungnya tapi hal-hal basic tentang keyakinan adanya tuhan dan Dia ngejaga kita setiap saat dalam keadaan baik maupun buruk. The ultimate power yang mengatur segalanya dan ngga perlu kita, makhluk yang dia ciptain sendiri untuk recok ngurusin Dia balik.
Komentar Lushka muncul waktu gue cerita ngerasa agak dimainin sama supir taksi. Rute perjalanan gue rada muter-muter ketika menuju Senayan city. Tapi alasannya untuk menghindari macet. Emang sih Alhamdulillah rute yang dia kasih ngga macet. Tapi kan mau ngga mau gue bertanya dalam hati, kalau gue pake rute biasa, emang saat ini rute itu macet? Gue udah kasih ancer-ancer yang lazim dimengerti tukang taksi biasa kok, tapi dia inisiatif muter-muter. Lalu pada akhirnya gue bilang dalam hati untuk nenangin diri "Kalau memang niat dia baik, alhamdulillah gue dibantuin. Tapi kalau niat dia buruk, dia dapet uang haram dan ngga akan pernah maju" that simple. Hahaha..iya, emang terdengar seperti sedikit menyumpah di akhir kalimat, tapi gue beneran ikhlas kok dan beneran berpikir urusan gue sama si taksi selesai setelah gue turun sampai di tujuan dan kasih uang.
Ini ngga kali pertama hal kayak gini muncul. Kalo Lushka nanya tentang adanya uang imbalan dari kantor, kadang-kadang dia nanya baiknya dan artinya uang imbalan itu apa. Gue pasti jawabnya ngga jauh-jauh dari moral dan iman. hahaha...
Terus gue mikir lagi, sepertinya masalah urusan agama kayak gini yang bikin gue dan Lushka juga cocok. Kita beda agama tapi kita menekankan bahwa kita sama-sama agama samawi. Tuhan kita satu, hanya saja kita memilih aturan dan cara yang berbeda yang dalam menjalankan keyakinan kita. Kenapa perlu diributkan? Gue dan Lushka juga sering saling diskusi tentang perbedaan dengan tujuan saling memahami satu sama lain dan belajar tentang ilmu baru.
Tau ngga kalau salah satu faktor kebahagiaan teratas dalam hubungan adalah persamaan keyakinan? Dalam hal ini, gue dan lushka yakin ngga ada yang perlu disalah-salahkan dari keyakinan kami berdua. Semua ajaran keyakinan mengajarkan kebaikan. Inti dari hidup adalah menjadi manusia sebaik-baiknya dan menghargai serta berguna bagi orang-orang di sekitar kita. Apakah kamu setuju, Lushka?
BTW, gue udah lama banget ngga ngeblog, tampilan dashboard blogger keren juga sekarang haha...APA KABAR TEMAN-TEMAN??
Komentar Lushka muncul waktu gue cerita ngerasa agak dimainin sama supir taksi. Rute perjalanan gue rada muter-muter ketika menuju Senayan city. Tapi alasannya untuk menghindari macet. Emang sih Alhamdulillah rute yang dia kasih ngga macet. Tapi kan mau ngga mau gue bertanya dalam hati, kalau gue pake rute biasa, emang saat ini rute itu macet? Gue udah kasih ancer-ancer yang lazim dimengerti tukang taksi biasa kok, tapi dia inisiatif muter-muter. Lalu pada akhirnya gue bilang dalam hati untuk nenangin diri "Kalau memang niat dia baik, alhamdulillah gue dibantuin. Tapi kalau niat dia buruk, dia dapet uang haram dan ngga akan pernah maju" that simple. Hahaha..iya, emang terdengar seperti sedikit menyumpah di akhir kalimat, tapi gue beneran ikhlas kok dan beneran berpikir urusan gue sama si taksi selesai setelah gue turun sampai di tujuan dan kasih uang.
Ini ngga kali pertama hal kayak gini muncul. Kalo Lushka nanya tentang adanya uang imbalan dari kantor, kadang-kadang dia nanya baiknya dan artinya uang imbalan itu apa. Gue pasti jawabnya ngga jauh-jauh dari moral dan iman. hahaha...
Terus gue mikir lagi, sepertinya masalah urusan agama kayak gini yang bikin gue dan Lushka juga cocok. Kita beda agama tapi kita menekankan bahwa kita sama-sama agama samawi. Tuhan kita satu, hanya saja kita memilih aturan dan cara yang berbeda yang dalam menjalankan keyakinan kita. Kenapa perlu diributkan? Gue dan Lushka juga sering saling diskusi tentang perbedaan dengan tujuan saling memahami satu sama lain dan belajar tentang ilmu baru.
Tau ngga kalau salah satu faktor kebahagiaan teratas dalam hubungan adalah persamaan keyakinan? Dalam hal ini, gue dan lushka yakin ngga ada yang perlu disalah-salahkan dari keyakinan kami berdua. Semua ajaran keyakinan mengajarkan kebaikan. Inti dari hidup adalah menjadi manusia sebaik-baiknya dan menghargai serta berguna bagi orang-orang di sekitar kita. Apakah kamu setuju, Lushka?
BTW, gue udah lama banget ngga ngeblog, tampilan dashboard blogger keren juga sekarang haha...APA KABAR TEMAN-TEMAN??
Labels:
agama,
conversation,
mithya,
relationship,
tuhan
Sabtu, 23 April 2011
Terima kasih lho infonya, Lushka....XD
M: Oiya, mantan kamu si lagu daerah itu ulang tahun beberapa hari yang lalu. Aku udah mention kamu di twitter. Dapet?
L: Iya, dapet. The man with one ball.
M: EW! I dont need to know that!
L: *ngakak* emang kenapa?
M: ih! AKu kan ngga pernah harus cerita bentuk anu-nya mantan aku kayak apa! EW!
L: *tambah ngakak*
L: Iya, dapet. The man with one ball.
M: EW! I dont need to know that!
L: *ngakak* emang kenapa?
M: ih! AKu kan ngga pernah harus cerita bentuk anu-nya mantan aku kayak apa! EW!
L: *tambah ngakak*
Labels:
conversation,
everyday lives,
ex,
mithya
Minggu, 23 Januari 2011
Let's home barbar
Gue baruu aja dapet bbm dari Lushka yang isinya berupa gambar kalau dia baru beli gunting keluaran Jepang, dengan judul mari barbar di rumah. Isi percakapannya gini:]
M: Aaaah ayaaaaaang
M: Jangan mentang2 aq cukur rambut kamu mau ikut2aaann
M: Ini berbezaaaa
L: Hahaha
L: Aaaapa siih
L: Aku ud cukur sblm kamu cukur tauu
L: Aku mau kasih liat itu org jepang nulis barber jd barbar
L: Ah kamuu
M: hehe itu buat rambut kepala bukan?
L: Iyaaa
M: LOL Iya, emg mrk ngomongnya barbar
JADI saudara-saudara! Dibalik perbincangan yang terlihat tidak penting dan absurd ini tersirat inside joke tersendiri, berkaitan dengan kegiatan cukur mencukur gue yang baru terjadi kemarin hehe…mari kita sebut saja mencukur rambut-yang-lain =D
Mohon maaf kalau isi pembicaraan kali ini mungkin akan sedikit tidak nyaman bagi para beberapa orang yang tidak terbiasa, jadi saya mau kasih peringatan kalau saya mau membicarakan sedikit tentang pencukuran rambut-yang-lain.
Gue termasuk salah satu manusia yang sedikit absurd dengan jumlah rambut yang tumbuh di badan gue. Lebat ngga karuan di kepala…..dan hampir botak di daerah-daerah lain di tubuh yang seharusnya ditumbuhi rambut juga. Kayaknya sih diambil semua jatahnya sama kepala hehe. Nah, dengan bangga dan kadang sedikit miris gue katakan, kalau gue ngga punya rambut..umm..ketiak. Hyaa…bahasanya =P Anyway ya..untuk anak usia 12 tahun, ngga punya rambut di daerah ini pastinya wajar. Tapi untuk seseorang di usia gue yang udah..um…mari kita sebut saja “diatas 20 tahun”, ngga punya rambut ini sering jadi bahan untuk temen-temen gue menepuk-nepuk pundak dan bilang “Selamat ya..lo selamat dari kegiatan menyiksa mencukur rambut”.
Weits, siapa bilang rambut cuma disitu kan? Gimana dengan rambut-yang-lain? Hehe..alhamdulillah masih ada, walaupun ngga rame-rame amat juga. Gue bahkan hanya perlu pake gunting untuk ngerapihin. Potong kiri dikit, potong kanan dikit, dan kerjaan gue untuk “mencukur” si rambut-yang-lain ini selesai sudah. Lagipula kan ya, sekedar pengingat, setiap rambut ada di tempatnya kan ada gunanya juga. Mencegah benda-benda asing seperti debu dan kuman untuk masuk. Tapi jangan lupa juga untuk dibersihin dan dijaga supaya ngga malah jadi sarang si debu dan kuman itu sendiri.
Sampai pada suatu hari gue akhirnya penasaran gimana rasanya kalau mencukur habis rambut-yang-lain ini. Akhirnya gue beli juga tuh pencukur import isi tiga harga Rp.10.000. Serius becandaan sepuluh ribu-tiga ironisnya berlaku ngga hanya untuk kaos kaki tapi juga buat pencukur rambut haha.
Walhasil dikarenakan minimnya pengalaman gue dalam hal ini, gue merasa perlu “berguru” dulu sama yang udah pernah melakukan pencukuran rambut-yang-lain ini (alias semua orang diatas usia remaja). Untuk alasan keamanan muka sendiri, gue memutuskan untuk bertanya-tanya sama Lushka gimana melakukannya dengan benar dan ketakutan setengah mati kalau sampai buat luka. Iya, ironis, buat pelaku SI kayak gue tapi takut bikin luka di daerah situ…gile, harta berharga itu. Gue nanya-nanya deh tuh sampe merasa puas dengan jawaban lushka. Hihi..untung pacar gue cewek.
Kalau masalah hasil, ngga perlu dijelaskan disini kali yaa…pokoknya operasi mencukur rambut-yang-lain sukses. Walaupun ternyata gue ngga nyaman dengan kegundulan si lokasi dengan alasan yang ngga bisa gue jelaskan disini tanpa terdengar vulgar..Dan gue bangga banget akhirnya bisa ngerasain yang namanya mencukur rambut sendiri hahaha..psst..kok kegiatan mencukur itu agak bikin adiksi ya..gue bolak balik kamar mandi setiap ngerasa ada yang kelewat dikit =P
Labels:
conversation,
health,
mithya,
women
Jumat, 15 Oktober 2010
Mental orang kaya
Percakapan pagi ini, ngomongin insiden kemaren malem pulang dari karaokean bareng beberapa temen-temen gue dan Lushka. Maag akut gue yang lagi kumat tiba-tiba rewel. Umm...Jadilah gue harus mencari toilet dan terjadi drama kecil dalam prosesnya. Gue ngga bisa ngontrol emosi karena ada orang yang ngga punya tenggang rasa dan...mecahin dinding kaca salah satu restoran di Sarinah =P Hasilnya? Bayar ganti cukup gede hehe..sigh..konsekuensi kelakuan lah. Anyway, tadi pagi ditelpon Lushka ngomongin si biaya ganti yang ternyata bisa dibalikin sebagian sama si restoran karena biayanya ngga sebesar perkiraan awal. Tapi yang keluar percakapannya malah gini..
Lushka: Uang sisanya kalau udah diambil buat aku jalan-jalan ya?
Mithya: *Sigh*..gini nih kalau punya pacar mata duitan..kamu pasti seneng deh kalo punya pacar orang kaya yang ngga perlu mikirin duit
Lushka: Oh iya lah, kalau kamu kaya kan kita ngga perlu ke restoran yang toiletnya cuma satu. Bisa naik jet, langsung pulang kerumah kamu
Mithya: Hun..mana ada orang naik jet dari sarinah...naik helikopter masih mungkin
Lushka: Ih, kalau ngga kita bisa check in ke kamar hotel langsung buat pake kamar mandinya..
Mithya: Susah- susah amet pake check in, emang hotel ngga punya kamar mandi publik di lobby apa..
Lushka: *Sigh*..emang susah ngomong sama orang yang ngga punya mental orang kaya! hahahaha...
Mithya: bahahaha....
Lushka: Uang sisanya kalau udah diambil buat aku jalan-jalan ya?
Mithya: *Sigh*..gini nih kalau punya pacar mata duitan..kamu pasti seneng deh kalo punya pacar orang kaya yang ngga perlu mikirin duit
Lushka: Oh iya lah, kalau kamu kaya kan kita ngga perlu ke restoran yang toiletnya cuma satu. Bisa naik jet, langsung pulang kerumah kamu
Mithya: Hun..mana ada orang naik jet dari sarinah...naik helikopter masih mungkin
Lushka: Ih, kalau ngga kita bisa check in ke kamar hotel langsung buat pake kamar mandinya..
Mithya: Susah- susah amet pake check in, emang hotel ngga punya kamar mandi publik di lobby apa..
Lushka: *Sigh*..emang susah ngomong sama orang yang ngga punya mental orang kaya! hahahaha...
Mithya: bahahaha....
Labels:
conversation,
dates,
mithya,
phone call
Rabu, 29 September 2010
Kalau Rabu pagi..
8AM WIB, BBM
Mithya™: Glee wuiiiiii
Mithya™: Lbh tepatnya
Mithya™: Hemo wuiiiiiiii
Mithya™: Aq blm ntn jelas aja udah wuiiii haha
Mithya™: Mulut nganga2 gitu deh
Lushka: :'(
Mithya™: Hehe
Lushka: Kamu ni
Mithya™: Astaga ya hunnnn
Lushka: Blg selamat pagi dulu kek
Mithya™: Oh iya selamat pagi sayang
Mithya™: Hemo wuiiiii
Mithya™: Hahaha
Gue biasa nonton Glee streaming live barengan sama tayangnya di TV amerika. Abis itu sibuk berkoar-koar sama Lushka. Kebetulan episode pagi ini tribute to Britney Spears dan HeMo dancing..masyaAllah...straight girls would go gay and gay boys would go straight bahahaha...lebay. Sabar ya sayang..ntar kalau aku udah download, kita nonton bareng lagi =)
Mithya™: Glee wuiiiiii
Mithya™: Lbh tepatnya
Mithya™: Hemo wuiiiiiiii
Mithya™: Aq blm ntn jelas aja udah wuiiii haha
Mithya™: Mulut nganga2 gitu deh
Lushka: :'(
Mithya™: Hehe
Lushka: Kamu ni
Mithya™: Astaga ya hunnnn
Lushka: Blg selamat pagi dulu kek
Mithya™: Oh iya selamat pagi sayang
Mithya™: Hemo wuiiiii
Mithya™: Hahaha
Gue biasa nonton Glee streaming live barengan sama tayangnya di TV amerika. Abis itu sibuk berkoar-koar sama Lushka. Kebetulan episode pagi ini tribute to Britney Spears dan HeMo dancing..masyaAllah...straight girls would go gay and gay boys would go straight bahahaha...lebay. Sabar ya sayang..ntar kalau aku udah download, kita nonton bareng lagi =)
Labels:
bbm,
conversation,
Glee,
mithya,
mithya nonton
Rabu, 18 Agustus 2010
The things we talk about, sometimes...
Just happened
L: Masa di blog-nya Fa ada yang nanya “mas, Straight apa sih?” Padahal dia gay lho.
M: Oh ya? Lucu amet.
L: Iya, terus kan kamu tau kan panggilan “belok”?
M: Hwahaha..iya, aku juga ngga suka tuh dengan sebutan itu. Emang gue mau belok kemana?
L: Iya, makanya si Fa bilang dia mau lurus-lurus aja tuh hahaha...
M: Iya, aku kalo ditanya “Lo belok ya?” mau jawab, “Ngga, gue jongkok” hahaha...
L: Hwahaha...tapi jongkok kan artinya bego
M: Itu kalo IQ jongkok tau..lagian kan kita generasi jongkok...eh itu “nongkrong” ya? HWAHAHAHA.....
L: HWAHAHAHA....kamu nih, lagian kapan nyampenya ya kalo belok terus?
M: Iya, kalo belok terus kan muter-muter hahahaha....
L: hahahaha....
Iya, ngga jelas, I know. Tapi ya gitu deh kalau gue sama Lushka udah ngobrol. Ngga ada yang bener hehe....no offense to people yang ngga ngerti dengan istilah-istilah dunia binan ya...baik hetero, homo, maupun queer ;)
L: Masa di blog-nya Fa ada yang nanya “mas, Straight apa sih?” Padahal dia gay lho.
M: Oh ya? Lucu amet.
L: Iya, terus kan kamu tau kan panggilan “belok”?
M: Hwahaha..iya, aku juga ngga suka tuh dengan sebutan itu. Emang gue mau belok kemana?
L: Iya, makanya si Fa bilang dia mau lurus-lurus aja tuh hahaha...
M: Iya, aku kalo ditanya “Lo belok ya?” mau jawab, “Ngga, gue jongkok” hahaha...
L: Hwahaha...tapi jongkok kan artinya bego
M: Itu kalo IQ jongkok tau..lagian kan kita generasi jongkok...eh itu “nongkrong” ya? HWAHAHAHA.....
L: HWAHAHAHA....kamu nih, lagian kapan nyampenya ya kalo belok terus?
M: Iya, kalo belok terus kan muter-muter hahahaha....
L: hahahaha....
Iya, ngga jelas, I know. Tapi ya gitu deh kalau gue sama Lushka udah ngobrol. Ngga ada yang bener hehe....no offense to people yang ngga ngerti dengan istilah-istilah dunia binan ya...baik hetero, homo, maupun queer ;)
Labels:
conversation,
everyday lives,
mithya,
phone call
Minggu, 15 Agustus 2010
The things she said sometimes..
Sore hari 2 minggu yang lalu, percakapan telepon antara gue dan Lushka
M: Ayang, keren banget deh keenam cewek-cewek Glee semuanya punya tato lho. Gaharrr...
L: ohya? Emang kalau tatonya Amber apa?
M: Aku belum nemu, tapi dipastikan dia punya. Baru buat gitu.
L: Aku juga mau buat tato ah
M: He? Mau buat tato apa?
L: Apa ya....yang di punggung gitu...KOYO! Aku mau buat tato gambar KOYO!
M: Bwahahaha...jadi kamu kaya orang masuk angin mulu dong? Pake backless, keliatan masuk angin. Pake baju renang, keliatan masuk angin.
L: Iya. Kan biar ngga standar tatonya. Lucu juga ya cuma kotak gitu bentuknya
M: Engga dong. Kan ada bulet-buletnya yang bolong-bolong di koyo
L: Oiyaaa!! Waaa...lucu yaa tato Koyo!
M: ~~’
M: Ayang, keren banget deh keenam cewek-cewek Glee semuanya punya tato lho. Gaharrr...
L: ohya? Emang kalau tatonya Amber apa?
M: Aku belum nemu, tapi dipastikan dia punya. Baru buat gitu.
L: Aku juga mau buat tato ah
M: He? Mau buat tato apa?
L: Apa ya....yang di punggung gitu...KOYO! Aku mau buat tato gambar KOYO!
M: Bwahahaha...jadi kamu kaya orang masuk angin mulu dong? Pake backless, keliatan masuk angin. Pake baju renang, keliatan masuk angin.
L: Iya. Kan biar ngga standar tatonya. Lucu juga ya cuma kotak gitu bentuknya
M: Engga dong. Kan ada bulet-buletnya yang bolong-bolong di koyo
L: Oiyaaa!! Waaa...lucu yaa tato Koyo!
M: ~~’
Labels:
conversation,
everyday lives,
Glee,
mithya,
phone call,
tato
Sabtu, 14 Agustus 2010
Reconnecting
Dibandingkan dengan diri gue yang dididik dengan gaya militer dan mengutamakan kesempurnaan oleh bokap, adek gue ngga sempet ngerasain tumbuh ke usia remaja dengan “dibimbing” bokap. Bokap ngga dirumah semenjak dia berusia sekitar 6 tahun. Dia lebih banyak dibesarkan oleh gaya asuh nyokap yang jauh lebih santai dan mau ngga mau dipengaruhi dengan pandangan androgynus gue. Feminitas dia juga udah terlihat dari kecil. Bukan yang model kemayu atau lenje, tapi dia sangat memperhatikan penampilan mulai dari rambut sampai kesesuaian warna pakaian. Menggunakan produk-produk bermerek untuk perawatan tubuh juga udah dimulai dari SMP. Temen-temen gue sering bercanda kalau jiwa gue sebenernya kebalik sama ade gue. Harusnya gue yang jadi cowok dan dia yang jadi cewek, hehe..
Berhubung kita cuma dua bersaudara, dan gue masih punya sisi maskulin untuk mengganti peran bokap yang ngga ada dirumah, gue dan adek gue cukup deket. Walaupun usia kita cukup jauh, sifat childish gue juga ngebantu dia untuk bonding sama gue. Kita biasa ngobrolin games atau main games bareng, ngebahas film, mainan-mainan cowok dan punya selera musik yang sebagian besar sama. Ada masa-masanya gue adalah idola dia. The cool sister. Tapi seiring usia kita yang sama-sama semakin dewasa, prioritas hidup pun berubah. Gue fokus dengan kuliah dan teman-teman kuliah sedangkan dia memasuki masa remaja yang fokus ke geng pergaulan remaja gaul jaman sekarang. Bisa dibilang dia apa yang sering kita sebut “pentolan” jaman sekolahan dulu, hehe..Punya reputasi playboy karena gonta-ganti cewek tiap beberapa bulan sekali (ini juga kata temen-temen gue turunan gen bokap langsung ke gue dan ade gua haha). Kita masih deket, tapi koneksi yang dulu pernah ada, agak sedikit tulalit dan putus nyambung.
Di masa-masa keadaan psikologis gue yang ngga baik, ade gue jadi salah satu korban langsung. Masa-masa emosi gue paling ngga stabil, dia karung sansak gue. Semua kemarahan gue banyak gue tujukan ke dia. Jangan salah, he was not a saint either at the time. He was a big jerk too. But it does not mean I could do those things to him.
Sekitar sebulan yang lalu gue berhadapan dengan masalah keluarga yang fokus utamanya adalah adek gue. Dia akhirnya kena masalah besar. Alhamdulillah bukan masalah obat-obatan atau menghamili anak orang hahaha...tapi masalah ini pastinya sangat berpengaruh dengan kehidupan dia ke depan. Gue juga nge-drop waktu tau masalah ini. Rasanya kayak gue udah mengecewakan dia. Ngga jadi kakak yang baik, yang terus-terusan harusnya ngejaga dia dari hal-hal yang merugikan dirinya. Terlebih karena gue ngerasa kami pernah jadi duo bersaudara yang erat. Di masa-masa gue ngga percaya siapa pun dan ngga bisa sayang sama siapa pun, gue bisa dengan lantang bilang kalo satu-satunya manusia yang gue sayang di dunia cuma dia seorang. I love him more than I love myself.
Karena masalah ini dia dapet ultimatum dan berbagai macam wejangan dari orang tua kami dan orang-orang terdekat. Gue selalu ada di sekitar dia setiap wejangan-wejangan ini diutarakan ke dia. Tapi gue ngga bisa berhenti ngerasa kalau para orang tua ini ngga ngerti apa yang mereka sedang hadapi. Mereka ngga ngerti apa yang ade gue hadapi sebagai remaja dan keadaan rumah yang sangat tidak mendukung untuk perkembangan yang baik. But I do. Gue putusin waktu itu untuk reach out ke dia dan gue berniat untuk memperbaiki hubungan kami. Jadi malem itu gue ngajak dia untuk ngobrol.
Gue bukan orang yang bisa dengan mudah membicarakan perasaan secara face to face, makanya gue butuh tempat dimana gue ngerasa aman. Gue pilih untuk ngobrol di kamar gue. Pintu juga gue tutup. Selain untuk diri gue sendiri supaya ngga ada yang perlu tau gue lagi usaha bermain peran sebagai “kakak” gue, juga mau dia tau kalau apa pun yang kita obrolin ngga akan sampai ke kuping para orang tua yang sok tau itu.
Out of my expectation, dia masih menganggap gue sebagai tempat cerita yang bisa dipercaya. Dengan mudah kita ngobrol tentang kehidupan sekolah dan teman-temannya sekarang. Gue awali pembicaraan dengan menceritakan insekuritas gue dulu untuk nunjukkin kalau gue juga sama menderitanya sama dia. Gue pernah di posisi dia dan gue ngerti gimana beratnya jadi, well, kami. Pembicaraan serius tentang perasaan dan motivasi dan sebagainya akhirnya berubah jadi obrolan santai. Lucunya dia cerita tentang pacar-pacar dia dan udah sejauh mana gaya pacarannya dan masturbasi, hahaha...suer gue sempet salting ngga karuan dan ketawa-ketawa ngga enak dengan betapa jujurnya dia. Tapi semuanya gue ambil sebagai bentuk kepercayaan dia ke gue. Gue tekankan kalau gue ngga akan menjudge dia dan sesekali melempar nasihat tentang batasan-batasan yang udah diajarin ke dia dari kecil lewat orang tua maupun sekolah.
Yang lebih mengagetkan adalah....ketika dia tiba-tiba ngaku kalau dia suka ngebayangin kissing dengan temen-temen sesama jenisnya. DOENG, DHUAR, JEDERR, rasanya pingin ngecek sekeliling kamar.Ada kamera tersembunyi kah?? Hidup gue ngga cukup opera sabun sampai ade gue juga ada kecenderungan biseksual seperti gue??
Gue berusaha ngedengerin apa yang dia ceritain dengan tenang. Rasanya kayak pingin ngomong, “Dude! I dig ya, bro! I fancy both sex too. Give me five!” Hehe...Tapi dengan segala perhitungan, gue ngga mungkin ngomong seperti itu. Dia sih belum pernah kissing sama cowok, tapi dia bilang pikiran-pikiran itu ada dan cukup sering. Terlebih kalau dia lagi deket dengan seorang temen cowok lain. Atau kalau dia lagi cuma berdua sama si temen. Yang lebih parah lagi, dia ngomong ke temennya. “Eh, gue ko mikir pingin ciuman sama lo, ya?” Hwahahahaha.....Sinting! tapi untungnya temen-temen di lingkungan dia ngga ada yang homophobic dan kata-kata dia itu cuma dianggep jadi bahan bercandaan. Dia juga bilang kalo dibanding temen-temen cowooknya yang lain, dia ngga risih untuk peluk-peluk. *sigh* oh, brother... Dia juga jadi sering diledekin homo (tapi ini pure bercandaan, bukan dalam arti temen-temennya geli dan jadi takut sama dia).
Pertanyaan dia sangat ketebak “Gue homo ngga sih kalau mikir kayak gitu?”. Serius gue speechless. Akhirnya setelah ngumpulin pelajaran-pelajaran yang gue tau dari kuliah psikologi 6 tahun dalam waktu beberapa detik, gue jawab, “Ngga.” Memikirkan ciuman dengan teman sesama jenis bukan berarti dia homo. Itu sebenernya hal yang cukup wajar dipikirkan sama remaja. Gue menganjurkan dia jangan manjain pikiran dia yang seperti itu. Bagaimanapun juga, bukan ngga mungkin makin dipikirin, makin pingin, dan terjadilah. Gue tekankan kalau gue ngga punya masalah dengan homoseksualitas (Duh..hello? I’m queer) dan kalau sampai andaikan dia homo (and for god sake moga-moga ngga) gue ngga kan menjudge dia. Gue ingetin kalau jadi homoseksual itu bukan penyakit dan bukan orang aneh, tapi memang ajaran agama kita ngelarang. Dia ternyata bilang kalau temen-temennya banyak yang biseksual (disini gue kaget karena artinya dia cukup paham dengan istilah biseksual), dan dia sendiri juga ngga ngejudge temen-temennya itu. Dan gue merasa sangat lega kalau dia bisa menerima temen-temennya yang biseks.
Secara keseluruhan, gue ngerasa sangat bangga karena malem itu gue bisa balikin hubungan kami dulu. Betapa mudahnya kami berdua ngobrol tentang hal-hal yang sensitif atau pun memalukan untuk dibicarakan antara adek laki-laki dengan kakak perempuan yang jarak usianya jauh banget. Setidaknya di saat-saat dia jatuh, gue bisa ngingetin kalau gue masih ada dan akan selalu jadi orang yang bisa dipercaya untuk ngebantu dia bangkit lagi. Gue nunjukkin kalau gue masih perduli dan sayang sama dia. Tentu aja perasaan khawatir ada tentang pengakuan kecenderungan homoseksual dia. All he need is another gay and voila, the kiss that he only think about might come true. Gue mungkin double standard untuk masalah ini. Menurut gue cewek lebih mudah bermain-main di seksualitas, tapi ngga dengan cowok. I still stand on my believes that being gay is not allowed. I dont know. Mungkin kalau dia bisa beneran biseksual dan bukan gay, gue masih bisa lebih tenang. Alasan lainnya, gue ngga mau adek gue harus ngelewatin hal yang serumit itu. We all know being gay is not easy. It’s a torture for the rest of your life kalau ngga bisa menerima diri sendiri, ngga diterima masyarakat apalagi kalau sampe disowned by parents. I dont want him to get through more problem that he already is now. Yah, kalo sampe dia gay juga bukan berarti gue bakalan ngga suka dan ngga menerima dia apa adanya (duh, hello? Again, I’m queer myself).
Semoga seiring waktu, kebingungan dia bisa terjawab dan bisa jadi pribadi yang lebih baik. Coz seriously, he’s still a jerk lil boy right now. Dan semoga dalam keadaan apa pun gue bisa terus ngedampingin dia jadi kakak yang baik.
Dipikir-pikir, gue dan dia bisa jadi bahan penelitian nih kalau homoseksualitas bisa karena gen, hahaha...
Berhubung kita cuma dua bersaudara, dan gue masih punya sisi maskulin untuk mengganti peran bokap yang ngga ada dirumah, gue dan adek gue cukup deket. Walaupun usia kita cukup jauh, sifat childish gue juga ngebantu dia untuk bonding sama gue. Kita biasa ngobrolin games atau main games bareng, ngebahas film, mainan-mainan cowok dan punya selera musik yang sebagian besar sama. Ada masa-masanya gue adalah idola dia. The cool sister. Tapi seiring usia kita yang sama-sama semakin dewasa, prioritas hidup pun berubah. Gue fokus dengan kuliah dan teman-teman kuliah sedangkan dia memasuki masa remaja yang fokus ke geng pergaulan remaja gaul jaman sekarang. Bisa dibilang dia apa yang sering kita sebut “pentolan” jaman sekolahan dulu, hehe..Punya reputasi playboy karena gonta-ganti cewek tiap beberapa bulan sekali (ini juga kata temen-temen gue turunan gen bokap langsung ke gue dan ade gua haha). Kita masih deket, tapi koneksi yang dulu pernah ada, agak sedikit tulalit dan putus nyambung.
Di masa-masa keadaan psikologis gue yang ngga baik, ade gue jadi salah satu korban langsung. Masa-masa emosi gue paling ngga stabil, dia karung sansak gue. Semua kemarahan gue banyak gue tujukan ke dia. Jangan salah, he was not a saint either at the time. He was a big jerk too. But it does not mean I could do those things to him.
Sekitar sebulan yang lalu gue berhadapan dengan masalah keluarga yang fokus utamanya adalah adek gue. Dia akhirnya kena masalah besar. Alhamdulillah bukan masalah obat-obatan atau menghamili anak orang hahaha...tapi masalah ini pastinya sangat berpengaruh dengan kehidupan dia ke depan. Gue juga nge-drop waktu tau masalah ini. Rasanya kayak gue udah mengecewakan dia. Ngga jadi kakak yang baik, yang terus-terusan harusnya ngejaga dia dari hal-hal yang merugikan dirinya. Terlebih karena gue ngerasa kami pernah jadi duo bersaudara yang erat. Di masa-masa gue ngga percaya siapa pun dan ngga bisa sayang sama siapa pun, gue bisa dengan lantang bilang kalo satu-satunya manusia yang gue sayang di dunia cuma dia seorang. I love him more than I love myself.
Karena masalah ini dia dapet ultimatum dan berbagai macam wejangan dari orang tua kami dan orang-orang terdekat. Gue selalu ada di sekitar dia setiap wejangan-wejangan ini diutarakan ke dia. Tapi gue ngga bisa berhenti ngerasa kalau para orang tua ini ngga ngerti apa yang mereka sedang hadapi. Mereka ngga ngerti apa yang ade gue hadapi sebagai remaja dan keadaan rumah yang sangat tidak mendukung untuk perkembangan yang baik. But I do. Gue putusin waktu itu untuk reach out ke dia dan gue berniat untuk memperbaiki hubungan kami. Jadi malem itu gue ngajak dia untuk ngobrol.
Gue bukan orang yang bisa dengan mudah membicarakan perasaan secara face to face, makanya gue butuh tempat dimana gue ngerasa aman. Gue pilih untuk ngobrol di kamar gue. Pintu juga gue tutup. Selain untuk diri gue sendiri supaya ngga ada yang perlu tau gue lagi usaha bermain peran sebagai “kakak” gue, juga mau dia tau kalau apa pun yang kita obrolin ngga akan sampai ke kuping para orang tua yang sok tau itu.
Out of my expectation, dia masih menganggap gue sebagai tempat cerita yang bisa dipercaya. Dengan mudah kita ngobrol tentang kehidupan sekolah dan teman-temannya sekarang. Gue awali pembicaraan dengan menceritakan insekuritas gue dulu untuk nunjukkin kalau gue juga sama menderitanya sama dia. Gue pernah di posisi dia dan gue ngerti gimana beratnya jadi, well, kami. Pembicaraan serius tentang perasaan dan motivasi dan sebagainya akhirnya berubah jadi obrolan santai. Lucunya dia cerita tentang pacar-pacar dia dan udah sejauh mana gaya pacarannya dan masturbasi, hahaha...suer gue sempet salting ngga karuan dan ketawa-ketawa ngga enak dengan betapa jujurnya dia. Tapi semuanya gue ambil sebagai bentuk kepercayaan dia ke gue. Gue tekankan kalau gue ngga akan menjudge dia dan sesekali melempar nasihat tentang batasan-batasan yang udah diajarin ke dia dari kecil lewat orang tua maupun sekolah.
Yang lebih mengagetkan adalah....ketika dia tiba-tiba ngaku kalau dia suka ngebayangin kissing dengan temen-temen sesama jenisnya. DOENG, DHUAR, JEDERR, rasanya pingin ngecek sekeliling kamar.Ada kamera tersembunyi kah?? Hidup gue ngga cukup opera sabun sampai ade gue juga ada kecenderungan biseksual seperti gue??
Gue berusaha ngedengerin apa yang dia ceritain dengan tenang. Rasanya kayak pingin ngomong, “Dude! I dig ya, bro! I fancy both sex too. Give me five!” Hehe...Tapi dengan segala perhitungan, gue ngga mungkin ngomong seperti itu. Dia sih belum pernah kissing sama cowok, tapi dia bilang pikiran-pikiran itu ada dan cukup sering. Terlebih kalau dia lagi deket dengan seorang temen cowok lain. Atau kalau dia lagi cuma berdua sama si temen. Yang lebih parah lagi, dia ngomong ke temennya. “Eh, gue ko mikir pingin ciuman sama lo, ya?” Hwahahahaha.....Sinting! tapi untungnya temen-temen di lingkungan dia ngga ada yang homophobic dan kata-kata dia itu cuma dianggep jadi bahan bercandaan. Dia juga bilang kalo dibanding temen-temen cowooknya yang lain, dia ngga risih untuk peluk-peluk. *sigh* oh, brother... Dia juga jadi sering diledekin homo (tapi ini pure bercandaan, bukan dalam arti temen-temennya geli dan jadi takut sama dia).
Pertanyaan dia sangat ketebak “Gue homo ngga sih kalau mikir kayak gitu?”. Serius gue speechless. Akhirnya setelah ngumpulin pelajaran-pelajaran yang gue tau dari kuliah psikologi 6 tahun dalam waktu beberapa detik, gue jawab, “Ngga.” Memikirkan ciuman dengan teman sesama jenis bukan berarti dia homo. Itu sebenernya hal yang cukup wajar dipikirkan sama remaja. Gue menganjurkan dia jangan manjain pikiran dia yang seperti itu. Bagaimanapun juga, bukan ngga mungkin makin dipikirin, makin pingin, dan terjadilah. Gue tekankan kalau gue ngga punya masalah dengan homoseksualitas (Duh..hello? I’m queer) dan kalau sampai andaikan dia homo (and for god sake moga-moga ngga) gue ngga kan menjudge dia. Gue ingetin kalau jadi homoseksual itu bukan penyakit dan bukan orang aneh, tapi memang ajaran agama kita ngelarang. Dia ternyata bilang kalau temen-temennya banyak yang biseksual (disini gue kaget karena artinya dia cukup paham dengan istilah biseksual), dan dia sendiri juga ngga ngejudge temen-temennya itu. Dan gue merasa sangat lega kalau dia bisa menerima temen-temennya yang biseks.
Secara keseluruhan, gue ngerasa sangat bangga karena malem itu gue bisa balikin hubungan kami dulu. Betapa mudahnya kami berdua ngobrol tentang hal-hal yang sensitif atau pun memalukan untuk dibicarakan antara adek laki-laki dengan kakak perempuan yang jarak usianya jauh banget. Setidaknya di saat-saat dia jatuh, gue bisa ngingetin kalau gue masih ada dan akan selalu jadi orang yang bisa dipercaya untuk ngebantu dia bangkit lagi. Gue nunjukkin kalau gue masih perduli dan sayang sama dia. Tentu aja perasaan khawatir ada tentang pengakuan kecenderungan homoseksual dia. All he need is another gay and voila, the kiss that he only think about might come true. Gue mungkin double standard untuk masalah ini. Menurut gue cewek lebih mudah bermain-main di seksualitas, tapi ngga dengan cowok. I still stand on my believes that being gay is not allowed. I dont know. Mungkin kalau dia bisa beneran biseksual dan bukan gay, gue masih bisa lebih tenang. Alasan lainnya, gue ngga mau adek gue harus ngelewatin hal yang serumit itu. We all know being gay is not easy. It’s a torture for the rest of your life kalau ngga bisa menerima diri sendiri, ngga diterima masyarakat apalagi kalau sampe disowned by parents. I dont want him to get through more problem that he already is now. Yah, kalo sampe dia gay juga bukan berarti gue bakalan ngga suka dan ngga menerima dia apa adanya (duh, hello? Again, I’m queer myself).
Semoga seiring waktu, kebingungan dia bisa terjawab dan bisa jadi pribadi yang lebih baik. Coz seriously, he’s still a jerk lil boy right now. Dan semoga dalam keadaan apa pun gue bisa terus ngedampingin dia jadi kakak yang baik.
Dipikir-pikir, gue dan dia bisa jadi bahan penelitian nih kalau homoseksualitas bisa karena gen, hahaha...
Labels:
bisexual,
coming out,
conversation,
family,
feelings,
gay,
homophobic,
homosexual,
i love you,
mithya,
orientasi,
parents,
psikologi,
queer,
relationship
Kamis, 12 Agustus 2010
The things she did sometimes..
Kemaren sore, bbm bunyi..
Lushka: Kamu mau serabi rasa apa, yang?
Lushka: Eh, maaf
Lushka: Salah
Mithya: Emang buat siapa?
.......(ga dijawab-jawab)
Mithya: Emang buat siapa?
Lushka: Bukan buat siapa-siapa. Aku cuma ngetes kamu hehe...
Lushka: Horee...masih penasaran
~~’ the things she did sometimes...I’m speechless...
Lushka: Kamu mau serabi rasa apa, yang?
Lushka: Eh, maaf
Lushka: Salah
Mithya: Emang buat siapa?
.......(ga dijawab-jawab)
Mithya: Emang buat siapa?
Lushka: Bukan buat siapa-siapa. Aku cuma ngetes kamu hehe...
Lushka: Horee...masih penasaran
~~’ the things she did sometimes...I’m speechless...
Labels:
conversation,
everyday lives,
iseng,
mithya
Rabu, 21 Juli 2010
*ngurut-ngurut jidat* udah ketiga kalinya Lushka kalau mau ngirim email ke gue malah ngirim email ke fried durian dan berakibat emailnya jadi post blog. Ayaaaaannnggg...coba yaaa...lebih perhatian sama apa yang diketik di kotak email tujuan..!! Kalau isinya bukan untuk khalayak umum gimana?? Huff...*delete post*
Kamu perlu ganti email fried durian kali ya? perasaan beda banget sama nama email aku...???
Kamu perlu ganti email fried durian kali ya? perasaan beda banget sama nama email aku...???
Labels:
blog,
conversation,
everyday lives,
mithya
Minggu, 20 Juni 2010
incoherrent
Waktu: 13.21. Gue kebangun karena Lushka nelpon ke HP.
Mood gue: Ngantuk dan belum mudeng sama dunia
Mood Lushka: riang gembira
L: Hun, aku ke Mall Anjungan ya.
M: Mau ngapain?
L: Aku disuruh tante beli beberapa barang titipan
M: OK
L: Dina mau beli apaan aku ga tau, terus aku juga mau (disini gue ngga denger Lushka ngomong apa).
M: OK (yah pokoknya ceritanya udah denger gitu hehe)
L: Yaudah aku pergi ya
M: Eh entar dulu. Dina? Kenapa tiba-tiba ada Dina? (baru mulai mudeng sama dunia)
L: Ih, aku kan tadi udah bilang mau pergi sama Dina. Makanya kamu dengerin aku dong kalau ngomong. (Gaya ngomongnya sok tau hihi)
M: Idih, kamu ngga bilang kali. Tadi tuh kamu ngomong kaya gini (mengulang percakapan sebelumnya dengan sempurna)
L: Hahahaha..oh aku ngga bilang ya? Iya, aku mau pergi sama Dina.
M: Makanya kamu tuh. Ini salah satu bukti kamu sering banget having some incoherrent speech yang bikin aku harus nanya ulang karena ngga ngerti.
L: Hahaha...iya, iya, maaf. Hun, nikah yuk? Biar kamu bisa ngebenerin tata cara aku ngomong terus
(><”)Lushka emang paling betah ngomong ngga nyambung, ngga logis dan seenak udelnya dan gue kelewat kaku dan rese sampe harus ngeributin cara dia menjelaskan segala sesuatu dengan teratur. Oh well. LHSM though..
Telepon diakhiri dengan gue sibuk menginterogasi
“Siapa yang ngajakin?”
“Mau berangkat jam berapa?”
“Naik apa?”
“Siapa yang jemput siapa?” =P
Mood gue: Ngantuk dan belum mudeng sama dunia
Mood Lushka: riang gembira
L: Hun, aku ke Mall Anjungan ya.
M: Mau ngapain?
L: Aku disuruh tante beli beberapa barang titipan
M: OK
L: Dina mau beli apaan aku ga tau, terus aku juga mau (disini gue ngga denger Lushka ngomong apa).
M: OK (yah pokoknya ceritanya udah denger gitu hehe)
L: Yaudah aku pergi ya
M: Eh entar dulu. Dina? Kenapa tiba-tiba ada Dina? (baru mulai mudeng sama dunia)
L: Ih, aku kan tadi udah bilang mau pergi sama Dina. Makanya kamu dengerin aku dong kalau ngomong. (Gaya ngomongnya sok tau hihi)
M: Idih, kamu ngga bilang kali. Tadi tuh kamu ngomong kaya gini (mengulang percakapan sebelumnya dengan sempurna)
L: Hahahaha..oh aku ngga bilang ya? Iya, aku mau pergi sama Dina.
M: Makanya kamu tuh. Ini salah satu bukti kamu sering banget having some incoherrent speech yang bikin aku harus nanya ulang karena ngga ngerti.
L: Hahaha...iya, iya, maaf. Hun, nikah yuk? Biar kamu bisa ngebenerin tata cara aku ngomong terus
(><”)Lushka emang paling betah ngomong ngga nyambung, ngga logis dan seenak udelnya dan gue kelewat kaku dan rese sampe harus ngeributin cara dia menjelaskan segala sesuatu dengan teratur. Oh well. LHSM though..
Telepon diakhiri dengan gue sibuk menginterogasi
“Siapa yang ngajakin?”
“Mau berangkat jam berapa?”
“Naik apa?”
“Siapa yang jemput siapa?” =P
Labels:
conversation,
funny,
mithya,
phone call
Kamis, 03 Juni 2010
Lushka one liners
Tadi malem sebelum nutup telepon mau tidur, gue dibuat shock sama kata-kata Lushka. Halus sih..tapi masih jelas to the point maksudnya apa LoL. Abis dia ngomong kalimat itu, kita sama-sama diem-dieman awkward di telepon terus beberapa detik kemudian sama-sama ketawa ngakak dan buru-buru tutup telepon. Duh, sayang..kamu tadi malem bikin jantung aku mau copot dengernya. Sampe sekarang kalau keinget aku masih cengar-cengir.
Jadi, Lushka tadi malem bilang,
*atas permintaan si empunya, kalimatnya harus disensor. Soalnya sampe sekarang aja kita masih ketawa cekikikan dengan kalimat fenomenal ini.
Jadi, Lushka tadi malem bilang,
"****** kamu lebih **** dari ***** apa pun"o.0 I'm gonna take that as a compliment, awkwardness aside LoL
*atas permintaan si empunya, kalimatnya harus disensor. Soalnya sampe sekarang aja kita masih ketawa cekikikan dengan kalimat fenomenal ini.
Labels:
conversation,
funny,
happy,
mithya,
phone call,
quote
Sabtu, 29 Mei 2010
Glee!
I need to address this. Gue bukan Gleek sebelum Lushka yang nge-fans duluan. Yep, gue nonton Glee lebih dulu yang season 1 part 1 (episode 1-13), tapi itu juga dengan acuh-tak-acuh-tapi-rutin tiap hari Rabu malem duduk dengan manis depan TV. Gue bahkan ngga ambil pusing dengan dialognya. Gue cuma suka dengan lagu-lagu cover yang mereka punya. Karena terus terang untuk seorang penggilaTV series, Glee itu berantakan banget. Alur cerita bolong-bolong, fast pace teen dialogue, ngga peduli dengan background atau penyelesaian masalah, ngga begitu perduli dengan ketepatan sifat karakter dan overall membingungkan.
Tapi sebagai penggila musik, I find that lagu-lagu Glee terdiri dari lagu-lagu showtunes broadway, classic 90’s atau para pemegang chart top 10 billboard yang dibalut ulang dalam bentuk pop dan show choir, jadi sangat menyenangkan. Koleksi dan ilmu musik gue nambah ^^. Gue memperkenalkan Lushka dengan Glee juga lewat lagu-lagunya dulu yang udah gue download in advance sebelum nonton episodenya. Waktu itu memang jadwal tayang di TV kabel Asia beda 10 bulan dengan yang di US. Lushka juga awalnya dengerin lagu-lagu Glee dengan acuh tak acuh. Gue gatel juga. Udah beberapa kali gue berusaha bikin Lushka jadi TV series nerd kaya gue. Semuanya gagal. Salah banget TV series pertama yang gue ajukan itu The L Word. Ceritanya kan Lushka itu rookie pada waktu itu hahaha...I thought she oughta know what girls on girls action looks like =D Ngga sampe seperempat season, Lushka udah mau bunuh diri ngeliat drama cewek lesbian buahahaha...gue juga sebenernya terus-terusan nonton TLW karena keburu ngikutin aja. Not a fan of the work.
Setelah itu gue penasaran, pilih-pilih genre apa yang tepat buat Lushka. Kesukaan gue dan dia bener-bener beda. Kalau TLW aja dia males, apalagi macem CSI, NCIS, atau Dexter. Lushka sendiri ngaku coba untuk enjoy nonton Desperate Housewives dan Supernatural (minjem dari kantornya. Gue ngga ngerti kenapa kantor kok punya DVD), tapi baru setengah season, Lushka nyerah lagi.
Gue pun semakin semangat dan tambah penasaran. Akhirnya gue coba minjemin Grey’s anatomy. Fab! Dia tahan nonton sampe 3 season sebelum akhirnya nyerah dengan penyakit “drama overload” *sigh* Mulai saat itu Lushka gue nobatkan sebagai cewek sinis, hehehe...
Glee udah jadi “charity case” gue ke dia. Gue udah terserah-kamu-mau-suka-atau-ngga. Apalagi kan gue ngga punya DVD-nya. Gue rela beliin khusus buat dia. Ssstt...gue bersyukur banget waktu gue beli episode 1-13 udah dipadetin jadi 3 DVD. Waktu itu sebenernya ngga rela juga ngeluarin uang untuk Glee hahaha..kualat banget deh gue.
Mana gue sangka kalau besok paginya Lushka nelpon gue sebelum ngantor sambil nonton Glee ketawa-ketawa. Serius gue SHOCK. Dia bahkan menceritakan ulang episode yang dia tonton (dimana gue baru tau kalau dialog-dialog Glee itu sebenernya witty banget), gue tekankan, CERITA ULANG. Gue ngomongin seorang cewek yang kalo ditanya,
M: How’s your day honey?
L: OK
M: Anything interesting happened?
L: Ngga. Biasa aja
M: Emang ngga ada yang lucu atau seru atau siapa kek yang bikin kamu kesel?
L: ngga
M: o.0 Hello...!?
Kurang lebih kalau mau nanya Lushka "how was her day", gue harus berperan sebagai seorang psikolog lagi probing anak umur 7 tahun yang ignoran ~~’. Dan tiba-tiba hari itu dia bawel ngomongin Glee, ngomongin lagu-lagu apa aja yang dia suka (katanya sekarang lagu yang gue kasih baru punya makna setelah nonton), HAPAL dengan dialognya PLUS Mr. Kurt Hummel yang jadi favorit dia. Gue SHOCK.
Then gue ngerasa seneng banget. AKHIRNYA. Ada satu hal yang gue dan Lushka sama-sama suka. Walaupun maksudnya buat gue TV series secara general dan buat Lushka khusus Glee aja. Gue seneng denger dia excited. Lushka ngga berhenti ngomongin Glee selama beberapa hari. Dia bahkan minta ditemenin nonton Glee lewat telepon. Serius, buat gue itu keajaiban alam. Gue belajar suka Glee dari Lushka. Lushka ngebombardir gue dengan segala info tentang Glee. Gue bahkan udah dua kali menikmati nonton bareng dirumah marathon Glee sambil nyanyi bareng, mouthing dialog Glee dan nari-nari ngikutin dance-nya ~~’. IT WAS A BLISS.
Tapi sekarang keadaannya kebalik. Lushka masih di level euphoria yang sama. Gue...melonjak ke obsesi yang ngga sehat. Diawali dari satu dialog yang sekarang jadi salah satu lines paling terkenal diantara para Gleek. “If it were, Santana and I would be dating” –Brittany 1.13 Sectionals. And just like that I become a Glee whore. Gue terobsesi dengan betapa homo-nya series ini.
Karakter homo dan bisexual? Ada.
Persamaan hak minoritas (sexuality and race)? Ada.
Penulis gay? Ada.
Pemain gay? Banyak.
Glee lebih homo dari TLW maupun QAF. I assure you that.
Next thing I know, gue ngebuat tumblr khusus untuk Glee. Being part of the shippers community. Baca SEMUA fanfiction Glee dan temenan dengan para penulisnya. Bahkan gue anggota official website Glee. =P *sigh* Anything that could make us feel happy should be embraced. Hahahaha..
I definitely blame my queerness for being a Gleek. Brittana rules!
note: Sekarang Lushka sambil nungguin gue download episode Glee terbaru tiap minggu, ngefans sama Lost. Gue pinjemin sekaligus 5 season DVD punya gue =P oh yessss...victory is sweet!
Lushka titip minta dikasih tau ke orang-orang kalau sekarang dia terobsesi dengan pusernya Puck. "Puck is my new hero" katanya ~~'
Labels:
conversation,
dates,
gay,
Glee,
internet,
mithya,
mithya nonton,
music,
phone call,
TV,
website
Jumat, 26 Maret 2010
Ayo pilih mana
Gue dapat kabar, salah satu teman dekat gue akan nikah tengah tahun ini.
Gue cerita ama Mithya terus jadi ngebahas, what if kalo kita nikah. Standard ngayal kita deh.
Kita sih maunya kalo nikah itu harus sah, legal dan halal. Which mean, harus siap, ikhlas, se-sesuai dengan agama yang kita anut, legal di mata hukum negara dan restu orangtua. MANTAB.
Masalahnyaaaaaa! *gaya Jeung Fitri Tropica*, gue berdua untuk dapat nikah dengan kondisi tersebut diatas *halah*, harus memiliki syarat sebagai berikut.
- Ikhlas/Siap --> beuh! siap banget dah
- Restu Orangtua --> nyokap Mithya klik banget ama gue..hihihi. Mithya kayanya juga bisa get along dengan baik ama keluarga gue
- Beda Kelamin ...errrr
- Beragama sama....errrr
Nahh! Itu dia masalahnya pemirsa! gue berdua udah sama kelaminnya, eeehhh ditambah pake beda agama! hihihi
Jadi solusinya....operasi kelamin dan pindah agama. Ccck. Ccck.
Waktu dibahas, kita malah jadi ngakak-ngakak ngebahasnya, nentuin siapa yang ikhlas 'berkorban". Sama-sama membujuk, merayu.
Mithya : "kamu deh yang operasi kelamiiin"
Lushka : "ga mauuu, kamu aja, aku suka jadi cewek"
Mithya : "aaaa aku juga suka jadi cewek"
Lushka : "Hihihihi. Iya. Eh, tapi emang kamu mau pindah agama?
Mithya : "Engga"
Lushka :"hahahahahaha...aku juga ga mau"
Hihihi. Ga kelar-kelar. Karena ada 2 kondisi yang harus diubah kalo mau kejadian. Tapi enjoy aja. Yang kita itung bukan berapa lama lagi - tapi berapa lama sejak.
Dan kami sangat menghargai dan bersyukur untuk apa yang kami punya. =)
Mau ga, B?Operasi kelamin dan pindah agama?
Aku ga mau soalnya.
Hihihi
Mwah.
ps. senang kita bisa ngobrol santai hal-hal kaya gini. =)
selamat hampir 3 tahun kurang dua hari pacarku yang cantiiiik.
Labels:
conversation,
everyday lives,
Lushka,
tuhan
Kamis, 25 Maret 2010
Button
Kata Lushka...lagu "Button" Pussycat Doll itu lagunya orang kegendutan. Bajunya terlalu pas sampe susah dibuka...err..lushkaa..~~'
Here are the exact bridge and reffrain, hehe..
"You've been saying all the right things all night long
But I can't seem to get you over here to help take this off
Baby, can't you see?
How these clothes are fitting on me
And the heat coming from this beat
I'm about to blow
I don't think you know
I'm telling you loosen up my buttons baby
But you keep fronting
Saying what you going do to me
But I ain't seen nothing"
Here are the exact bridge and reffrain, hehe..
"You've been saying all the right things all night long
But I can't seem to get you over here to help take this off
Baby, can't you see?
How these clothes are fitting on me
And the heat coming from this beat
I'm about to blow
I don't think you know
I'm telling you loosen up my buttons baby
But you keep fronting
Saying what you going do to me
But I ain't seen nothing"
Labels:
conversation,
fun,
lyric,
mithya
Ngiggo lagi..
Tadi malem Lushka kecapean dan minta ijin tidur cepet. I wouldn't mind karena gue juga lagi harus belajar. Dalam itungan menit lewat telepon, Lushka memang langsung tertidur.
tick tock tick tock...20 menit kemudian jam 12 tepat, Lushka nelpon lagi. Bingung dong gue, karena harusnya dia udah tidur.
Mithya: Lho, kamu kok nelpon lagi? kenapa nelpon lagi?
Lushka: Kan kamu mau nyewa..
Mithya: Ha? Aku mau NANYA apa? (yang satu ngiggo, yang satu budeg)
Lushka: Iya, kan kamu mau nyewa foto...
Mithya: Nyewa foto?? Nyewa foto apa??
Lushka: (ngga ada jawaban karena kayaknya udah tidur lagi)
Mithya: Wooii...nyewa foto apaan?..Lushka...
terus cuma butuh beberapa detik perasaan "AHA!" itu datang dan gue ketawa cekikikan ngga berhenti. Sejak kapan foto bisa disewakan ya? Gue mendingan nyewa orangnya beneran..hahaha..Lushka dalam keadaan setengah sadar tau kalo dirinya ketawain langsung ngambek. Berulang-ulang bilang "aahh, jangan diketawainnn!" dengan suara anak kecil baru bangun tidur. Padahal dia ngga tau diketawain karena apa. Hahahaha...
Telpon pun gue matiin setelah godain Lushka yang masih setengah beler. Dia ngga sadar gue ngomong apa pun, asal jawab semua. Ternyata dia nelpon lagi. Of course masih dalam keadaan ngga sadar. Ya udah gue pikir kasihan juga. Ditemenin tidur aja sambil belajar. Tapi setelah 5 menit diem-dieman di telpon ngga bersuara, Lushka sepertinya kebangun dalam keadaan kaget...
Lushka: Terus, jadinya gimana?
Mithya: (Kali ini moment "AHA!"nya udah lebih cepet dan ketawa lagi) Apanya yang gimana, sayang?
Gue tau banget dia pasti ngira ketiduran pas kita ngobrol. Soalnya sering banget kayak gitu dan gue pasti males ngomong abis itu. Kayaknya Lushka takut hehehe..
Lushka: Huh? (kedengeran bingung sendiri, diem bentar..kayaknya mikir) Ya udah deh..
Mithya: (Makin ketawa cekikikan) kamu lagi ngomongin apa? Kamu ngiggo lagi ya?
Lushka: Ngga tauuu...jangan diketawaiiinnn...
Dan telpon pun mati, tapi Lushka ngga nelpon-nelpon lagi. Yang pertanda dia udah tidur lagi dengan tenang. HAHAHAHAHA...she is such a fun thing to hear if she rambles in her sleep.
Love you, dear..=) Have a bright day at the office ya..kerjanya jangan sambil ngiggo. Nanti kamu nawarin nyewa foto ke klien =P
tick tock tick tock...20 menit kemudian jam 12 tepat, Lushka nelpon lagi. Bingung dong gue, karena harusnya dia udah tidur.
Mithya: Lho, kamu kok nelpon lagi? kenapa nelpon lagi?
Lushka: Kan kamu mau nyewa..
Mithya: Ha? Aku mau NANYA apa? (yang satu ngiggo, yang satu budeg)
Lushka: Iya, kan kamu mau nyewa foto...
Mithya: Nyewa foto?? Nyewa foto apa??
Lushka: (ngga ada jawaban karena kayaknya udah tidur lagi)
Mithya: Wooii...nyewa foto apaan?..Lushka...
terus cuma butuh beberapa detik perasaan "AHA!" itu datang dan gue ketawa cekikikan ngga berhenti. Sejak kapan foto bisa disewakan ya? Gue mendingan nyewa orangnya beneran..hahaha..Lushka dalam keadaan setengah sadar tau kalo dirinya ketawain langsung ngambek. Berulang-ulang bilang "aahh, jangan diketawainnn!" dengan suara anak kecil baru bangun tidur. Padahal dia ngga tau diketawain karena apa. Hahahaha...
Telpon pun gue matiin setelah godain Lushka yang masih setengah beler. Dia ngga sadar gue ngomong apa pun, asal jawab semua. Ternyata dia nelpon lagi. Of course masih dalam keadaan ngga sadar. Ya udah gue pikir kasihan juga. Ditemenin tidur aja sambil belajar. Tapi setelah 5 menit diem-dieman di telpon ngga bersuara, Lushka sepertinya kebangun dalam keadaan kaget...
Lushka: Terus, jadinya gimana?
Mithya: (Kali ini moment "AHA!"nya udah lebih cepet dan ketawa lagi) Apanya yang gimana, sayang?
Gue tau banget dia pasti ngira ketiduran pas kita ngobrol. Soalnya sering banget kayak gitu dan gue pasti males ngomong abis itu. Kayaknya Lushka takut hehehe..
Lushka: Huh? (kedengeran bingung sendiri, diem bentar..kayaknya mikir) Ya udah deh..
Mithya: (Makin ketawa cekikikan) kamu lagi ngomongin apa? Kamu ngiggo lagi ya?
Lushka: Ngga tauuu...jangan diketawaiiinnn...
Dan telpon pun mati, tapi Lushka ngga nelpon-nelpon lagi. Yang pertanda dia udah tidur lagi dengan tenang. HAHAHAHAHA...she is such a fun thing to hear if she rambles in her sleep.
Love you, dear..=) Have a bright day at the office ya..kerjanya jangan sambil ngiggo. Nanti kamu nawarin nyewa foto ke klien =P
Labels:
conversation,
everyday lives,
fun,
mithya,
ngiggo,
phone call
Langganan:
Postingan (Atom)




