Halaman

Tampilkan postingan dengan label parents. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parents. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 April 2013

21days

it's weird I constantly have this feeling every saturday.
the day my dad passed away.
three weeks ago.
baru 21 hari yang lalu.
di kepala terus menerus muter kejadian hari Sabtu itu.
dari tengah malam tadi, sampai nanti jam 16.27
I can recalled each minutes of it. How do I feel.
Cuaca saat itu, bau yang menguar hari itu.
Bunyi tombol-tombol telp. 
Perasaan masgyul telp ga diangkat.
Perasaan i know this is it. this is the time.
The look on the doctor face.
the sweat on his palm
the eyes of my mom the minutes the doctor told her that my dad was gone already.
The gestures she made against the wall.

I failed to hold my tears, setiap kali inget hari itu.
I still able to recall how warm my dad was, though they said he's gone already.
I still able to remember every inch of his skin the time we bathe him for the last time.
how i feel ashamed that it has to be witnessed by so many people.
how I want to scream to them, It's someone took a bath, god damn it! go away!
i want to protect my father's pride. 
but it's not my dad anymore, it's the body.
and they're paying respect for him for the last time.

masih inget di kamar jenazah , ngurusin ini itu, ditemenin sepupu, sampai mindahin jenasah papa ke peti. berat. my dad was a heavy man. haha.
masih inget tangan papa terkulai lemas waktu dipindahkan dari bed ke peti.
how i have to put it back on his chest
How i signed his dead certificate, the receipt to brought him home.

apa Papa juga melakukan hal yang sama di hari anak-anaknya lahir, datang ke dunia?
dan sekarang gue yang harus tanda tangan di surat keterangan kematiannya, mengiyakan kalau kami sekeluarga tau papa udah pergi?


i failed to say the pray.
gue ga tau apa yang musti didoakan. he's gone for good.
udah ga sakit lagi kan, Pa?

I miss you so, so, so

*thanks for everything abt me. you gave me a lot of you inside me.
*probably i would never be able to stop to grieve, but I wont stop to live the life.

Sabtu, 14 Agustus 2010

Reconnecting

Dibandingkan dengan diri gue yang dididik dengan gaya militer dan mengutamakan kesempurnaan oleh bokap, adek gue ngga sempet ngerasain tumbuh ke usia remaja dengan “dibimbing” bokap. Bokap ngga dirumah semenjak dia berusia sekitar 6 tahun. Dia lebih banyak dibesarkan oleh gaya asuh nyokap yang jauh lebih santai dan mau ngga mau dipengaruhi dengan pandangan androgynus gue. Feminitas dia juga udah terlihat dari kecil. Bukan yang model kemayu atau lenje, tapi dia sangat memperhatikan penampilan mulai dari rambut sampai kesesuaian warna pakaian. Menggunakan produk-produk bermerek untuk perawatan tubuh juga udah dimulai dari SMP. Temen-temen gue sering bercanda kalau jiwa gue sebenernya kebalik sama ade gue. Harusnya gue yang jadi cowok dan dia yang jadi cewek, hehe..

Berhubung kita cuma dua bersaudara, dan gue masih punya sisi maskulin untuk mengganti peran bokap yang ngga ada dirumah, gue dan adek gue cukup deket. Walaupun usia kita cukup jauh, sifat childish gue juga ngebantu dia untuk bonding sama gue. Kita biasa ngobrolin games atau main games bareng, ngebahas film, mainan-mainan cowok dan punya selera musik yang sebagian besar sama. Ada masa-masanya gue adalah idola dia. The cool sister. Tapi seiring usia kita yang sama-sama semakin dewasa, prioritas hidup pun berubah. Gue fokus dengan kuliah dan teman-teman kuliah sedangkan dia memasuki masa remaja yang fokus ke geng pergaulan remaja gaul jaman sekarang. Bisa dibilang dia apa yang sering kita sebut “pentolan” jaman sekolahan dulu, hehe..Punya reputasi playboy karena gonta-ganti cewek tiap beberapa bulan sekali (ini juga kata temen-temen gue turunan gen bokap langsung ke gue dan ade gua haha). Kita masih deket, tapi koneksi yang dulu pernah ada, agak sedikit tulalit dan putus nyambung.

Di masa-masa keadaan psikologis gue yang ngga baik, ade gue jadi salah satu korban langsung. Masa-masa emosi gue paling ngga stabil, dia karung sansak gue. Semua kemarahan gue banyak gue tujukan ke dia. Jangan salah, he was not a saint either at the time. He was a big jerk too. But it does not mean I could do those things to him.

Sekitar sebulan yang lalu gue berhadapan dengan masalah keluarga yang fokus utamanya adalah adek gue. Dia akhirnya kena masalah besar. Alhamdulillah bukan masalah obat-obatan atau menghamili anak orang hahaha...tapi masalah ini pastinya sangat berpengaruh dengan kehidupan dia ke depan. Gue juga nge-drop waktu tau masalah ini. Rasanya kayak gue udah mengecewakan dia. Ngga jadi kakak yang baik, yang terus-terusan harusnya ngejaga dia dari hal-hal yang merugikan dirinya. Terlebih karena gue ngerasa kami pernah jadi duo bersaudara yang erat. Di masa-masa gue ngga percaya siapa pun dan ngga bisa sayang sama siapa pun, gue bisa dengan lantang bilang kalo satu-satunya manusia yang gue sayang di dunia cuma dia seorang. I love him more than I love myself.

Karena masalah ini dia dapet ultimatum dan berbagai macam wejangan dari orang tua kami dan orang-orang terdekat. Gue selalu ada di sekitar dia setiap wejangan-wejangan ini diutarakan ke dia. Tapi gue ngga bisa berhenti ngerasa kalau para orang tua ini ngga ngerti apa yang mereka sedang hadapi. Mereka ngga ngerti apa yang ade gue hadapi sebagai remaja dan keadaan rumah yang sangat tidak mendukung untuk perkembangan yang baik. But I do. Gue putusin waktu itu untuk reach out ke dia dan gue berniat untuk memperbaiki hubungan kami. Jadi malem itu gue ngajak dia untuk ngobrol.

Gue bukan orang yang bisa dengan mudah membicarakan perasaan secara face to face, makanya gue butuh tempat dimana gue ngerasa aman. Gue pilih untuk ngobrol di kamar gue. Pintu juga gue tutup. Selain untuk diri gue sendiri supaya ngga ada yang perlu tau gue lagi usaha bermain peran sebagai “kakak” gue, juga mau dia tau kalau apa pun yang kita obrolin ngga akan sampai ke kuping para orang tua yang sok tau itu.

Out of my expectation, dia masih menganggap gue sebagai tempat cerita yang bisa dipercaya. Dengan mudah kita ngobrol tentang kehidupan sekolah dan teman-temannya sekarang. Gue awali pembicaraan dengan menceritakan insekuritas gue dulu untuk nunjukkin kalau gue juga sama menderitanya sama dia. Gue pernah di posisi dia dan gue ngerti gimana beratnya jadi, well, kami. Pembicaraan serius tentang perasaan dan motivasi dan sebagainya akhirnya berubah jadi obrolan santai. Lucunya dia cerita tentang pacar-pacar dia dan udah sejauh mana gaya pacarannya dan masturbasi, hahaha...suer gue sempet salting ngga karuan dan ketawa-ketawa ngga enak dengan betapa jujurnya dia. Tapi semuanya gue ambil sebagai bentuk kepercayaan dia ke gue. Gue tekankan kalau gue ngga akan menjudge dia dan sesekali melempar nasihat tentang batasan-batasan yang udah diajarin ke dia dari kecil lewat orang tua maupun sekolah.

Yang lebih mengagetkan adalah....ketika dia tiba-tiba ngaku kalau dia suka ngebayangin kissing dengan temen-temen sesama jenisnya. DOENG, DHUAR, JEDERR, rasanya pingin ngecek sekeliling kamar.Ada kamera tersembunyi kah?? Hidup gue ngga cukup opera sabun sampai ade gue juga ada kecenderungan biseksual seperti gue??

Gue berusaha ngedengerin apa yang dia ceritain dengan tenang. Rasanya kayak pingin ngomong, “Dude! I dig ya, bro! I fancy both sex too. Give me five!” Hehe...Tapi dengan segala perhitungan, gue ngga mungkin ngomong seperti itu. Dia sih belum pernah kissing sama cowok, tapi dia bilang pikiran-pikiran itu ada dan cukup sering. Terlebih kalau dia lagi deket dengan seorang temen cowok lain. Atau kalau dia lagi cuma berdua sama si temen. Yang lebih parah lagi, dia ngomong ke temennya. “Eh, gue ko mikir pingin ciuman sama lo, ya?” Hwahahahaha.....Sinting! tapi untungnya temen-temen di lingkungan dia ngga ada yang homophobic dan kata-kata dia itu cuma dianggep jadi bahan bercandaan. Dia juga bilang kalo dibanding temen-temen cowooknya yang lain, dia ngga risih untuk peluk-peluk. *sigh* oh, brother... Dia juga jadi sering diledekin homo (tapi ini pure bercandaan, bukan dalam arti temen-temennya geli dan jadi takut sama dia).

Pertanyaan dia sangat ketebak “Gue homo ngga sih kalau mikir kayak gitu?”. Serius gue speechless. Akhirnya setelah ngumpulin pelajaran-pelajaran yang gue tau dari kuliah psikologi 6 tahun dalam waktu beberapa detik, gue jawab, “Ngga.” Memikirkan ciuman dengan teman sesama jenis bukan berarti dia homo. Itu sebenernya hal yang cukup wajar dipikirkan sama remaja. Gue menganjurkan dia jangan manjain pikiran dia yang seperti itu. Bagaimanapun juga, bukan ngga mungkin makin dipikirin, makin pingin, dan terjadilah. Gue tekankan kalau gue ngga punya masalah dengan homoseksualitas (Duh..hello? I’m queer) dan kalau sampai andaikan dia homo (and for god sake moga-moga ngga) gue ngga kan menjudge dia. Gue ingetin kalau jadi homoseksual itu bukan penyakit dan bukan orang aneh, tapi memang ajaran agama kita ngelarang. Dia ternyata bilang kalau temen-temennya banyak yang biseksual (disini gue kaget karena artinya dia cukup paham dengan istilah biseksual), dan dia sendiri juga ngga ngejudge temen-temennya itu. Dan gue merasa sangat lega kalau dia bisa menerima temen-temennya yang biseks.

Secara keseluruhan, gue ngerasa sangat bangga karena malem itu gue bisa balikin hubungan kami dulu. Betapa mudahnya kami berdua ngobrol tentang hal-hal yang sensitif atau pun memalukan untuk dibicarakan antara adek laki-laki dengan kakak perempuan yang jarak usianya jauh banget. Setidaknya di saat-saat dia jatuh, gue bisa ngingetin kalau gue masih ada dan akan selalu jadi orang yang bisa dipercaya untuk ngebantu dia bangkit lagi. Gue nunjukkin kalau gue masih perduli dan sayang sama dia. Tentu aja perasaan khawatir ada tentang pengakuan kecenderungan homoseksual dia. All he need is another gay and voila, the kiss that he only think about might come true. Gue mungkin double standard untuk masalah ini. Menurut gue cewek lebih mudah bermain-main di seksualitas, tapi ngga dengan cowok. I still stand on my believes that being gay is not allowed. I dont know. Mungkin kalau dia bisa beneran biseksual dan bukan gay, gue masih bisa lebih tenang. Alasan lainnya, gue ngga mau adek gue harus ngelewatin hal yang serumit itu. We all know being gay is not easy. It’s a torture for the rest of your life kalau ngga bisa menerima diri sendiri, ngga diterima masyarakat apalagi kalau sampe disowned by parents. I dont want him to get through more problem that he already is now. Yah, kalo sampe dia gay juga bukan berarti gue bakalan ngga suka dan ngga menerima dia apa adanya (duh, hello? Again, I’m queer myself).

Semoga seiring waktu, kebingungan dia bisa terjawab dan bisa jadi pribadi yang lebih baik. Coz seriously, he’s still a jerk lil boy right now. Dan semoga dalam keadaan apa pun gue bisa terus ngedampingin dia jadi kakak yang baik.

Dipikir-pikir, gue dan dia bisa jadi bahan penelitian nih kalau homoseksualitas bisa karena gen, hahaha...

Senin, 25 Mei 2009

WAKTUNYA BERANAK




Papa : Kamu kenapa ga punya pacar?


Lushka : …….dzzzzziiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing…….*senyap*


Papa : Iya, Papa kan juga kepengen momong dan ngelihat anak kamu. Orang tua kan berasa lengkap kalo udah bisa ngemong cucu.


Lushka : …………dzzzzzzziiiing…….*glek*....Cita-cita kok ngemong cucu sih Pa? *mulai ngawur*


Emang ga cukup, 3 anak, 2 menantu dan 4 cucu?....*nyengir-nyengir salting*.


Eh, nonton aja yuk Paa…*mengalihkan pembicaraan, menyelamatkan diri*



OH ME GAWD! Kok gue dapet juga intrik-intrik dilematis begini. Gue pikir bonyok udah cukup senewen ama 4 cucu ajaib mereka. Pengen deh bilang, "Pacar sih udah ada, tapi masih kuliah S2, lebih muda dan beda agama…" . Hihihihihihihi. Ah, yang ada gue malah disuruh kenalin lagi ke mereka. Mithya mau ga ya pindah agama dan operasi kelamin? *iya sayang…kamu ga mauuu. Aku juga ga mauuu kok* Kekekekekkeke



Ps. Ngadu ke kakak gue yang biasanya cukup pro ama gue soal hal ini, eh dia malah bilang, "emang udah cukup umur kan, jadi kapan??" – astaganagadragoooon, ada umur2an yak? Jadi dengan umur gue sekarang adalah: WAKTUNYA BERANAK. Hihihihi.



What biological clock? – I don't even have any clock.

Senin, 23 Maret 2009

Kaum munafikun

Oh, how I really hate cheaters.
Pengen nendang congornya pake ujung runcing sepatu gue.
Munafikun kelas kakap.
Gue besar dan dikelilingi pelaku adultery, that’s why I hate them so.
Mau alesan apapun, kaya kata Mithya…ga menjustifikasi lo jadi peselingkuh.

Mau laki, perempuan ataupun bencong. Lo selingkuh ya lo selingkuh. Lo MUNAFIK.
Dan lebih geli lagi kalo lo masih punya nyali buat mamer.
Cuih. Pengen muntah di muka lo.

Alesan terakhir dari seorang keluarga deket gue untuk selingkuh adalah karena pasangannya ga bisa buat dia bahagia. Lo pikir, anak lo bahagia tau ibunya selingkuh ngejual selangkangan demi kebahagiaannya sendiri?
Lo pikir anak lo ga dendam bertahun-tahun? Lo pikir anak lo ga nyimpen marah? Lo minta anak lo buat memahami lo?

-
“Nak…ayah masih mending ga ninggalin kamu dan mama. Di luar sana masih banyak ayah-ayah yang lain, yang selingkuh dan pergi gitu aja ninggalin keluarganya”

-
“Iya, Ayah. Masih untung aku ga siram istri ayah pake air raksa terus ngebuat anak-anak monyet itu jadi makanan anjing. Di luar sana banyak anak yang melakukan hal itu, Yah”

-
“Mama waktu itu masih muda, mama ga pernah bahagia.”

-
“Iya, yang terakhir kan mama umur 40, anak mama udah kuliah dan juga jarang bahagia. Oh, indahnya hidup.”


----God, kenapa Kau ijinkan para munafikun ini menikah dan menjadi orangtua kami?