Halaman

Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Oktober 2014

Kalau bukan gue (kita), siapa lagi?

Pasti temen-temen udah pada denger tentang kasus pembunuhan seorang perempuan Transgender di Australia beberapa hari yang lalu. Sedihnya, pembunuh perempuan itu ngga lain suami/tunangannya sendiri (setiap artikel penjelasannya beda-beda) yang berwarga-negara Australia. Atas dasar ngga bermaksud untuk membawa berita kasus ini makin dibicarakan untuk alasan yang salah, gue ngga akan nyebut nama korban atau detil pembunuhan..

Mungkin kalian sendiri juga udah terekspos dengan berita kasus ini baik melalui facebook maupun twitter. Yang memprihatinkan adalah komentar-komentar yang ditujukan kepada si korban. Atas dasar identitas seksualnya, banyak yang langsung menghujat kalau pembunuhannya terjadi ya karena korban seorang transgender. Mulai dari asumsi bahwa si suami/tunangan melakukan pembunuhan karena ngga tau korban dulunya seorang pria sampai mengatakan kalau pembunuhan itu merupakan bentuk azab dunia. Seriously people!? WOW.

Fortunately, di antara banyaknya artikel yang isinya cukup netral gue nemu satu artikel yang membahas tentang kejamnya komentar-komentar di internet tentang perempuan ini. Awalnya gue ragu untuk share karena banyak temen-temen gue sendiri di facebook yang kasih komentar negatif selama beberapa hari. Akhirnya gue beraniin diri dan share artikel tersebut di halaman facebook gue.

Siang ini Queen Alien ngeliat postingan tersebut dan kaget. Dia bilang, "Kamu ngapain sih naro-naro artikel kayak gitu di facebook? Nanti kamu dikira orang aneh."

Again, seriously?? Aneh karena nanti dikira gue juga transgender? Jadi artinya transgender itu orang aneh?

Gue ngga pake jeda langsung jawab, "Menurut Mithya artikel itu penting untuk di-share. Orang ngga boleh sembarangan komentar jahat tentang korban pembunuhan kalau ngga tau apa-apa."

Queen Alien ngejawab lagi dengan logikanya yang sangat judgmental,"Tapi kan dia...PSK..kelas atas?"

Gue ngga kaget sama sekali dengan komentar nyokap gue karena apa yang dia sebut ya tepat kenapa gue share artikel itu. Gue jawab lagi,

"Jadi orang boleh komentar tentang orang lain layaknya mereka pribadinya lebih baik dari si korban? Ma, Mithya itu bidangnya di Psikologi. Mithya kerjaannya ya ngurus dan ngelindungin orang-orang seperti mereka. Kalau bukan Mithya, siapa lagi?"

Selesai ngomong itu, gue langsung ngerasa deg-degan karena dengan segala prejudis dan (sedihnya) topik transgender di lingkungan kita yang sangat tabu gue ngerasa kayak baru ngelawan ribuan orang. Sama seperti ketika gue memutuskan untuk share artikel itu.

Tanpa bermaksud terdengar seperti orang Jumawa, jujur gue ngerasa bangga bisa stand up atas apa yang gue percaya benar. Because man, it was scary for me! Ngomong panjang lebar di twitter atau di blog anonimus tentang hal ini jauh lebih mudah daripada ketika gue harus berbicara di depan seseorang yang gue kenal. Ternyata mencoba untuk merubah sesuatu yang menurut kita ngga bener hanya "semudah" menekan tombol "share" di facebook atau speak up. Ketika gue bilang, "kalau bukan gue, siapa lagi" bukan berarti gue satu-satunya yang bisa melakukan ini. Tapi memang kalau bukan dari diri kita pribadi yang dengan berani memulai...apa kalian masih terus mau ngarep seumur hidup orang lain yang berubah tanpa ada pencetus? =)

Have a goodnight, Queers!


Jumat, 21 Maret 2014

Dear diary, I think I want to marry a donut one day







Hampir sekitar 15 tahun yang lalu, gue pertama kalinya mulai ngerasa kalau gue punya ketertarikan yang beda ke temen-temen sekolah perempuan gue. Perawakan gue yang tomboy dan kadang ngga bisa dibedain dengan anak cowok asli ngga membantu, karena temen-temen sekolah perempuan gue ngga merasa aneh kalau ngungkapin ketertarikan mereka dengan gue. Pada masanya, seorang Mithya ngga dilihat sebagai anak cewek. Mungkin di masa-masa yang serba labil dan tabu, temen-temen gue “memudahkan” keadaan yang membingungkan itu dengan merubah gender gue ke cowok dan semuanya kembali ke “normal”. Gue ngga tau dengan keadaan sekarang, tapi gue yakin sekitar sepuluh, dua puluh tahun yang lalu, gue bukan satu-satunya yang ngalamin ini. Walaupun di satu sisi keadaan itu “menenangkan” kebingungan gue, tapi di sisi lain gue tetap harus dipaksa menghadapi kenyataan kalau rasa ketertarikan gue dengan temen-temen sesama jenis gue itu…”aneh”?

Masa sekolah menengah gue adalah waktunya gue “menikmati” kebingungan gue sebagai seorang queer yang berjuang untuk nyari jawaban. Belum ada internet (LOL), setidaknya tidak dengan akses seperti sekarang atau konten yang mudah dengan buka google.com untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan gue. Bahkan harus ngaku kalau otak gue mungkin belum nyampe untuk paham seutuhnya apa yang bikin gue bingung.

Sebenernya pertanyaan-pertanyaan yang ada mendasar banget. “Perasaan ini apa?”, “Gue harus tanya atau cerita ke siapa?” Lucunya 15 tahun kemudian, gue juga belum dapetin akses yang mudah yang membahas tentang Queer/LGBT itu sendiri untuk pre-teen atau remaja yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Seringnya adalah tulisan-tulisan para queer yang sudah menerima diri mereka atau sama-sama bingung hahaha…atau yang paling mengganggu menurut gue, adalah para queer yang sudah mapan, berdamai dengan diri, lalu tanpa sadar “memaksa” mereka yang bingung untuk bangga sebagai queer kalau perlu mendeklarasikan diri. Ibarat duren yang belum mateng tapi udah dipaksa mau dibelah. Keras dalemnya bok..hehe hush, siapa yang otaknya langsung ngeres?!

Setiap orang punya waktunya sendiri-sendiri untuk belajar tentang dirinya, terlebih kalau masa kebingungan ini di masa remaja. Gila kalau lo pikir ada sedikit perasaan ketertarikan dengan sesama jenis di usia tersebut artinya dia udah pasti homoseksual. Ada alasan yang jelas kenapa masa remaja disebut dengan masa labil. Percaya atau ngga, berlawanan dengan pendapat para homo aliran keras, manusia BOLEH bingung dan bahkan nyoba-nyoba di masa itu. Bahkan melakukan aktivitas seksual dengan sesama jenis di kisaran usia tersebut belum tentu artinya seseorang queer.

Sulitnya jadi queer di Indonesia, tema queer itu tabu- tabu ngga. Apalagi yang tinggal di kota-kota besar karena udah banyak komunitas yang ngga bikin jadi queer itu forever alone LOL tapi pertanyaannya masih sama. Komunitas-komunitas ini seringnya hanya nyeburin para manusia bingung atau beneran ngebuka tangan untuk ngobrol? Untuk sharing? Ngeluarin unek-unek dan segala kebingungan? Bahkan ada queer yang dengan sadis mentah-mentah menolak ngebantu para ababil, diulang-ulang disebut di forum, padahal banyak yang menghormati dia sebagai salah satu queer terkenal di Indonesia. Not me, bro. Gue ngga mau dekat-dekat orang yang empatinya perlu diperiksa psikiater apalagi menghormati si queer ini.

Punya perasaan yang kata banyak orang ngga boleh itu menakutkan. Apalagi dengan iming-iming neraka bagi sebagian besar orang Indonesia yang dibesarkan dengan nilai-nilai agama. Jadi coba deh dibayangin, sedang ketakutan dan bingung tapi malah dijorokin aja tanpa diajakin katarsis tentang apa perasaan dan mau mereka. Dijorokin bisa dua cara pula; Perasaan homo-nya ngga dianggap sama sekali atau langsung disodorin orang-orang yang berpotensi jadi pacar homo. Weleh-weleh…sama-sama ngga bener itu.

Young queers, ngga papa untuk takut ketika lo bingung dengan perasaan lo. Itu wajar banget dan trust me, perasaan itu sayangnya ngga akan hilang gitu aja seiring lo masuk usia dewasa muda. Lo bahkan mungkin makin disodorin potensi-potensi pacar homo yang lebih banyak hahaha…

Saran gue, cari temen yang bisa lo ajak ngobrol. Tanya sebanyak-banyaknya. Kalau lo percaya orang nikah paling lambat 30 (which is a stupid opinion btw), bayangin berapa lama waktu yang lo punya untuk ngerti siapa diri lo sebenernya. Bayangin berapa lama waktu yang lo punya untuk nanya dan cari tau sebanyak-banyaknya (di tempat-tempat yang tepat pastinya). Terkadang rasa takut bisa bikin kita lumpuh dan rasanya kayak ngga ada jalan untuk keluar dari rasa takut itu, padahal bisa diatasi dengan semudah bertanya dan cari tahu. Kalau lo udah punya temen yang sesama queer, ajak untuk sharing. Ngobrol tentang perasaan itu ngga aneh, bahkan PENTING. Jangan dibegoin dengan penyakit orang Indonesia yang malu-malu tentang segala hal tapi ngga punya malu pas berbuat salah.

Lo tau lo ngga sendiri. Dan queers, jangan cemooh mereka yang bingung. Kalian pernah di posisi itu di suatu waktu dan kalian tau rasanya ngga nyaman dan menakutkan. Sebagai manusia kalian akan lebih berguna kalau membantu daripada menjatuhkan orang lain. Cheers.

Selasa, 21 Agustus 2012

Being grateful with a jar of positivity




Post ini terinspirasi dari post Lushka sebelumnya yang berjudul "Happiness". Gue tau Lushka baru aja bangkit dari keadaan yang sangat tidak menyenangkan dan perlahan-lahan mulai berjuang ngelawan segala perasaan dan pikiran yang nahan dia terus menerus merasa ngga bahagia. So I salute you, dear to keep being strong and keep on fighting. Gue setuju kalau salah satu tujuan utama hidup itu adalah untuk menjadi bahagia dan bahagianya masing-masing orang itu beda. Impossible lah menurut gue kalau apa pun cita-cita dan keinginan lo di hidup adalah yang ngga bikin lo bahagia. Tapi gue mungkin mau nambahin catatan tentang "bahagia" ini. Seperti komentar Rie juga, tujuan akhirnya Bahagia, tapi gimana kalau nabrak sama hak orang lain untuk bahagia? nah, itu sih jawaban masing-masing aja. Soalnya kadang ada orang-orang yang pantas sengsara dibawah kebahagiaan kita hihihi...nah, just kidding....kinda =P

Post ini juga terinspirasi sama jawabannya Blue. Karena sebenernya gue pingin komentar yang senada dengan lo di post lushka. Sebelum kita mengawang-awang tentang "Apa sih yang bikin gue bahagia?", "Pekerjaan apa?", "Sukses berkeluarga?", "banyak teman?" dst dst dll dkk, gue pingin sharing satu hal simple untuk bisa bahagia dalam bentuk hal terkecil. Bersyukur. *pasang tema background musik islami, pasang jilbab, main rebana* hehe...ngga, gue seriusan ngga pake sok khotbah sholat jumatan nih. Gue beneran serius kalau elo-elo masih ngga tau kebahagiaan lo apa, ngga usah cape-cape mikir jauh-jauh atau tinggi-tinggi sampe nyari wangsit ke taman makam pahlawan. Kita sekut aja dulu bro hihi...

Ceritanya sekitar 3 tahun yang lalu gue dapet kuliah yang temanya Psikologi Positif. Alih-alih dari segala kebusukan, penyakit dan keabnormalan mentalitas manusia yang dicekokin ke otak para calon psikolog jaman dulu, gue diperkenalkan dengan satu aliran psikologi yang rasanya kayak pencerah diantara aliran-aliran yang fokusnya sering berkubang pada penyakit mental manusia. Di salah satu kuliah awalnya, gue dapet tugas yang sederhana banget dari profesor gue: "Tolong dituliskan, setiap hari, minimal 3 hal yang kamu bisa syukuri selama satu minggu ke depan. Maksimal..sebanyak-banyaknya.". Berhubung gue waktu itu lagi seneng kuliah, gue kerjain tu tugas TIAP HARI. Tapi teteup karen amales mikir cuma nulis 3, dan mentok-mentok 4 biji supaya ngga diceng-cengin anak-anak sekelas dibilang kerajinan hihi...Setelah seminggu, kita diminta sharing beberapa hal yang kita syukuri di kelas dan ditanya apa perasaan kita waktu nulis dan pada waktu itu ngeliat ke belakang apa yang udah terjadi selama seminggu.

Bersyukurnya simpel aja, bro eh sis eh jeng ya? "Saya bersyukur pagi ini ngga hujan, jadi saya ngga ngulet-ngulet lagi di tempat tidur dan bikin telat kuliah" "Saya bersyukur saya inget sama tugas kuliah yang harus diselesain hari ini supaya ngga kena kompensasi" atau "Saya bersyukur pas udah cape banget mau pulang, bis langganan langsung hadir depan muka tanpa harus nunggu lama-lama". Efeknya? Dahsyat. Somehow seminggu itu gue ngerasa lebih berenergi. Seminggu itu gue ngerasa lebih BAHAGIA. Tau darimana? dari hasil perbandingan tes yang dikasih sama profesor gue minggu lalu dan setelah si tugas bersyukur itu (emang dasar psikolog, ngga valid kalo ngga pake tes hehe).

Cuy, gue ngga bullshit. Gue ngga lagi jualan obat. Lo boleh coba owe olang punya pengalaman buat bikin you hepi. Bersyukur pelan-pelan. Jangan cuma berhenti di situ tapi. Tulis deh. Karena emang kita sebagai manusia pada dasarnya punya kelemahan untuk cuma inget sama hal-hal yang nyakitin kita. Kita juga tertipu sama dunia yang bilang bahwa kebahagiaan itu kesuksesan dalam bidang A lah, bidang B lah dst dst. Padahal dalam sehari kita bisa bersyukur lusinan kali.

Mau di-upgrade tugas seminggu itu jadi sesuatu yang lebih fun? gue baru baca sesuatu yang mirip di tumblr semingguan yang lalu tentang seorang cewek yang punya kebiasaan menuliskan hal-hal yang menyenangkan setiap terjadi sama dia di secarik kertas lalu dimasukkan ke dalam satu botol kaca. Di malam tahun baru, semua isi botol kaca itu dia keluarin satu-satu untuk disyukuri kalau ternyata tahun yang dia udah lewatin ngga jelek-jelek amet =)

Boleh dicoba kakaaaakk...dan ngga perlu nunggu sampe awal tahun depan untuk mulai. Start today or tomorrow. Lo cuma butuh kertas, pulpen dan satu botol kaca. And I wish you all happiness ^^

notes for lushka: Still remember those two little glass jars I gave to you on our anniversaries? If you start doubting of how good you are or how I always care about you., take a peek. Hope it can be your jar of positive feelings.

Minggu, 29 April 2012

Coming out as a person with BPD




To be queer and mentally ill LoL just kidding. Let’s just say, to have a challenging personality. Sebagai seorang in the closet queer, gue rasa banyak banget yang bisa merasa senasib sepenanggungan dengan gue. Tapi gue baru kenal segelintir yang juga queer dan punya masalah gangguan kepribadian atau gangguan um..mental hahaha. God, that is so weird to say things like this dimana masyarakat sini masih menganggap kata-kata “gangguan mental” sangat negatif dan identik dengan GILA. Whew..imagine all the prejudice our society have about gay people. Now add all the prejudice our society have about mentally troubled people. Nah, nikmat kan? Sebenernya gue yakin banyak banget di luar sana yang punya nasib sama dengan gue, tapi either lo sama ngerinya dengan reaksi orang lain atau lo bahkan ngga sadar lo punya masalah psikologis.

Gue pingin share sedikit dengan cerita gue coming out. Bukan sebagai queer, tapi sebagai seseorang yang punya gangguan kepribadian. Gue udah cerita dikit kalau gue punya gangguan kepribadian borderline. Dan walaupun sepertinya gue pernah menjanjikan menjelaskan lebih lanjut, gue masih males banget hahaha…Intinya gangguan kepribadian gue yang paling um..sebut aja “normal” diantara 9 gangguan kepribadian yang lain tapi termasuk yang paling menyiksa diri sendiri dan orang terdekat karena masih sadar betul dengan kelakuan-kelakuan ngaco yang bisa diperbuat karena punya gangguan ini. Feel free lho untuk google. But try to keep open minded dan jangan seenaknya ngebuat judgement kalau belum bener-bener ngerti. Apalagi kalau lo belum pernah berinteraksi secara dekat dan intensif dengan satu makhluk hidup yang punya masalah ini. Itu namanya sotoy hehe..

Kayaknya kita semua yang in the closet tau gimana rasanya ngeri kalau sampe orang lain apalagi orangtua tau kita queer. Selama ngumpet-ngumpet aja gue yakin kalian udah pernah ngalamin beberapa kali yang namanya “gay panic”. Itu lho, panik-panik bergembira ketika rasanya lo atau ada orang lain yang melakukan sesuatu yang bisa menyebabkan identitas queer lo terbongkar haha. Terus ada nih privilage moment buat beberapa orang yang punya keberanian besar untuk akhirnya coming out ke orang tua mereka. Rasanya juga panik-panik bergembira tuh hehe. Well I dont know how it feels to come out to your parents that you are gay, but I'm gonna guess that its not that really completely different from coming out to your parent that you are mentally ill. At least in Indonesia...dan at least ke orang tua macam orang tua gue. Gue ngomongin tentang gimana rasanya waktu lo menimbang dan akhirnya memutuskan untuk come out, tentang kejadian hari H dimana akhirnya lo ngomong secara langsung dan reaksi orang tua setelahnya.

Kejadiannya waktu itu hanya beberapa hari dari gue dikasih tau sama psikolog gue kalau gue didiagnosa punya gangguan kepribadian borderline (iya, psikolog bisa juga punya psikolog,. Emang cuma jeruk doang yang boleh makan jeruk? hehe). Rasanya dunia gue dibolak balik. Bukan karena hasil diganosanya, karena gue udah curiga sama diri gue sendiri sebelum didiagnosa, tapi lebih karena gue harus ngasih tau hasilnya ke orang tua gue. Lain dengan queer yang mungkin bisa cukup lama menyembunyikan identitasnya, punya gangguan kepribadian tanpa dapet support dari lingkungan terdekat lo bisa berakibat cukup buruk. Gue terus-terusan menimbang pro dan kontra dari gue coming out. Terus-terusan cemas dengan bagaimana reaksi orang tua kalau udah tau dan bagaimana gue harus siap dicap sebagai "orang sakit" yang pada saat-saat tidak menyenangkan bisa dijadikan senjata untuk menyakiti gue.

So there I was. Duduk di seberang orang tua gue dan memberikan hasil surat tes psikologi berisi penjabaran diagnosa diri gue. Isinya ngga ringan, men. Gue dibilang hostile, paranoid, kurang dalam kemampuan mengendalikan emosi, dan mudah mengalami depresi, (whew, gue harus tarik napas dulu nulis ini semua hehe). Mau gue misalnya sepinter apa pun di psikologi atau bahkan udah curiga sebelumnya dengan kondisi ini, untuk pada akhirnya ngebaca hasil itu semua di sebuah kertas dengan cap resmi Rumah Sakit dan tanda tangan si psikolog, gue masih ngerasa kayak ditonjok perutnya hehe. Terus gue harus nunggu reaksi orang tua ngebaca penjabaran diagnosa gue sepanjang 2 halaman kertas HVS yang rasanya kayak duduk disitu selama beberapa jam. Pertama nunggu reaksi bokap, terus nunggu reaksi nyokap. nyett..gue sih gayanya sok sibuk (padahal cuma mainin HP), padahal perasaan udah kayak diaduk-aduk ketakutan.

Hasilnya? Bokap ngga bicara banyak. Gue termasuk beruntung punya bokap yang cukup smart. Bisa cukup ngerti dengan psikologi dan udah cukup terbuka dan santai untuk nanya-nanya tentang masalah yang gue alami, atau apa yang gue dapet tiap gue pulang dari sesi terapi gue ke psikolog. Dia "hanya" menanyakan apa yang bisa gue lakukan untuk memperbaiki keadaan gue. Tapi kalau nyokap kasusnya lain. Nyokap gue orang yang sangat konservatif dan sangat in denial tentang banyak hal. Dia bahkan ngga baca surat itu sampe akhir. Granted waktu itu kita dikejar waktu untuk urusan lain, tapi dia ngga nanya lagi untuk menyelesaikan membaca surat itu to this day. Sedangkan gue ngga punya energi untuk menghadapai betapa negatifnya reaksi nyokap terhadap kondisi gue sekali lagi.

Perasaan gue ngga karuan. Satu sisi gue masih dapet pengertian dari bokap, tapi di sisi lain gue ngerasa kayak nyokap ngga perduli sama sekali. Masih menanyakan hal-hal yang udah jelas jawabannya berhubungan dengan keadaan gue, seakan-akan gue melakukan semua hal yang gue ngga mampu kontrol karena gue males usaha. Masih menuduh gue dengan hal-hal yang ngga menyenangkan. Bahkan terkadang kalau dia udah marah, manggil gue dengan sebutan "dasar kamu emang orang aneh". Ironis memang. Gue seorang psikolog yang salah satu orang tuanya bener-bener ngga ngerti (atau ngga mau usaha ngerti) tentang psikologi. Ngerti kan kenapa gue bisa ngeliat paralel antara coming out sebagai queer dan sebagai seseorang dengan gangguan mental?

Dengan keadaan pola pikir masyarakat kita yang masih cukup primitif seperti sekarang, banyak hal yang bisa disembunyikan orang karena mereka takut dengan bagaimana orang lain melihat diri mereka. Cuma bisa mengambil fokus apa yang dianggap orang lain negatif dan lupa dengan apa yang dimiliki sisanya yang positif dari orang itu. Seorang queer cuma bisa dilihat sebagai gay/lesbian/biseksual, hence, pendosa atau orang aneh, terus ngga ada lagi yang bisa diliat dari diri mereka. Seseorang yang punya gangguan kepribadian cuma bisa dilihat sebagai orang gila. Lucunya, kebanyakan masyarakat belum berusaha untuk mengerti lebih lanjut untuk topik-topik yang tabu ini dan udah cukup puas dengan apa yang mereka percaya dari apa yang mereka dengar dari orang lain.

Keadaan seperti ini kayak lingkaran setan. Ketika masyarakat menutup mata tentang hal-hal yang dianggap negatif dan tabu serta ngga mau belajar lebih lanjut, hal ini juga berpengaruh besar ke kemauan si individu yang memiliki sesuatu yang disembunyikan ini untuk mencari tahu lebih lanjut. Mau cari tahu kemana kalau nanya aja mungkin udah bikin perasaan panik-panik bergembira muncul? Hasilnya? Baik masyarakat yang ignoran atau pun si indivdu jadi sama-sama bodoh. Padahal semakin banyak kita mengerti tentang hal-hal yang dianggap tabu ini, semakin besar rasa empati kita, semakin besar rasa ingin menolong kita dan banyak banget keadaan-keadaan buruk yang mungkin terjadi karena konsekuensi bisa dihindari.

SO I'm pleading here. Sebagian besar pembaca blog ini adalah queers, jadi kurang lebih tau ya rasanya dijudge sebagai orang aneh hanya karena kita queer. Jadi yang gue minta tolong, kalau kalian belum begitu menerti tentang gangguan mental, coba deh cari tau dikit sebelum ketok palu. Apalagi kala u ada orag-orag di sekitar kalian yang memang memiliki masalah itu. Siapa tau bahkan lo mungkin bisa ngebantu mereka-mereka yang belum sadar dan dapet bantuan. Sisanya yang straight, baik gay friendly or not, gue harap kalian juga udah punya sikap positif untuk berusaha mencari tahu tentang hal-hal yang kalian ngga begitu ngerti dan bahkan ngga mengalaminya sendiri. Kalian juga bisa membantu lebih baik kalau kalian mengerti toh? Be it you want to try to make a queer go straight atau seseorang dengan gangguan mental mendapat treatment yang tepat. All your free choice. It wont hurt to learn more right? 

Rabu, 29 Februari 2012

Smile, now. You are worthy (Glee/Cough Syrup)



I believe I have to share this very strong scene from Glee a week a go. Say no to bullying for any kind reason. Lagu-lagu yang ditampilin Glee minggu lalu bertema tentang menjadi seseorang yang tetap kuat walaupun rasanya udah ngga punya apa-apa lagi untuk dipertahankan. Padahal kalau kita mau tunggu sebentar, sehari, seminggu, sebulan...kita bisa liat berapa banyak orang yang peduli dan sayang sama kita. But most of all, we will see that there millions of things that we haven't see or experienced and we're eager to get there someday.

Aside from that, I'm giving special big prop for Max Adler for giving his best to portray a troubled in-the-closet jock High school that got bullied and Darren Criss to do a very well cover version of Young the Giant Cough syrup.

I wont stop saying, that you're not alone in this. There are so many people that feels like shit out there, that at this very second are thinking life is worthless and there are no one who you can relate to. But you're wrong. Coz I've been there and life is not that simple to look through one eye. When you still have something to make you smile today, trust me, life is still worth living for =)

Rabu, 19 Oktober 2011

Egalia Pre-school

Sebuah sekolah pre-school di Swedia bernama Egalia menjadi bahan pembicaraan diantara para pengamat sekolah. Mereka merupakan sekolah pertama yang mengusung tema kesetaraan gender sebagai fokus utama pengajaran di sekolah. Metodenya ngga tanggung-tanggung. Para guru di sekolah tersebut menghindari penggunaan kata "him" atau "her" (han dan hon dalam bahasa Swedia) agar para muridnya tidak perlu memusingkan teman-temannya itu laki-laki atau perempuan. Mereka menggunakan kata "hen", yang sebenernya ngga ada di kosa kata bahasa Swedia sebagai kata ganti panggilan orang ketiga yang memiliki sifat gender. Selain itu tentunya mereka juga membebaskan muridnya untuk bermain dengan siapa saja dan mainan apa saja, terlepas dari jenis kelamin mereka. Mereka juga menghindari cerita-cerita yang menurut mereka sangat mendiskriminasi gender seperti cinderella dan barbie. Buku-buku cerita yang terdapat di sekolah mereka juga sangat bervariasi dalam menggambarkan suatu keluarga. Keluarga tidak selalu harus ada ayah dan ibu, tapi juga pasangan homoseksual (2 ayah atau 2 ibu) maupun single parent.

Sekilas tujuan sekolah ini memang bagus. Tapi gue rasa agak terlalu berlebihan dalam usaha memperjuangkan nilai kesetaraan gender karena sepertinya mereka berusaha menghilangkan "gender" itu sendiri. Which is kinda impossible.Gender dan jenis kelamin tentu saja berbeda. Gender dan jenis kelamin juga ngga harus searah atau sama. Misalnya, kalau lo laki-laki artinya lo harus jadi yang kuat, jago olah raga dan berwibawa, atau kalau lo perempuan lo harus bersikap lembut, suka dengan boneka dan jago masak. Kayaknya pandangan seperti tu udah kuno banget ya.. Tapi kita ngga juga ngga bisa membuang gender itu sendiri karena gender memang berpengaruh sekali dengan peran seseorang dalam bersosialiasi. Gender juga masih sangat dipengaruhi oleh jenis kelamin. Kalau jenis kelamin ngga mungkin dihapus, bagaimana mungkin kita berusaha melupakan gender.

Manusia terlahir dengan perbedaan fisik yang sangat jelas antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki ngga bisa mengandung seorang anak dan wanita ngga bisa memproduksi sperma. Ngga hanya alat kelamin, kekuatan otot yang dimiliki oleh pria dan wanita pun diciptakan berbeda walaupun keduanya membentuk otot sebaik-baiknya. Perbedaan fisik yang ada juga sangat nyata mulai dari hormon hingga ukuran otak. Perkembangan psikologis/emosi antara laki-laki dan perempuan pun sangat berbeda. Ngga hanya dari pengaruh lingkunan, tapi  juga karena perbedaan hormon dan otak ini yang menyebabkan laki-laki dan perempuan memiliki perkembangan emosi yang berbeda. Bisa kelihatan jelas kan kenapa gender itu ngga mungkin dihilangkan dan tetap penting?

Kesetaraan gender tentunya penting untuk dipegang sebagai pandangan hidup. Karena menurut gue, dari perbedaan antara laki-laki dan perempuan, disitulah letak kesetaraannya. Ada hal-hal yang memang laki-laki sedikit lebih baik dalam mengerjakan, ada juga hal-hal yang perempuan sedikit lebih baik dalam mengerjakan. Bukan berarti juga ini jadi hal yang hitam putih. Gue sangat mendukung kalau seorang anak dibiarkan bermain dengan mainan yang menurut dia paling dia minati. Anak cowok main masak-masakkan, apa yang salah? Berapa banyak chef terkenal dunia yang berjenis kelamin wanita memangnya? Anak cewek main pistol-pistolan, apa yang salah? Memangnya di dunia ngga ada satu pun polisi atau tentara perempuan? Tapi rasanya yang dilakukan sekolah Egalia ini sedikit terlalu berlebihan. Mengajarkan kesetaraan gender ngga perlu sampai harus tidak menggunaan kata ganti "him" atau "her" hingga tidak memperkenalkan cerita-cerita seperti cinderella. Anak laki-laki dari raja akan selalu disebut Pangeran dan anak perempuan dari raja akan selalu disebut Putri.

FYI aja sih. Mari kita tingkatkan kesadaran kesetaraan gender, tapi jangan mengorbankan perkembangan normal seorang anak. Mungkin pengajaran seperti itu berhasil di lingkungan kecil Swedia karena Eropa Utara memang paling toleran dengan hal-hal yang berhubungan dengan perkembangan seksual. Tapi pada perkembangannya si anak akan mengalami clash dengan norma dan budaya pada umumnya. Kenapa ngga lebih menekankan pada pengajaran compassion, respect dan menentang rasa benci yang berlebihan. What do you think?

Kamis, 21 Oktober 2010

Spirit Day 20102010


Kemarin pada tanggal 20 Oktober 2010, atau angka cantiknya (kata yang jualan nomer HP) 20102010 diperingati Spirit day dimana orang-orang di seluruh dunia diminta untuk mengenakan pakaian ungu dalam rangka berduka cita atas peristiwa bunuh diri beberapa remaja gay yang terjadi dalam satu minggu. Para remaja gay ini memutuskan bunuh diri setelah mengalami bullying dan perilaku abuse dari lingkungannya karena mereka gay. Brittany Mcmillan, seorang cewek Canada yang mengusulkan Spirit day ini pertama kali di tumblr-nya karena warna ungu pada bendera LGBTQ menggambarkan spirit atau semangat.



Terlepas dari bunuh diri itu dosa ya teman-teman (sempeet aja gue komentar tentang dosa), ada beberapa hal yang gue rasa perlu disampaikan perihal Spirit day ini. Pertama, gue mendukung spirit day ngga hanya karena ini suatu event yang menentang kekerasan terhadap para kaum homoseksualitas, tapi karena gue menentang segala bentuk kekerasan terhadap siapa pun. Terlebih kalau pada akhirnya si korban memutuskan untuk bunuh diri karena putus asa, mengira ngga ada yang perduli dengan mereka lagi. So people, STOP BULLYING. Kalian yang saat ini sebagai senior di tempat kerja yang ngga suka juniornya kerja lebih rapih dari lo dan sibuk nyuruh-nyuruh atau kakak kelas yang emosi ngeliat adek kelasnya pake rok kependekan dan ngata-ngatain setiap lewat, JUST STOP.


Gue udah pernah bahas betapa bentuk abuse dan bullying itu ngga hanya melalui kekerasan fisik semata, tapi melalui kata-kata yang menyakitkan pun efeknya sama berbahayanya bagi si korban. Jangan kira satu kata “perek” yang kamu ucapkan setiap hari ke seorang adik kelas yang lewat ngga akan berpengaruh banyak untuk dirinya. Udah liat bagaimana setiap tahun dendam tiap angkatan sekolah turun temurun ke adik kelasnya semakin parah?
Udah lihat berapa orang anak sekolah/akademi yang meninggal karena hasil bullying?

 
Spirit day memang ngga bisa dilepaskan dari homophobia dan jujur, gue sendiri masih seorang homophobia. Tapi gue selalu berusaha meninggikan nilai persamaan antar manusia. Setiap orang itu setara dan punya hak untuk memilih apa yang ia percaya atau ia sukai. Setiap orang bertanggung jawab untuk dirinya sendiri dan bukan urusan kita orientasi seksual mereka apa, atau pakaian apa yang mau mereka pakai hari ini, atau mungkin untuk hal sepele seperti jenis musik apa yang orang lain dengerin.




Love and respect, thats all. Semoga kita bisa jadi orang yang semakin baik tiap hari dengan segala awareness yang terjadi disekitar kita. Jangan tutup mata dan kuping kalian dari hal-hal yang baik.


Rest in Peace:


•Justin Aaberg


•Raymond Chase


•Asher Brown


•Harrison Chase Brown


•Caleb Nolt


•Cody Barker


Semoga kesadaran kita bisa mengurangi jumlah orang-orang yang melakukan bullying atau pun korban-korbannya.


Ada beberapa lembaga di Indonesia atau Jakarta seperti arus pelangi yang bisa ngebantu para LBTQ youth atau orang-orang yang butuh tempat untuk konseling atau sekedar berteman (jangan ngomongin cari pacar dulu deh, gue selepet lo..hehe). Google them, they’re exist. And people, hang on, It DOES gets better.

Minggu, 15 Agustus 2010

I’m not confused, OK

Kadang gue masih ngga ngerti dengan para homoseksual yang mengatakan para biseksual itu aneh. Well, guess what? Gue juga ngga ngerti dengan konsep menyukai seseorang karena jenis kelaminnya. Gue udah pernah bilang, gue ngga pacaran sama penis atau vagina seseorang. Gue pacaran dengan orang itu secara keseluruhan. Yes, gue ngga paham dengan apa yang dirasakan para homoseksual atau heteroseksual. Tapi gue ngerti, dari jenis kelamin itu, manusia terlahir dengan hormon-hormon tertentu yang sangat mempengaruhi bagaimana seseorang berperilaku. Apakah dia akan lebih condong ke hal-hal feminin atau maskulin. Begitu juga dengan daya tarik. Secara hukum alam, feminin akan tertarik dengan maskulin (gue ngga menggunakan kata-kata pria dan wanita, mind you). So, I guess mungkin orang-orang biseksual atau queer kayak gue hormonnya seimbang? Atau cukup seimbang sampai kami bisa menikmati feminisme dan maskulinisme? I dont know, ini cuma pemikiran asal aja. Belum pernah ada yang bisa memecahkan masalah orientasi seksual manusia. Freud did once said kalau seksualitas manusia sebenernya fleksibel. Gue termasuk penganut hal itu. Somehow gue percaya kalau kita ngga ada aturan untuk jadi hetero, manusia akan lebih bebas milih pasangan hidupnya tanpa harus memikirkan jenis kelamin seseorang terlebih dahulu.

Let's talk hypothetically. Membicarakan orientasi seksual ngga akan terlepas dari kegiatan seksual dong. Tubuh kita ini kan sebenernya "benda" yang berisi milyaran syaraf. Kalau pertanyaannya "what can turn you on?" Jawaban orang bisa berbeda-beda. Tapi let's say, kita tutup mata kita dan let someone (tanpa kita tau jenis kelaminnya) touch us in those places that turns you on. Ngga ngaruh kan orientasi lo sekarang? Boys will get stiff and girls will get wet. Tubuh kita cuma merespon. Makanya, kalau balik ke hormon yang gue sebut tadi, dibantu dengan mata yang bisa melihat, otak untuk memilah personal reference, serta doktrin agama atau peraturan yang ada di masyarakat, barulah kita akhirnya "memilih" dengan lebih baik pasangan ehm seksual kita.

Manusia juga terlahir dengan kemampuan mencintai keindahan. Bahkan keindahan itu aja subjektif kan? Gue suka keindahan pantai dibandingkan pegunungan. Gue lebih suka keindahan cipratan darah dibandingkan lukisan abstrak dan seterusnya. Dan gue menemukan keindahan baik dari sisi feminin maupun maskulin. Terlebih di perempuan yang sisi maskulinnya terlihat (tapi jangan berlebihan yaaa..just enough to make her look strong and independent) dan begitu juga sebaliknya di pria yang ngga takut dengan sisi femininnya (again, ngga berlebihan tapi ngga takut dengan yang namanya menunjukkan perasaan, ngga takut pake baju pink etc). I guess for me it’s all just as simple as how beautiful a person is. Baik apa yang di dalam dirinya dan apa yang terlihat di luar. Terlalu banyak keindahan di dunia yang sangat sayang untuk ngga dinikmati hanya karena masyarakat meminta label. “Oh, gue hanya menikmati film romantis” “oh, gue hanya menikmati film aksi” I can’t be that person. There’s always something we can enjoy from everything. Dan gue tau ini juga ngga berlaku untuk semua orang. Berapa kali harus gue ingatkan betapa kompleksnya manusia? Satu manusia ngga hanya punya satu kepribadian mutlak. Satu manusia bisa nunjukkin ratusan emosi. For the love of God, humans are such a beautiful creature. Bagaimana mungkin bisa gue sederhanakan hanya ke apa yang ada di antara kakinya.

Contohnya ya kalau ngomongin fisik. Gue suka banget dengan flat abs. Di perempuan, flat abs are curvy sedangkan di laki-laki akan lebih berotot. And I found both extremely sexy. Atau bentuk rahang perempuan yang lancip sedangkan laki-laki lebih bersiku. I dont know, gue ngga bisa menjelaskan “beauty”. Siapa yang bisa, coba? Both sex punya kelebihan yang sama-sama bisa gue nikmatin. Kalau ngomongin personality..I’ve talked about this in the previous post.

Gue masih menemukan para homoseksual yang mengatakan bahwa biseksual (atau queer) adalah orang-orang bingung. Gue kira ini pendapat yang cuma ada di luar negeri (how naive I am), ternyata gue menemukan beberapa homoseksual disini pun berpikir begitu. Well, I’m not dear. Some bisexual, might. But not all. Gue hanya menikmati keindahan tanpa harus dibatasi apa pun. Mungkin kalau di tahun 60’an gue masuk golongan Hippie hahaha...Bahkan kadang gue berharap hidup di masa para filsuf Yunani. Masa dimana konsep dan ide dihargai untuk menghidupi kebahagiaan manusia dan bukan sibuk menghujani diri dengan keterbatasan. Ini bukan usaha rekrutmen lo semua menjadi seorang queer ya (insert toaster jokes here), gue mau sharing apa yang gue rasain aja sebagai salah satu queer yang dikira bingung sama para homoseksual yang otaknya sempit. Kalian ngga lebih baik dari para homophobia kalau cara pikirnya masih seperti itu. Oh and dont let me start sama para homoseksual yang heterophobia! *groans*

Gue ngga akan melihat orang-orang yang berbeda orientasi seksual dengan gue dan mengecap mereka dengan sifat "aneh" atau "bingung". Gue melihat kalian cuma sebagai variasi manusia yang setelah menginjak masa dewasa punya alasan dan pilihannya sendiri. Semoga kalian juga bisa melakukan hal yang sama ke orang lain.

Sabtu, 14 Agustus 2010

Reconnecting

Dibandingkan dengan diri gue yang dididik dengan gaya militer dan mengutamakan kesempurnaan oleh bokap, adek gue ngga sempet ngerasain tumbuh ke usia remaja dengan “dibimbing” bokap. Bokap ngga dirumah semenjak dia berusia sekitar 6 tahun. Dia lebih banyak dibesarkan oleh gaya asuh nyokap yang jauh lebih santai dan mau ngga mau dipengaruhi dengan pandangan androgynus gue. Feminitas dia juga udah terlihat dari kecil. Bukan yang model kemayu atau lenje, tapi dia sangat memperhatikan penampilan mulai dari rambut sampai kesesuaian warna pakaian. Menggunakan produk-produk bermerek untuk perawatan tubuh juga udah dimulai dari SMP. Temen-temen gue sering bercanda kalau jiwa gue sebenernya kebalik sama ade gue. Harusnya gue yang jadi cowok dan dia yang jadi cewek, hehe..

Berhubung kita cuma dua bersaudara, dan gue masih punya sisi maskulin untuk mengganti peran bokap yang ngga ada dirumah, gue dan adek gue cukup deket. Walaupun usia kita cukup jauh, sifat childish gue juga ngebantu dia untuk bonding sama gue. Kita biasa ngobrolin games atau main games bareng, ngebahas film, mainan-mainan cowok dan punya selera musik yang sebagian besar sama. Ada masa-masanya gue adalah idola dia. The cool sister. Tapi seiring usia kita yang sama-sama semakin dewasa, prioritas hidup pun berubah. Gue fokus dengan kuliah dan teman-teman kuliah sedangkan dia memasuki masa remaja yang fokus ke geng pergaulan remaja gaul jaman sekarang. Bisa dibilang dia apa yang sering kita sebut “pentolan” jaman sekolahan dulu, hehe..Punya reputasi playboy karena gonta-ganti cewek tiap beberapa bulan sekali (ini juga kata temen-temen gue turunan gen bokap langsung ke gue dan ade gua haha). Kita masih deket, tapi koneksi yang dulu pernah ada, agak sedikit tulalit dan putus nyambung.

Di masa-masa keadaan psikologis gue yang ngga baik, ade gue jadi salah satu korban langsung. Masa-masa emosi gue paling ngga stabil, dia karung sansak gue. Semua kemarahan gue banyak gue tujukan ke dia. Jangan salah, he was not a saint either at the time. He was a big jerk too. But it does not mean I could do those things to him.

Sekitar sebulan yang lalu gue berhadapan dengan masalah keluarga yang fokus utamanya adalah adek gue. Dia akhirnya kena masalah besar. Alhamdulillah bukan masalah obat-obatan atau menghamili anak orang hahaha...tapi masalah ini pastinya sangat berpengaruh dengan kehidupan dia ke depan. Gue juga nge-drop waktu tau masalah ini. Rasanya kayak gue udah mengecewakan dia. Ngga jadi kakak yang baik, yang terus-terusan harusnya ngejaga dia dari hal-hal yang merugikan dirinya. Terlebih karena gue ngerasa kami pernah jadi duo bersaudara yang erat. Di masa-masa gue ngga percaya siapa pun dan ngga bisa sayang sama siapa pun, gue bisa dengan lantang bilang kalo satu-satunya manusia yang gue sayang di dunia cuma dia seorang. I love him more than I love myself.

Karena masalah ini dia dapet ultimatum dan berbagai macam wejangan dari orang tua kami dan orang-orang terdekat. Gue selalu ada di sekitar dia setiap wejangan-wejangan ini diutarakan ke dia. Tapi gue ngga bisa berhenti ngerasa kalau para orang tua ini ngga ngerti apa yang mereka sedang hadapi. Mereka ngga ngerti apa yang ade gue hadapi sebagai remaja dan keadaan rumah yang sangat tidak mendukung untuk perkembangan yang baik. But I do. Gue putusin waktu itu untuk reach out ke dia dan gue berniat untuk memperbaiki hubungan kami. Jadi malem itu gue ngajak dia untuk ngobrol.

Gue bukan orang yang bisa dengan mudah membicarakan perasaan secara face to face, makanya gue butuh tempat dimana gue ngerasa aman. Gue pilih untuk ngobrol di kamar gue. Pintu juga gue tutup. Selain untuk diri gue sendiri supaya ngga ada yang perlu tau gue lagi usaha bermain peran sebagai “kakak” gue, juga mau dia tau kalau apa pun yang kita obrolin ngga akan sampai ke kuping para orang tua yang sok tau itu.

Out of my expectation, dia masih menganggap gue sebagai tempat cerita yang bisa dipercaya. Dengan mudah kita ngobrol tentang kehidupan sekolah dan teman-temannya sekarang. Gue awali pembicaraan dengan menceritakan insekuritas gue dulu untuk nunjukkin kalau gue juga sama menderitanya sama dia. Gue pernah di posisi dia dan gue ngerti gimana beratnya jadi, well, kami. Pembicaraan serius tentang perasaan dan motivasi dan sebagainya akhirnya berubah jadi obrolan santai. Lucunya dia cerita tentang pacar-pacar dia dan udah sejauh mana gaya pacarannya dan masturbasi, hahaha...suer gue sempet salting ngga karuan dan ketawa-ketawa ngga enak dengan betapa jujurnya dia. Tapi semuanya gue ambil sebagai bentuk kepercayaan dia ke gue. Gue tekankan kalau gue ngga akan menjudge dia dan sesekali melempar nasihat tentang batasan-batasan yang udah diajarin ke dia dari kecil lewat orang tua maupun sekolah.

Yang lebih mengagetkan adalah....ketika dia tiba-tiba ngaku kalau dia suka ngebayangin kissing dengan temen-temen sesama jenisnya. DOENG, DHUAR, JEDERR, rasanya pingin ngecek sekeliling kamar.Ada kamera tersembunyi kah?? Hidup gue ngga cukup opera sabun sampai ade gue juga ada kecenderungan biseksual seperti gue??

Gue berusaha ngedengerin apa yang dia ceritain dengan tenang. Rasanya kayak pingin ngomong, “Dude! I dig ya, bro! I fancy both sex too. Give me five!” Hehe...Tapi dengan segala perhitungan, gue ngga mungkin ngomong seperti itu. Dia sih belum pernah kissing sama cowok, tapi dia bilang pikiran-pikiran itu ada dan cukup sering. Terlebih kalau dia lagi deket dengan seorang temen cowok lain. Atau kalau dia lagi cuma berdua sama si temen. Yang lebih parah lagi, dia ngomong ke temennya. “Eh, gue ko mikir pingin ciuman sama lo, ya?” Hwahahahaha.....Sinting! tapi untungnya temen-temen di lingkungan dia ngga ada yang homophobic dan kata-kata dia itu cuma dianggep jadi bahan bercandaan. Dia juga bilang kalo dibanding temen-temen cowooknya yang lain, dia ngga risih untuk peluk-peluk. *sigh* oh, brother... Dia juga jadi sering diledekin homo (tapi ini pure bercandaan, bukan dalam arti temen-temennya geli dan jadi takut sama dia).

Pertanyaan dia sangat ketebak “Gue homo ngga sih kalau mikir kayak gitu?”. Serius gue speechless. Akhirnya setelah ngumpulin pelajaran-pelajaran yang gue tau dari kuliah psikologi 6 tahun dalam waktu beberapa detik, gue jawab, “Ngga.” Memikirkan ciuman dengan teman sesama jenis bukan berarti dia homo. Itu sebenernya hal yang cukup wajar dipikirkan sama remaja. Gue menganjurkan dia jangan manjain pikiran dia yang seperti itu. Bagaimanapun juga, bukan ngga mungkin makin dipikirin, makin pingin, dan terjadilah. Gue tekankan kalau gue ngga punya masalah dengan homoseksualitas (Duh..hello? I’m queer) dan kalau sampai andaikan dia homo (and for god sake moga-moga ngga) gue ngga kan menjudge dia. Gue ingetin kalau jadi homoseksual itu bukan penyakit dan bukan orang aneh, tapi memang ajaran agama kita ngelarang. Dia ternyata bilang kalau temen-temennya banyak yang biseksual (disini gue kaget karena artinya dia cukup paham dengan istilah biseksual), dan dia sendiri juga ngga ngejudge temen-temennya itu. Dan gue merasa sangat lega kalau dia bisa menerima temen-temennya yang biseks.

Secara keseluruhan, gue ngerasa sangat bangga karena malem itu gue bisa balikin hubungan kami dulu. Betapa mudahnya kami berdua ngobrol tentang hal-hal yang sensitif atau pun memalukan untuk dibicarakan antara adek laki-laki dengan kakak perempuan yang jarak usianya jauh banget. Setidaknya di saat-saat dia jatuh, gue bisa ngingetin kalau gue masih ada dan akan selalu jadi orang yang bisa dipercaya untuk ngebantu dia bangkit lagi. Gue nunjukkin kalau gue masih perduli dan sayang sama dia. Tentu aja perasaan khawatir ada tentang pengakuan kecenderungan homoseksual dia. All he need is another gay and voila, the kiss that he only think about might come true. Gue mungkin double standard untuk masalah ini. Menurut gue cewek lebih mudah bermain-main di seksualitas, tapi ngga dengan cowok. I still stand on my believes that being gay is not allowed. I dont know. Mungkin kalau dia bisa beneran biseksual dan bukan gay, gue masih bisa lebih tenang. Alasan lainnya, gue ngga mau adek gue harus ngelewatin hal yang serumit itu. We all know being gay is not easy. It’s a torture for the rest of your life kalau ngga bisa menerima diri sendiri, ngga diterima masyarakat apalagi kalau sampe disowned by parents. I dont want him to get through more problem that he already is now. Yah, kalo sampe dia gay juga bukan berarti gue bakalan ngga suka dan ngga menerima dia apa adanya (duh, hello? Again, I’m queer myself).

Semoga seiring waktu, kebingungan dia bisa terjawab dan bisa jadi pribadi yang lebih baik. Coz seriously, he’s still a jerk lil boy right now. Dan semoga dalam keadaan apa pun gue bisa terus ngedampingin dia jadi kakak yang baik.

Dipikir-pikir, gue dan dia bisa jadi bahan penelitian nih kalau homoseksualitas bisa karena gen, hahaha...

Kamis, 10 Juni 2010

Keep calm and share

Semenjak gue punya tumblr Glee, gue jadi kenalan dengan para Gleek lain. Mereka berasal dari segala macam negara dan jenjang usia yang cukup luas. Menyenangkan banget sebenernya karena rata-rata mereka ini kalau ngga sesama homo ya orang-orang yang toleran dengan homoseksualitas. Bonusnya lagi, orang-orang ini ngocolnya setengah mati. Hampir setiap adegan di episode bisa mereka jadiin bahan bukti para pemainnya sebenernya 50% gay =D. Berhubung sistem Tumblr mirip banget dengan Twitter, kita tinggal saling follow kalau mau dapet update gambar dari satu sama lain. Selain itu karena tumblr bentuknya juga terbuka untuk umum, semua isi tumblr kita bisa dilihat secara umum. Setiap gue difollow orang baru, gue biasanya akan ngecek apa tumblr follower gue ini bisa gue follow balik. Jelas karena tumblr gue khusus glee, gue ngga perlu dashboard gue penuh dengan hal-hal lain diluar itu (gue udah punya tumblr pribadi lain lagi untuk itu =P). Nah, selama sebulan ini gue nemu profil dua orang follower gue yang bikin gue sedikit kaget dan mikir. Gue kaget karena kedua follower gue ini usianya “baru” 14 tahun sedangkan gue jadi mikir karena tumblr gue isinya sebagian besar berisi pairing lesbianism. Ok, so they worship what I worship too. Bahkan salah satu profil si remaja menyatakan kayak begini: My Sexuality: Straight. For now. I might go bisexual when I grow up. Hihi..agak gimanaa gitu bacanya, soalnya tumblr gu..umm talking about anything that would be consider gay between the cast. Not to mention pictures with half naked women in bikinis hahaha..ngga, gue ngga pervert! Cuma ya tuhan, I cant help itu kalau itu gambarnya Naya Rivera hahahahaha....


Kembali lagi ke masalah tadi, gue bingung dan takjub dengan profil-profil itu. I have no oppose whatsoever dengan pemilihan sexuality mereka, tapi gue memang sedikit terganggu dengan betapa mudanya usia mereka. Siapa bilang 14 tahun belum tau suka dengan siapa? Gue mulai berasa homo waktu umur gue sekitar 12 tahun kok. Hell, my first kiss with a girl was when I was about 4 years old (and making out become weirdly regular after that with my bestfriend =P). Gue udah pernah ngomongin tentang betapa labilnya yang namanya masa remaja dan itu merupakan masa yang sangat penting dalam mencari jati diri. Jadi kalo ditanya, gue memang punya pendapat tersendiri tentang kapan sebaiknya seseorang menentukan seksualitas mereka. Tapi ini bukan inti dari perasaan ngga enak gue. Berawal dari penemuan gue itu, gue jadi mikir lebih jauh lagi. Tentang Glee itu sendiri. Tentang betapa HOMOnya acara itu. Buat kita-kita gleek yang queer tau banget kalo semua aspek dari acara itu berteriak “being gay is A-OK”. Dibalut manis dengan lagu populer dan cast cakep-cakep, Glee terlihat seperti acara TV seri remaja pada umumnya.

Pikiran itu berkembang ke media internet yang saat ini udah ngga punya bendungan sama sekali dengan yang namanya informasi. Waktu gue mulai berasa homo di usia 12 tahun, gue belum punya internet buat nyari tau lebih banyak tentang homoseksualitas (idih, koneksi ******net jaman itu bikin pingin banting komputer). Waktu itu gue masih dibombardir dengan informasi ilmu agama (sekolah gue dari TK sampe SMA adalah sekolah islam). I know, kalo gue suka sama cewek maupun cowok. Tapi gue ngga punya pikiran sampe bisa menyatakan I am bisexual. Sekarang gue bisa bilang semua informasi yang gue butuhkan, alhamdulillah gue dapetin seiring dengan pendewasaan gue. Tapi dengan anak jaman sekarang?

As my queer friends all know, gue menerima diri gue sebagai queer, tapi gue bukan salah satu yang bisa mengatakan bahwa menjadi queer itu ngga dosa. Itu masalah yang masih sangat membingungkan buat gue dan ngga suka untuk memperdebatkan. I choose to be queer like I choose to drink alcohol walaupun hukumnya haram. Karena gue tau walaupun ketertarikan gue dengan sesama jenis ngga bisa dihilangin, gue tau gue masih termasuk orang-orang yang dikasih tuhan pengendalian atas semua perilaku gue (Jangan ngomongin yang pure gay yah, itu diluar pengetahuan gue karena gue ngga punya hak berpendapat atas mereka). Tapi bagaimana dengan anak-anak yang dibombardir dengan segala informasi tanpa bendungan ini? (duh, tiba-tiba berkelebat segala teori yang saling adu kuat antara freudian dan behaviorism tentang orientasi seksual). Gue ngga bisa naif dan sok ignoran terus bilang kalau remaja udah bisa menggunakan logika dengan baik. Karena gue tau dengan fakta bahwa yang namanya remaja itu labil dan jelas belum dewasa. Segala sesuatunya masih dalam pembentukan karakter dan kepribadian. Mau dunia masih ada seribu tahun lagi, bayi akan tetapharus berkembang di kandungan ibu selama 10 bulan dan mau usaha sampe mulut berbusa pun, anak umur satu tahun ngga bisa diajak baca buku novel. Semua butuh proses baik secara fisik maupun psikologis. I’m a post-mo person, but I’m still heavily influenced with my religious upbringing.

Kesimpulan gue sebenernya balik lagi ke Glee. Acara ini sebenernya menyebar virus homo. Di satu sisi mereka memang membawa pesan-pesan yang baik tentang menghargai perbedaan, persahabatan dan teamwork, tapi ngeri juga kalau gue mikir jangan-jangan mereka udah convert beberapa anak ababil (Anak baru gede labil) untuk mempertimbangkan jadi homo. Bagus kalau si 14 tahun dapet informasi yang seimbang dari kiri kanan untuk akhirnya menentukan, tapi emang penontonnya cuma anak 14 tahun keatas? What about the kids that are younger than that? Omg, bahkan tumblr gue membantu menyebarkan hal itu LoL.

Ngga, gue ngga lagi menceramahi siapa pun atau apa pun. Gue juga ngga lagi menjudge sesama homo apalagi sebuah acara TV. Gue lagi pingin sharing pemikiran gue aja. Gue emang kaya duri dalam daging. I belong there, tapi kalau mau dimakan, rese. Hehehe...Meh, just another neurotic thoughts from me.

Rabu, 21 April 2010

Transgender, Transexual or Transvestite?

This is exciting! Terima kasih infonya, sayang ^^


Kata Lushka karena penjelasannya puanjaaang, gue harus buat post sendiri hehe..

Gue usaha jelasin semampu gue ya..first of all masih pada inget ngga gue pernah post artikel tentang temen gue yang namanya khan? Disitu gue coba jelasin bahwa menurut “kitab suci” psikologi/psikiater (DSM-IV-TR) ada dua kategori yang sangat berbeda yaitu transexual dan satu lagi transvestite/crossdresser. Daripada gue ketik ulang, here’s what I post at that time: http://frieddurian.blogspot.com/2010/01/gue-dapet-pengalaman-menarik-kemarin.html

Nah, si Khan ini pun waktu itu ngga masuk ke kategori mana pun karena si “kitab suci” dengan jelas membagi kedua kategori itu. Sepertinya sih hal yang serupa juga terjadi sama si bapak Rasmussen ini. Kalau dia seorang transexual, dia akan bilang kalau dirinya PEREMPUAN. Lalu, kalau sampai dia masih beristri, maka dia akan menyebut dirinya lesbian. Tapi dia dengan jelas mengatakan kalau dirinya seorang heterosexual male. Hanya saja dia suka terlihat sebagai perempuan (makanya dia operasi payudara).

Bapak Rasmussen juga ngga bisa disebut transvestite/crossdresser karena dia sampai merubah dadanya memiliki bentuk payudara wanita. Seorang transvestite/crossdresser hanya akan suka mengenakan pakaian perempuan atau bahkan terangsang ketika mengenakannya (transvestic fethishism).

So? Memang udah terhitung beberapa kasus ngga dengan mudahnya dikasih satu label fix psikologi. Gue sih berhubung harus ikut peraturan si “kitab suci” ngga akan memberi label transexual tok atau transvestite tok.

Bapak Rasmussen juga ngasih link tentang cerita panjang lebar pengalaman dia memutuskan untuk operasi payudara (http://www.ifge.org/Article63.phtml). Ketika dia mau operasi payudara, dokternya menyatakan bahwa operasi payudara perempuan pada laki-laki ada peraturannya: laki-laki itu harus seorang transexual. Hihi..ribet yaa..tapi ya emang gitu.

Kalo lo bertanya apakah dia seorang transexual atau transvestite, pasti ngga terjawab. He’s neither of them and I’m not sure we should even name it. Dia cuma satu contoh manusia kompleks lagi.nKalau masih mau maksa masuk ke masalah apa di bidang psikologi, dia jelas masuk ke Gender Identity Disorder.

Link wikipedia yang dikasih Lushka juga menjelaskan kok. Tapi kalau wikipedia penjelasannya udah campuran dengan istilah bahasa dan sosial. Sejauh yang gue baca, Psikologi ngga menggunakan istilah transgender. Karena arti gender dan sex berbeda. Secara sosial sepertinya Transgender adalah istilah yang dipakai untuk mengepalai istilah transexual, transvestite, androgynes, genderqueer dll.

Hope it helps. I kinda suck in explaining things like this hahaha...

Rabu, 24 Maret 2010

Ratu Kim

Here’s a thought. Im gonna write about my thought here. I believe what I’m gonna talk about is pretty much in everyone’s thought..kalo berpikir dengan pikirannya sendiri. Dari sekitar dua tahun yang lalu, gue berkenalan dengan seseorang yang menyebut dirinya “lesbian”. Lesbian ini memiliki sebuah perkumpulan yang sepertinya kalau gue ngga salah kira, ingin memajukan para lesbian di Indonesia. I have no problem with that. Mari majukan semua warga negara Indonesia. Gue beneran berharap dari ujung Sumatera sampai ujung Irian Jaya semuanya pinter-pinter. Amin!

Dari hasil memperhatikan si Lesbian, sepertinya dia termasuk salah satu orang yang pintar. Bahkan dia bilang sendiri kok berulang-ulang kalau dia pintar. Ok, mari kita singkirkan dulu hujatan “sombong”. Kalau memang pintar ya hak dia untuk mengatakannya toh? Tapi yang jadi ganjalan buat gue, kenapa dia ngga mau membagi kepintarannya ini ke orang-orang sekitarnya? Terlebih kalau keinginan perkumpulannya adalah cita-cita memajukan lesbian lain. "Membagikan" dengan "memaksakan" itu beda lho. Coba deh cek ke Kamus Besar Bahasa Indonesia. Atau gue salah ngerti? Apa perkumpulannya aja yang punya cita-cita itu? Bukan cita-cita si lesbian? Atau mungkin maksudnya majuin bibir? Majuin tete? Please enlight me...please... “Maju” maksud mereka itu maksudnya lebih pintar bukan? Dari yang gue perhatikan, dirinya maupun perkumpulannya tidak mau menerima kritik dari orang-orang yang memiliki perbedaan pikiran dengan mereka. Hmm..tolong kembali perbaiki pendapat saya: Orang pintar adalah orang yang mampu menerima kritik, mengambil yang positif dan membuang yang negatif bukan? Dari kritik itu dia akan mampu mengembangkan diri dan pemikirannya sehingga mampu mencapai status “pintar” itu. Yang gue liat, Lesbian ini melakukan langkah pertama menjadi Kim Jong iL versi Lesbian dan perkumpulannya ngga lebih dari negara Korea Utara yang menutup segala informasi dari dunia luar. Lesbian ini sepertinya takut kalau-kalau ada orang lain yang terlihat lebih pintar dari dirinya. Whew...apa jadinya kalau Kim Jong iL berhenti narsis dan membuka Korea Utara? Hilanglah para pengikutnya yang setia yang telah ditutup pikirannya. Mereka hanya bisa berkiblat ke satu arah. Ke Kim Jong iL..eh..si lesbian maksudnya. Untung Kim Jong iL udah mangkat.

Kedua, lesbian ini suka sekali marah-marah. Marah-marahnya sambil menghina orang lain intelegensinya rendah pula. Ckckck...Kenapa para pengikutnya menghalalkan perilakunya ini ya? Jadi kalau pintar, boleh ya menghina orang lain yang menurutnya bodoh? Dia juga sering sekali harus membuat statement bahwa dirinya memang tidak menyenangkan, tidak punya banyak teman dan ngga perduli dengan orang lain. Hmm..is that really a good attitude for someone who wants to make a difference? Sangat negatif. Kata-katanya jelas menggambarkan defense dia terhadap kurangnya perhatian dan rasa perduli orang lain ke dirinya. Simple personality math: Bukan orang lain yang memilih untuk tidak menyukai saya, tapi saya yang memilih untuk jadi orang yang menyebalkan. Ding dong! She needs to chill out a litlle. Play some music, girl! ride a little, put some aromatherapy or go to a shrink. She’s old now and if she keeps on getting angry everyday, she’s gonna have a heart attack. You poor old hag..

Ketiga, ketika melihat perkumpulan ini gue juga khawatir. Mereka ingin sekali jadi nomor satu tapi kok ngga dibarengi dengan rasa rendah diri dan kebersamaan? Nomor satu bukan berarti harus berlaku bagai ratu yang memerintah sekelilingnya. Weits, sebentar Ratu Kim..sejak kapan orang-orang di sekitar anda otomatis menjadi pengikut? Apa mereka memiliki status lebih rendah dari yang mulia, Ratu Kim? Gue dan Lushka pernah dianggap “pengikut” soalnya dari kalimat yang keluar dari mulutnya sendiri. Hmm..Ketika kita memutuskan untuk menjadi nomor satu, menjadi pemimpin, tugas utama adalah mendengar. Jikalau ada yang tidak sependapat dengan si nomor satu (katanya), apa itu artinya mereka pantas untuk diperlakukan dengan semena-mena? Sepertinya ketika perkumpulan ini memutuskan untuk melabel diri dengan nomor satu, mereka lupa bahwa menjadi nomor satu konsekuensinya banyak sekali. Perkumpulan itu tidak bisa lagi menjadi milik si Lesbian. Perkumpulan itu jadi milik bersama. Kalau niatnya memajukan lesbian, tapi tetep ngotot perkumpulannya milik pribadi...hmm..ada yang salah dengan pemikiran itu deh..well, kecuali ya kalau niatnya seperti yang tadi gue bilang. Komunisme Kim Jong iL yang tersohor itu.

Mungkin ada yang bertanya, Siapa bilang nomor satu ngga boleh milik pribadi? Well, like I said..kalo niatnya jadi nomor satu dan punya cita-cita mulia bagi kebaikan bersama..semua yang bersifat pribadi harus dikesampingkan dulu. To think together. To be better together. Mirip dikit dengan salah satu masalah yang gue lagi concern, imitasi penulis Soraya Intercine Films terhadap serial Lost yang diubah jadi sinetron terdampar. Sudah pernah ke website mereka? Ditulis terang-terangan di kolom komentar sinetron Terdampar kalau mereka punya hak menghapus komentar. Hasilnya? Isi komentarnya hanya orang-orang yang memuji sinetron terdampar. Padahal sudah banyak di website lain orang-orang yang protes sudah merasa memberi komentar tidak suka dengan Terdampar tapi tidak ditampilkan. Nah, pantas kalau mutu sinetron si Soraya Intercine ini ngga berkembang kan? Pengecut? I’ll let you judge.

Keempat, Lesbian ini pastinya memiliki pekerjaan profesional diluar perkumpulannya. Pekerjaan yang menurut gue harusnya sangat berhubungan dengan etika kerjanya di perkumpulan. Tapi dari yang gue perhatikan, etika-etika yang ada di dunia profesionalismenya tidak dia gunakan di perkumpulannya. I wonder why. Karena perkumpulannya dia deklarasikan sebagai sesuatu yang profesional juga. Kalau tidak profesional, haram hukumnya mau jadi nomor satu. Misalnya, gue berprofesi sebagai psikolog lalu sekaligus membantu lembaga lesbian yang membutuhkan konsultasi psikolog. Gue punya etika psikologi untuk menjaga semua kerahasiaan klien. Lalu ketika gue membantu lembaga lesbian apa boleh gue melanggar etika tersebut? Kita ngga boleh semena-mena. Yang gue tau sebagai orang awam, pekerjaan ratu Kim ini memiliki peraturan legal yang cukup ketat. Semuanya melewati rentetan perjanjian karena berhubungan dengan karya intelegensi pribadi. Tapi sepertinya kok di perkumpulan ini kekuasaan yang si lesbian miliki di-abuse? Tidak ada perjanjian awal, tidak ada keteraturan dan tidak ada rasa hormat terhadap (katanya) bawahannya. Sangat tidak profesional.

Kali ini gue memang “menggurui” karena yang gue lihat perkembangan si lesbian dan perkumpulannya ini sudah tidak sehat. Membodohi banyak orang dengan kepongahannya sebagai nomor satu. Gue gatel ngeliat orang-orang pintar yang ngga mau membagikan kepintarannya bahkan memaksakan ideologinya. Gue khawatir dengan pengikut butanya yang segelintir itu. Bagaimanapun juga mereka tetap orang Indonesia. Harus diperjuangkan pendidikannya (haha!). Semoga pengikutnya ini ngga benar-benar berkiblat sama Ratu Kim aja dan masih mencari informasi diluar perkumpulannya. Coz trust me, they really worship her like the best lesbian ever. Einstein aja demi pengetahuannya bisa disebarkan ke banyak orang, dia mau lho buat buku khusus tentang hukum relativitas dalam “bahasa awam”. He shared for the sake of knowledge. THAT’s what smart people do. Gue harap lesbian ini cepat belajar karena udah ngga pantes bertahun-tahun menolak menjadi “pintar” dalam arti sebenarnya.

Senin, 01 Maret 2010

Arti jadi homo itu..hmm..


Sebulan yang lalu gue ngebantu salah satu lembaga LGBT dan dapet beberapa brosur dan booklet tentang homoseksualitas. First thing yang muncul di pikiran adalah panik mau simpen dimana karena takut kelihatan orang rumah, hahaha..nasib, nasib..ini namanya psikolog parno padahal pekerjaan adalah kamuflase terbaik =D

Karena gue harus pergi ninggalin rumah selama beberapa hari, gue harus simpen brosur/booklet ini di tempat yang ngga gampang dibongkar-bongkar orang rumah. As I throw it under my desk, gue mikir lagi...kenapa ini brosur ngga gue baca baik-baik ya? Semenjak gue pegang, cuma asal liat-liat bentar terus disimpen. Secepet gue nanya sendiri, jawabannya langsung keluar: gue sotoy karena ngerasa bagian dari komunitas itu. Hmm..gue jadi berpikir lagi, banyak ngga ya yang perilakunya sama kaya gue? Karena merasa udah bagian dari suatu komunitas, dia ngga cukup perduli untuk cari tau atau bahkan berasa udah ngerti banget. Apa sikap seperti ini ngga apa-apa? Wuiiihh..salah banget.

Coba tanya ke diri sendiri, kalian termasuk dalam komunitas apa aja? Pasti banyak banget. Kita ambil contoh sebagai komunitas Warga negara Indonesia misalnya. Kalau gue tanya apa arti dari menjadi warga negara Indonesia tau ngga? Tahu semua hak dan kewajiban kalian sebagai WNI ngga? Tahu hak dan kewajiban WNI lain ngga? Masih hapal undang-undang dasar yang udah diganti beberapa kali itu? Kalau gue tanya pasal 29 yang membicarakan kebebasan beragama, tahu batas kebebasannya? Exactly! Padahal kita diajarin lho di sekolah dari kecil tentang menjadi Warga Negara Indonesia. Semua yang gue tanyain itu udah pernah kita hapal mati untuk diuji tiap semester/cawu. Lha, ini jadi homo baru setengah hidup lo, ngga ada yang ngajarin, ngga ada peraturan yang jelas, udah mau sotoy. Coba deh pelajari diri kalian dengan lebih baik. Pelajari apa arti menjadi homoseksual. Baik dalam arti harfiah, kemungkinan berfungsi di masyarakat, sampai masalah moralitas. Selain pengaruhnya ke diri lo, apa aja pengaruh menjadi homoseksual di lingkungan keluarga atau pekerjaan misalnya. Have you think thoroughly about that? Sudah pernah mencari tahu tentang hal-hal itu? Jangan berhenti di komunitas LGBT aja juga. Pelajari tuh apa arti jadi orang Indonesia, jadi orang Islam/kristen/hindu/budhis, dokter, jurnalis, orang tua dll.

Terkadang gue mendengar berita-berita beberapa manusia yang punya agenda sendiri dan berteriak-teriak (katanya) memperjuangkan suara para kaum homoseksual. Hmm..mirip ya sama para pendemo penjabat di luar sana yang juga melakukan hal yang sama. Ada berapa orang yang "ngga ngerasa tuh diwakili sama mereka"? Well, I sure hell know a lot of my friends feel that way.

Makanya kenapa gue suka freak banget sama yang namanya definisi. Kenapa gue mau cape-cape google arti kata "queer". Kenapa gue mau buka-buka lagi semua buku psikologi dan mencari pembahasan homoseksual. Gue ngga mau salah mengartikan atau sok tau walaupun gue termasuk dari komunitas Queer. Selain dari masalah mengerti dengan komunitas itu sendiri, subtextnya adalah arti yang didapat dari menjadi seorang homoseksual bisa sedikit berbeda kalau sudah berhubungan dengan pengalaman pribadi. Dari memahami dan mengerti diri sendiri, kita harus memahami dan mengerti orang lain yang tempelan di jidatnya juga sama-sama homo. Kalau arti jadi lesbian buat lo adalah memperjuangkan hak, bukan berarti bagi lesbian lain dia perlu memperjuangkan hak-nya juga. Setiap individu punya kebebasan bersuara dan mengejar goal-nya sendiri. Coba cari tahu apa arti menjadi seorang homoseksual bagi orang lain. Karena, NGGA, bukan berarti mereka punya pikiran dan perasaan yang sama dengan lo walaupun sama-sama lesbian/homo/queer.

Some gay people embraced his/her gayness as a way of life and other gays dont. Nothing wrong with either and no one is better than the other.

Anyhei, sudah mengerti arti menjadi seorang homoseksual? =)

Rabu, 03 Februari 2010

"Average people can not survive" - IN (1994)

As I look to my text books, I actually feel sad. Gue ngerasa jadi orang cacat karena ngga mampu lagi merasakan nikmatnya belajar psikologi. Rasanya kayak pelari marathon yang tiba-tiba kecelakaan dan mengalami lumpuh di bagian kaki. Gue masih cinta sama psikologi, tapi passion gue hilang. Apa yang lebih buruk dari kehilangan passion dan semangat dalam mencintai sesuatu? You wouldn’t want to do anything about it. Jenuh? Ngga tau juga. Rasanya ngga mungkin gue bisa jenuh dengan psikologi. Terlalu banyak hal yang belum gue tahu dan pelajari tentang manusia. Kadang pingin nyalahin keadaan rumah, tapi gue percaya kalau cuma diri sendiri yang bisa menentukan keberhasilan atau kegagalan. Ya, mental gue sedang tidak sehat karena urusan njelimet di rumah. Tapi boleh ngga itu gue jadikan alasan? Gue kangen merasa “lapar” dengan ilmu. Rasa tertekan gue setidaknya bisa diimbangi dengan fakta kalau gue bisa belajar sesuatu yang gue cintai. Kalau rasa “eager” itu hilang, gue harus bertahan dengan apa?

Gue terlalu takut ngga bisa memberikan yang terbaik dari diri gue. Gue ngga baik dalam menerima kegagalan. Arti gagal standar gue diatas rata-rata orang kebanyakan. Terlalu banyak label ditempelkan ke gue sampe gue capek berusaha memenuhi semua harapan orang. Kalau Mithya ngga jadi yang terbaik, artinya Mithya ngecewain semua orang. Kenapa kalau sekalinya kita diatas semua orang harus terus menganggap kita akan terus berada diatas? Gue ngga terlahir dengan bakat bisa dengan mudahnya berada di atas. Setengah hidup gue dipakai untuk berjuang mendapatkan label yang terbaik itu. Once in a while gue pingin orang-orang berhenti berharap dan gue juga bisa berhenti menekan diri sendiri untuk terus jadi yang terbaik. God, I hate lable.

Sifat paling alami manusia adalah ketika sudah dapat nomor 2, pasti dia akan berusaha untuk mendapatkan nomor 1. Kalau ternyata nomor 1 adalah batasnya, apa lagi yang harus dikejar? Kalau turun ke nomor 3 kenapa harus terasa menyakitkan?

Apa? Orang akan tetep sayang sama gue walaupun gue bukan yang terbaik? Ya, tapi sayang tok ngga akan bisa bikin kita selamat hidup di dunia yang ngga pake kompromi.

Sukses itu mengerikan karena kita ngga akan pernah bisa beristirahat. Hidup itu mengerikan karena waktu ngga akan pernah melambat karena kasihan dengan kita. “Average people can not survive.”, a sentence my dad told me over and over since I was in elementay school and I’m haunted since.

Yep, ambisi gue ngga diimbangi dengan mental yang sehat.

Gue tau semua kata kuncinya, semua jawabannya, tapi gue ngga bisa memperbaiki ini semua sendiri.