Just a place to share thoughts and opinions. We are definitely not a part of any factions than the truth finders.
Jumat, 18 Februari 2011
Think you really know what they are?
Kamis, 21 Oktober 2010
Spirit Day 20102010
Kemarin pada tanggal 20 Oktober 2010, atau angka cantiknya (kata yang jualan nomer HP) 20102010 diperingati Spirit day dimana orang-orang di seluruh dunia diminta untuk mengenakan pakaian ungu dalam rangka berduka cita atas peristiwa bunuh diri beberapa remaja gay yang terjadi dalam satu minggu. Para remaja gay ini memutuskan bunuh diri setelah mengalami bullying dan perilaku abuse dari lingkungannya karena mereka gay. Brittany Mcmillan, seorang cewek Canada yang mengusulkan Spirit day ini pertama kali di tumblr-nya karena warna ungu pada bendera LGBTQ menggambarkan spirit atau semangat.
Terlepas dari bunuh diri itu dosa ya teman-teman (sempeet aja gue komentar tentang dosa), ada beberapa hal yang gue rasa perlu disampaikan perihal Spirit day ini. Pertama, gue mendukung spirit day ngga hanya karena ini suatu event yang menentang kekerasan terhadap para kaum homoseksualitas, tapi karena gue menentang segala bentuk kekerasan terhadap siapa pun. Terlebih kalau pada akhirnya si korban memutuskan untuk bunuh diri karena putus asa, mengira ngga ada yang perduli dengan mereka lagi. So people, STOP BULLYING. Kalian yang saat ini sebagai senior di tempat kerja yang ngga suka juniornya kerja lebih rapih dari lo dan sibuk nyuruh-nyuruh atau kakak kelas yang emosi ngeliat adek kelasnya pake rok kependekan dan ngata-ngatain setiap lewat, JUST STOP.
Gue udah pernah bahas betapa bentuk abuse dan bullying itu ngga hanya melalui kekerasan fisik semata, tapi melalui kata-kata yang menyakitkan pun efeknya sama berbahayanya bagi si korban. Jangan kira satu kata “perek” yang kamu ucapkan setiap hari ke seorang adik kelas yang lewat ngga akan berpengaruh banyak untuk dirinya. Udah liat bagaimana setiap tahun dendam tiap angkatan sekolah turun temurun ke adik kelasnya semakin parah?
Udah lihat berapa orang anak sekolah/akademi yang meninggal karena hasil bullying?
Spirit day memang ngga bisa dilepaskan dari homophobia dan jujur, gue sendiri masih seorang homophobia. Tapi gue selalu berusaha meninggikan nilai persamaan antar manusia. Setiap orang itu setara dan punya hak untuk memilih apa yang ia percaya atau ia sukai. Setiap orang bertanggung jawab untuk dirinya sendiri dan bukan urusan kita orientasi seksual mereka apa, atau pakaian apa yang mau mereka pakai hari ini, atau mungkin untuk hal sepele seperti jenis musik apa yang orang lain dengerin.
Love and respect, thats all. Semoga kita bisa jadi orang yang semakin baik tiap hari dengan segala awareness yang terjadi disekitar kita. Jangan tutup mata dan kuping kalian dari hal-hal yang baik.
Rest in Peace:
•Justin Aaberg
•Raymond Chase
•Asher Brown
•Harrison Chase Brown
•Caleb Nolt
•Cody Barker
Semoga kesadaran kita bisa mengurangi jumlah orang-orang yang melakukan bullying atau pun korban-korbannya.
Ada beberapa lembaga di Indonesia atau Jakarta seperti arus pelangi yang bisa ngebantu para LBTQ youth atau orang-orang yang butuh tempat untuk konseling atau sekedar berteman (jangan ngomongin cari pacar dulu deh, gue selepet lo..hehe). Google them, they’re exist. And people, hang on, It DOES gets better.
Rabu, 18 Agustus 2010
Beloq? Siapa? Gue? Elo kali
Informasi yang dihimpun dari para Belok Kota Padang, kelompok lesbian alias Belok di Indonesia yang paling banyak adalah di Kota Bandung. Tak heran beberapa Belok Padang memiliki pacar di Bandung dan sesekali mereka berkunjung ke sana.
-- beuuuuh. Bandung digoyaaang! hihihi. Padahal sebenarnya ke Bandung kan pada pengen belanja di FO. hehe
gw buchi jateng usia 17 th carii cewe yang mau di ajak hidup bareng. hub 085641616xxx contac fb; xxxxx@ymail.com
gw aline,bwt cewek"butchi yg ksepian,call gw,gw la butuh sosok yg baek,perhatian,mau berbagi,and mu biayain gw..call w z,(022)93xxxx
gw bner2 butuh anak belok..plizzz hub gw dgn cara kirim pesan di fb gw..ne alamat'a xxxxxx@yahoo.com
--
Minggu, 15 Agustus 2010
I’m not confused, OK
Let's talk hypothetically. Membicarakan orientasi seksual ngga akan terlepas dari kegiatan seksual dong. Tubuh kita ini kan sebenernya "benda" yang berisi milyaran syaraf. Kalau pertanyaannya "what can turn you on?" Jawaban orang bisa berbeda-beda. Tapi let's say, kita tutup mata kita dan let someone (tanpa kita tau jenis kelaminnya) touch us in those places that turns you on. Ngga ngaruh kan orientasi lo sekarang? Boys will get stiff and girls will get wet. Tubuh kita cuma merespon. Makanya, kalau balik ke hormon yang gue sebut tadi, dibantu dengan mata yang bisa melihat, otak untuk memilah personal reference, serta doktrin agama atau peraturan yang ada di masyarakat, barulah kita akhirnya "memilih" dengan lebih baik pasangan ehm seksual kita.
Manusia juga terlahir dengan kemampuan mencintai keindahan. Bahkan keindahan itu aja subjektif kan? Gue suka keindahan pantai dibandingkan pegunungan. Gue lebih suka keindahan cipratan darah dibandingkan lukisan abstrak dan seterusnya. Dan gue menemukan keindahan baik dari sisi feminin maupun maskulin. Terlebih di perempuan yang sisi maskulinnya terlihat (tapi jangan berlebihan yaaa..just enough to make her look strong and independent) dan begitu juga sebaliknya di pria yang ngga takut dengan sisi femininnya (again, ngga berlebihan tapi ngga takut dengan yang namanya menunjukkan perasaan, ngga takut pake baju pink etc). I guess for me it’s all just as simple as how beautiful a person is. Baik apa yang di dalam dirinya dan apa yang terlihat di luar. Terlalu banyak keindahan di dunia yang sangat sayang untuk ngga dinikmati hanya karena masyarakat meminta label. “Oh, gue hanya menikmati film romantis” “oh, gue hanya menikmati film aksi” I can’t be that person. There’s always something we can enjoy from everything. Dan gue tau ini juga ngga berlaku untuk semua orang. Berapa kali harus gue ingatkan betapa kompleksnya manusia? Satu manusia ngga hanya punya satu kepribadian mutlak. Satu manusia bisa nunjukkin ratusan emosi. For the love of God, humans are such a beautiful creature. Bagaimana mungkin bisa gue sederhanakan hanya ke apa yang ada di antara kakinya.
Contohnya ya kalau ngomongin fisik. Gue suka banget dengan flat abs. Di perempuan, flat abs are curvy sedangkan di laki-laki akan lebih berotot. And I found both extremely sexy. Atau bentuk rahang perempuan yang lancip sedangkan laki-laki lebih bersiku. I dont know, gue ngga bisa menjelaskan “beauty”. Siapa yang bisa, coba? Both sex punya kelebihan yang sama-sama bisa gue nikmatin. Kalau ngomongin personality..I’ve talked about this in the previous post.
Gue masih menemukan para homoseksual yang mengatakan bahwa biseksual (atau queer) adalah orang-orang bingung. Gue kira ini pendapat yang cuma ada di luar negeri (how naive I am), ternyata gue menemukan beberapa homoseksual disini pun berpikir begitu. Well, I’m not dear. Some bisexual, might. But not all. Gue hanya menikmati keindahan tanpa harus dibatasi apa pun. Mungkin kalau di tahun 60’an gue masuk golongan Hippie hahaha...Bahkan kadang gue berharap hidup di masa para filsuf Yunani. Masa dimana konsep dan ide dihargai untuk menghidupi kebahagiaan manusia dan bukan sibuk menghujani diri dengan keterbatasan. Ini bukan usaha rekrutmen lo semua menjadi seorang queer ya (insert toaster jokes here), gue mau sharing apa yang gue rasain aja sebagai salah satu queer yang dikira bingung sama para homoseksual yang otaknya sempit. Kalian ngga lebih baik dari para homophobia kalau cara pikirnya masih seperti itu. Oh and dont let me start sama para homoseksual yang heterophobia! *groans*
Gue ngga akan melihat orang-orang yang berbeda orientasi seksual dengan gue dan mengecap mereka dengan sifat "aneh" atau "bingung". Gue melihat kalian cuma sebagai variasi manusia yang setelah menginjak masa dewasa punya alasan dan pilihannya sendiri. Semoga kalian juga bisa melakukan hal yang sama ke orang lain.
Rabu, 24 Maret 2010
Ratu Kim
Here’s a thought. Im gonna write about my thought here. I believe what I’m gonna talk about is pretty much in everyone’s thought..kalo berpikir dengan pikirannya sendiri. Dari sekitar dua tahun yang lalu, gue berkenalan dengan seseorang yang menyebut dirinya “lesbian”. Lesbian ini memiliki sebuah perkumpulan yang sepertinya kalau gue ngga salah kira, ingin memajukan para lesbian di Indonesia. I have no problem with that. Mari majukan semua warga negara Indonesia. Gue beneran berharap dari ujung Sumatera sampai ujung Irian Jaya semuanya pinter-pinter. Amin!Dari hasil memperhatikan si Lesbian, sepertinya dia termasuk salah satu orang yang pintar. Bahkan dia bilang sendiri kok berulang-ulang kalau dia pintar. Ok, mari kita singkirkan dulu hujatan “sombong”. Kalau memang pintar ya hak dia untuk mengatakannya toh? Tapi yang jadi ganjalan buat gue, kenapa dia ngga mau membagi kepintarannya ini ke orang-orang sekitarnya? Terlebih kalau keinginan perkumpulannya adalah cita-cita memajukan lesbian lain. "Membagikan" dengan "memaksakan" itu beda lho. Coba deh cek ke Kamus Besar Bahasa Indonesia. Atau gue salah ngerti? Apa perkumpulannya aja yang punya cita-cita itu? Bukan cita-cita si lesbian? Atau mungkin maksudnya majuin bibir? Majuin tete? Please enlight me...please... “Maju” maksud mereka itu maksudnya lebih pintar bukan? Dari yang gue perhatikan, dirinya maupun perkumpulannya tidak mau menerima kritik dari orang-orang yang memiliki perbedaan pikiran dengan mereka. Hmm..tolong kembali perbaiki pendapat saya: Orang pintar adalah orang yang mampu menerima kritik, mengambil yang positif dan membuang yang negatif bukan? Dari kritik itu dia akan mampu mengembangkan diri dan pemikirannya sehingga mampu mencapai status “pintar” itu. Yang gue liat, Lesbian ini melakukan langkah pertama menjadi Kim Jong iL versi Lesbian dan perkumpulannya ngga lebih dari negara Korea Utara yang menutup segala informasi dari dunia luar. Lesbian ini sepertinya takut kalau-kalau ada orang lain yang terlihat lebih pintar dari dirinya. Whew...apa jadinya kalau Kim Jong iL berhenti narsis dan membuka Korea Utara? Hilanglah para pengikutnya yang setia yang telah ditutup pikirannya. Mereka hanya bisa berkiblat ke satu arah. Ke Kim Jong iL..eh..si lesbian maksudnya. Untung Kim Jong iL udah mangkat.
Kedua, lesbian ini suka sekali marah-marah. Marah-marahnya sambil menghina orang lain intelegensinya rendah pula. Ckckck...Kenapa para pengikutnya menghalalkan perilakunya ini ya? Jadi kalau pintar, boleh ya menghina orang lain yang menurutnya bodoh? Dia juga sering sekali harus membuat statement bahwa dirinya memang tidak menyenangkan, tidak punya banyak teman dan ngga perduli dengan orang lain. Hmm..is that really a good attitude for someone who wants to make a difference? Sangat negatif. Kata-katanya jelas menggambarkan defense dia terhadap kurangnya perhatian dan rasa perduli orang lain ke dirinya. Simple personality math: Bukan orang lain yang memilih untuk tidak menyukai saya, tapi saya yang memilih untuk jadi orang yang menyebalkan. Ding dong! She needs to chill out a litlle. Play some music, girl! ride a little, put some aromatherapy or go to a shrink. She’s old now and if she keeps on getting angry everyday, she’s gonna have a heart attack. You poor old hag..
Ketiga, ketika melihat perkumpulan ini gue juga khawatir. Mereka ingin sekali jadi nomor satu tapi kok ngga dibarengi dengan rasa rendah diri dan kebersamaan? Nomor satu bukan berarti harus berlaku bagai ratu yang memerintah sekelilingnya. Weits, sebentar Ratu Kim..sejak kapan orang-orang di sekitar anda otomatis menjadi pengikut? Apa mereka memiliki status lebih rendah dari yang mulia, Ratu Kim? Gue dan Lushka pernah dianggap “pengikut” soalnya dari kalimat yang keluar dari mulutnya sendiri. Hmm..Ketika kita memutuskan untuk menjadi nomor satu, menjadi pemimpin, tugas utama adalah mendengar. Jikalau ada yang tidak sependapat dengan si nomor satu (katanya), apa itu artinya mereka pantas untuk diperlakukan dengan semena-mena? Sepertinya ketika perkumpulan ini memutuskan untuk melabel diri dengan nomor satu, mereka lupa bahwa menjadi nomor satu konsekuensinya banyak sekali. Perkumpulan itu tidak bisa lagi menjadi milik si Lesbian. Perkumpulan itu jadi milik bersama. Kalau niatnya memajukan lesbian, tapi tetep ngotot perkumpulannya milik pribadi...hmm..ada yang salah dengan pemikiran itu deh..well, kecuali ya kalau niatnya seperti yang tadi gue bilang. Komunisme Kim Jong iL yang tersohor itu.
Mungkin ada yang bertanya, Siapa bilang nomor satu ngga boleh milik pribadi? Well, like I said..kalo niatnya jadi nomor satu dan punya cita-cita mulia bagi kebaikan bersama..semua yang bersifat pribadi harus dikesampingkan dulu. To think together. To be better together. Mirip dikit dengan salah satu masalah yang gue lagi concern, imitasi penulis Soraya Intercine Films terhadap serial Lost yang diubah jadi sinetron terdampar. Sudah pernah ke website mereka? Ditulis terang-terangan di kolom komentar sinetron Terdampar kalau mereka punya hak menghapus komentar. Hasilnya? Isi komentarnya hanya orang-orang yang memuji sinetron terdampar. Padahal sudah banyak di website lain orang-orang yang protes sudah merasa memberi komentar tidak suka dengan Terdampar tapi tidak ditampilkan. Nah, pantas kalau mutu sinetron si Soraya Intercine ini ngga berkembang kan? Pengecut? I’ll let you judge.
Keempat, Lesbian ini pastinya memiliki pekerjaan profesional diluar perkumpulannya. Pekerjaan yang menurut gue harusnya sangat berhubungan dengan etika kerjanya di perkumpulan. Tapi dari yang gue perhatikan, etika-etika yang ada di dunia profesionalismenya tidak dia gunakan di perkumpulannya. I wonder why. Karena perkumpulannya dia deklarasikan sebagai sesuatu yang profesional juga. Kalau tidak profesional, haram hukumnya mau jadi nomor satu. Misalnya, gue berprofesi sebagai psikolog lalu sekaligus membantu lembaga lesbian yang membutuhkan konsultasi psikolog. Gue punya etika psikologi untuk menjaga semua kerahasiaan klien. Lalu ketika gue membantu lembaga lesbian apa boleh gue melanggar etika tersebut? Kita ngga boleh semena-mena. Yang gue tau sebagai orang awam, pekerjaan ratu Kim ini memiliki peraturan legal yang cukup ketat. Semuanya melewati rentetan perjanjian karena berhubungan dengan karya intelegensi pribadi. Tapi sepertinya kok di perkumpulan ini kekuasaan yang si lesbian miliki di-abuse? Tidak ada perjanjian awal, tidak ada keteraturan dan tidak ada rasa hormat terhadap (katanya) bawahannya. Sangat tidak profesional.
Kali ini gue memang “menggurui” karena yang gue lihat perkembangan si lesbian dan perkumpulannya ini sudah tidak sehat. Membodohi banyak orang dengan kepongahannya sebagai nomor satu. Gue gatel ngeliat orang-orang pintar yang ngga mau membagikan kepintarannya bahkan memaksakan ideologinya. Gue khawatir dengan pengikut butanya yang segelintir itu. Bagaimanapun juga mereka tetap orang Indonesia. Harus diperjuangkan pendidikannya (haha!). Semoga pengikutnya ini ngga benar-benar berkiblat sama Ratu Kim aja dan masih mencari informasi diluar perkumpulannya. Coz trust me, they really worship her like the best lesbian ever. Einstein aja demi pengetahuannya bisa disebarkan ke banyak orang, dia mau lho buat buku khusus tentang hukum relativitas dalam “bahasa awam”. He shared for the sake of knowledge. THAT’s what smart people do. Gue harap lesbian ini cepat belajar karena udah ngga pantes bertahun-tahun menolak menjadi “pintar” dalam arti sebenarnya.
Senin, 01 Maret 2010
Arti jadi homo itu..hmm..

Sebulan yang lalu gue ngebantu salah satu lembaga LGBT dan dapet beberapa brosur dan booklet tentang homoseksualitas. First thing yang muncul di pikiran adalah panik mau simpen dimana karena takut kelihatan orang rumah, hahaha..nasib, nasib..ini namanya psikolog parno padahal pekerjaan adalah kamuflase terbaik =D
Karena gue harus pergi ninggalin rumah selama beberapa hari, gue harus simpen brosur/booklet ini di tempat yang ngga gampang dibongkar-bongkar orang rumah. As I throw it under my desk, gue mikir lagi...kenapa ini brosur ngga gue baca baik-baik ya? Semenjak gue pegang, cuma asal liat-liat bentar terus disimpen. Secepet gue nanya sendiri, jawabannya langsung keluar: gue sotoy karena ngerasa bagian dari komunitas itu. Hmm..gue jadi berpikir lagi, banyak ngga ya yang perilakunya sama kaya gue? Karena merasa udah bagian dari suatu komunitas, dia ngga cukup perduli untuk cari tau atau bahkan berasa udah ngerti banget. Apa sikap seperti ini ngga apa-apa? Wuiiihh..salah banget.
Coba tanya ke diri sendiri, kalian termasuk dalam komunitas apa aja? Pasti banyak banget. Kita ambil contoh sebagai komunitas Warga negara Indonesia misalnya. Kalau gue tanya apa arti dari menjadi warga negara Indonesia tau ngga? Tahu semua hak dan kewajiban kalian sebagai WNI ngga? Tahu hak dan kewajiban WNI lain ngga? Masih hapal undang-undang dasar yang udah diganti beberapa kali itu? Kalau gue tanya pasal 29 yang membicarakan kebebasan beragama, tahu batas kebebasannya? Exactly! Padahal kita diajarin lho di sekolah dari kecil tentang menjadi Warga Negara Indonesia. Semua yang gue tanyain itu udah pernah kita hapal mati untuk diuji tiap semester/cawu. Lha, ini jadi homo baru setengah hidup lo, ngga ada yang ngajarin, ngga ada peraturan yang jelas, udah mau sotoy. Coba deh pelajari diri kalian dengan lebih baik. Pelajari apa arti menjadi homoseksual. Baik dalam arti harfiah, kemungkinan berfungsi di masyarakat, sampai masalah moralitas. Selain pengaruhnya ke diri lo, apa aja pengaruh menjadi homoseksual di lingkungan keluarga atau pekerjaan misalnya. Have you think thoroughly about that? Sudah pernah mencari tahu tentang hal-hal itu? Jangan berhenti di komunitas LGBT aja juga. Pelajari tuh apa arti jadi orang Indonesia, jadi orang Islam/kristen/hindu/budhis, dokter, jurnalis, orang tua dll.
Terkadang gue mendengar berita-berita beberapa manusia yang punya agenda sendiri dan berteriak-teriak (katanya) memperjuangkan suara para kaum homoseksual. Hmm..mirip ya sama para pendemo penjabat di luar sana yang juga melakukan hal yang sama. Ada berapa orang yang "ngga ngerasa tuh diwakili sama mereka"? Well, I sure hell know a lot of my friends feel that way.
Makanya kenapa gue suka freak banget sama yang namanya definisi. Kenapa gue mau cape-cape google arti kata "queer". Kenapa gue mau buka-buka lagi semua buku psikologi dan mencari pembahasan homoseksual. Gue ngga mau salah mengartikan atau sok tau walaupun gue termasuk dari komunitas Queer. Selain dari masalah mengerti dengan komunitas itu sendiri, subtextnya adalah arti yang didapat dari menjadi seorang homoseksual bisa sedikit berbeda kalau sudah berhubungan dengan pengalaman pribadi. Dari memahami dan mengerti diri sendiri, kita harus memahami dan mengerti orang lain yang tempelan di jidatnya juga sama-sama homo. Kalau arti jadi lesbian buat lo adalah memperjuangkan hak, bukan berarti bagi lesbian lain dia perlu memperjuangkan hak-nya juga. Setiap individu punya kebebasan bersuara dan mengejar goal-nya sendiri. Coba cari tahu apa arti menjadi seorang homoseksual bagi orang lain. Karena, NGGA, bukan berarti mereka punya pikiran dan perasaan yang sama dengan lo walaupun sama-sama lesbian/homo/queer.
Some gay people embraced his/her gayness as a way of life and other gays dont. Nothing wrong with either and no one is better than the other.
Anyhei, sudah mengerti arti menjadi seorang homoseksual? =)
Rabu, 03 Februari 2010
"Average people can not survive" - IN (1994)
Gue terlalu takut ngga bisa memberikan yang terbaik dari diri gue. Gue ngga baik dalam menerima kegagalan. Arti gagal standar gue diatas rata-rata orang kebanyakan. Terlalu banyak label ditempelkan ke gue sampe gue capek berusaha memenuhi semua harapan orang. Kalau Mithya ngga jadi yang terbaik, artinya Mithya ngecewain semua orang. Kenapa kalau sekalinya kita diatas semua orang harus terus menganggap kita akan terus berada diatas? Gue ngga terlahir dengan bakat bisa dengan mudahnya berada di atas. Setengah hidup gue dipakai untuk berjuang mendapatkan label yang terbaik itu. Once in a while gue pingin orang-orang berhenti berharap dan gue juga bisa berhenti menekan diri sendiri untuk terus jadi yang terbaik. God, I hate lable.
Sifat paling alami manusia adalah ketika sudah dapat nomor 2, pasti dia akan berusaha untuk mendapatkan nomor 1. Kalau ternyata nomor 1 adalah batasnya, apa lagi yang harus dikejar? Kalau turun ke nomor 3 kenapa harus terasa menyakitkan?
Apa? Orang akan tetep sayang sama gue walaupun gue bukan yang terbaik? Ya, tapi sayang tok ngga akan bisa bikin kita selamat hidup di dunia yang ngga pake kompromi.
Sukses itu mengerikan karena kita ngga akan pernah bisa beristirahat. Hidup itu mengerikan karena waktu ngga akan pernah melambat karena kasihan dengan kita. “Average people can not survive.”, a sentence my dad told me over and over since I was in elementay school and I’m haunted since.
Yep, ambisi gue ngga diimbangi dengan mental yang sehat.
Gue tau semua kata kuncinya, semua jawabannya, tapi gue ngga bisa memperbaiki ini semua sendiri.
Rabu, 20 Januari 2010
Dear Mas Epentje...
"pardon me for my bad grammar, i will not entertain whom like to flaunt their capability of memorizing rules, language is intended for communication, not a tool for arrogant prick to display that they are intellectual "
Selasa, 19 Januari 2010
"Khan"
Gue dapet pengalaman menarik kemarin malam waktu iseng jalan-jalan ke yahoo chat room lesbian. Ngga ada niat ngobrol juga. Gue hanya lagi bosen dan pingin liat interaksi manusia di main room aja. Seperti biasa baru satu detik masuk, udah ada beberapa pop-up message yang ngajak kenalan. 70% of the time message-message itu sebenernya cuma spam yang ujung-ujungnya ngasih link web porno dan 29% yang lain adalah orang-orang horny yang ngajak sex chat. That 1% I'm looking for jarang banget bisa gue temuin, yaitu orang-orang yang bener-bener cuma pingin ngobrol nyari temen baru.Senin, 11 Januari 2010
KiKi (kacang ijo - ketan item)
Mithya sampai kemarin tidak tahu kalo ketan itu ga cuma tape. Hihihihi.Jadi kemaren gue beliin bubur kacang ijo pake ketan item, terus pas dia buka, dia protes, “kok pake ketan? Aku ga suka ketan”. Gue pasang muka datar karena gue tau selera makanan gue ama dia kan kurang lebih sama. Kalo gue doyan paling engga dia juga makan.
Suapan pertama, dia langsung nanya ‘ kok ga asem?”. Huh?. Gue nyengir. Itu tape yang asem, jawab gue. “Lho , emang ketan bukan tape? Terus ini dari apa?”. Hihihi.
Dan bubur kacangijo’nya habis, pas gue tanya, katanya enak. =)
Ayang, tape itu segala hal yang difermentasikan, jadi asem rasanya. Tape itu ada tape singkong (peuyeum) juga tape ketan (tape uli – ketan item atau ketan putih).
Ooooo.
Ketan dari apa?
Ketan dari berasssss ketan. Kaya padi gitu juga.
Hihi. Nah, pacar – apakah kau tau ketan tidak sama dengan tape?
Sabtu, 09 Januari 2010
Dan itu kenapa JAV...


Yah, cukup sekian bagi-bagi informasinya, sepertinya Lushka sudah hampir tiba. Jangan sering-sering nonton film porno yaa..nanti ejakulasi dini hehe..dan tolong dikoreksi kalau ada yang salah mengenai informasi ini ^^
cheers
Rabu, 11 November 2009
pohon karet
Mungkin gue akan terlihat seperti pohon karet sekarang kalau gue ngga ketemu dengan Lushka. Udah sih, cuma mungkin sekarang ngga akan sebegitu menyedihkannya bentuknya kayak pohon karet tua yang udah diperas habis karetnya selama bertahun-tahun. Disayat, dipanen, mengering lagi lukanya, terus disayat lagi, dipanen lagi, dikeringkan lagi lukanya, dan begitu seterusnya..terbayang mungkin kalau gue ngga menahan diri, orang-orang bisa memandang gue seperti cara gue memandang pohon karet ini. Iba.Kalau aja panen karet yang keluar dari tubuh gue bisa diperjual belikan kayak pohon itu. Dikumpulkan ke dalam botol-botol plastik aqua dan disumbangkan ke Palang merah. Padahal orang-orang banyak yang sibuk mengumpulkan karetnya ke dalam kantong-kantong untuk tujuan mulia. Rasanya kayak cowok-cowok yang masturbasi setiap hari padahal sperma-sperma yang keluar dari mereka itu adalah calon-calon bayi yang bisa jadi seorang manusia.
Lihat tangan cacat gue....bangga kah gue? Ngga. Gue malu. Terkadang bahkan rasanya ingin memotong tangan sendiri atau mengamplas hingga putih semua. Go seek for help, girls. Ternyata masih ada jalan keluar lain...
Sabtu, 31 Oktober 2009
Rabu, 30 September 2009
Project gaydar

Beware closeted gays, ternyata sebuah program untuk mengetahui orientasi seksual seseorang udah ada! Dua orang mahasiswa Massachusetts Institute of Technology, Carter Jernigan & Behram Mistree, berhasil membuat sebuah program berdasarkan hitungan algoritma untuk “menebak” orientasi seksual seseorang di Facebook. Hipotesa mereka adalah, gay people akan memiliki jumlah teman gay LEBIH BANYAK daripada teman straight. And they have proven that the program works well dengan menguji-cobakannya pada 1500 laki-laki.
Kenapa laki-laki aja? Itu pertanyaan yang perlu dijawab dengan penelitian lain, tapi kalo boleh nebak sih, gay cowok lebih banyak yang out daripada gay cewek. Mau mulai khawatir juga sebenernya belum perlu karena dibandingkan dengan orang luar, kayaknya para homoseksual di Indonesia lebih sering punya account facebook sendiri untuk teman-teman gay-nya.
So, kenapa para mahasiswa ini ngebuat program ini? Untuk jawaban obvious-nya: untuk tugas semester kuliah. Tapi ngga tau juga niat mereka dibelakang apa. Are they homophobic? Imagine program ini diperbaiki, dan diperbaiki, dan diperbaiki...lalu jatuh di tangan para homophobic. Diskriminasi besar-besaran pasti terjadi di dunia kerja maupun sosial. Atau malah mereka sendiri homo dan cari cara gampang nemu another gay out there to go out with =P
Gue sendiri sering banget main tebak-tebakkan melalui account temen. Is he/she gays dengan screening temen-temennya atau liat buku dan film apa yang dia tonton hehe...so I guess it makes sense dengan memasukkan sedikit perhitungan matematika dan informasi, a program that works as gaydar is born. Bahkan sebenernya menurut gue yang disebut dengan Gaydar itu kan bukan pure intuisi atau feeling semata. Gaydar adalah bentuk kalkulasi otomatis jutaan informasi di kepala kita sendiri tentang seseorang. Semakin sering kita berinteraksi dengan kaum homoseksual, semakin banyak juga informasi tentang homoseksual yang bisa dijadikan tolak ukur kita untuk menentukan orientasi seksual seseorang. Wuiihhh...emang otak kita itu ngga akan bisa pernah diperbandingkan dengan komputer dan mesin manapun.
Jumat, 04 September 2009
Queer
Ok, here it goes. Udah banyak banget yang nanya sama gue apa sih sebenernya arti Queer? Ternyata banyak juga yang ngga familiar dengan kata ini. Gue juga baru kenal kata ini sekitar 5 tahun yang lalu dari judul film seri Queer as Folks. Noted in my head bahwa Queer sama artinya dengan gay atau homoseksual. Tapi baru 2 tahun kemudian gue di “challenge” dengan pengetahuan orang lain yang bilang bahwa sebenarnya kata Queer itu artinya kasar untuk kaum homoseksual. Calling a homosexual “Queer” is as bad as calling them a “faggot”. Makanya gue segera mencari tahu sebenernya arti Queer itu apa sih?
Akhirnya setelah baca-baca kiri kanan gue paham juga arti Queer. Bahkan gue bisa menyatakan diri gue sebagai Queer as oppose to other sexual labels. Tapi kalau disuruh jelasin ke orang gue ngga pede hahaha...maklum, ini kan hasil interpretasi diri sendiri. Kalo sok menjelaskan ke orang lain tapi salah kan namanya pembodohan masal =P. Haram itu hukumnya! But atas permintaan beberapa teman, I’ll try. Inget yah, ini hasil interpretasi pribadi dan sangat mungkin untuk direvisi kalau ada yang lebih mengerti apa arti kata Queer. Let’s start dari asal kata ini yah..
Kata Queer mulai digunakan di Inggris kira-kira pada abad ke-16. Waktu itu definisi dari kata ini adalah: “aneh”, “tidak biasa”, atau bahkan “keluar dari jajaran”. Karena itu kata Queer digunakan untuk menyebut atau menggambarkan orang-orang yang memang dianggap agak sinting dan aneh. Penggunaannya cukup bebas. Ngga harus dipasangkan dengan sifat orang atau punya arti yang negatif. Misalkan “It’s a queer moment” bisa diartikan sebagai keadaan yang canggung.
Tapi seperti yang kita tahu, kalau suatu kata sudah memiliki definisi yang negatif, kemungkinan besar kata itu akan lebih digunakan dalam arti negatif. Bahkan lama kelamaan sifat itu bisa menetap. Seperti kata “gerombolan”, kata “Queer” jatuh pangkat menjadi kata yang bersifat negatif.
Pada abad ke-19, Queer mulai dipakai untuk menyebut orang-orang dengan penyimpangan seksual. Jangan lupa, penyimpangan seksual itu bukan hanya homoseksual (pada saat itu). Penyimpangan seksual itu misalnya seperti pedophile (terangsang secara seksual hanya kepada anak-anak), transvertite (terangsang secara seksual hanya apabila menggunakan pakaian lawan jenis), atau BDSM ~ Bondage Discipline and Sadomasochism (terangsang secara seksual melalui aktivitas bondage dan sadomasokis). Baru pada abad ke-20, kata Queer khusus digunakan untuk menyebut para laki-laki yang melakukan hubungan seksual melalui anal atau singkatnya ya homo. Kata Queer disini masih berarti merendahkan. Yaiyalah, kalo dipanggil Queer kan sama aja kaya dikasih label “orang aneh”.
Tapi seiring perkembangan jaman, Queer memiliki makna yang lebih luas. Yang disebut LABEL mulai mati dipandangan para penganut postmodern. Para new gay berani menyebut diri sendiri dengan kata “fagot” dan “queer” BUKAN dalam arti yang merendahkan diri sendiri, tapi dalam arti yang membanggakan. Yes, I am a faggot. Yes, I am Queer. Disini konsep pride mereka menelan definisi negatif dari Queer.
Ngga hanya sampai disitu, Queer saat ini sudah menjadi semacam kata payung untuk memayungi kaum LGBT. Queer bukan aja suatu kata yang sinonim dengan homoseksual, tapi juga untuk orang-orang selain mereka yang disebut straight atau heteroseksual. Lebih dikembangkan lagi, kaum Queer adalah orang-orang yang merasa bahwa sebenarnya orientasi seksual tidak perlu dikotak-kotakkan. Gender sampai jenis kelamin pun menurut kaum Queer seharusnya bukan sesuatu yang harus dikotak-kotakkan. Secara ekstrim, kaum Queer sepertinya mau jadi bunglon. Bisa berubah-ubah semau mereka atau mengikuti lingkungan mau jadi homo, straight, cewek, cowok, banci atau apa lah.
Walaupun arti Queer sebenernya sudah berevolusi jauh dari asal katanya, ngga sedikit yang masih melihat kata Queer sebagai arti yang merendahkan. Wajar, wong definisinya memang “aneh”. Tapi kalau kalian mau bukti yang lebih kongkrit tentang perubahan arti kata Queer, coba dilihat festival film tahunan homo Queer Film Festival. Kalau memang Queer masih memiliki arti negatif, kenapa digunakan oleh para homo sebagai nama ajang tahunan film mereka?
What I like from Queer adalah cara pandang mereka yang sangat luas. Melihat dari kacamata Queer rasanya hidup jadi lebih bebas. Dengan memiliki pandangan Queer, seharusnya sih diharapkan jadi lebih bisa menghormati keunikan dan perbedaan orang lain serta mengurangi penilaian terhadap orang lain yang dipengaruhi oleh jenis kelamin dan orientasi seksual. Queer is proud.
Long live the Queer..=P
Rabu, 02 September 2009
Ayez un rêve gentil
Hmmm...kayanya ini saatnya gue jadi orang Perancis. *Tidur 9 Jam!!. Huehehehehe. Horeeeeee!!..
*Alasan paling sering gue dan Mithya berantem, adalah kebiasaan kebo gue, ninggal mithya tidurrrrrr. hihihihih
*Dari penelitian, ternyata orang perancis memiliki kebiasaan tidur paling lama, 9 Jam! Aih, mauuu.
Senin, 27 Juli 2009
Do you....?

Anak-anak lebih mudah tertawa on lil things.
Kenapa manusia dewasa untuk tertawa, butuh alasan yang kompleks?
My 7mths lil niece, selalu ketawa girang ngeliat gambar winnie the pooh yang ditempel ayahnya di langit-langit kamar.
Ok, kalo kita ketawa untuk winnie the pooh, kita bisa dibilang gila.
But, apa memang butuh alasan yang buanyak dan ribet untuk merangsang 'sel tawa' kita di otak dan membuat kita bahagia di hati. Apa butuh uang semilyar untuk kita berasa 'hidup' dan mensyukurinya? Look around dan lihat lo punya apa aja. Boong banget kalo lo ga ngerasa kaya karenanya.
Girls, karena hidup hanya sekali, make it simple and enjoy it.
Selasa, 21 Juli 2009
gay penguin

Ever heard of Gay penguin?
Nah, gue baru dapet berita paling update dari pasangan Gay penguin paling terkenal di Amerika. Yea guys, I am really talking about penguins. Bukan musuh Batman, bukan.
Alkisah 6 tahun yang lalu di Kebun Binatang San Fransisco ditemukan sepasang Penguin jantan yang tiba-tiba membuat sarang berdua. Berita ini cukup bikin jadi headline news di dunia homo dan dunia binatang huehehe...a lot of them congrats both the penguins. Cukup menarik juga ya, mengingat San Fransisco adalah kota nomor satu di Amerika dengan populasi pasangan gay terbanyak. Kedua penguin ini bernama Harry dan Pepper. Kalo dari namanya kayaknya bisa nebak yang mana yang top, yang mana yang bottom, hehe..
Melihat peristiwa yang cukup unik ini, pengurus kebun binatang SF sempet penasaran pingin nyodorin sepasang penguin betina dan melihat apakah Harry dan Pepper benar-benar gay. Tapi niat para pengurus kebun binatang itu udah keburu dapet protes keras dari para aktivis gay dan gagal dilaksanakan (????). Padahal kalo emang homo ya nyante aja kaleeee...mo disodorin penguin betina paling seksi dan bisa goyang patah-patah juga bakalan tetep aja homo.
Lalu untuk memperindah mahligai rumah tangga mereka, Harry dan Pepper diberikan kepercayaan untuk mengadopsi seekor telur pada akhir tahun 2008. Telur ini ditinggalkan oleh orangtua aslinya. And they did take care of the baby! So sweet...
But suddenly beberapa hari yang lalu dunia gay penguin dikejutkan oleh cerita yang menyedihkan. Harry berpindah ke lain hati. Harry tiba-tiba minggat dari sarangnya yang sudah ia bina selama 6 tahun dengan Pepper dan memulai hidup baru dengan seekor penguin betina bernama Linda. Is he Bisexual??
Menurut kesaksian pengurus kebun binatang, Linda ini punya reputasi tersendiri sebagai betina yang ngga mau keliatan single barang sebentar. Linda adalah seekor janda penguin bernama Fig yang di masa hidupnya jadi pemimpin dua sarang sekaligus! Katanya sih di dunia Penguin, dengan status itu, Fig ini dianggap pejantan unggul. Linda baru jadi janda dalam hitungan hari ketika serumah lagi dengan Harry. Gosipnya lagi, Fig dulu juga ketika ditinggal mati sama mantan betinanya dalam hitungan hari langsung disamber sama Linda. Padahal masa berduka Penguin itu butuh waktu lho...
Entah ada perbincangan apa diantara mereka, beberapa hari setelah Harry dan Pepper pisah sarang, tiba-tiba Harry menyerang mantan pacarnya, Pepper. Sekarang dilaporkan kalau Pepper sedang dalam masa patah hati dan sering mondar-mandir sarang sendirian kaya burung ilang. Hiks...
Cerita ini tentunya dapet banyak komentar dari segala sisi. Beberapa bahkan menurut gue lucu banget. Para aktivis Kristen menjadikan peristiwa ini sebagai bukti bahwa, “Pada akhirnya alam pun akan memilih orientasi yang benar”. Waduh, sama aja anehnya sama para homo yang membenarkan homoseksual pake alasan “terjadi juga di dunia binatang. Jadi itu alami”.
Ada lagi seorang aktivis gay yang berkomentar bahwa sebenarnya Harry dan Pepper selama ini hanya sebagai penguin yang tinggal bareng karena merasa bersaudara (hayah!) dan bukan pasangan gay. Jadi ngga ada tuh yang namanya ex-gay penguin. Huehehe...terbayang perbincangan antara kedua penguin ini.
“Pepper mai brotha, lets live together as brotha”
“Yes, Harry..oh Harry my brotha..”
(???)
Perlu kita ketahui bahwa Penguin adalah binatang yang terkenal dengan gaya hidup monogamus, ngga pake tedeng aling-aling they stay with one partner at one time. Berdua mengurus anak-anaknya sampai siap hidup sendiri. Karenanya dulu pernah dibuat penelitian mungkinkah penguin menjadi gay? And it turns out that yes, they can. Seperti manusia juga, penguin dilahirkan dengan gen tertentu untuk orientasi seksual mereka. Bagi para penguin Magellan yang gay (jenis penguin Harry & Pepper), mereka punya gen yang disebut Homospheniscus Magellanicus Inheritus atau Gen Penguin Gay (GPG). Di kebun binatang SF itu, pasangan Gay penguin ngga hanya Harry dan Pepper. Masih ada 4 pasang yang lain. Dilaporkan juga di kebun binatang Jerman, 3 pasang penguin Humboldt juga gay.
FYI, sejauh ini sudah ditemukan sebanyak 1500 spesies binatang yang ditemukan menjalin hubungan sesama jenis kelamin, dan 500 dari mereka telah didokumentasikan dengan baik.
So what happened with Harry? Apakah Linda mengiming-imingi harta dua sarang peninggalan Fig? Apakah Pepper dan Harry memang sudah lama menyembunyikan masalah diantara mereka? Apakah Harry akan kembali lagi ke Pepper? We’ll see if there will be any update on them..
Rabu, 15 Juli 2009
For me, being gay is a choice
1. Secara biologis, genetis, sampe hormon, tubuhnya sudah terporgram untuk suka dengan sesama jenis.
2. They live and breathe di lingkungan yang menghalalkan homoseksualitas ATAU di lingkungan dengan banyak orang homoseksual.
So YES people, memang ada orang-orang yang menjadi homoseksual karena keadaan, bukan karena terlahir sebagai seorang gay.
Gue tertarik dengan kata-kata yang dipilih sama website yang dibicarakan Lushka. Mereka mengatakan bahwa mereka siap membantu orang-orang yang ingin merubah "unwanted homosexuality". Bukan unwanted bagi orang lain, tapi unwanted bagi diri sendiri.
Sebagai seseorang yang belajar psikologi, salah satu hal terpenting yang gue pahami tentang manusia adalah goal kita untuk mencari kebahagiaan dan kenyamanan. It is something yang udah terprogram juga di DNA kita. Kita ini binatang yang menjauhi rasa sakit dan terus mencari kepuasaan sejak lahir sampai mati. Dari dasar pemahaman ini juga banyak teori-teori psikologis manusia dibuat. And so, sesuai kata Lushka, semuanya balik ke kenyamanan diri kita masing-masing. Lo merasa nyaman sebagai apa?
Homoseksualitas pada tahun 1974 dikeluarkan dari DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders). DSM ini adalah buku panduan para psikolog tentang gangguan mental. Dulu homoseksualitas masuk sebagai gangguan seksualitas. Kenapa dikeluarkan? karena ternyata esensi gangguan tidak terdapat pada orang-orang homoseksual. Gangguan pada DSM artinya mengganggu pribadi, kehidupan sosialnya, pekerjaannya, keluarganya, dan cintanya. Setelah ditelaah lebih lanjut ternyata orang-orang homoseksual di Amerika dan sekitarnya TIDAK mengalami gangguan.
Tapi bentar dulu.
Coba kita berhenti sebentar dan berpikir tentang kenyamanan tadi. Gue setuju banget bahwa homoseksualitas BUKAN penyakit atau gangguan TAPI bisa menjadi KEADAAN YANG MENGGANGGU. Homoseksualitas bisa menjadi gangguan ketika LO merasa terganggu, ketika LO merasa tidak nyaman dengan diri lo. Peraturan psikologi disini sederhana. Kalau lo merasa tidak nyaman dengan diri lo, artinya keadaan mental/psikis/jiwa lo sedang tidak sehat dan lo butuh bantuan orang lain. Pilihan seorang psikolog cuma bagaimana membuat seseorang merasa nyaman dengan dirinya.
Let's call orang-orang yang "terlahir" sebagai homoseksual dengan orang tipe 1. Gue yakin orang-orang tipe 1 merasa nyaman dengan dirinya sendiri sebagai gay. Mungkin kalau di negara-negara seperti kita ini dia akan dapet sedikit banyak tantangan dari lingkungan. Nevertheless, dia merasa nyaman dengan dirinya. Bagaimana dengan orang tipe 2? Some of them bisa saja merasa nyaman dengan dirinya. Sebagian lagi bisa terus berkoar-koar dirinya gay, coming out, mengaku proud, punya pasangan sesama jenis berpuluh-puluh tahun...tapi kalau dia terus-terusan berperang dengan jiwa dan hati nuraninya sendiri..I'm officially gonna say bahwa mereka sakit dan terganggu jiwanya.
Like what Freud believed, I believe that humans are born bisexual. Dalam arti, you already had it in you (your orientation) lalu digabungkan dengan ajaran-ajaran yang lo dapatkan seumur hidup dan ditutup dengan pilihan pribadi. Kita harus mengakui bahwa pada saat ini sepertinya orientasi seksual seseorang ditentukan oleh jenis kelamin dan norma budaya. I believe we can choose seperti orang yang berpuasa ngga makan, ngga minum selaper apa pun dia. We can choose seperti orang Islam yang memilih untuk ngga makan babi hanya karena dilarang oleh ajaran agamanya. Karena gue orang yang percaya dengan pilihan manusia. Kita makhluk yang dikasih kemampuan untuk memilih dan berpikir, bukan makhluk yang hanya dikendalikan oleh kebutuhan dan cetakan biologis.
Gue pingin temen-temen yang lain jangan membuat judgment terhadap orang-orang yang bingung, karena sebenarnya mereka tersiksa dengan keadaannya. Seperti kata Lushka juga, jangan asal mencari informasi dari satu hal aja. Kesannya karena udah terlanjur jadi lesbian, nemu teman-teman lesbian, artinya lo udah aman, tentram, dan damai. Dunia sebesar ini punya milyaran informasi yang perlu kita tahu dan telaah dari sisi mana pun. Take a look inside your head and your heart. What do I wanna be?
And right now I am choosing. I choose to be queer with all the consequences.
Jumat, 03 Juli 2009
Pass you by
DONT have to stay with someone that makes you cry
You’ll end up killing all the love you have inside
Cant hope to see the sun if you dont open your eyes
Dont let real love pass you by
Ever heard this song? Judulnya pass you by oleh boyz II men. This song came out pada tahun 2000. Saat itu gue masih duduk di bangku SMA. Walaupun pengalaman merasakan yang namanya cinta dan kasih sayang masih minim banget waktu itu tapi lagu ini punya impact yang cukup besar ke cara gue berpikir tentang relationship. The song teached me bahwa perasaan bukan segala-galanya dan terkadang kita juga harus mikir kalau udah ngomongin yang namanya Cinta.
I have my own previous experience dengan hubungan yang ngebunuh gue pelan-pelan. I did care deeply for my partners dan walaupun gue tau kalau gue tersiksa stay dengan orang-orang itu, gue tetep ngotot untuk stay. Dengan naif gue berpikir bahwa mereka butuh gue untuk jadi lebih baik. But hey Girls, sometimes we have limits and sometimes there are people who are just too helpless. Memangnya yang harus dibantu untuk jadi orang yang lebih baik cuma pasangan lo? How about you? Don’t you have the same right to be better too? I’m not encouraging people to let go of other people yang membutuhkan help, tapi pernah terpikir ngga kalau mungkin pasangan lo lebih membutuhkan diri lo sebagai teman daripada pacar? That way things are going to be more clearer dan segala keputusan ngga akan terganggu dengan kebijakan-kebijakan subjektif yang ngga berguna.
Terkadang karena terlalu sayang kita buta kalau kita udah dipermainkan atau dimanfaatkan. Well I say it’s enough when it’s enough. Suatu hubungan seharusnya membuat kedua pasangan jadi semakin dewasa, jadi semakin baik dan bukan menarik dua-duanya malah jadi lebih buruk. If that’s the case, you both are not bright enough to have a relationship at the first place.
Kuncinya terkadang (dan untuk gue pribadi) adalah tentang bagaimana kita bisa menghargai diri kita sendiri terlebih dahulu. Kalau kita udah tau betapa berharganya diri kita, then kita pasti ngga akan mau dimanfaatkan pasangan kita. Dari situ lo baru bisa ngebuat steps and plans what to do best untuk memperbaiki diri, hubungan, atau bahkan pasangan lo.
Selalu ada moment buat gue dimana gue berpikir, “Ok, this is it. I have enough of bullshit, and dramas and pain. I deserve better than this. It’s time to move on.” Menjalankannya ngga akan pernah mudah, penuh rasa sakit sampe rasanya mau mati, bahkan mungkin ada episode mengurung diri di kamar berhari-hari dan nangis bombay. Keep in mind itu semua cuma proses dimana pada akhirnya lo akan ngerasa bahwa it was all WORTH IT.
Terus terang gue muak dengan drama-drama lesbian yang berkoar it’s over! just to get back at her girlfriend a couple of days later karena cinta. Gue pernah di posisi jadi cewek tolol kayak gitu dan belajar dari ketololan gue itu. And when I chose, its one of the best decision I ever made selain masuk jurusan psikologi hahaha...Believe in your heart too to guide what’s best for your relationship.
Think girls..kalau seseorang benar-benar sayang dan perduli dengan diri lo, apakah mereka akan terus nyakitin lo?




