Halaman

Tampilkan postingan dengan label yaoi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yaoi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Januari 2010

Dan itu kenapa JAV...

OK, sambil nunggu Lushka sampe kerumah gue, gue mau mengisi waktu luang yang penuh dengan perasaan dag-dig-dug ini sambil blogging aja. Ditemani mas-mas dari Jimmy Eat World sebagai musik latar belakang mari kita mulai!

Harapannya sih artikel ini jadi artikel informatif aja. Jangan sampe jadi motivator yang baca untuk malah nyari tau (alah, padahal sih menurut gue juga udah pada tau, hehe..) atau malah gue dikira pervert hihi...oh, umm..mungkin perlalu dikasih warning kalau isinya untuk 17 tahun ke atas yaa..=D

So, tadi sore gue akhirnya memuaskan hasrat keingintahuan gue, bukan hasrat yang lain, tentang JAV atau Japaness Adult Video atau film porno Jepang. Dari dulu gue selalu bertanya-tanya sama dua hal tapi males googling buat nyari tau hihi..



1. Kenapa sih bintang porno cewek Jepang selalu mendesah seperti kesakitan dalam adegan sex?
Ternyata seperti dugaan gue, jawabannya memang sangat berhubungan dengan budaya Jepang "Seme" dan "Uke". Istilah ini sih gue kenal pertama kali di Yaoi (gay hentai), tapi ternyata di Jepang sendiri ngga hanya berlaku untuk kaum gay. "Seme" artinya giver/yang memberi dan "Uke" artinya receiver/yang menerima. Soooo....menurut budaya mereka (dan mungkin seperti budaya dunia sebelah timur kebanyakan), kalau yang namanya wanita itu hanya sebagai penerima saja. They dont Do sex. Sex is Done to them. Haiyaaa...ngga hanya dalam perilaku sex, kita juga tau kalau umumnya perempuan di Jepang itu masih jadi warga kelas dua, dianggap lemah, harus memiliki rasa malu dan sopan santun yang tinggi etc. Jadi, HARAM hukumnya ketika melakukan hubungan sex mereka terang-terangan menunjukkan rasa nikmat atau suka. Buat para cowok Jepang mungkin juga ada perasaan bangga tersendiri ketika melakukan hubungan sex, mereka yang "berkuasa". Gue belum liat yang Yuri (lesbian hentai) katanya lebih kacrut lagi hahahahaha...gue sih dengernya kesel. Pingin gue bekep mulutnya =P

2. Kenapa film porno di Jepang punya hukum mensensor bagian alat kelamin?

This one is quite interesting for me. Buat gue pribadi sih bodoh aja ada film porno yang jelas-jelas tujuannya udah amoral tapi bagian alat kelamin disensor/diburemin. Ternyata latar belakangnya cukup menarik. Buat yang ngga ngerti maksud gue apa, kayak gini nih..hihi..



Sejak Jaman Meiji (yang ini coba belajar sendiri atau inget-inget pelajaran SMA. Kalau gue jelasin lagi Jaman Meiji nanti jadi pelajaran Sejarah Jepang), sebenarnya pornografi sudah dilarang oleh pemerintah. Alasannya tentu saja merusak moral. Menurut orang Barat sih itu atas pengaruh budaya masa Victorian juga yang melarang pornografi. Tapi lucunya, ketika perang dunia 2 berakhir dan Jepang dibanjiri oleh bangsa-bangsa Barat, mereka dikenalkan dengan "kebebasan berekspresi". Pornografi kembali diperbolehkan. Namun berhubung Jepang masih memegang prinsip "pornografi merusak moral" maka bagian kelamin harus disensor *terjengkang* ya, ya, selalu ada double standard dimana-mana dan JAV adalah salah satu yang menurut gue unik.

Lebih uniknya lagi, ternyata ada lho dikembangkan dan diperjual belikan suatu alat yang fungsinya untuk menghapus si kotak-kotak burem penghalang kelamin itu. Katanya sih penggunaannya susah, soalnya harus diarahkan tepat ke kotak-kotak burem untuk menghilangkannya. Bwahahahaha...gue ngga kebayang lho ada orang-orang yang segitu niatnya sambil melototin layar PC berusaha mencari sasaran yang tepat. Padahal Adult video yang tidak disensor juga jumlahnya udah jutaan, gratis pula hwehehehe..dan jangan kira alat ini ngga laku. Bisa dijual sampai ratusan dolar. Ada-ada aja ye.

Yah, cukup sekian bagi-bagi informasinya, sepertinya Lushka sudah hampir tiba. Jangan sering-sering nonton film porno yaa..nanti ejakulasi dini hehe..dan tolong dikoreksi kalau ada yang salah mengenai informasi ini ^^

cheers

Kamis, 14 Agustus 2008

I am a Fag Hag

Fag Hag: Also known as Fruit Fly and Queer Dear. This is a woman who prefers the company of gay men because she recognizes their effervesence, incisive wit, and sheer brilliance regarding the human condition. This woman appreciates the fact that gay men know how to drill down to the bittersweet core of an issue and make light of it where necessary, and simultaneously make dark humor of it where otherwise necessary. It is a gift that comes from being an outsider: rather than lying down and taking a beating, as some do, the exaulted gay man rises from the ashes and finds the ridiculous glory in being an outsider. In this endeavor, he seeks the company of a woman, and she of him...because regardless of intentions, women and men enjoy the company of those who feel "right" to each other. Because this type of woman is generally spoiled by the general delightfulness of gay men, she may scorn straight men for their lack of personality and overall dullness. . -http://www.urbandictionary.com/

Jarang yang tau istilah fag hag kecuali fag hag itu sendiri. Gue sendiri udah jadi fag hag dari SMP tapi baru tau istilah ini sekitar setahun yang lalu. Ada yang bilang kalo fag hag itu sebenernya salah satu bentuk kelainan seksual. Tapi kalo gue aja udah punya pacar cewek, pernah punya pacar cowok, mau kelainan seksual apa lagi? Hahaha...

I’ve been interested with gay guys semenjak gue suka dengan perhatian cewek-cewek ke gue jaman SMP. Waktu itu gue nyari tau banyak tentang yang namanya homoseksual di internet. Coz I really need to know am I one of them. Of course istilah gay dan homoseksual kalo di internet pada saat itu banyak banget merujuk ke gay men.

Kalo udah masukin keyword gay di internet, 10 listing pertama pastinya didominasi sama website-website porno mereka. Out of curiousity I surf the gay porn web and wet myself, literally. Hahaha…

Ketertarikan gue sama gay men ngga jadi suatu hal yang menakutkan atau menyenangkan buat gue. Biasa aja. Gue udah terlalu banyak ngerasain hal-hal yang aneh seumur-umur, jadinya buat gue ini cuma some kind of a new interest aja. Didukung sama kesukaan gue dengan komik-komik (manga) dan kartun (anime) jepang, gue dikenalin sama yang namanya tema YAOI sama temen SMA gue yang juga fag hag. YAOI ini artinya boy love boy atau biasa disingkat BL sama orang bule di industri manga/anime jepang. My first YAOI anime was Gravitation. Cocok banget sama kondisi gue saat itu karena cerita anime ini adalah tentang seorang cowok yang tiba-tiba baru ngerasain falling in love dengan seorang cowok yang lebih dewasa dan cool. I gradually fall in love with both of the character. Shuichi adalah bentuk diri gue yang baru mengenal YAOI dan adalah Yuki bentuk perfect gay man that I would easily fall for. Mulai dari gravitation itu gue nyari tau lagi anime dan manga yang bertema YAOI dan mulai mengkoleksi YAOI.

Tapi lama kelamaan gue bosen dong sama kartun dan mulailah gue masuk ke dunia nyata. All those porn gay website mulai bikin gue penasaran sama the real live human size gay men. Setelah menjadi seorang otaku YAOI selama bertahun-tahun gue akhirnya menemukan cinta sejati gue: Queer As Folks. Gue tau tentang TV series ini dari internet dan niat banget nyari di setiap tempat penjualan DVD. And I got it. My first QAF series gue beli di Ratu Plaza dengan harga barang Impor. I didn’t care it was more pricey than the regular DVD. I love it!

Semenjak ngikutin QAF, gue makin yakin kalo gue emang ‘sakit’ sama yang namanya gay men. Gue mulai ngoleksi semua DVD gay yang keluar di Indonesia. Gue juga punya koleksi porn gay men yang lumayan di laptop, hehehe…Gue tau istilah fag hag dari film Eating out yang gue beli setahun yang lalu. Di kuliah ini gue makin banyak nemuin fag hag dan dengan senang hati gue membanjiri mereka dengan koleksi-koleksi gue. Hahaha...

What do I like from gay men?

Hmm…as a girl, I do still like Mr.P. Tapi biar cowok lain yang pegang-pegang dan gue yang nonton. Soalnya gue geli, hahahaha….gue bener-bener suka dengan badan-badan bagus yang dimaintain sama para gay men itu. Gue bisa klepek-klepek kalo ada gay men yang cowok banget dengan sentuhan feminin yang tipis. Sedangkan drag queen-nya? As long as their not too bitchy, gue masih bisa gemes banget. Like Emmet di QAF atau Joey di Boy Culture. Duh, cowok-cowok yang bisa ngeluarin sisi femininnya tanpa perlu mikirin ego? That's what gay men best at! And they are sooooo romantic you know. Bahkan untuk ukuran film porno, gay men masih bisa keliatan like their doin it with heart. Hahaha..oh nooo…I am a fag hag!

Favourite gay men from Indonesia?

Definitely Ivan Gunawan! Dari awal dia muncul di TV gue sukaaaaa banget. Terserah deh dia ngga ngaku kalo dia homo, coz may gaydar is rising to the top when I see him. Beberapa kali gue sempet ngeliat dia di Mall waktu badannya kurus. And OMG!!! Tinggi, putih, tegap, cantiiiikkk...hihihi.....Lushka geli banget nih kalo gue lagi keluar penyakitnya suka sama gay men. Dia ngga pernah ngerti dimana letak menariknya para gay men itu. Apalagi sama Ivan Gunawan, katanya dia ngga suka sama personality-nya. Well, untungnya gue ngga pernah denger apa yang Ivan omongin di TV and just keep staring at his beautiful posture.