Halaman

Tampilkan postingan dengan label gay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gay. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Februari 2012

Smile, now. You are worthy (Glee/Cough Syrup)



I believe I have to share this very strong scene from Glee a week a go. Say no to bullying for any kind reason. Lagu-lagu yang ditampilin Glee minggu lalu bertema tentang menjadi seseorang yang tetap kuat walaupun rasanya udah ngga punya apa-apa lagi untuk dipertahankan. Padahal kalau kita mau tunggu sebentar, sehari, seminggu, sebulan...kita bisa liat berapa banyak orang yang peduli dan sayang sama kita. But most of all, we will see that there millions of things that we haven't see or experienced and we're eager to get there someday.

Aside from that, I'm giving special big prop for Max Adler for giving his best to portray a troubled in-the-closet jock High school that got bullied and Darren Criss to do a very well cover version of Young the Giant Cough syrup.

I wont stop saying, that you're not alone in this. There are so many people that feels like shit out there, that at this very second are thinking life is worthless and there are no one who you can relate to. But you're wrong. Coz I've been there and life is not that simple to look through one eye. When you still have something to make you smile today, trust me, life is still worth living for =)

Selasa, 03 Mei 2011

"BORN THIS WAY" - Blog


Thanks to The Insider , gara-gara blog walking ke blognya, gue jadi tau "Born This Way - Blog"

*A photo/essay project for gay adults (of all genders) to submit childhood pictures and stories (roughly ages 2 to 12), reflecting memories & early beginnings of their innate LGBTQ selves. Nurture allows what nature endows. It's their nature, their truth!*

Blog yang ngumpulin foto waktu umur 2-12 th mahluk-mahluk homo yang sudah merefleksikan "kehomoan" mereka.
Lucu-lucu banget dan menyentuh.

Mungkin kita bisa lebih aware, siapa tahu ada homo-homo kecil yang butuh bantuan - support.
Banyak dari mereka yang di'bully waktu kecil or ga pede, karena "beda".

Ah, jadi inget blog barengan gue ama anak-anak IHA, kita punya kolom "HOW GAY ARE YOU" yang nyeritain gimana homonya kami dari kecil. haha. Kacrut

Anyway, boleh banget lho kalau ada yang mau nyumbang cerita buat "hageru / how gay are you" , sok ayuk dikirim ke saya (emaillushka@yahoo.com or lushka.love@gmail.com) .

Kamis, 21 Oktober 2010

Spirit Day 20102010


Kemarin pada tanggal 20 Oktober 2010, atau angka cantiknya (kata yang jualan nomer HP) 20102010 diperingati Spirit day dimana orang-orang di seluruh dunia diminta untuk mengenakan pakaian ungu dalam rangka berduka cita atas peristiwa bunuh diri beberapa remaja gay yang terjadi dalam satu minggu. Para remaja gay ini memutuskan bunuh diri setelah mengalami bullying dan perilaku abuse dari lingkungannya karena mereka gay. Brittany Mcmillan, seorang cewek Canada yang mengusulkan Spirit day ini pertama kali di tumblr-nya karena warna ungu pada bendera LGBTQ menggambarkan spirit atau semangat.



Terlepas dari bunuh diri itu dosa ya teman-teman (sempeet aja gue komentar tentang dosa), ada beberapa hal yang gue rasa perlu disampaikan perihal Spirit day ini. Pertama, gue mendukung spirit day ngga hanya karena ini suatu event yang menentang kekerasan terhadap para kaum homoseksualitas, tapi karena gue menentang segala bentuk kekerasan terhadap siapa pun. Terlebih kalau pada akhirnya si korban memutuskan untuk bunuh diri karena putus asa, mengira ngga ada yang perduli dengan mereka lagi. So people, STOP BULLYING. Kalian yang saat ini sebagai senior di tempat kerja yang ngga suka juniornya kerja lebih rapih dari lo dan sibuk nyuruh-nyuruh atau kakak kelas yang emosi ngeliat adek kelasnya pake rok kependekan dan ngata-ngatain setiap lewat, JUST STOP.


Gue udah pernah bahas betapa bentuk abuse dan bullying itu ngga hanya melalui kekerasan fisik semata, tapi melalui kata-kata yang menyakitkan pun efeknya sama berbahayanya bagi si korban. Jangan kira satu kata “perek” yang kamu ucapkan setiap hari ke seorang adik kelas yang lewat ngga akan berpengaruh banyak untuk dirinya. Udah liat bagaimana setiap tahun dendam tiap angkatan sekolah turun temurun ke adik kelasnya semakin parah?
Udah lihat berapa orang anak sekolah/akademi yang meninggal karena hasil bullying?

 
Spirit day memang ngga bisa dilepaskan dari homophobia dan jujur, gue sendiri masih seorang homophobia. Tapi gue selalu berusaha meninggikan nilai persamaan antar manusia. Setiap orang itu setara dan punya hak untuk memilih apa yang ia percaya atau ia sukai. Setiap orang bertanggung jawab untuk dirinya sendiri dan bukan urusan kita orientasi seksual mereka apa, atau pakaian apa yang mau mereka pakai hari ini, atau mungkin untuk hal sepele seperti jenis musik apa yang orang lain dengerin.




Love and respect, thats all. Semoga kita bisa jadi orang yang semakin baik tiap hari dengan segala awareness yang terjadi disekitar kita. Jangan tutup mata dan kuping kalian dari hal-hal yang baik.


Rest in Peace:


•Justin Aaberg


•Raymond Chase


•Asher Brown


•Harrison Chase Brown


•Caleb Nolt


•Cody Barker


Semoga kesadaran kita bisa mengurangi jumlah orang-orang yang melakukan bullying atau pun korban-korbannya.


Ada beberapa lembaga di Indonesia atau Jakarta seperti arus pelangi yang bisa ngebantu para LBTQ youth atau orang-orang yang butuh tempat untuk konseling atau sekedar berteman (jangan ngomongin cari pacar dulu deh, gue selepet lo..hehe). Google them, they’re exist. And people, hang on, It DOES gets better.

Rabu, 25 Agustus 2010

Big Picture - www.boston.com (same sex marriage)


Me likey this post.
Pictures of random same sex wedding.
It shows a lot of love and happiness and ordinary.
You can be straight, gay, queer or anything you like, people deserves to be happy
Ps.
Photo-photo di Big Picture  - Boston.com keren-keren. A single shoot will tells you a lot =)

here are some of our favorites



--
http://www.frieddurian.blogspot.com/

Sabtu, 14 Agustus 2010

Reconnecting

Dibandingkan dengan diri gue yang dididik dengan gaya militer dan mengutamakan kesempurnaan oleh bokap, adek gue ngga sempet ngerasain tumbuh ke usia remaja dengan “dibimbing” bokap. Bokap ngga dirumah semenjak dia berusia sekitar 6 tahun. Dia lebih banyak dibesarkan oleh gaya asuh nyokap yang jauh lebih santai dan mau ngga mau dipengaruhi dengan pandangan androgynus gue. Feminitas dia juga udah terlihat dari kecil. Bukan yang model kemayu atau lenje, tapi dia sangat memperhatikan penampilan mulai dari rambut sampai kesesuaian warna pakaian. Menggunakan produk-produk bermerek untuk perawatan tubuh juga udah dimulai dari SMP. Temen-temen gue sering bercanda kalau jiwa gue sebenernya kebalik sama ade gue. Harusnya gue yang jadi cowok dan dia yang jadi cewek, hehe..

Berhubung kita cuma dua bersaudara, dan gue masih punya sisi maskulin untuk mengganti peran bokap yang ngga ada dirumah, gue dan adek gue cukup deket. Walaupun usia kita cukup jauh, sifat childish gue juga ngebantu dia untuk bonding sama gue. Kita biasa ngobrolin games atau main games bareng, ngebahas film, mainan-mainan cowok dan punya selera musik yang sebagian besar sama. Ada masa-masanya gue adalah idola dia. The cool sister. Tapi seiring usia kita yang sama-sama semakin dewasa, prioritas hidup pun berubah. Gue fokus dengan kuliah dan teman-teman kuliah sedangkan dia memasuki masa remaja yang fokus ke geng pergaulan remaja gaul jaman sekarang. Bisa dibilang dia apa yang sering kita sebut “pentolan” jaman sekolahan dulu, hehe..Punya reputasi playboy karena gonta-ganti cewek tiap beberapa bulan sekali (ini juga kata temen-temen gue turunan gen bokap langsung ke gue dan ade gua haha). Kita masih deket, tapi koneksi yang dulu pernah ada, agak sedikit tulalit dan putus nyambung.

Di masa-masa keadaan psikologis gue yang ngga baik, ade gue jadi salah satu korban langsung. Masa-masa emosi gue paling ngga stabil, dia karung sansak gue. Semua kemarahan gue banyak gue tujukan ke dia. Jangan salah, he was not a saint either at the time. He was a big jerk too. But it does not mean I could do those things to him.

Sekitar sebulan yang lalu gue berhadapan dengan masalah keluarga yang fokus utamanya adalah adek gue. Dia akhirnya kena masalah besar. Alhamdulillah bukan masalah obat-obatan atau menghamili anak orang hahaha...tapi masalah ini pastinya sangat berpengaruh dengan kehidupan dia ke depan. Gue juga nge-drop waktu tau masalah ini. Rasanya kayak gue udah mengecewakan dia. Ngga jadi kakak yang baik, yang terus-terusan harusnya ngejaga dia dari hal-hal yang merugikan dirinya. Terlebih karena gue ngerasa kami pernah jadi duo bersaudara yang erat. Di masa-masa gue ngga percaya siapa pun dan ngga bisa sayang sama siapa pun, gue bisa dengan lantang bilang kalo satu-satunya manusia yang gue sayang di dunia cuma dia seorang. I love him more than I love myself.

Karena masalah ini dia dapet ultimatum dan berbagai macam wejangan dari orang tua kami dan orang-orang terdekat. Gue selalu ada di sekitar dia setiap wejangan-wejangan ini diutarakan ke dia. Tapi gue ngga bisa berhenti ngerasa kalau para orang tua ini ngga ngerti apa yang mereka sedang hadapi. Mereka ngga ngerti apa yang ade gue hadapi sebagai remaja dan keadaan rumah yang sangat tidak mendukung untuk perkembangan yang baik. But I do. Gue putusin waktu itu untuk reach out ke dia dan gue berniat untuk memperbaiki hubungan kami. Jadi malem itu gue ngajak dia untuk ngobrol.

Gue bukan orang yang bisa dengan mudah membicarakan perasaan secara face to face, makanya gue butuh tempat dimana gue ngerasa aman. Gue pilih untuk ngobrol di kamar gue. Pintu juga gue tutup. Selain untuk diri gue sendiri supaya ngga ada yang perlu tau gue lagi usaha bermain peran sebagai “kakak” gue, juga mau dia tau kalau apa pun yang kita obrolin ngga akan sampai ke kuping para orang tua yang sok tau itu.

Out of my expectation, dia masih menganggap gue sebagai tempat cerita yang bisa dipercaya. Dengan mudah kita ngobrol tentang kehidupan sekolah dan teman-temannya sekarang. Gue awali pembicaraan dengan menceritakan insekuritas gue dulu untuk nunjukkin kalau gue juga sama menderitanya sama dia. Gue pernah di posisi dia dan gue ngerti gimana beratnya jadi, well, kami. Pembicaraan serius tentang perasaan dan motivasi dan sebagainya akhirnya berubah jadi obrolan santai. Lucunya dia cerita tentang pacar-pacar dia dan udah sejauh mana gaya pacarannya dan masturbasi, hahaha...suer gue sempet salting ngga karuan dan ketawa-ketawa ngga enak dengan betapa jujurnya dia. Tapi semuanya gue ambil sebagai bentuk kepercayaan dia ke gue. Gue tekankan kalau gue ngga akan menjudge dia dan sesekali melempar nasihat tentang batasan-batasan yang udah diajarin ke dia dari kecil lewat orang tua maupun sekolah.

Yang lebih mengagetkan adalah....ketika dia tiba-tiba ngaku kalau dia suka ngebayangin kissing dengan temen-temen sesama jenisnya. DOENG, DHUAR, JEDERR, rasanya pingin ngecek sekeliling kamar.Ada kamera tersembunyi kah?? Hidup gue ngga cukup opera sabun sampai ade gue juga ada kecenderungan biseksual seperti gue??

Gue berusaha ngedengerin apa yang dia ceritain dengan tenang. Rasanya kayak pingin ngomong, “Dude! I dig ya, bro! I fancy both sex too. Give me five!” Hehe...Tapi dengan segala perhitungan, gue ngga mungkin ngomong seperti itu. Dia sih belum pernah kissing sama cowok, tapi dia bilang pikiran-pikiran itu ada dan cukup sering. Terlebih kalau dia lagi deket dengan seorang temen cowok lain. Atau kalau dia lagi cuma berdua sama si temen. Yang lebih parah lagi, dia ngomong ke temennya. “Eh, gue ko mikir pingin ciuman sama lo, ya?” Hwahahahaha.....Sinting! tapi untungnya temen-temen di lingkungan dia ngga ada yang homophobic dan kata-kata dia itu cuma dianggep jadi bahan bercandaan. Dia juga bilang kalo dibanding temen-temen cowooknya yang lain, dia ngga risih untuk peluk-peluk. *sigh* oh, brother... Dia juga jadi sering diledekin homo (tapi ini pure bercandaan, bukan dalam arti temen-temennya geli dan jadi takut sama dia).

Pertanyaan dia sangat ketebak “Gue homo ngga sih kalau mikir kayak gitu?”. Serius gue speechless. Akhirnya setelah ngumpulin pelajaran-pelajaran yang gue tau dari kuliah psikologi 6 tahun dalam waktu beberapa detik, gue jawab, “Ngga.” Memikirkan ciuman dengan teman sesama jenis bukan berarti dia homo. Itu sebenernya hal yang cukup wajar dipikirkan sama remaja. Gue menganjurkan dia jangan manjain pikiran dia yang seperti itu. Bagaimanapun juga, bukan ngga mungkin makin dipikirin, makin pingin, dan terjadilah. Gue tekankan kalau gue ngga punya masalah dengan homoseksualitas (Duh..hello? I’m queer) dan kalau sampai andaikan dia homo (and for god sake moga-moga ngga) gue ngga kan menjudge dia. Gue ingetin kalau jadi homoseksual itu bukan penyakit dan bukan orang aneh, tapi memang ajaran agama kita ngelarang. Dia ternyata bilang kalau temen-temennya banyak yang biseksual (disini gue kaget karena artinya dia cukup paham dengan istilah biseksual), dan dia sendiri juga ngga ngejudge temen-temennya itu. Dan gue merasa sangat lega kalau dia bisa menerima temen-temennya yang biseks.

Secara keseluruhan, gue ngerasa sangat bangga karena malem itu gue bisa balikin hubungan kami dulu. Betapa mudahnya kami berdua ngobrol tentang hal-hal yang sensitif atau pun memalukan untuk dibicarakan antara adek laki-laki dengan kakak perempuan yang jarak usianya jauh banget. Setidaknya di saat-saat dia jatuh, gue bisa ngingetin kalau gue masih ada dan akan selalu jadi orang yang bisa dipercaya untuk ngebantu dia bangkit lagi. Gue nunjukkin kalau gue masih perduli dan sayang sama dia. Tentu aja perasaan khawatir ada tentang pengakuan kecenderungan homoseksual dia. All he need is another gay and voila, the kiss that he only think about might come true. Gue mungkin double standard untuk masalah ini. Menurut gue cewek lebih mudah bermain-main di seksualitas, tapi ngga dengan cowok. I still stand on my believes that being gay is not allowed. I dont know. Mungkin kalau dia bisa beneran biseksual dan bukan gay, gue masih bisa lebih tenang. Alasan lainnya, gue ngga mau adek gue harus ngelewatin hal yang serumit itu. We all know being gay is not easy. It’s a torture for the rest of your life kalau ngga bisa menerima diri sendiri, ngga diterima masyarakat apalagi kalau sampe disowned by parents. I dont want him to get through more problem that he already is now. Yah, kalo sampe dia gay juga bukan berarti gue bakalan ngga suka dan ngga menerima dia apa adanya (duh, hello? Again, I’m queer myself).

Semoga seiring waktu, kebingungan dia bisa terjawab dan bisa jadi pribadi yang lebih baik. Coz seriously, he’s still a jerk lil boy right now. Dan semoga dalam keadaan apa pun gue bisa terus ngedampingin dia jadi kakak yang baik.

Dipikir-pikir, gue dan dia bisa jadi bahan penelitian nih kalau homoseksualitas bisa karena gen, hahaha...

Kamis, 10 Juni 2010

Keep calm and share

Semenjak gue punya tumblr Glee, gue jadi kenalan dengan para Gleek lain. Mereka berasal dari segala macam negara dan jenjang usia yang cukup luas. Menyenangkan banget sebenernya karena rata-rata mereka ini kalau ngga sesama homo ya orang-orang yang toleran dengan homoseksualitas. Bonusnya lagi, orang-orang ini ngocolnya setengah mati. Hampir setiap adegan di episode bisa mereka jadiin bahan bukti para pemainnya sebenernya 50% gay =D. Berhubung sistem Tumblr mirip banget dengan Twitter, kita tinggal saling follow kalau mau dapet update gambar dari satu sama lain. Selain itu karena tumblr bentuknya juga terbuka untuk umum, semua isi tumblr kita bisa dilihat secara umum. Setiap gue difollow orang baru, gue biasanya akan ngecek apa tumblr follower gue ini bisa gue follow balik. Jelas karena tumblr gue khusus glee, gue ngga perlu dashboard gue penuh dengan hal-hal lain diluar itu (gue udah punya tumblr pribadi lain lagi untuk itu =P). Nah, selama sebulan ini gue nemu profil dua orang follower gue yang bikin gue sedikit kaget dan mikir. Gue kaget karena kedua follower gue ini usianya “baru” 14 tahun sedangkan gue jadi mikir karena tumblr gue isinya sebagian besar berisi pairing lesbianism. Ok, so they worship what I worship too. Bahkan salah satu profil si remaja menyatakan kayak begini: My Sexuality: Straight. For now. I might go bisexual when I grow up. Hihi..agak gimanaa gitu bacanya, soalnya tumblr gu..umm talking about anything that would be consider gay between the cast. Not to mention pictures with half naked women in bikinis hahaha..ngga, gue ngga pervert! Cuma ya tuhan, I cant help itu kalau itu gambarnya Naya Rivera hahahahaha....


Kembali lagi ke masalah tadi, gue bingung dan takjub dengan profil-profil itu. I have no oppose whatsoever dengan pemilihan sexuality mereka, tapi gue memang sedikit terganggu dengan betapa mudanya usia mereka. Siapa bilang 14 tahun belum tau suka dengan siapa? Gue mulai berasa homo waktu umur gue sekitar 12 tahun kok. Hell, my first kiss with a girl was when I was about 4 years old (and making out become weirdly regular after that with my bestfriend =P). Gue udah pernah ngomongin tentang betapa labilnya yang namanya masa remaja dan itu merupakan masa yang sangat penting dalam mencari jati diri. Jadi kalo ditanya, gue memang punya pendapat tersendiri tentang kapan sebaiknya seseorang menentukan seksualitas mereka. Tapi ini bukan inti dari perasaan ngga enak gue. Berawal dari penemuan gue itu, gue jadi mikir lebih jauh lagi. Tentang Glee itu sendiri. Tentang betapa HOMOnya acara itu. Buat kita-kita gleek yang queer tau banget kalo semua aspek dari acara itu berteriak “being gay is A-OK”. Dibalut manis dengan lagu populer dan cast cakep-cakep, Glee terlihat seperti acara TV seri remaja pada umumnya.

Pikiran itu berkembang ke media internet yang saat ini udah ngga punya bendungan sama sekali dengan yang namanya informasi. Waktu gue mulai berasa homo di usia 12 tahun, gue belum punya internet buat nyari tau lebih banyak tentang homoseksualitas (idih, koneksi ******net jaman itu bikin pingin banting komputer). Waktu itu gue masih dibombardir dengan informasi ilmu agama (sekolah gue dari TK sampe SMA adalah sekolah islam). I know, kalo gue suka sama cewek maupun cowok. Tapi gue ngga punya pikiran sampe bisa menyatakan I am bisexual. Sekarang gue bisa bilang semua informasi yang gue butuhkan, alhamdulillah gue dapetin seiring dengan pendewasaan gue. Tapi dengan anak jaman sekarang?

As my queer friends all know, gue menerima diri gue sebagai queer, tapi gue bukan salah satu yang bisa mengatakan bahwa menjadi queer itu ngga dosa. Itu masalah yang masih sangat membingungkan buat gue dan ngga suka untuk memperdebatkan. I choose to be queer like I choose to drink alcohol walaupun hukumnya haram. Karena gue tau walaupun ketertarikan gue dengan sesama jenis ngga bisa dihilangin, gue tau gue masih termasuk orang-orang yang dikasih tuhan pengendalian atas semua perilaku gue (Jangan ngomongin yang pure gay yah, itu diluar pengetahuan gue karena gue ngga punya hak berpendapat atas mereka). Tapi bagaimana dengan anak-anak yang dibombardir dengan segala informasi tanpa bendungan ini? (duh, tiba-tiba berkelebat segala teori yang saling adu kuat antara freudian dan behaviorism tentang orientasi seksual). Gue ngga bisa naif dan sok ignoran terus bilang kalau remaja udah bisa menggunakan logika dengan baik. Karena gue tau dengan fakta bahwa yang namanya remaja itu labil dan jelas belum dewasa. Segala sesuatunya masih dalam pembentukan karakter dan kepribadian. Mau dunia masih ada seribu tahun lagi, bayi akan tetapharus berkembang di kandungan ibu selama 10 bulan dan mau usaha sampe mulut berbusa pun, anak umur satu tahun ngga bisa diajak baca buku novel. Semua butuh proses baik secara fisik maupun psikologis. I’m a post-mo person, but I’m still heavily influenced with my religious upbringing.

Kesimpulan gue sebenernya balik lagi ke Glee. Acara ini sebenernya menyebar virus homo. Di satu sisi mereka memang membawa pesan-pesan yang baik tentang menghargai perbedaan, persahabatan dan teamwork, tapi ngeri juga kalau gue mikir jangan-jangan mereka udah convert beberapa anak ababil (Anak baru gede labil) untuk mempertimbangkan jadi homo. Bagus kalau si 14 tahun dapet informasi yang seimbang dari kiri kanan untuk akhirnya menentukan, tapi emang penontonnya cuma anak 14 tahun keatas? What about the kids that are younger than that? Omg, bahkan tumblr gue membantu menyebarkan hal itu LoL.

Ngga, gue ngga lagi menceramahi siapa pun atau apa pun. Gue juga ngga lagi menjudge sesama homo apalagi sebuah acara TV. Gue lagi pingin sharing pemikiran gue aja. Gue emang kaya duri dalam daging. I belong there, tapi kalau mau dimakan, rese. Hehehe...Meh, just another neurotic thoughts from me.

Sabtu, 29 Mei 2010

Glee!


I need to address this. Gue bukan Gleek sebelum Lushka yang nge-fans duluan. Yep, gue nonton Glee lebih dulu yang season 1 part 1 (episode 1-13), tapi itu juga dengan acuh-tak-acuh-tapi-rutin tiap hari Rabu malem duduk dengan manis depan TV. Gue bahkan ngga ambil pusing dengan dialognya. Gue cuma suka dengan lagu-lagu cover yang mereka punya. Karena terus terang untuk seorang penggilaTV series, Glee itu berantakan banget. Alur cerita bolong-bolong, fast pace teen dialogue, ngga peduli dengan background atau penyelesaian masalah, ngga begitu perduli dengan ketepatan sifat karakter dan overall membingungkan.


Tapi sebagai penggila musik, I find that lagu-lagu Glee terdiri dari lagu-lagu showtunes broadway, classic 90’s atau para pemegang chart top 10 billboard yang dibalut ulang dalam bentuk pop dan show choir, jadi sangat menyenangkan. Koleksi dan ilmu musik gue nambah ^^. Gue memperkenalkan Lushka dengan Glee juga lewat lagu-lagunya dulu yang udah gue download in advance sebelum nonton episodenya. Waktu itu memang jadwal tayang di TV kabel Asia beda 10 bulan dengan yang di US. Lushka juga awalnya dengerin lagu-lagu Glee dengan acuh tak acuh. Gue gatel juga. Udah beberapa kali gue berusaha bikin Lushka jadi TV series nerd kaya gue. Semuanya gagal. Salah banget TV series pertama yang gue ajukan itu The L Word. Ceritanya kan Lushka itu rookie pada waktu itu hahaha...I thought she oughta know what girls on girls action looks like =D Ngga sampe seperempat season, Lushka udah mau bunuh diri ngeliat drama cewek lesbian buahahaha...gue juga sebenernya terus-terusan nonton TLW karena keburu ngikutin aja. Not a fan of the work.

Setelah itu gue penasaran, pilih-pilih genre apa yang tepat buat Lushka. Kesukaan gue dan dia bener-bener beda. Kalau TLW aja dia males, apalagi macem CSI, NCIS, atau Dexter. Lushka sendiri ngaku coba untuk enjoy nonton Desperate Housewives dan Supernatural (minjem dari kantornya. Gue ngga ngerti kenapa kantor kok punya DVD), tapi baru setengah season, Lushka nyerah lagi.

Gue pun semakin semangat dan tambah penasaran. Akhirnya gue coba minjemin Grey’s anatomy. Fab! Dia tahan nonton sampe 3 season sebelum akhirnya nyerah dengan penyakit “drama overload” *sigh* Mulai saat itu Lushka gue nobatkan sebagai cewek sinis, hehehe...

Glee udah jadi “charity case” gue ke dia. Gue udah terserah-kamu-mau-suka-atau-ngga. Apalagi kan gue ngga punya DVD-nya. Gue rela beliin khusus buat dia. Ssstt...gue bersyukur banget waktu gue beli episode 1-13 udah dipadetin jadi 3 DVD. Waktu itu sebenernya ngga rela juga ngeluarin uang untuk Glee hahaha..kualat banget deh gue.

Mana gue sangka kalau besok paginya Lushka nelpon gue sebelum ngantor sambil nonton Glee ketawa-ketawa. Serius gue SHOCK. Dia bahkan menceritakan ulang episode yang dia tonton (dimana gue baru tau kalau dialog-dialog Glee itu sebenernya witty banget), gue tekankan, CERITA ULANG. Gue ngomongin seorang cewek yang kalo ditanya,

M: How’s your day honey?

L: OK

M: Anything interesting happened?

L: Ngga. Biasa aja

M: Emang ngga ada yang lucu atau seru atau siapa kek yang bikin kamu kesel?

L: ngga

M: o.0 Hello...!?

Kurang lebih kalau mau nanya Lushka "how was her day", gue harus berperan sebagai seorang psikolog lagi probing anak umur 7 tahun yang ignoran ~~’. Dan tiba-tiba hari itu dia bawel ngomongin Glee, ngomongin lagu-lagu apa aja yang dia suka (katanya sekarang lagu yang gue kasih baru punya makna setelah nonton), HAPAL dengan dialognya PLUS Mr. Kurt Hummel yang jadi favorit dia. Gue SHOCK.

Then gue ngerasa seneng banget. AKHIRNYA. Ada satu hal yang gue dan Lushka sama-sama suka. Walaupun maksudnya buat gue TV series secara general dan buat Lushka khusus Glee aja. Gue seneng denger dia excited. Lushka ngga berhenti ngomongin Glee selama beberapa hari. Dia bahkan minta ditemenin nonton Glee lewat telepon. Serius, buat gue itu keajaiban alam. Gue belajar suka Glee dari Lushka. Lushka ngebombardir gue dengan segala info tentang Glee. Gue bahkan udah dua kali menikmati nonton bareng dirumah marathon Glee sambil nyanyi bareng, mouthing dialog Glee dan nari-nari ngikutin dance-nya ~~’. IT WAS A BLISS.

Tapi sekarang keadaannya kebalik. Lushka masih di level euphoria yang sama. Gue...melonjak ke obsesi yang ngga sehat. Diawali dari satu dialog yang sekarang jadi salah satu lines paling terkenal diantara para Gleek. “If it were, Santana and I would be dating” –Brittany 1.13 Sectionals. And just like that I become a Glee whore. Gue terobsesi dengan betapa homo-nya series ini.
Karakter homo dan bisexual? Ada.
Persamaan hak minoritas (sexuality and race)? Ada.
Penulis gay? Ada.
Pemain gay? Banyak.
Glee lebih homo dari TLW maupun QAF. I assure you that.

Next thing I know, gue ngebuat tumblr khusus untuk Glee. Being part of the shippers community. Baca SEMUA fanfiction Glee dan temenan dengan para penulisnya. Bahkan gue anggota official website Glee. =P *sigh* Anything that could make us feel happy should be embraced. Hahahaha..

I definitely blame my queerness for being a Gleek. Brittana rules!

note: Sekarang Lushka sambil nungguin gue download episode Glee terbaru tiap minggu, ngefans sama Lost. Gue pinjemin sekaligus 5 season DVD punya gue =P oh yessss...victory is sweet!

Lushka titip minta dikasih tau ke orang-orang kalau sekarang dia terobsesi dengan pusernya Puck. "Puck is my new hero" katanya ~~'

Minggu, 11 Oktober 2009

RIP Stephen gately

Salah satu penyanyi Boyzone, Stephen Gately ditemukan meninggal kemarin pagi dalam keadaan tidur. Stephen dikabarkan sedang dalam perjalanan yang berhubungan dengan pekerjaannya di Majorca, Spanyol. Sampai saat ini berita official tentang penyebab kematiannya belum diberitahu. He died in the age of 33.

As we all know, Stephen Gately adalah salah satu dari lead singer di Boyzone. Pada masanya, yang namanya lead singer di boyband pasti jadi pujaan banyak fans setia. Padahal sih menurut gue suaranya kepencet banget..hehe..oopss..

Setelah Boyzone bubar, dia memilih menjadi penyanyi solo di tahun 2000. Walaupun lumayan terkenal dengan single-nya "new beginning", dia ngga sesukses Ronan.

Stephen Gately adalah salah satu penyanyi gay pertama yang gue suka. Gue suka bukan karena dia homo, tapi lucunya gue punya kecenderungan suka dengan seleb in the closet yang ujung-ujungnya ngaku kalau dia ternyata gay. You name it. Sebelum mereka coming out gue pasti udah naksir parah. Gue masih inget dulu waktu Stephen pertama kali coming out adalah waktu dia membeberkan hubungannya dengan De Jong di tahun 98. De Jong adalah salah satu personel boyband lainnya - Caught In The Act (CITA) , hahaha...waktu itu sensasional banget - personel boyband pacaran sama personel boyband lain. Tapi hubungan mereka hanya berlangsung selama 4 tahun. Pada tahun 2003 Stephen akhirnya menikahi pacar berikutnya, Andrew Coles. And he is soooo gorgeussss....

Gue sama Lushka masih sering becandain gimana cara Stephen nyanyi di video klip "Love me for a reason". Lidahnya melet-melet tak terkendali di kata-kata yang tidak memerlukan peletan lidah heboh. Pokoknya lidahnya menjalar-jalar kemana-mana, hehe..coba aja buktiin di youtube. Guaranteed. Bibir monyong Mandy Moore di video klip "I wanna be with you" kalah deh.

Of all your dedications in Boyzone, I'm gonna miss you Stephen..hiks...Rest in Peace..

Rabu, 30 September 2009

Project gaydar



Beware closeted gays, ternyata sebuah program untuk mengetahui orientasi seksual seseorang udah ada! Dua orang mahasiswa Massachusetts Institute of Technology, Carter Jernigan & Behram Mistree, berhasil membuat sebuah program berdasarkan hitungan algoritma untuk “menebak” orientasi seksual seseorang di Facebook. Hipotesa mereka adalah, gay people akan memiliki jumlah teman gay LEBIH BANYAK daripada teman straight. And they have proven that the program works well dengan menguji-cobakannya pada 1500 laki-laki.

Kenapa laki-laki aja? Itu pertanyaan yang perlu dijawab dengan penelitian lain, tapi kalo boleh nebak sih, gay cowok lebih banyak yang out daripada gay cewek. Mau mulai khawatir juga sebenernya belum perlu karena dibandingkan dengan orang luar, kayaknya para homoseksual di Indonesia lebih sering punya account facebook sendiri untuk teman-teman gay-nya.

So, kenapa para mahasiswa ini ngebuat program ini? Untuk jawaban obvious-nya: untuk tugas semester kuliah. Tapi ngga tau juga niat mereka dibelakang apa. Are they homophobic? Imagine program ini diperbaiki, dan diperbaiki, dan diperbaiki...lalu jatuh di tangan para homophobic. Diskriminasi besar-besaran pasti terjadi di dunia kerja maupun sosial. Atau malah mereka sendiri homo dan cari cara gampang nemu another gay out there to go out with =P

Gue sendiri sering banget main tebak-tebakkan melalui account temen. Is he/she gays dengan screening temen-temennya atau liat buku dan film apa yang dia tonton hehe...so I guess it makes sense dengan memasukkan sedikit perhitungan matematika dan informasi, a program that works as gaydar is born. Bahkan sebenernya menurut gue yang disebut dengan Gaydar itu kan bukan pure intuisi atau feeling semata. Gaydar adalah bentuk kalkulasi otomatis jutaan informasi di kepala kita sendiri tentang seseorang. Semakin sering kita berinteraksi dengan kaum homoseksual, semakin banyak juga informasi tentang homoseksual yang bisa dijadikan tolak ukur kita untuk menentukan orientasi seksual seseorang. Wuiihhh...emang otak kita itu ngga akan bisa pernah diperbandingkan dengan komputer dan mesin manapun.

Jumat, 04 September 2009

Bulan puasa gini...siang-siang puasa...mau buka-buka website bertema homo dan gay kok merasa berdosa ya..hehehe...abis gue datenginnya web-web gay cowok dan rata-rata mereka suka pasang foto-foto yang..umm...ngga porno sih..cuma ya..pamer-pamer tete dikit la...hehehe...duh...Hello, Mr. six pack!

Queer

Ok, here it goes. Udah banyak banget yang nanya sama gue apa sih sebenernya arti Queer? Ternyata banyak juga yang ngga familiar dengan kata ini. Gue juga baru kenal kata ini sekitar 5 tahun yang lalu dari judul film seri Queer as Folks. Noted in my head bahwa Queer sama artinya dengan gay atau homoseksual. Tapi baru 2 tahun kemudian gue di “challenge” dengan pengetahuan orang lain yang bilang bahwa sebenarnya kata Queer itu artinya kasar untuk kaum homoseksual. Calling a homosexual “Queer” is as bad as calling them a “faggot”. Makanya gue segera mencari tahu sebenernya arti Queer itu apa sih?

Akhirnya setelah baca-baca kiri kanan gue paham juga arti Queer. Bahkan gue bisa menyatakan diri gue sebagai Queer as oppose to other sexual labels. Tapi kalau disuruh jelasin ke orang gue ngga pede hahaha...maklum, ini kan hasil interpretasi diri sendiri. Kalo sok menjelaskan ke orang lain tapi salah kan namanya pembodohan masal =P. Haram itu hukumnya! But atas permintaan beberapa teman, I’ll try. Inget yah, ini hasil interpretasi pribadi dan sangat mungkin untuk direvisi kalau ada yang lebih mengerti apa arti kata Queer. Let’s start dari asal kata ini yah..

Kata Queer mulai digunakan di Inggris kira-kira pada abad ke-16. Waktu itu definisi dari kata ini adalah: “aneh”, “tidak biasa”, atau bahkan “keluar dari jajaran”. Karena itu kata Queer digunakan untuk menyebut atau menggambarkan orang-orang yang memang dianggap agak sinting dan aneh. Penggunaannya cukup bebas. Ngga harus dipasangkan dengan sifat orang atau punya arti yang negatif. Misalkan “It’s a queer moment” bisa diartikan sebagai keadaan yang canggung.

Tapi seperti yang kita tahu, kalau suatu kata sudah memiliki definisi yang negatif, kemungkinan besar kata itu akan lebih digunakan dalam arti negatif. Bahkan lama kelamaan sifat itu bisa menetap. Seperti kata “gerombolan”, kata “Queer” jatuh pangkat menjadi kata yang bersifat negatif.

Pada abad ke-19, Queer mulai dipakai untuk menyebut orang-orang dengan penyimpangan seksual. Jangan lupa, penyimpangan seksual itu bukan hanya homoseksual (pada saat itu). Penyimpangan seksual itu misalnya seperti pedophile (terangsang secara seksual hanya kepada anak-anak), transvertite (terangsang secara seksual hanya apabila menggunakan pakaian lawan jenis), atau BDSM ~ Bondage Discipline and Sadomasochism (terangsang secara seksual melalui aktivitas bondage dan sadomasokis). Baru pada abad ke-20, kata Queer khusus digunakan untuk menyebut para laki-laki yang melakukan hubungan seksual melalui anal atau singkatnya ya homo. Kata Queer disini masih berarti merendahkan. Yaiyalah, kalo dipanggil Queer kan sama aja kaya dikasih label “orang aneh”.

Tapi seiring perkembangan jaman, Queer memiliki makna yang lebih luas. Yang disebut LABEL mulai mati dipandangan para penganut postmodern. Para new gay berani menyebut diri sendiri dengan kata “fagot” dan “queer” BUKAN dalam arti yang merendahkan diri sendiri, tapi dalam arti yang membanggakan. Yes, I am a faggot. Yes, I am Queer. Disini konsep pride mereka menelan definisi negatif dari Queer.

Ngga hanya sampai disitu, Queer saat ini sudah menjadi semacam kata payung untuk memayungi kaum LGBT. Queer bukan aja suatu kata yang sinonim dengan homoseksual, tapi juga untuk orang-orang selain mereka yang disebut straight atau heteroseksual. Lebih dikembangkan lagi, kaum Queer adalah orang-orang yang merasa bahwa sebenarnya orientasi seksual tidak perlu dikotak-kotakkan. Gender sampai jenis kelamin pun menurut kaum Queer seharusnya bukan sesuatu yang harus dikotak-kotakkan. Secara ekstrim, kaum Queer sepertinya mau jadi bunglon. Bisa berubah-ubah semau mereka atau mengikuti lingkungan mau jadi homo, straight, cewek, cowok, banci atau apa lah.

Walaupun arti Queer sebenernya sudah berevolusi jauh dari asal katanya, ngga sedikit yang masih melihat kata Queer sebagai arti yang merendahkan. Wajar, wong definisinya memang “aneh”. Tapi kalau kalian mau bukti yang lebih kongkrit tentang perubahan arti kata Queer, coba dilihat festival film tahunan homo Queer Film Festival. Kalau memang Queer masih memiliki arti negatif, kenapa digunakan oleh para homo sebagai nama ajang tahunan film mereka?

What I like from Queer adalah cara pandang mereka yang sangat luas. Melihat dari kacamata Queer rasanya hidup jadi lebih bebas. Dengan memiliki pandangan Queer, seharusnya sih diharapkan jadi lebih bisa menghormati keunikan dan perbedaan orang lain serta mengurangi penilaian terhadap orang lain yang dipengaruhi oleh jenis kelamin dan orientasi seksual. Queer is proud.

Long live the Queer..=P

Selasa, 21 Juli 2009

gay penguin



Ever heard of Gay penguin?

Nah, gue baru dapet berita paling update dari pasangan Gay penguin paling terkenal di Amerika. Yea guys, I am really talking about penguins. Bukan musuh Batman, bukan.
Alkisah 6 tahun yang lalu di Kebun Binatang San Fransisco ditemukan sepasang Penguin jantan yang tiba-tiba membuat sarang berdua. Berita ini cukup bikin jadi headline news di dunia homo dan dunia binatang huehehe...a lot of them congrats both the penguins. Cukup menarik juga ya, mengingat San Fransisco adalah kota nomor satu di Amerika dengan populasi pasangan gay terbanyak. Kedua penguin ini bernama Harry dan Pepper. Kalo dari namanya kayaknya bisa nebak yang mana yang top, yang mana yang bottom, hehe..

Melihat peristiwa yang cukup unik ini, pengurus kebun binatang SF sempet penasaran pingin nyodorin sepasang penguin betina dan melihat apakah Harry dan Pepper benar-benar gay. Tapi niat para pengurus kebun binatang itu udah keburu dapet protes keras dari para aktivis gay dan gagal dilaksanakan (????). Padahal kalo emang homo ya nyante aja kaleeee...mo disodorin penguin betina paling seksi dan bisa goyang patah-patah juga bakalan tetep aja homo.

Lalu untuk memperindah mahligai rumah tangga mereka, Harry dan Pepper diberikan kepercayaan untuk mengadopsi seekor telur pada akhir tahun 2008. Telur ini ditinggalkan oleh orangtua aslinya. And they did take care of the baby! So sweet...
But suddenly beberapa hari yang lalu dunia gay penguin dikejutkan oleh cerita yang menyedihkan. Harry berpindah ke lain hati. Harry tiba-tiba minggat dari sarangnya yang sudah ia bina selama 6 tahun dengan Pepper dan memulai hidup baru dengan seekor penguin betina bernama Linda. Is he Bisexual??

Menurut kesaksian pengurus kebun binatang, Linda ini punya reputasi tersendiri sebagai betina yang ngga mau keliatan single barang sebentar. Linda adalah seekor janda penguin bernama Fig yang di masa hidupnya jadi pemimpin dua sarang sekaligus! Katanya sih di dunia Penguin, dengan status itu, Fig ini dianggap pejantan unggul. Linda baru jadi janda dalam hitungan hari ketika serumah lagi dengan Harry. Gosipnya lagi, Fig dulu juga ketika ditinggal mati sama mantan betinanya dalam hitungan hari langsung disamber sama Linda. Padahal masa berduka Penguin itu butuh waktu lho...
Entah ada perbincangan apa diantara mereka, beberapa hari setelah Harry dan Pepper pisah sarang, tiba-tiba Harry menyerang mantan pacarnya, Pepper. Sekarang dilaporkan kalau Pepper sedang dalam masa patah hati dan sering mondar-mandir sarang sendirian kaya burung ilang. Hiks...

Cerita ini tentunya dapet banyak komentar dari segala sisi. Beberapa bahkan menurut gue lucu banget. Para aktivis Kristen menjadikan peristiwa ini sebagai bukti bahwa, “Pada akhirnya alam pun akan memilih orientasi yang benar”. Waduh, sama aja anehnya sama para homo yang membenarkan homoseksual pake alasan “terjadi juga di dunia binatang. Jadi itu alami”.

Ada lagi seorang aktivis gay yang berkomentar bahwa sebenarnya Harry dan Pepper selama ini hanya sebagai penguin yang tinggal bareng karena merasa bersaudara (hayah!) dan bukan pasangan gay. Jadi ngga ada tuh yang namanya ex-gay penguin. Huehehe...terbayang perbincangan antara kedua penguin ini.

“Pepper mai brotha, lets live together as brotha”
“Yes, Harry..oh Harry my brotha..”
(???)

Perlu kita ketahui bahwa Penguin adalah binatang yang terkenal dengan gaya hidup monogamus, ngga pake tedeng aling-aling they stay with one partner at one time. Berdua mengurus anak-anaknya sampai siap hidup sendiri. Karenanya dulu pernah dibuat penelitian mungkinkah penguin menjadi gay? And it turns out that yes, they can. Seperti manusia juga, penguin dilahirkan dengan gen tertentu untuk orientasi seksual mereka. Bagi para penguin Magellan yang gay (jenis penguin Harry & Pepper), mereka punya gen yang disebut Homospheniscus Magellanicus Inheritus atau Gen Penguin Gay (GPG). Di kebun binatang SF itu, pasangan Gay penguin ngga hanya Harry dan Pepper. Masih ada 4 pasang yang lain. Dilaporkan juga di kebun binatang Jerman, 3 pasang penguin Humboldt juga gay.

FYI, sejauh ini sudah ditemukan sebanyak 1500 spesies binatang yang ditemukan menjalin hubungan sesama jenis kelamin, dan 500 dari mereka telah didokumentasikan dengan baik.

So what happened with Harry? Apakah Linda mengiming-imingi harta dua sarang peninggalan Fig? Apakah Pepper dan Harry memang sudah lama menyembunyikan masalah diantara mereka? Apakah Harry akan kembali lagi ke Pepper? We’ll see if there will be any update on them..

Rabu, 15 Juli 2009

For me, being gay is a choice

Ngebaca postingan Lushka sebelumnya gue jadi tergelitik untuk ngebahas dikit tentang the nature or the nurture of being Gay. Sejauh ini hasil-hasil penelitian terpercaya menemukan bahwa ada 2 alasan besar kenapa seseorang menjadi homoseksual.

1. Secara biologis, genetis, sampe hormon, tubuhnya sudah terporgram untuk suka dengan sesama jenis.
2. They live and breathe di lingkungan yang menghalalkan homoseksualitas ATAU di lingkungan dengan banyak orang homoseksual.

So YES people, memang ada orang-orang yang menjadi homoseksual karena keadaan, bukan karena terlahir sebagai seorang gay.

Gue tertarik dengan kata-kata yang dipilih sama website yang dibicarakan Lushka. Mereka mengatakan bahwa mereka siap membantu orang-orang yang ingin merubah "unwanted homosexuality". Bukan unwanted bagi orang lain, tapi unwanted bagi diri sendiri.

Sebagai seseorang yang belajar psikologi, salah satu hal terpenting yang gue pahami tentang manusia adalah goal kita untuk mencari kebahagiaan dan kenyamanan. It is something yang udah terprogram juga di DNA kita. Kita ini binatang yang menjauhi rasa sakit dan terus mencari kepuasaan sejak lahir sampai mati. Dari dasar pemahaman ini juga banyak teori-teori psikologis manusia dibuat. And so, sesuai kata Lushka, semuanya balik ke kenyamanan diri kita masing-masing. Lo merasa nyaman sebagai apa?

Homoseksualitas pada tahun 1974 dikeluarkan dari DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders). DSM ini adalah buku panduan para psikolog tentang gangguan mental. Dulu homoseksualitas masuk sebagai gangguan seksualitas. Kenapa dikeluarkan? karena ternyata esensi gangguan tidak terdapat pada orang-orang homoseksual. Gangguan pada DSM artinya mengganggu pribadi, kehidupan sosialnya, pekerjaannya, keluarganya, dan cintanya. Setelah ditelaah lebih lanjut ternyata orang-orang homoseksual di Amerika dan sekitarnya TIDAK mengalami gangguan.

Tapi bentar dulu.

Coba kita berhenti sebentar dan berpikir tentang kenyamanan tadi. Gue setuju banget bahwa homoseksualitas BUKAN penyakit atau gangguan TAPI bisa menjadi KEADAAN YANG MENGGANGGU. Homoseksualitas bisa menjadi gangguan ketika LO merasa terganggu, ketika LO merasa tidak nyaman dengan diri lo. Peraturan psikologi disini sederhana. Kalau lo merasa tidak nyaman dengan diri lo, artinya keadaan mental/psikis/jiwa lo sedang tidak sehat dan lo butuh bantuan orang lain. Pilihan seorang psikolog cuma bagaimana membuat seseorang merasa nyaman dengan dirinya.

Let's call orang-orang yang "terlahir" sebagai homoseksual dengan orang tipe 1. Gue yakin orang-orang tipe 1 merasa nyaman dengan dirinya sendiri sebagai gay. Mungkin kalau di negara-negara seperti kita ini dia akan dapet sedikit banyak tantangan dari lingkungan. Nevertheless, dia merasa nyaman dengan dirinya. Bagaimana dengan orang tipe 2? Some of them bisa saja merasa nyaman dengan dirinya. Sebagian lagi bisa terus berkoar-koar dirinya gay, coming out, mengaku proud, punya pasangan sesama jenis berpuluh-puluh tahun...tapi kalau dia terus-terusan berperang dengan jiwa dan hati nuraninya sendiri..I'm officially gonna say bahwa mereka sakit dan terganggu jiwanya.

Like what Freud believed, I believe that humans are born bisexual. Dalam arti, you already had it in you (your orientation) lalu digabungkan dengan ajaran-ajaran yang lo dapatkan seumur hidup dan ditutup dengan pilihan pribadi. Kita harus mengakui bahwa pada saat ini sepertinya orientasi seksual seseorang ditentukan oleh jenis kelamin dan norma budaya. I believe we can choose seperti orang yang berpuasa ngga makan, ngga minum selaper apa pun dia. We can choose seperti orang Islam yang memilih untuk ngga makan babi hanya karena dilarang oleh ajaran agamanya. Karena gue orang yang percaya dengan pilihan manusia. Kita makhluk yang dikasih kemampuan untuk memilih dan berpikir, bukan makhluk yang hanya dikendalikan oleh kebutuhan dan cetakan biologis.

Gue pingin temen-temen yang lain jangan membuat judgment terhadap orang-orang yang bingung, karena sebenarnya mereka tersiksa dengan keadaannya. Seperti kata Lushka juga, jangan asal mencari informasi dari satu hal aja. Kesannya karena udah terlanjur jadi lesbian, nemu teman-teman lesbian, artinya lo udah aman, tentram, dan damai. Dunia sebesar ini punya milyaran informasi yang perlu kita tahu dan telaah dari sisi mana pun. Take a look inside your head and your heart. What do I wanna be?

And right now I am choosing. I choose to be queer with all the consequences.

Minggu, 12 Juli 2009

I am gay,God.

Dear God.
Aku mengaku, aku sebenarnya tidak pernah melupakanMu.
Aku melakukan semuanya dengan kesadaranku.
Khilafku atas semua yang kulanggar adalah kebohongan. Aku bersekutu dengan otak jahat dan mengindahkan semua hal baik darIMu.
Aku tahu Tuhan.
Aku menyesal Tuhan.Engkau tahu aku menyesal.
Aku tidak akan berlindung 'aku cuma manusia'.
Memang aku cuma manusia, tapi aku mengenalMu dan it u tak akan membuatku 'hanya'
Tuhan, aku sering mendengar panggilanMu dari suara adzan, tangis bocah,sayup lonceng gereja, senyum ibu, peluh pedagang di pasar.
Aku dengar Tuhan.
Aku membutakan mataku, menulikan telingaku.
Mungkin aku tak terampuni Tuhan. Aku mengerti.
Aku menyerah. Kau yang memilikiku.
Aku hanya ingin mengaku.

Selasa, 23 Juni 2009

I guess, we are not that gay *wink*


Zac Efron so cuttttteee...and so many other women *hetero/homo* agree.
Jadi, Zac yang terlalu cantik *cantiiiik banget matanya* atau kita *lesbian* yang tidak terlalu gay?

Kalo gay *homo/laki* yang suka ama Zac mah, jangan heraaaan. Hehehehehe

Rabu, 17 Juni 2009

America's Next Gay Top Models


I"ve been a fan of ANTM (America's Next Top Model) sejak cycle 5. Semenjak itu gue cukup ngikutin kalau ngga lupa dengan jadwalnya yang aneh di V channel. Since then I realize kalau diantara para kontestan calon model ini udah kesebut beberapa kali bahwa mereka openly gay. WOW...these are the few women yang punya profesi dan cita-cita jadi model terkenal di seluruh dunia dan mereka gay. Mungkin di luar sana lebih banyak lagi, gue kurang tau juga.

Masuk akal sebenarnya. To be a model you gotta love yourself. You gotta love women! Tapi yang gue suka dari mereka adalah they stick to their true women self. And God Damn they're beautiful! Apalagi alasan utama gue nonton ANTM kalo ngga buat ngeliatin cewek-cewek cantik hahaha...I'm amazed with these women.

Nilai plus dari reality show ini adalah ngajarin orang bahwa ngga bener yang namanya model itu brainless. Para kontestan ini juga ditempa untuk memiliki kepribadian yang oke selain memperbaiki sikap. You dont want bitches as a top model wontcha?

Sejauh ini kalau gue ngga salah hitung, udah tercatat 2 lesbian, 1 queer, dan 1 bisexual women di acara ini. The lesbians would be Kim Stolz & Megan Morris (the short hairs girls), the queer would be Michelle (top right picture) dan the bisexual would be Leslie Mancia (down left picture). Sebelum mereka announce that they're gay aja gue udah ngiler-ngiler ngeliatin mereka.

Buat yang belum pernah nonton, coba deh. Udah banyak kok DVD-nya. Atau yang punya TV kabel, cek jadwalnya di V channel setiap Senin atau Kamis malam. You might learn a thing or two from it. Most important thing of all is learning to love yourself as a women. That WE ARE FUCKING BEAUTIFUL just being a women. pssst..the straight models are heavenly beautiful too..hehehe

Sabtu, 18 April 2009

Ellen Degeneres

Kalo ada pertanyaan siapa lesbian yang paling gue kagumin, I’d definitely answer Ellen Degeneres. Sejauh info yang gue tau tentang dia, campuran antara ngiri dan salut ngga bisa gue lawan. Padahal gue kan homophobic dan judgmental banget sama lesbian, hahaha...

Gue tau nama Ellen cuma dari berita E channel tahun 1998 waktu dia coming out lewat oprah dan sitcomnya. Waktu itu gue ngga gitu perduli, paling mikir kalo “oh, ternyata coming out jadi lesbian di luar negeri belum banyak sampe jadi big deal”. Dan mulai muncul tuh perasaan kalo berarti ni cewek berani juga, mempertaruhkan sitkomnya yang sukses demi ketenangan dirinya sendiri. Salute.

Pelan-pelan nama Ellen nempel di kepala gue berhubung gue punya interest yang GEDA banget sama kaum gay seleb. I did knew waktu dia mulai pacaran dengan Anne Heche dan bawa-bawa kemana-mana. Hehe, gue beneran ngerasa ni cewek keren abis the whole world knows her girlfriend- si cewek aneh yang punya penyakit disosiatif dan histrionik, hehehe.

Abis itu kayaknya nama Ellen cukup tenggelam dan jarang disebut. Gue sibuk sama cowok-cowok homo =D. Gue paling baru tau kalo dia sempet pacaran dengan Alexandra (pemain Dylan di The L Word).

Nama dia jadi perhatian gue lagi sekitar 2 tahun yang lalu ketika shownya muncul di Asia dan ditanyangin di TV kabel. Gue jadi penonton setia Ellen Degeneres Show kalo ada waktu (lho?) hahaha, ya, jam tayangnya selalu di jam gue kuliah, jadi kadang nonton re-runnya kalo gue ngga lagi ngerjain tugas. Favorit show ketiga setelah Oprah dan Jimmy Kimmel.

The show for me, sangat smart. Berlawanan dengan Oprah yang serba sosial, Ellen memang memusatkan show dia ke kehidupan para artis Hollywood dan masukin unsur humor, which is her best personality. Semua wawancara dia selalu penuh dengan tawa dan games-games konyol. Terkadang sih gue geli sendiri ngeliat dia joget dengan gaya yang itu-itu aja di awal show, hahaha...tapi niatnya kan mencairkan susana. Boleh lah..

The big news adalah ketika dia jadian dengan Portia de Rossi. WHUAH..KEREN ABIS NI ORANG. HAHAHA...nobody knew Portia was gay (atau gue aja yang telat banget). Andaikan ngga pun, salut banget dia bisa dapetin Portia. But they do make a beautiful couple. Sumpah beautiful. Ngebaca ledekan-ledekan kecil dia tentang kebiasaan Portia di rumah lewat twitter atau komentar di show bikin pingin bilang, oooowwwwwwhhhhh sooooooo sweeeeeeetttttt!!! Hehehehe...

Saat ini Ellen udah berusia 51 tahun. Ellen is a smart lesbian. She tell the whole world dengan PD “I’m gay!” tapi abis itu dia ngga perlu menggembar-gemborkan berulang-ulang kaya lesbian perlu dilestarikan kalo ngga punah dari permukaan bumi (!). Lesbian seperti dia yang kita butuhin lebih banyak. Jadi dunia tau kalo lesbian itu ya orang biasa. She is who she is. Semua jokesnya fresh dan smart, ditambah dengan gaya menceritakan yang datar..nga nahaaannnn..hehehe. She doesn’t have to look like a man, walaupun obviously she’s a butch. I’m sure she’s rich like hell, tapi dia sangat sangat sangat sederhana. Dia nunjukkin diri sebagai Ellen. And she’s beautiful that way. Kebayang contoh buruk lesbian celebrity tuh kayak Rosie O’Donnell. Sakit jiwa.

Salah satu quote dia yang gue suka waktu dia jadi host Emmy Award, ngga lama setelah peristiwa 911. She said, “We're told to go on living our lives as usual, because to do otherwise is to let the terrorists win, and really, what would upset the Taliban more than a homosexual woman wearing a suit in front of a room full of Jews?"

Minggu, 07 Desember 2008

Film Twilight + Chauvinis Mithya

Kemaren waktu telponan sama Lushka dengerin monolog dia tentang Twilight, tiba-tiba di MTV ada trailer filmnya. And OMG, baru 5 detik aja gue bisa komentar betapa cheesy, opera sabun, dan film ratting B film ini! What the hell was that? Versi remaja Bold and the Beautiful? Jujur yah, buku Twilight itu masuk ke list buku yang pingin gue beli kalau gue udah ngabisin SEMUA buku yang belum terjamah. Apalagi alasannya kalau bukan karena menceritakan vampir. I do remember kalau dulu, cover buku itu yang bikin gue ngga mau nyentuh karena terkesan murahan. Please dong, buku best seller kok ada gambar cewek komik gitu? Buatan amatir pula.

Lalu Lushka menambahkan info kalau film ini merebut posisi Quantum of Solace. Wow! Walaupun gue ngga pernah suka James Bond, tapi itu info yang cukup anomali. Mengingat betapa cheesy-nya trailer yang gue liat. Lalu mulai deh Lushka menganalisa about what happen in the world sekarang karena buku itu. Katanya novelis cowok itu udah banyak banget yang berhasil sukses menceritakan cerita-cerita romantis dari sisi mereka dan pengarang Twilight ini seperti semacam angin segar buat orang-orang. Kenapa? Lushka berhipotesa lagi, katanya untuk pengarang-pengarang cewek saat ini cuma menang di buku-buku chicklit..dan seperti pengarang-pengarang cewek general, mereka suka banget untuk menceritakan tema romantic fairy tale. Nah, twilight itu adalah versi lain, versi young adulthood fairy tale. Sukses lah dia memikat jutaan hati (khususnya) wanita. (please elaborate Lush if I’m mistaken)

What about me? Gue bahkan lebih ekstrem dari Lushka. Gue akan menjauhkan diri dari Twilight karena gue ilfil. Gue percaya art, lagu, film, atau buku yang diciptakan oleh kaum Adam jauh lebih menarik. Yep, gue chauvinis, hehehe... Karena mereka laki-laki and it is more interesting to see what the guys had in mind ketika mereka membicarakan tentang cinta. Kalo cewek, buat gue pribadi, apalagi yang perlu gue tau? Gue kan cewek. Ngga jauh-jauh lah paling. Gue suka banget ngeliat cara cowok menggambarkan jatuh cinta mereka. In part coz I believe it doesnt happen in the real world. Jatuh cinta laki-laki buat gue itu sebatas nafsu. Tapi mereka punya cappability untuk membayangkan jatuh cinta yang menurut gue jauh lebih keren daripada cara cewek membayangkan jatuh cinta.

Film vampir yang menurut gue keren dengan romantis picisannya adalah Buffy the vampire slayer..hahaha..I know, norak banget kan? But I dont care! Buat gue film itu keren banget. Karena pengarangnya Joss Whedon. Salah satu contoh cowok nerd, geblek, tapi kreatif yang sempet diremehkan oleh dunia film.

Ngeliat trailer film twilight ngingetin gue sama film The Covenant. Tapi Covenant aja menurut gue masih jauh lebih menyenangkan (cowoknya cakep-cakep! Hehehe..) walaupun jalan ceritanya agak retarded.

Why I think the way I think is beacause gue merasa bahwa mungkin sebenernya soul gue itu sebenernya dilahirkan sebagai cowok biseksual. Jadi untuk jatuh cinta dengan cewek itu normal tapi diem-diem dan takut-takut sangat tertarik dengan cowok lain (especially gay man). So, cara berpikir gue jadi seperti yang gue jabarkan di atas itu. (That’s the most ridicoulus thing I ever-finally-wrote down)

FYI, I wrote this dengan sadar mengetahui bahwa gue BELUM nonton filmnya dan BELUM baca bukunya. TAPI gue akan mengakui kalau nanti MUNGKIN setahun lagi I stumble upon them dan ternyata between those two gue suka ceritanya. Peace and out, guys!

Rabu, 24 September 2008

RUU Pornografi dan sejenisnya

Kadang bingung kalau mau menyuarakan isi hati dan kepala gue yang sebenernya dianggap abnormal bahkan buat orang-orang yang ”katanya” abnormal. Gara-gara RUU pornografi ini, sisi rebel gue berontak lagi. Kayaknya demen banget untuk bilang ”I’m not you or any part of you” ketika para perempuan yang menyebut dirinya Lesbian berkoar-koar lagi tentang persamaan hak. Gue memang lebih bangga menyebut diri sebagai penganut Queer daripada lesbian karena memang pada faktanya I do not only attracted to women, or men, bahkan gay man. Untung tuhan ngga ngasih cobaan lebih dengan membuat gue attracted sama makhluk berkaki empat atau pedophil =D

Gue emang ngga setuju sih kalo yang namanya LGBT itu termasuk kriminalitas. Tapi kalo gue ikut-ikutan berkoar-koar, ngga fair dong dengan hukum yang mengatur pembunuhan maupun pencurian. Banyak yang membela diri kalau orientasi seksual itu adalah urusan manusia dengan tuhan. Lah, memangnya membunuh dan mencuri bukan urusan kita sama tuhan juga? Bahkan termasuk dalam ten commandement yang dikatakan sebagai 10 dasar hukum agama. Tapi kenapa kalau yang membunuh dan mencuri boleh di penjara? Jawabannya karena manusia itu egois. Lebih mudah bagi kita untuk tidur dengan sesama jenis daripada membunuh maupun mencuri, jadi ngga boleh diomelin sama pemerintah untuk hal-hal kayak gitu!

Yah, kita harus mafhum juga kalau Indonesia ini mayoritas muslim dan dengan segala kekurangan manusia, mereka mencoba mengadaptasi hukum agama ke hukum negara. Padahal mana mungkiiiiiiiin???? Pilihannya cuma jadi negara agama kaya Irak atau negara hukum kaya Eropa. Misalnya kalau kita negara hukum seperti Belanda, kita masih bisa buat hukum yang cukup enak untuk banyak orang (Please remember they’re hedonistic people with western philosophy). Bagi mereka kan pornografi masih legal asal bukan anak dibawah umur, ada warning-nya, dan bukan bentuk pemaksaan. Tapi apa mungkin orang Indonesia mau buat hukum yang kayak gitu? Mana mungkiiiiiinnn?? Ih, gue mah malah takut dosa kalo ikut-ikutan tentang hal-hal kayak gini. Mulai ngerti maksud gue buang-buang energi ngga?

Sempet jadi bahan diskusi yang cukup anget juga sama Lushka karena dia juga anti RUU pornografi dan gue cuma anti diskriminasi. Setidaknya gue bisa menerima alasan Lushka yang ngga hanya terfokus pada isu LGBT yang katanya dijadikan tindak kriminal. Lushka anti RUU pornografi karena emang isi pasal-pasalnya ngga punya batasan yang jelas dan udah masuk ke kategori ngga masuk akal. Kalo jawaban gue..dan juga hukum-hukum yang lain di dunia. Masih inget tentang hukum perempuan yang keluar malam dulu di Banten? Katanya semua perempuan yang keluar di atas jam malam pemerintah adalah pelacur. Halaaa..terus yang emang baru pulang kerja dari pekerjaan malam kantoran gimana? Atau jaman dulu ada hukum apartheid. Ngga lebih goblok lagi tuh? Gue sih lebih tertarik membahas pasal-pasal yang seperti itu daripada kepentingan kelompok cewek-cewek sehat dan rata-rata pinter namun menyukai cewek juga..hehe..

Terlahir di Indonesia dan punya otak abnormal kayak gue malah jadi bikin gue super ignoran untuk hal-hal kayak gini. Dan jadi inceran sewot banyak orang. Entar juga lewat masa ”trend” RUU pornografi ini. Sama seperti ”tren” Ryan atau ”tren” Malaysia mencuri kebudayaan kita. Ignoran gue ini juga karena menurut gue ngga mungkin deh bisa dibuat hukum yang bikin seneng semua orang. Jadi kalo gue ikut-ikutan, sama aja gue buang-buang energi dan meningan menyalurkan energi gue ke hal-hal yang lain. Ya, gue bukan sosialis. Gue kayaknya agak teracuni sama indahnya being different and as freak as possible. Kalo mau jujur, gue bisa tuh bangga dibilang schizophren, atau antisosial, hehehe...(Lushka maaf kan pacarmu yang aneh, egois, dan ngga tau diri ini). Let me say it again, gue lebih suka dianggap sebagai cewek yang punya pacar cewek, terus one day jadi orang sukses dan dengan santai tanpa perang otot membuktikan that I’m as normal and as cool as you can get. =)

Mikir dong mba…mas…apa yang lo dapetin dari menonjolkan sisi negatif lo sebagai Lesbian (menurut masyarakat dan agama ya), daripada sisi positif lo dulu sebagai manusia sehat dan berakal? PERLAWANAN!

Ini nih yang paling sering gue takutin buat ngomong tapi gue rasa akhirnya gue perlu berani untuk bilang secara jujur bahwa gue menolak mengatakan bahwa homoseksual itu halal secara agama. So, gue secara sadar, jujur, dan ikhlas memang percaya bahwa apa yang gue lakukan dengan Lushka itu haram dan dilarang sama agama samawi manapun.

Kenapa tetap dilakukan? Itu pertanyaan bodoh. Buat gue homoseksualitas sama aja dengan orang-orang yang tau minuman keras itu haram tapi tetap diminum. That simple aja. Gue juga ngga setuju sama orang-orang yang berusaha merasionalisasikan orientasi LGBT dia. Yang katanya bahwa cinta datang dari tuhan...halaaaa...cinta dari tuhan lo apakan? Lo pake buat tidur dengan cewek lain kan? =)

(Mengutip Lushka) Kalo yang homoseksual mengaku punya bentuk pacaran sehat dalam arti ngga melakukan aktifitas seksual dengan pasangannya, coba lo tanya diri lo sendiri, lo gay atau sahabatan? Ehehe...And jangan kabur kalo gue tanya dengan jujur bukankah kaum homoseksual memang lebih permisif dalam melakukan hubungan seksual?

This is just Mithya’s thought. My personal opinion yang perlu gue utarakan sebelum gue gila dan mulai marah-marah karena tutup botol gue tersumbat. Karena gue bukan lesbian murni jadi mungkin gue kurang simpati dengan anti RUU pornografi ini, khususnya pasal LGBT. Uh, jadi panjang dan ngga bakalan selesai-selesai. Mithya mulai emosi...Lus....need you here to calm me down....hhhhhhhhhh........!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

*Jongkok di pinggir kamar meluk-meluk pisau daging sambil gerak maju mundur*

Kamis, 14 Agustus 2008

I am a Fag Hag

Fag Hag: Also known as Fruit Fly and Queer Dear. This is a woman who prefers the company of gay men because she recognizes their effervesence, incisive wit, and sheer brilliance regarding the human condition. This woman appreciates the fact that gay men know how to drill down to the bittersweet core of an issue and make light of it where necessary, and simultaneously make dark humor of it where otherwise necessary. It is a gift that comes from being an outsider: rather than lying down and taking a beating, as some do, the exaulted gay man rises from the ashes and finds the ridiculous glory in being an outsider. In this endeavor, he seeks the company of a woman, and she of him...because regardless of intentions, women and men enjoy the company of those who feel "right" to each other. Because this type of woman is generally spoiled by the general delightfulness of gay men, she may scorn straight men for their lack of personality and overall dullness. . -http://www.urbandictionary.com/

Jarang yang tau istilah fag hag kecuali fag hag itu sendiri. Gue sendiri udah jadi fag hag dari SMP tapi baru tau istilah ini sekitar setahun yang lalu. Ada yang bilang kalo fag hag itu sebenernya salah satu bentuk kelainan seksual. Tapi kalo gue aja udah punya pacar cewek, pernah punya pacar cowok, mau kelainan seksual apa lagi? Hahaha...

I’ve been interested with gay guys semenjak gue suka dengan perhatian cewek-cewek ke gue jaman SMP. Waktu itu gue nyari tau banyak tentang yang namanya homoseksual di internet. Coz I really need to know am I one of them. Of course istilah gay dan homoseksual kalo di internet pada saat itu banyak banget merujuk ke gay men.

Kalo udah masukin keyword gay di internet, 10 listing pertama pastinya didominasi sama website-website porno mereka. Out of curiousity I surf the gay porn web and wet myself, literally. Hahaha…

Ketertarikan gue sama gay men ngga jadi suatu hal yang menakutkan atau menyenangkan buat gue. Biasa aja. Gue udah terlalu banyak ngerasain hal-hal yang aneh seumur-umur, jadinya buat gue ini cuma some kind of a new interest aja. Didukung sama kesukaan gue dengan komik-komik (manga) dan kartun (anime) jepang, gue dikenalin sama yang namanya tema YAOI sama temen SMA gue yang juga fag hag. YAOI ini artinya boy love boy atau biasa disingkat BL sama orang bule di industri manga/anime jepang. My first YAOI anime was Gravitation. Cocok banget sama kondisi gue saat itu karena cerita anime ini adalah tentang seorang cowok yang tiba-tiba baru ngerasain falling in love dengan seorang cowok yang lebih dewasa dan cool. I gradually fall in love with both of the character. Shuichi adalah bentuk diri gue yang baru mengenal YAOI dan adalah Yuki bentuk perfect gay man that I would easily fall for. Mulai dari gravitation itu gue nyari tau lagi anime dan manga yang bertema YAOI dan mulai mengkoleksi YAOI.

Tapi lama kelamaan gue bosen dong sama kartun dan mulailah gue masuk ke dunia nyata. All those porn gay website mulai bikin gue penasaran sama the real live human size gay men. Setelah menjadi seorang otaku YAOI selama bertahun-tahun gue akhirnya menemukan cinta sejati gue: Queer As Folks. Gue tau tentang TV series ini dari internet dan niat banget nyari di setiap tempat penjualan DVD. And I got it. My first QAF series gue beli di Ratu Plaza dengan harga barang Impor. I didn’t care it was more pricey than the regular DVD. I love it!

Semenjak ngikutin QAF, gue makin yakin kalo gue emang ‘sakit’ sama yang namanya gay men. Gue mulai ngoleksi semua DVD gay yang keluar di Indonesia. Gue juga punya koleksi porn gay men yang lumayan di laptop, hehehe…Gue tau istilah fag hag dari film Eating out yang gue beli setahun yang lalu. Di kuliah ini gue makin banyak nemuin fag hag dan dengan senang hati gue membanjiri mereka dengan koleksi-koleksi gue. Hahaha...

What do I like from gay men?

Hmm…as a girl, I do still like Mr.P. Tapi biar cowok lain yang pegang-pegang dan gue yang nonton. Soalnya gue geli, hahahaha….gue bener-bener suka dengan badan-badan bagus yang dimaintain sama para gay men itu. Gue bisa klepek-klepek kalo ada gay men yang cowok banget dengan sentuhan feminin yang tipis. Sedangkan drag queen-nya? As long as their not too bitchy, gue masih bisa gemes banget. Like Emmet di QAF atau Joey di Boy Culture. Duh, cowok-cowok yang bisa ngeluarin sisi femininnya tanpa perlu mikirin ego? That's what gay men best at! And they are sooooo romantic you know. Bahkan untuk ukuran film porno, gay men masih bisa keliatan like their doin it with heart. Hahaha..oh nooo…I am a fag hag!

Favourite gay men from Indonesia?

Definitely Ivan Gunawan! Dari awal dia muncul di TV gue sukaaaaa banget. Terserah deh dia ngga ngaku kalo dia homo, coz may gaydar is rising to the top when I see him. Beberapa kali gue sempet ngeliat dia di Mall waktu badannya kurus. And OMG!!! Tinggi, putih, tegap, cantiiiikkk...hihihi.....Lushka geli banget nih kalo gue lagi keluar penyakitnya suka sama gay men. Dia ngga pernah ngerti dimana letak menariknya para gay men itu. Apalagi sama Ivan Gunawan, katanya dia ngga suka sama personality-nya. Well, untungnya gue ngga pernah denger apa yang Ivan omongin di TV and just keep staring at his beautiful posture.