Halaman

Tampilkan postingan dengan label women. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label women. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 April 2013

Kartini, Idola gue. =D

Mumpung masih anget. Nulis tentang R.A Kartini pas hari Kartini.
Sebenarnya tulisan ini "utang " yang udah lama banget baru bisa gue bayar hari ini. Hehe.

Tiap tahun, setiap tanggal 21 April, bangsa ini merayakan hari Kartini sebagai pahlawan nasional.

Dan tiap tahun juga terjadi perdebatan "kelayakan" apakah R.A Kartini layak diangkat sebagai seorang pahlawan, kenapa ga pahlawan-pahlawan perempuan lainnya yang dianggap "lebih keliatan" perjuangannya.

Mereka, perempuan-perempuan hebat yang punya dedikasi "fisik" dengan beneran angkat senjata atau keliatan hasilnya yang berguna dalam perjuangan kemerdekaan hingga akhirnya negeri ini mengukuhkan dirinya menjadi NKRI.
Back to Kartini.

Duluuu, sebelum gue baca kumpulan surat-surat Kartini, gue juga mikir sama. Kenapa Kartini? Kenapa harus banget punya hari khusus? Emang cewe 20 tahunan ini ngapain? Nulis surat doang. Apa gunanya juga.

Sampaaaai, akhirnya gue dengan umur yang telat banget, 8 tahun yang lalu dibukakan kedegilannya dengan membaca salah satu kumpulan surat Kartini pada Stella Zeehandelaar (1899 – 1903) yang dialih bahasakan oleh Vissia Ita Yulianto, terbitan IRB Press, 2004  (Indonesia) – Monash Asia Institute, Monas University (Internasional). Buku dengan judul "Aku Mau, Feminisme dan Nasionalisme"

Setelah membaca kumpulan surat ini, gue cuma ngerasain satu. Minder. Kagum. Canggih banget perempuan ini. 

Terlepas dari layak dan tidaknya gelar pahlawan nasional yang diribetin orang banyak, tulisan Kartini inspiratif dan tidak lekang jaman. Jangan main-main dengan kekuatan tulisan. 

Setelah berkesempatan membaca kumpulan suratnya Kartini, gue meradang tiap tahun, tiap mendengar orang-orang maju ini yang melek informasi (katanya) yang memilih memperdebatkan gelar yang sebenarnya ga penting-penting amat TANPA pernah membaca apa yang ada di benak Kartini. Esensi tulisan Kartini jadi mandul di kepala mereka yang dengan entengnya "menghina" lompatan waktu buah pikiran Kartini. 

Well. Tulisan ini bukan membela Kartini, karena beliau,  gue yakin sesuai dengan pendapatnya yang ditulis di salah satu suratnya tidak mengagungkan pujian.  "Mungkin mereka menganggap aku berpura-pura tapi, sungguh, aku tidak suka dipuji".

Adoh. Di kepala gue banyak banget sliweran ide Kartini yang inspiratif menurut gue. Gue ga punya idola sampai gue baca tulisan Kartini. Haha. Iya segitu lebaynya gue kagumnya sama perempuan ini. 

For the record, yang akan gue bahas hanya dari buku yang gue baca, karena gue belum baca kumpulan surat-surat lainnya.

Sejarah hidup R.A Kartini pasti udah pada tau semua. Lahir di Mayong, Jawa Timur, 21 April 1879,  putri kedua dan anak ke-4 dari 11 bersaudara R.M.A.A Sosroningrat seorang Bupati Jepara dari salah satu selir beliau. Kartini memiliki 5 saudara laki-laki dan 5 saudari perempuan.

Kecerdasan dan besarnya kecintaan Kartini pada dunia pendidikan tidak terlepas dari jasa kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro, Bupati Demak yang juga Bupati pertama di Jawa Tengah yang memberikan pendidikan barat kepada anak-anaknya yang menurun pada ayah Kartini.  

Paman-paman dan kakak-kakak laki-laki Kartini semuanya lulusan HBS (Hogere Burger School – kalau sekarang setingkat SMU), bahkan ada tiga saudara laki-laki Kartini yang sekolah/ kuliah di Belanda. Walaupun kisah Kartini berakhir tragis, dengan kematian beliau, empat hari setelah melahirkan putera pertamanya. 17 September 1904 di usia 25 tahun. Too soon, too young.

Kartini itu hobbynya membaca dan menulis juga bisa melukis walaupun tidak sebaik dua adik perempuannya, dari penuturan Kardinah (adik Kartini) dalam buku kenangan Kartini (1958), beliau menuliskan bahwa Kartini terkenal pandai memasak, bahkan sudah menulis buku ala Jawa dan Belanda.

(menghela nafas. Bakal jadi tulisan yang puanjang ini kalo ga segera mengurai simpul kekaguman gue pada Kartini. Hihi)

Mari kita kembali ke jamannya Kartini. Ga ada internet, ga ada media sosial, informasi terbatas,  pendidikan untuk anak perempuan bumiputra sangat ekslusif, hanya orang-orang tertentu yang cukup punya strata sosial untuk menyekolahkan anak perempuannya, itupun juga kalau orangtuanya cukup peduli untuk memberi kesempatan kepada anak-anak perempuannya.

Kartini dan adik-adiknya sebagai putri Bupati cukup beruntung, karena ayah mereka peduli untuk memberi kesempatan belajar pada anak-anak perempuannya walaupuuuun hanya sampai berumur 12 tahun. Setelah itu, sesuai adat jawa – bangsawan, anak perempuan dipingit, menunggu cukup umur untuk dilamar.

Dalam kumpulan surat ini, bolehlah gue simpulkan dalam satu kata; Menggugat. Kartini menggugat.

Kartini sangat cakap dan berani untuk mengungkapkan kegelisahannya pada aturan aturan feodal  Jawa yang mengikat perempuan. Menggugat apartheid bahasa pada kaum bumiputra. Kegelisahan pada isu yang sangat sensitif, agama. Kerinduan pada kesetaraan gender. Ketidakberdayaan pada nasib.

Melalui pena, melintasi benua dan samudera, Kartini membagi hatinya. Tulisan-tulisan Kartini personal, sensitif terkadang defensif juga kaya pada keindahan sastra.

Ingat, Kartini hanya sekolah formal sampai dengan umur 12 tahun, sejak itu dia mengedukasi dirinya sendiri dengan bantuan kemudahan yang dimiliki ayahnya. Majalah, jurnal, novel dalam bahasa Belanda dilahapnya. Kaya anak-anak muda jaman sekarang, yang hobby ngeblog, Kartini menulis, menjalin korespondesi dengan orang-orang asing yang dia anggap mampu mengerti apa yang di kepalanya.

Kartini dengan telaten menjelaskan isu-isu yang mengganggu kepalanya, rindunya pada "kebebasan" dan kesetaraan. Tidak hanya untuk dirinya sendiri. Dia menginginkan pendidikan untuk kaumnya. Dia percaya perempuan yang berpendidikan dapat membantu dirinya sendiri juga kemajuan pemerintahannya.

Cerdas. Serius, Kartini itu cerdas banget. Mana ada orang yang ga cerdas yang tekun membuat ringkasan/catatan atas jurnal yang dia baca?. Kefasihannya membaca surat kabar/majalah pergerakan perempuan dalam bahasa Belanda ataupun melayu. Cita-citanya untuk belajar literatur, karena Kartini ingin menunjukan bahwa sejago-jagonya ahli Indologi (ilmu tentang Hindia- Belanda) ga akan sejago kalau yang menuliskan orang jawa sendiri.

Kartini juga sudah berkesempatan menorehkan tulisannya di beberapa harian penting yang berbahasa Belanda. Walaupun dengan kegalauan, karena status sosialnya, ia beresiko dicap sebagai nyeleneh, Kartini tidak ingin jadi figur publik karena rasa hormatnya pada orangtuanya. Jauh sebelum lo pada pake nick name/pseudoname, Kartini sudah duluan memakainya, nama yang dia pilih "tiga saudara", merujuk pada ikatan persaudaraan dengan 2 saudara perempuannya.

Kalau lo belum tau, Kartini belajar bahasa lain selain bahasa Belanda, di suratnya, Kartini bercerita saat itu dia sedang belajar bahasa Perancis dan sedang menerjemahkan buku cerita sederhana dalam bahasa Perancis sebagai latihan. Ayahnya juga menghadiahi kursus bahasa Jerman setelah menguasai bahasa Perancis tapi beliau lebih memilih bahasa Inggris.
Anak perempuan pingitan yang jengah pada feodalisme. Pada satu suratnya Kartini mencela pernikahan yang diatur, poligami, yang ironisnya nantinya harus ia hadapi. Sebagai anak manusia, Kartini menginginkan pernikahan atas nama cinta, mengenal antar pribadi, jatuh cinta dan menikah.

Tentang poligami, di suratnya pada tanggal 6 Nov 1899, Kartini menuturkan, dia tidak akan pernah bisa mencintai. Karena untuk mencintai, pertama kali harus bisa menghargai pasangannya. Kartini mempertanyakan bagaimana mungkin menghargai seorang laki-laki yang sudah menikah tapi sudah menjadi seorang ayah hanya karena sudah bosan dengan istri lamanya, bisa membawa perempuan lain ke rumah dan menikahinya.

"Meski banyak orang mengatakan ini bukan dosa, tapi aku, selama-lamanya akan tetap menganggap ini sebuah dosa. Bagiku, semua benih perbuatan yang menyakitkan orang lain (termasuk menyakiti hewan) adalah dosa. Bisa kau bayangkan derita seorang istri yang melihat suaminya pulang membawa perempuan lain yang kemudian harus diakuinya sebagai istri sah suaminya? Sebagai saingannya?"

Protes pada stigma lemah yang diberikan pada perempuan juga ia suarakan, seperti yang bergema di kepala gue, Kartini sudah lebih dulu berjanji, jika suatu saat nanti ia memiliki keturunan, Kartini akan memberikan pendidikan dan perlakukan yang sama. Kartini berujar;

"...dan sudah semenjak masa kanak-kanaknya, laki-laki sudah diajari untuk merendahkan perempuan. Sering sekali akku mendengar  ibu-ibu yang mengatakan pada anak laki-lakinya, jika mereka menangis saat jatuh : "waduh, anak laki-laki kok menangis seperti anak perempuan saja!". Aku akan mengajari anak-anakku, baik laki-laki maupun perempuan, untuk saling menghomati sebagai sesama dan membesarkan mereka dengan perlakuan yang sama, sesuai dengan bakat mereka masing-masing."

Kartini juga peka pada isu sosial yang saat itu menghantui masyarakatnya, maraknya ketergantungan pada miras (dia menyindir orang-orang yang beragama tapi hanya melekat saja, tanpa menjalankannya), bebasnya perdagangan opium yang membuat sengsara rakyat yang ironisnya diatur oleh pemerintah. 

"..Bisnis opium adalah bisnis yang paling menjanjikan untuk pemerintah Hindia Belanda. Mereka untung tapi rakyat buntung, beribu-ribu bahkan berjuta-juta keping emas bisa mereka dapatkan namun rakyatlah yang menanggung penderitaan akibat opium. Apakah rakyat menjadi lebih baik atau tidak, mereka peduli apa? – yang paling penting Pemerinta untung!" – 25 Mei 1899
Pada keterbatasan gerak perempuan, Kartini dengan indah melukiskan mirisnya berada dalam pekarangan yang sangat luas dan indah, tapi tetap saja terkukung oleh tembok-tembok keputren yang kokoh dan dingin. Yang menghalanginya berhubungan dengan dunia luar.  

Sikap anak dara ini pada aturan-aturan yang menurutnya konyol seperti tradisi penghormatan pada mereka yang berstatus bangsawan. Kartini menolak untuk dihormati secara berlebihan oleh adik-adiknya. Dia dijuluki kuda kore/kuda liar karena sering tertawa keras dengan memperlihatkan gigi.  Haha. Hipster yak?

Apartheid bahasa. Bahasa Belanda di jaman kolonialisme hanya boleh dipergunakan oleh orang-orang Belanda, orang-orang Bumiputra dilarang menggunakannya, bahkan walaupun orang-orang Bumiputra ini lebih cakap daripada orang-orang Belanda sendiri. Kartini mengolok-olok hal ini, dengan sarkasme, Kartini menceritakan kesombongan orang Belanda pada penggunaan bahasa ini, diceritakan seorang laki-laki Belanda menggunakan bahasa melayu yang berantakan pada seorang Raden Ayu yang fasih berbahasa Belanda, sang putri menjawab dalam bahasa Belanda "Tuan, maafkan saya, saya minta Anda berbicara dalam bahasa Anda sendiri. Saya bisa mengerti dan bisa berbahasa Melayu, tapi sayangnya hanya bahasa Melayu tinggi, saya tidak bisa bahasa Melayu pasaran". Haha. Si Londo pun malu sendiri.

Kakak laki-laki Kartini, RM Pandji Sosro Kartono, juga ga kalah hebatnya, beliau pada Oktober 1899, sebagai seorang mahasiswa beasiswa Sastra Belanda, pada Kongres Bahasa Belanda dan Sastra XXV, mengajukan dalam presentasi papernya, pentingnya kesetaraan dalam penggunaan bahasa Belanda untuk anak-anak laki bumiputra sebagai sarana memajukan pengetahuan dan kemajuan pemerintahan. Karena di jaman itu, hanya orang-orang Belanda yang bisa menduduki posisi strategis dalam pemerintahan. Ditambah ketidakmampuan juga tidak adanya kesempatan berbahasa Belanda makin merendahkan posisi tawar bagi anak-anak Bumiputra.

Kartono juga menyindir, dalam 2,5 abad belenggu pemerintahan kolonial Belanda, kebaikan apa yang sudah didapat kaum Bumiputra. Cool. Pidato itu tamparan yang cukup kenceng bagi kaum intelektual Belanda di Kongres itu.

Kartini sering sekali menuliskan tentang ketidak adilan yang dialami kaum Bumiputra pada kedudukannya di tatanan masyarakat waktu itu. Orang-orang Bumiputra yang harus laku jengeng/jalan jongkok pada orang Belanda yang lebih tinggi kedudukannya, hanya karena orang Belanda ingin dihormati seperti layaknya bangsawan Jawa. 

Bapaknya Kartini digambarkan sebagai pribadi hangat yang peduli pada rakyatnya, macam Jokowi gitu,  hihi. Bupati ini menekan korupsi dan suap di tataran pemerintahannya dengan kunjungan dinas dengan biaya kabupaten. Bekal dibawa sendiri, tidak merepotkan pegawai daerah dengan jamuan-jamuan yang menelan biaya besar, yang pada akhirnya mendorong pegawai untuk menerima suap dari rakyatnya.

Masih banyak banget yang bisa gue ceritain tentang Kartini, ada ga sih media menggambleh lisan aja hihi.

Kartini saking getolnya pengen belajar, dengan semua keterbatasan yang ada, bisa mendapatkan beasiswa pelatihan guru, yang sayangnya karena gender dan status sosialnya membuatnya melepas kesempatan itu. Sekolah perempuan berhasil diwujudkannya.
Moto hidupnya "aku mau", menjaganya untuk tidak pernah berhenti belajar. Sampai akhir hidupnya.

"Jika hukum yang berlaku mengizinkan , aku tak ingin apapun kecuali mengabdikan diriku secara utuh untuk melakukann hal-hal seperti yang telah dilakukan kaum perempuan di Eropa. Namun tradisi disini sungguh teramat kita mencengkeramku. Aku yakin ,saat itu akan tiba, tapi tidak tiga atau empat generasi setelahku!" ... 

Jaman yang Kartini rindukan sudah tiba,kebebasan untuk berfikir, berkarya untuk kita, perempuan Indonesia. Apakah kita akan membiarkan mimpi-mimpi Kartini gugur di tangan kita yang kurang bisa menghargai anugerah yang begitu Kartini dambakan? Bahkan dia ingin tidur panjang 100 tahun dan terbangun saat semua sudah berubah. Ironis jika masih ada perempuan yang justru ingin kembali pada kembali di 'jaman kegelapan", menerima bahwa perempuan selama-lamanya hanya istri yang manut pada suaminya tanpa punya hak untuk didengarkan, pasrah dipasung kesempatan untuk berprestasi hanya karena jendernya.

Kartini buat gue layak banget jadi pahlawan, karena gugatannya 'pun masih sangat relevan pada kehidupan perempuan di jaman ini. Bahwa perempuan itu penting. Perempuan bukanlah hanya konco wingking, teman di belakang,  perempuan harusnya bebas bergerak menentukan langkahnya sendiri, ikut bergerak dalam laju jaman, berkonstribusi pada kemajuan pemerintahan, memberikan sumbangsihnya pada keluarga dan sesamanya. 

Orang yang menyalakan pelita di hati orang-orang untuk terus maju dan bergerak ke depan itu adalah seorang pahlawan.  

"Kartini ada bukan karena gagasan feminisme, tapi karena Kartini ada,maka ia seorang feminis (GM, pada catatan pengantar buku ini)"

Sabtu, 16 April 2011

Corrective rape



Sharing dikit dengan apa yang gue baru baca sekitar sebulan lalu ketika satu grup aktivis bernama “Sowetan” di Afrika Selatan menggelar aksi demo di depan parlemen agar pemerintah menanggapi masalah Corrective rape dengan lebih serius. Kekerasan terhadap kaum homoseksual udah bukan hal yang baru lagi untuk didengar. Dimana-mana di setiap negara pasti ada hate crime terhadap mereka. Dari bullying secara verbal hingga tindakan membunuh. Tapi yang lebih gila lagi kalau hate crime ini dijadikan suatu alasan di suatu negara karena dianggap benar..

Satu peristiwa yang jadi sorotan internasional tentang salah satu hate crime terhadap kaum homoseksual adalah cerita pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Eudy Simelane. Simelane adalah seorang pemain sepak bola wanita nasional Afrika Selatan yang sudah come out sebagai Lesbian dan beraktivitas sebagai aktivis hak kaum LGBT. Pada tanggal 28 April 2008, ia ditemukan meninggal dalam keadaan mengenaskan; Setengah telanjang, memar seluruh tubuh hasil pemukulan dan ditusuk sebanyak 25 kali di wajah, dada dan kaki. Setahun kemudian empat pelakunya diadili. Dua orang divonis penjara 34 tahun

Kenapa cerita ini menjadi sorotan internasional karena hal ini membuka mata banyak orang tentang kepercayaan Corrective rape yang dipegang oleh orang-orang Afrika Selatan. Setidaknya bagi para lelakinya. Mereka percaya bahwa apabila seorang lesbian diperkosa oleh laki-laki maka ia akan “sembuh” dan kembali “normal” menjadi heteroseksual. Rasanya pingin pasang soundtrack rem mendecit sambil bilang WHAT THE FFF…..hehe..yah tapi kenyataannya memang begitu. Mungkin sebagian dari mereka pura-pura tidak tahu dampak pemerkosaan apa, tapi memang sebagian besar dari penduduk Afrika Selatan tidak memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Budaya dan kepercayaan yang salah tentang seks memang terjadi di Afrika Selatan hingga selatan. Sudah tauhu juga kan Afrika merupakan benua dengan tingkat penderita AIDS tertinggi di dunia. Ngga kurang dari 3 juta penduduknya merupakan penderita AIDS.

Masalahnya pemerkosaan di Afrika Selatan bukan hanya saja terjadi pada Lesbian. Dari 4000 wanita yang diwawancarai dalam suatu penelitian, 1 dari 3 orang mengaku pernah diperkosa. Para lelakinya pun ketika diwawancarai 3 dari 4 orang mengaku pernah memperkosa lebih dari satu wanita ketika mereka belum menginjak usia 20 tahun. 1 dari 10 orang laki-laki disana bahkan mengaku pernah memperkosa ketika mereka masih dibawah usia 10 tahun.

Perilaku bar-bar? Yep, bisa dibilang begitu. Tapi semuanya kembali ke kebudayaan yang salah dan kurangnya pendidikan yang diterima oleh orang-orang Afrika Selatan ini. Mereka benar-benar percaya apabila seorang perempuan mengatakan “tidak” ketika diajak berhubungan seksual, maka sebenarnya artinya “iya”.

Sigh. Kalau mau membaca laporan-laporan tentang corrective rape dan pemerkosaan yang terjadi di daerah Afrika Selatan bisa bikin depresi. Ngeri. Sedih. And wish that the world could do more than just goes “ooh..” “aah..” “ew…” “wow..” ketika tahu fakta ini dan mulai melakukan sesuatu yang bisa merubah keadaan buruk di suatu tempat seperti Afrika Selatan.

Minggu, 23 Januari 2011

Let's home barbar


Gue baruu aja dapet bbm dari Lushka yang isinya berupa gambar kalau dia baru beli gunting keluaran Jepang, dengan judul mari barbar di rumah. Isi percakapannya gini:]
M: Aaaah ayaaaaaang
M: Jangan mentang2 aq cukur rambut kamu mau ikut2aaann
M: Ini berbezaaaa
L: Hahaha
L: Aaaapa siih
L: Aku ud cukur sblm kamu cukur tauu
L: Aku mau kasih liat itu org jepang nulis barber jd barbar
L: Ah kamuu
M: hehe itu buat rambut kepala bukan?
L: Iyaaa
M: LOL Iya, emg mrk ngomongnya barbar
JADI saudara-saudara! Dibalik perbincangan yang terlihat tidak penting dan absurd ini tersirat inside joke tersendiri, berkaitan dengan kegiatan cukur mencukur gue yang baru terjadi kemarin hehe…mari kita sebut saja mencukur rambut-yang-lain =D
Mohon maaf kalau isi pembicaraan kali ini mungkin akan sedikit tidak nyaman bagi para beberapa orang yang tidak terbiasa, jadi saya mau kasih peringatan kalau saya mau membicarakan sedikit tentang pencukuran rambut-yang-lain.
Gue termasuk salah satu manusia yang sedikit absurd dengan jumlah rambut yang tumbuh di badan gue. Lebat ngga karuan di kepala…..dan hampir botak di daerah-daerah lain di tubuh yang seharusnya ditumbuhi rambut juga. Kayaknya sih diambil semua jatahnya sama kepala hehe. Nah, dengan bangga dan kadang sedikit miris gue katakan, kalau gue ngga punya rambut..umm..ketiak. Hyaa…bahasanya =P Anyway ya..untuk anak usia 12 tahun, ngga punya rambut di daerah ini pastinya wajar. Tapi untuk seseorang di usia gue yang udah..um…mari kita sebut saja “diatas 20 tahun”, ngga punya rambut ini sering jadi bahan untuk temen-temen gue menepuk-nepuk pundak dan bilang “Selamat ya..lo selamat dari kegiatan menyiksa mencukur rambut”.
Weits, siapa bilang rambut cuma disitu kan? Gimana dengan rambut-yang-lain? Hehe..alhamdulillah masih ada, walaupun ngga rame-rame amat juga. Gue bahkan hanya perlu pake gunting untuk ngerapihin. Potong kiri dikit, potong kanan dikit, dan kerjaan gue untuk “mencukur” si rambut-yang-lain ini selesai sudah. Lagipula kan ya, sekedar pengingat, setiap rambut ada di tempatnya kan ada gunanya juga. Mencegah benda-benda asing seperti debu dan kuman untuk masuk. Tapi jangan lupa juga untuk dibersihin dan dijaga supaya ngga malah jadi sarang si debu dan kuman itu sendiri.
Sampai pada suatu hari gue akhirnya penasaran gimana rasanya kalau mencukur habis rambut-yang-lain ini. Akhirnya gue beli juga tuh pencukur import isi tiga harga Rp.10.000. Serius becandaan sepuluh ribu-tiga ironisnya berlaku ngga hanya untuk kaos kaki tapi juga buat pencukur rambut haha.
Walhasil dikarenakan minimnya pengalaman gue dalam hal ini, gue merasa perlu “berguru” dulu sama yang udah pernah melakukan pencukuran rambut-yang-lain ini (alias semua orang diatas usia remaja). Untuk alasan keamanan muka sendiri, gue memutuskan untuk bertanya-tanya sama Lushka gimana melakukannya dengan benar dan ketakutan setengah mati kalau sampai buat luka. Iya, ironis, buat pelaku SI kayak gue tapi takut bikin luka di daerah situ…gile, harta berharga itu. Gue nanya-nanya deh tuh sampe merasa puas dengan jawaban lushka. Hihi..untung pacar gue cewek.
Kalau masalah hasil, ngga perlu dijelaskan disini kali yaa…pokoknya operasi mencukur rambut-yang-lain sukses. Walaupun ternyata gue ngga nyaman dengan kegundulan si lokasi dengan alasan yang ngga bisa gue jelaskan disini tanpa terdengar vulgar..Dan gue bangga banget akhirnya bisa ngerasain yang namanya mencukur rambut sendiri hahaha..psst..kok kegiatan mencukur itu agak bikin adiksi ya..gue bolak balik kamar mandi setiap ngerasa ada yang kelewat dikit =P

Selasa, 19 Januari 2010

"Khan"

Gue dapet pengalaman menarik kemarin malam waktu iseng jalan-jalan ke yahoo chat room lesbian. Ngga ada niat ngobrol juga. Gue hanya lagi bosen dan pingin liat interaksi manusia di main room aja. Seperti biasa baru satu detik masuk, udah ada beberapa pop-up message yang ngajak kenalan. 70% of the time message-message itu sebenernya cuma spam yang ujung-ujungnya ngasih link web porno dan 29% yang lain adalah orang-orang horny yang ngajak sex chat. That 1% I'm looking for jarang banget bisa gue temuin, yaitu orang-orang yang bener-bener cuma pingin ngobrol nyari temen baru.


Tiba-tiba ada satu message yang kalimat perkenalannya langsung bikin gue tertarik. Tanpa basa-basi dia langsung kirim message "23 m crossdresser" WOW..OK..ini baru beda. Gue pikir andaikata ini jebakan tikus dari seorang pervert pun, kalimat itu berhasil bikin tertarik. Kebayang ngga kalau ada cowok yang tiba-tiba datengin lo, nyodorin tangan, dan bilang, "Hi, I'm a crossdresser." Mantab!


Layaknya chat dengan orang baru, perkenalan berlangsung singkat dan standar. Pertukaran ASL dan foto. Let's just named this boy "Khan" =P. Khan is from India dan masih kuliah. Request pertama dia ke gue yang paling lucu adalah dia minta diajarin gimana caranya dandan yang baik. Hey, same here bro. Gue juga baru belajar dandan. Hahaha..he's asking the wrong queer.


Gue masih tetep hati-hati dengan jebakan tikus tapi hati gue luluh dengan cara bercerita dia yang sepertinya polos sekali tentang "masalah" crossdressing-nya. Gue tunjukkan kalau gue open-minded dan ngga takut sama sekali dengan ke-"unik"-an dia. Khan mengaku suka sekali dengan rok mini tapi belum pernah nyoba pake. Pakaian-pakaian perempuan yang sering dia pakai misalnya speerti stocking, sepatu hak tinggi sampai ssstt...celana dalam wanita hehe..Dengan ceria dia bercerita kalau pakai sepatu hak tinggi itu ternyata susah dan menyakitkan. Hahaha...I feel you, bro. Dia juga suka pake thong dan merasa dirinya seksi. Satu masalah yang menurut dia mengganggu, setiap dia membayangkan atau mengenakan pakaian perempuan, Khan pasti merasa terangsang. Bukan hal yang mengagetkan karena memang itu karakteristik utama seorang crossdresser. They got turned on when they wear women's clothes.


Ngga butuh lama untuk dia bercerita kalau dia pingin banget jadi Lesbian. Hence why he's in the lesbian chat room. Yep, dia pingin suatu saat nanti dia bisa jadi perempuan dan pacaran dengan perempuan. Dia pingin disayang oleh seorang perempuan yang memperlakukan dirinya sebagai perempuan juga. What a unique and interesting young man, I thought. Dia bukan hanya seorang transvestite (istilah psikologi untuk crossdresser), tapi juga transeksual. Hmm..berat..Ngga seorang pun dari keluarga maupun temannya yang tau keadaan dia. I imagine how lonely that must be. Khan bilang ingin berteman dengan gue. I'll be his boy and he'll be my girl =) Dalam bentuk pertemanan maksudnya. Kata dia foto gue bener-bener mirip cowok. Entah gue harus merasa tersinggung atau ngga...hahaha...


Sebenernya buat gue pribadi, kasus seperti Khan ini cukup membingungkan karena saat ini dia mengalami masalah transvestite tapi menggambarkan perasaan orang-orang dengan masalah transeksual. Kedua hal itu adalah keadaan yang sangat berbeda. Transeksual adalah orang-orang yang merasa jenis kelaminnya tidak sesuai dengan gendernya. Literally merasa terjebak di tubuh yang salah, di tubuh lawan jenis. Transeksual bisa terjadi pada laki-laki dan perempuan. Ngga ada yang salah atau dosa dengan perasaan mereka. Kalau dipikir-pikir kenapa ya tuhan menciptakan orang-orang yang jiwanya seperti tertukar dengan tubuh orang lain? Mereka ngga perlu menjalani trauma atau abuse untuk menjadi transeksual. Biasanya di usia 4 tahun mereka sudah "tau" kalau dirinya merasa ngga nyaman dengan tubuhnya.

Sedangkan transvestite (crossdresser) hanya terjadi pada laki-laki. Mereka tetap merasa dirinya laki-laki. Hanya saja memang ketika mereka mengenakan pakaian wanita, mereka akan merasa terangsang. Bahkan mungkin benar-benar ngga akan bisa ereksi kalau tidak mengenakan salah satu pakaian wanita di tubuhnya. Untuk kasus transvestite, umunya memang sering terjadi abuse atau trauma ketika mereka masih anak-anak. Menarik ketika Khan sempat bilang kalau semua laki-laki itu brengsek dan cuma bisa menyakiti wanita..I think something happened to him or his female family member.

Untuk kasus Khan ini gue agak bingung. Mungkin dia salah memberi label pada dirinya? atau memang manusia memang serumit itu sampai ngga mungkin dikategorikan sesederhana itu. Remember when I talked about labelling before? =)

Sekarang gue penasaran temenan dengan Khan. Harus tetep waspada dengan jebakan tikus, tapi darah psikolog gue lagi menggelegak! hehe...

Rabu, 13 Januari 2010

Melanie Chisholm

Gue ngga inget kami lagi membicarakan apa sampai tiba ke topik membicarakan Melanie Chisholm a.k.a Mel C atau yang dulunya dikenal dengan sporty spice dari spice girls. Waktu jaman-jamannya Spice Girls lagi menguasai dunia, gue fans berat Mel C. Sampai sekarang aja masih. Gue masih setia ngikutin album-album solo dia coz admit it, she was the one with the most singing part in any of the Spice girl’s song. Gue suka banget sama suara dia. Serek-serek becek seksi gimanaaa gitu. And back in the day, when I was a butch (haha), pilihan-pilihan pakaian Mel C bener-bener kiblat pakaian gue. Terlebih sepatu-sepatu larinya..ya oliiii...keren banget!

Saking tergila-gilanya dengan Mel C, gue punya satu papan stereoform yang diisi dengan guntingan gambar-gambar Mel C dari tabloid atau majalah. I guess I always want to be like her. Good figure, pretty, long black hair dan masih boleh tomboy dengan pakaian-pakaian sport. I always thought that she is the most beautiful spice of all! Dan tau apa kata lushka?? “Mel C kaya Kuda!” dan kalimat itu dia ulang-ulang entah berapa kali tadi. Kamu kalau ngomentarin muka orang ya mbok jangan asal gitu lho.




AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA......penghinaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnn.....!!!!!!!!

Yea, Ok, she made some points that actually true. Waktu gue akhirnya googling lagi foto-foto Mel C waktu jaman Spice Girls, she looks scary for me now. Kata Lushka lagi, “Harusnya Mel C yang jadi scary spice”. Hiks..hiks...kata-kata Lushka menusuk sekali. Emang sih, gue juga ngga suka waktu tiba-tiba dia cat rambutnya blonde dan potong cepak. Di-spike pula. And yes, gigi emasnya menggelikan. WTF were you thinking!? Tapi kan waktu dia masih pake kuncir kuda masih cantik..huks..

But that was the 90’s. And it was Spice Girls. Everyone’s all are out and about. Gue bahkan yakin Mel C lebay banget dengan gaya sporty-nya semata-mata ya tuntutan peran sebagai sporty spice. Hahaha...masih ngebelain juga gue. But you should see her now. Ayo sekarang buka Google dan ketik "Mel C"!. She looks GORGEOUUUSSSSSS....Gue selalu menganggap dia salah satu penyanyi cewek paling cantik and look at what an elegant women she has become. Mel C is now married and has a baby. Dan kalian harus liat waktu tour live concert reunion Spice girls 2008, dia masih tetep bisa tetep lompat-lompat dengan gaya tengil. And she was 34 years old...*nonton ulang di youtube rasanya mau pingsan gyahahaha...*

Ada satu moment yang paling gue inget regard of her gossip as a lesbian. Waktu itu ceritanya berita tentang keluarnya Geri Haliwell dari Spice Girls lagi hangat-hangatnya. Mel dikabarkan drop banget diantara semua spice girls. Dibumbui pula kalau hubungan mereka lebih dari sekedar temen. Waktu itu gue masih SMP dan masih bingung berat dengan orientasi gue. Ngedenger berita tentang Mel C seorang lesbian entah kenapa bikin gue malu ke sekolah. My idol is a lesbian! Secara ngga langsung kalimat berikutnya yang muncul di kepala adalah “temen-temen gue bakal kira gue lesbian!” hihi..talk about shame and being a homophobe back in the day. And it did comes up eventually. Seorang temen ada yang bawa salah satu tabloid berisi berita itu dan ngomong ke gue, “Nih, idola lo ternyata lesbi.” JENG JENG...gue ngga berani membahas gosip itu sama sekali. =P

Thank God she’s not a lesbian. Setelah bertahun-tahun digosipkan seperti itu akhirnya dia marah juga dan bener-bener ngebuat statement kalau dia bukan lesbian. Please dong..she dated lots of football players, Robbie Williams sampe J dari grup boyband Five (haha). And I believe that she is happily married now. Kayaknya ngga asik aja kalau dia jadi cewek stereotip. Tomboy dan homo. Bah. Anyway, Happy birthday Mel C!! Keep on singing. And Lushka, MEL C NGGA KAYAK KUDA. PERIOD.

GIRL POWERRRR RULESSS!!!!

Kamis, 03 Desember 2009

New Moon

Gue punya ekspetansi lebih dengan film ini dibandingkan dengan film pertama. Melihat trailernya yang kali ini lebih menjual daripada trailer sebelumnya, kesannya menawarkan adegan action yang lebih banyak. Turns out ya datar-datar aja. Bahkan menyakitkan buat gue nonton. Literally.

Akting R.Pattz dan K. Stew masih tetep kayak orang nahan sakit atau nahan Buang air besar. Mengerenyit, mendesah, buang muka, terbata-bata. Painful to watch. What? mereka mencoba menggambarkan rasa sakit di hati mereka? Rasa ngga bisa nahan diri to jump at each other and have sex? menahan diri ngga makan pacarnya idup-idup? Well, they failed.

Seperti buzz banyak twihard akhir-akhir ini, kalau gue disuruh milih team Jake atau team Eddie, definitely Jake. Aktingnya jauh lebih natural walaupun ukuran idungnya cukup menyita perhatian gue. dan badannya...masyaAllah ya robbi....yang gue suka dari film New Moon cuma banyaknya para pria bertelanjang dada dengan perut berotot *ngiler*. Mau sewot sih, kenapa juga mereka harus ngga pake baju kemana-mana? Katanya daerahnya sering ujan? Karena biar ngga ngerusak baju pas berubah jadi serigala? Tetep aja buat gue ngga masuk akal. But again, I'm not complaining (much) for those breathless (and breastless) moments =D

Lagi-lagi contoh betapa buruknya suatu adaptasi buku ke dalam film dipamerkan oleh New Moon. Gue yang ngga baca novelnya aja tau kalo semua masalah ditumplekin dalam waktu 2 setengah jam. Mau-ngga-mau-ngga-sakit-putus-mau-ngga-sakit-mau-putus-jadian...jeng, jeng, jeeeeeennngg...jangan lupa dengan akting "kesakitan" robert dan kristen. Gue beberapa kali harus ngingetin diri untuk narik napas meregangkan otot. Gue bisa ngerti emosi apa yang berusaha diceritakan, tapi gue malah end up kesakitan sendiri berusaha memaksakan ngerasain emosi para tokohnya. Mereka sama sekali ngga berhasil. Mungkin lebih baik mereka buat twilight dalam bentuk broadway. Terserah kan mau berapa lama dan diperankan para aktor yang ngerti dengan tata cara akting mengekspresikan emosi.

Tapi di film ini gue jadi lebih memperhatikan seorang Alice Cullen dan berharap Bella pacaran aja sama dia hehehe...adegan ngobrol di sofa rumah Bella malah bikin gue menghayal kalau mereka tiba-tiba kissing and bye bye Eddie or Jake. *sigh* cari fanfictionnya ahhh....hahaha..

One thing for sure, mereka sudah memperbaiki adegan berantem di film pertama yang terlihat seperti teknologi film seri jadi film theater. Really do reminds me of Harry Potter's. Mulai main sama CG malah terlihat amatir. Gue masih ngga habis pikir untuk novel yang terjual 17 juta kopi dan digilai banyak orang, mereka ngga mau habis-habisan dalam pembuatan.

Gue juga ngga bisa menahan diri menganalisa kepribadian Bella. Cerita di film ini nunjukkin kalau Bella emang sakit. Have you seen a girl dengan withdrawal begitu parah ditinggal pacar? lesbians? gue punya seorang teman dekat yang perilakunya persis dengan Bella. Sulken, menarik diri, mimpi buruk etc ketika putus and she has problem with her mental health. Ini ditambah dengan jadi adrenaline junkie dan melihat bayangan pacarnya yang ngga ada dimana-mana....kekekeke...dia siap untuk direhabilitasi ke rumah sakit jiwa. Dia apa yang disebut dengan memiliki "ego" lemah. "ego"nya bolong-bolong digerogotin "id". jelas dia mengalami depresi (ini depresi beneran, bukan depresi kayak yang elo-elo pada suka ngaku-ngaku). Loh kok malah analisa kepribadian hehehe...

Gue suka dengan ide dan cerita twilight. Klan Vampir versus klan Werewolf akan selalu jadi bahan yang menarik buat gue. Tapi ngga ada yang brilian atau original dari cerita ini. Underworld was the bomb. Untuk cerita vampir (doang), polling eonline jelas memenangkan Buffy the vampire slayer. Just another love story yang disukai cewek-cewek penggemar sinteron atau telenovela. Jangan dibesar-besarkan sebagai story of the century lah. Tentunya karena gue cewek, gue ngga bisa memungkiri suka dengan cerita cinta yang berlarut-larut dan dramatis. Kebetulan lagi abis nonton banyak film horor dan thriller. New Moon bisa jadi penyeimbang yang cukup baik. Bahkan sambil nonton adegan terakhir, gue inget pernah di posisi Jacob gyahahahaha.....tapi belum ada satu pun adegan atau cerita twilight yang bikin gue mengerjap-kerjapkan mata, mengerenyitkan alis dan mengatakan "oh so sweet". Film ini jelas lebih baik dari yang pertama dalam hal perkembangan jalan cerita (dalam arti lebih banyak bukan lebih baik hehe). Gue akan mengikuti twilight saga, tapi gue sama sekali ngga berminat baca novelnya.

Senin, 12 Oktober 2009

I hate wedding reception

Di umur-umur gue sekarang ini temen-temen sekolahan gue lagi ganas-ganasnya hobi menikah. Dalam sebulan, minimal ada 2 jadwal pernikahan temen. And it’s suck for me.

Dari kecil gue udah ngga suka dengan acara resepsi pernikahan. First, itu adalah acara paling membosankan. Dalam pandangan Mithya kecil, resepsi pernikahan adalah: ngasih uang, setor muka ke pasangan pengantin, cipika-cipiki, makan berdiri, basa-basi dengan kenalan terus pulang. *sigh* Dari kecil gue udah ngerasa ada yang salah dengan yang namanya acara resepsi pernikahan.

The second problem is my mom would like to dress me up. Mungkin untuk gadis-gadis kecil lainnya terasa menyenangkan mengenakan sepatu hitam manis, gaun pesta dan mungkin pita besar di kepala. Buat gue itu menyebalkan. Keadaan paling ribet adalah waktu mempersiapkan diri ke acara resepsi pernikahan. Gue bahkan cukup takjub dengan teman-teman gue yang bisa menghabiskan waktu 3 jam di salon untuk mempermak rambut dan make up untuk berdiri selama 2 jam di aula, berperan hanya sebagai tamu. *I'm actually rolling my eyes now*

Beranjak remaja ritual pergi ke resepsi pernikahan semakin jadi mimpi buruk. Gue PASTI dan SELALU (dobel tuh sekalian biar lebay) berantem dengan nyokap karena gue ngotot pergi dengan pakaian santai. “Astaga, Mithya mau pake baju itu!?” “Kamu mau pake sepatu yang mana??” “Sini mama make up dulu!” *nyolok-nyolok tenggorokan*. Setiap resepsi pernikahan pasti ribut dan itu menambah rasa benci gue sama yang namanya resepsi pernikahan. Gue kayak alergi dengan baju-baju pesta perempuan. Setiap hadir di resepsi pernikahan gue bakal sesak napas dan mulai banjir keringat karena canggung. Gue pasti jadi pusat perhatian. Gimana ngga, Mithya yang tomboy dan kayak laki itu dateng dengan full make up dan dress cantik. Lalu gue akan dikerubungi temen-temen yang takjub dengan penampilan gue malem itu. EVERYTIME. Get over it!! Masak mau setiap gue dateng ke resepsi pernikahan mereka harus selalu kaget??

Gue ngga terlihat kaya dakocan, pemain lenong atau waria kok. A lot of people said that I am beautiful kalo mau didandanin dan pakai baju feminin. But it’s just not me. Gue ngga nyaman dengan semua itu.

Suatu ketika gue pernah nekat dateng ke kawinan seorang teman berpakaian rapih aja. Kaos berkerah untuk ngantor dan celana bahan. Menurut gue saat itu, pakaian gue udah sopan dan “resmi”. Tapi ternyata ngga menurut beberapa temen gue. Mereka berkomentar, “Lo abis pulang kerja? Pakaian lo santai banget”. Jleb..jleb..jleb...rasanya kayak ditusuk-tusuk daging kambing alot. Wow. Ternyata benar kata nyokap gue. Pakaian yang gue pikir udah formal itu ternyata ngga cukup untuk dipakai ke resepsi pernikahan. Alas, akhirnya gue harus menerima norma masyarakat yang satu ini. Malem itu gue sadar kalau pakaian yang gue kenakan juga menunjukkan seberapa respect gue dengan temen yang punya hajat. Akhirnya gue dengan legowo mau dandan dan mengenakan “pakaian perempuan”. Sayangnya masalah gue ngga berhenti disitu.

Dari hasil pengamatan pribadi, yang namanya resepsi pernikahan mulai masa kuliah adalah ajangnya membawa pacar. It wouldn’t be a problem when I have a boyfriend at the time, tapi kalau partner gue lagi cewek?? AAAARRRRGGGHHH...ya, lingkungan gue emang secupet itu. Secara ngga sadar memang ada semacam ajang pamer pasangan. Resepsi pernikahan berubah jadi ritual mengerikan berisi wanita-wanita aristokrat yang membawa piaraannya untuk dipertontonkan.

Mungkin pemikiran gue terdengar dangkal, tapi pada kenyataannya ya lingkungan gue seperti itu. Sebagai perempuan lo harus dateng dengan pakaian wah beserta dandanan dan rambut tercantik sambil menggandeng seorang pria. Terserah pria-nya berbentuk apa. Dulu mungkin gue ngga perduli. Tapi sekarang muncul perasaan kalau gue juga mau pamer pacar gue. Karena gue punya pacar yang hebat dan gue sayang banget sama dia. Gue bangga punya pacar bernama Lushka tapi ngga bisa gue pamerin ke siapa pun....

So, any gay marriage that we can attend to, gays? Hehe..

For now Mithya harus dateng tanpa pacarnya mengenakan pakaian perempuan lengkap dan dandanan tebal, berusaha menjadi cewek-cewek kebanyakan disekitarnya.

Selasa, 14 Juli 2009

tobat jadi lesbian ? - http://www.narth.com -

Bok, http://www.narth.com adalah satu organisasi yang katanya bisa membantu bertobat dari perilaku homoseksual.



NARTH MISSION STATEMENT
We respect the right of all individuals to choose their own destiny. NARTH is a professional, scientific organization that offers hope to those who struggle with unwanted homosexuality. As an organization, we disseminate educational information, conduct and collect scientific research, promote effective therapeutic treatment, and provide referrals to those who seek our assistance.

NARTH upholds the rights of individuals with unwanted homosexual attraction to receive effective psychological care and the right of professionals to offer that care. We welcome the participation of all individuals who will join us in the pursuit of these goals.


Tertarik?
Well, feel free. Ini hidup lo, dunia lo dan masa depan lo.

Jangan merasa terjebak, terprovokasi, termakan isu bahkan merusak diri lo hanya karena satu keadaan.
Gue dan Mithya - ga ngeklaim diri kita murni lesbian tapi juga ga menolak kenyataan kalau saat ini gue berdua dalam hubungan sesama jenis. And we're happy on it.

Point gue, jangan tutup mata untuk semua opsi. Kalau sekarang lo menjadi lesbian dan merasa tidak nyaman, coba cari tau cara copingnya. Karena kebahagian lo tergantung sama elo, bukan orang lain. Bukan hasil denial.

Sekali lagi, jangan tutup mata, otak dan hati. Jangan cuma baca Fried Durian atau blog-blog lesbian yang tampak hijau dan menjanjikan kebahagiaan. Mungkin gue berdua atau pasangan lainnya yang ngeblog bareng tampak baik-baik saja. Jangan termakan euphoria kami. Cari kebahagiaan kalian sendiri.

Coba baca link dari Narth, mereka bilang being gay or heterosexual is a choice.
Kalo ternyata lo gay dan nyaman on it. We are happy for you.
Atau kalau ternyata lo gay curious dan lebih sejahtera menjalani sebagai hetero. We are happy for you.
Kalo lo terus baca fried durian sedangkan lo hetero dari awal dan tak berniat menjadi homo sesudahnya. Kami juga bahagia untuk itu. Hehehe.
*Gue ngomong apa sih???*


GILRS, use your brain, heart, mind dan jangan lupa Tuhan.

Rabu, 17 Juni 2009

America's Next Gay Top Models


I"ve been a fan of ANTM (America's Next Top Model) sejak cycle 5. Semenjak itu gue cukup ngikutin kalau ngga lupa dengan jadwalnya yang aneh di V channel. Since then I realize kalau diantara para kontestan calon model ini udah kesebut beberapa kali bahwa mereka openly gay. WOW...these are the few women yang punya profesi dan cita-cita jadi model terkenal di seluruh dunia dan mereka gay. Mungkin di luar sana lebih banyak lagi, gue kurang tau juga.

Masuk akal sebenarnya. To be a model you gotta love yourself. You gotta love women! Tapi yang gue suka dari mereka adalah they stick to their true women self. And God Damn they're beautiful! Apalagi alasan utama gue nonton ANTM kalo ngga buat ngeliatin cewek-cewek cantik hahaha...I'm amazed with these women.

Nilai plus dari reality show ini adalah ngajarin orang bahwa ngga bener yang namanya model itu brainless. Para kontestan ini juga ditempa untuk memiliki kepribadian yang oke selain memperbaiki sikap. You dont want bitches as a top model wontcha?

Sejauh ini kalau gue ngga salah hitung, udah tercatat 2 lesbian, 1 queer, dan 1 bisexual women di acara ini. The lesbians would be Kim Stolz & Megan Morris (the short hairs girls), the queer would be Michelle (top right picture) dan the bisexual would be Leslie Mancia (down left picture). Sebelum mereka announce that they're gay aja gue udah ngiler-ngiler ngeliatin mereka.

Buat yang belum pernah nonton, coba deh. Udah banyak kok DVD-nya. Atau yang punya TV kabel, cek jadwalnya di V channel setiap Senin atau Kamis malam. You might learn a thing or two from it. Most important thing of all is learning to love yourself as a women. That WE ARE FUCKING BEAUTIFUL just being a women. pssst..the straight models are heavenly beautiful too..hehehe

Sabtu, 07 Februari 2009

MIND YOUR OWN BUSINESS, PEOPLE!


Pagi-pagi, kakak gue masuk kamar gue nan gelap gulita itu..mendapati gue lagi megang-megang hape * lagi blogwalking, maen game*..dia mau minta kertas A4

Sambil terus jalan sesekali melompati ranjau *jacket, tas, botol aqua, earphone, kotak cd, dia komentar, 'Kamu telponan ama siapa sih? Misterius..pacar ga pernah dikenalin. Tapi telponan terus..Misterius"

Disini ngejawab .."ih, emang sekarang lagi telponan? emang hape cuma buat telponan?"
Disana ngebales, "abis kamu tiap hari pegang-pegang hape mulu....", sambil keluar kamar.
Disini (dalam hati).."dari pada pegang-pegang titit..hihihihihi...ga punya dan ga pengen juga".


Oh, jangan sampai pagi-pagi meradang...dear gawd!!
MIND YOUR OWN BUSINESS, PEOPLE!


*ini orang yang sama, yang suatu siang setelah gue pulang ketemuan ama Mithya, dia bilang 'you slept with her, ya...?!!'...huehahahahhaha...dengkul gue langsung lemes, dalam hati ngejawab lirih 'iyeeee...'

*orangnya drama banget ya, perhatikan penggunaan kata misterius.. hehehehehe.

Sabtu, 01 November 2008

Nista oh sungguh nista…


*gossip mode on*. Mithya, kamu berdiri di pojok aja! Dan jangan nyengir!!..hehehe
Ga deng Ayangggg..kamu boleh ngapain aja, asal ga bugil2an..porno! udah ada UU’nya thu, aku ga ikhlas kamu ketangkep. Hihihihi

By the way-any way- buss way….
Gue mau curhatttt…Gue tadi diketawain Mithya, gara-gara gue cerita kalo tadi gue lunch bareng Boss dan teman2 kantor. FYI, si Pak Boss ini emang lumayan murah hati ama gue, dduh tak usah kusebutkan apa saja kebaikannya, Mithya thu sampe curigesyen ada udang dibalik batu (kenapa batu sihh? Emang udang sembunyi di batu? Halah..ga penting).

Jadi tadi sambil makan dan ngobrol ngalor ngidul soal science (iya ini orang hobby membagi pengetahuan – dan kebetulan gue bisa banget pasang muka bego dan tertarik dengan segala petuah bijaknya hehehehe) Pluuuuss…gue juga mantan sekretarisnya dia yang paling lama bertahan, jadi dianggap gue cukup mengerti dia.Gue berasanya dia suka nganggep gue kaya anaknya.

So, dari cerita segala macam technology dan penelitian anaknya (anak sulung, cewe dua tahun lebih muda dari gue, sekarang ngambil beasiswa master di German dan udah dapet lab sendiri, canggih.). Dia ngeh kalo gue pesen chicken curry..nah makin lah dia ngerasa gue anaknya…”oh, itu chicken curry ya?..Ratri (anaknya yang sulung) juga suka banget ama curry..padahal saya dan ibunya ga ada yang suka makan curry”..Kayanya juga ditambah dia tau gue udah jauh dari ortu dari lulus SD, mirip ama si Ratri. Bahkan kalo Ratri kepisah negara, gue kan cuma pisah kota.

Kayanya tadi dari bersepuluh orang yang duduk di meja makan, yang ngobrol tek-tok cuma kita berdua hehehehe…Udah ni, selesai makan, beli JCO dan Breadtalk buat sekantor. Balik ke kantor. Sampai kantor, baru sebentar, kita meeting divisi.
Ber-8.

Kelar meeting, semua bubar, gue balik ke meja, telepon di meja bunyi, dari ext 105, sekretaris direksi, gue dipanggil ke ruangan si Boss. Yaaaaah, baru juga duduk.
Turun ke bawah, sekretarisnya mouthing “udah ditungguin..buruan”. Masuklah aku.

Duduk di kursi depan dia, ternyata dia udah siap-siap mau cabut.
“Eh, gini Lush…saya ga mau gimana-gimana…”.
waddduh, kenapa ni, dalam hati gue.
“Saya perhatikan, rambut kamu mulai menipis yaaa….”
*dzzziiing……gue megang ubun-ubun…nyengir-nyengir ga jelas..’hehehe..iya Pak”
“Si Christa (anaknya no.2) juga sama, gini kamu pergi ke Erha, buat perawatan..Memang, pasti butuh waktu…juga biaya. Tapi kamu pergi saja, nanti biayanya saya ganti…”
“Iya Pak… makasih”
“Ya udah, itu saja..Kamu tau kan Erha dimana? Yang deket aja”
“Iya Pak..makasih”

Keluarlah kita bersama…gue malu campur seneng..Oh rambutku, kau sungguh nista!!!

Sampe di meja cerita ke Mithya, dia malah ngakak…di sela-sela cewawakannya dia bilang, dddoh kaya pacaran ama Bapak-bapak “perut ndut, pala botak”…kurang ajarrrrrrr.!!!

Kamis, 14 Agustus 2008

I am a Fag Hag

Fag Hag: Also known as Fruit Fly and Queer Dear. This is a woman who prefers the company of gay men because she recognizes their effervesence, incisive wit, and sheer brilliance regarding the human condition. This woman appreciates the fact that gay men know how to drill down to the bittersweet core of an issue and make light of it where necessary, and simultaneously make dark humor of it where otherwise necessary. It is a gift that comes from being an outsider: rather than lying down and taking a beating, as some do, the exaulted gay man rises from the ashes and finds the ridiculous glory in being an outsider. In this endeavor, he seeks the company of a woman, and she of him...because regardless of intentions, women and men enjoy the company of those who feel "right" to each other. Because this type of woman is generally spoiled by the general delightfulness of gay men, she may scorn straight men for their lack of personality and overall dullness. . -http://www.urbandictionary.com/

Jarang yang tau istilah fag hag kecuali fag hag itu sendiri. Gue sendiri udah jadi fag hag dari SMP tapi baru tau istilah ini sekitar setahun yang lalu. Ada yang bilang kalo fag hag itu sebenernya salah satu bentuk kelainan seksual. Tapi kalo gue aja udah punya pacar cewek, pernah punya pacar cowok, mau kelainan seksual apa lagi? Hahaha...

I’ve been interested with gay guys semenjak gue suka dengan perhatian cewek-cewek ke gue jaman SMP. Waktu itu gue nyari tau banyak tentang yang namanya homoseksual di internet. Coz I really need to know am I one of them. Of course istilah gay dan homoseksual kalo di internet pada saat itu banyak banget merujuk ke gay men.

Kalo udah masukin keyword gay di internet, 10 listing pertama pastinya didominasi sama website-website porno mereka. Out of curiousity I surf the gay porn web and wet myself, literally. Hahaha…

Ketertarikan gue sama gay men ngga jadi suatu hal yang menakutkan atau menyenangkan buat gue. Biasa aja. Gue udah terlalu banyak ngerasain hal-hal yang aneh seumur-umur, jadinya buat gue ini cuma some kind of a new interest aja. Didukung sama kesukaan gue dengan komik-komik (manga) dan kartun (anime) jepang, gue dikenalin sama yang namanya tema YAOI sama temen SMA gue yang juga fag hag. YAOI ini artinya boy love boy atau biasa disingkat BL sama orang bule di industri manga/anime jepang. My first YAOI anime was Gravitation. Cocok banget sama kondisi gue saat itu karena cerita anime ini adalah tentang seorang cowok yang tiba-tiba baru ngerasain falling in love dengan seorang cowok yang lebih dewasa dan cool. I gradually fall in love with both of the character. Shuichi adalah bentuk diri gue yang baru mengenal YAOI dan adalah Yuki bentuk perfect gay man that I would easily fall for. Mulai dari gravitation itu gue nyari tau lagi anime dan manga yang bertema YAOI dan mulai mengkoleksi YAOI.

Tapi lama kelamaan gue bosen dong sama kartun dan mulailah gue masuk ke dunia nyata. All those porn gay website mulai bikin gue penasaran sama the real live human size gay men. Setelah menjadi seorang otaku YAOI selama bertahun-tahun gue akhirnya menemukan cinta sejati gue: Queer As Folks. Gue tau tentang TV series ini dari internet dan niat banget nyari di setiap tempat penjualan DVD. And I got it. My first QAF series gue beli di Ratu Plaza dengan harga barang Impor. I didn’t care it was more pricey than the regular DVD. I love it!

Semenjak ngikutin QAF, gue makin yakin kalo gue emang ‘sakit’ sama yang namanya gay men. Gue mulai ngoleksi semua DVD gay yang keluar di Indonesia. Gue juga punya koleksi porn gay men yang lumayan di laptop, hehehe…Gue tau istilah fag hag dari film Eating out yang gue beli setahun yang lalu. Di kuliah ini gue makin banyak nemuin fag hag dan dengan senang hati gue membanjiri mereka dengan koleksi-koleksi gue. Hahaha...

What do I like from gay men?

Hmm…as a girl, I do still like Mr.P. Tapi biar cowok lain yang pegang-pegang dan gue yang nonton. Soalnya gue geli, hahahaha….gue bener-bener suka dengan badan-badan bagus yang dimaintain sama para gay men itu. Gue bisa klepek-klepek kalo ada gay men yang cowok banget dengan sentuhan feminin yang tipis. Sedangkan drag queen-nya? As long as their not too bitchy, gue masih bisa gemes banget. Like Emmet di QAF atau Joey di Boy Culture. Duh, cowok-cowok yang bisa ngeluarin sisi femininnya tanpa perlu mikirin ego? That's what gay men best at! And they are sooooo romantic you know. Bahkan untuk ukuran film porno, gay men masih bisa keliatan like their doin it with heart. Hahaha..oh nooo…I am a fag hag!

Favourite gay men from Indonesia?

Definitely Ivan Gunawan! Dari awal dia muncul di TV gue sukaaaaa banget. Terserah deh dia ngga ngaku kalo dia homo, coz may gaydar is rising to the top when I see him. Beberapa kali gue sempet ngeliat dia di Mall waktu badannya kurus. And OMG!!! Tinggi, putih, tegap, cantiiiikkk...hihihi.....Lushka geli banget nih kalo gue lagi keluar penyakitnya suka sama gay men. Dia ngga pernah ngerti dimana letak menariknya para gay men itu. Apalagi sama Ivan Gunawan, katanya dia ngga suka sama personality-nya. Well, untungnya gue ngga pernah denger apa yang Ivan omongin di TV and just keep staring at his beautiful posture.

Lesbian blog overseas are better

Semenjak punya blog di blogspot.com gue jadi sering browsing ke blog-blog lain, khususnya yang bertema gay. Setelah hampir sebulan main-main akhirnya gue punya kesimpulan kalo blog lesbian luar negeri jauh lebih menarik dari blog lesbian indonesia.

Why?

Karena para lesbian luar ini ngga kaku dan ngga ngomongin hal-hal yang berbau homoseksualitas mulu, khususnya Lesbianism. Bahkan tema lesbian ini paling kesebut hanya di setengah postingan mereka dan sisanya adalah kehidupan mereka sehari-hari ya sebagai wanita, pekerja, atau manusia pada umumnya lah.

Sedangkan lesbian di Indonesia kalau buat blog isinya tentang curahan perasaan yang tenggelam timbul di lautan yang itu-itu aja, berita-berita yang kesannya para hetero lagi memerangi homo, teriak-teriak terus tentang persamaan hak dan kemajuan lesbian di Indonesia. Pingin gue bekep, iket, masukin karung, terus gue lempar ke selat Jawa.

Hhhh...capek banget bacanya. Muak! Muak!

Iya, I know kalo lesbian luar mungkin dengan mudahnya mengintegrasikan dirinya di satu tempat. Jadi satu blog ya keseluruhan hidup si Lesbian luar tanpa harus membatasi diri bercerita about who or what she is. Jadinya kita disuguhi ceria yang bervariatif dan dengan cara bercerita yang ringan plus humoris.
Sedangkan di sini para lesbian masih banyak yang bersembunyi. Bahkan kayaknya gue belum nemu deh blog lesbian Indonesia yang terang-terangan menunjukkan identitas dirinya. Misalnya satu blog berjudul http://www.anihetero.blogspot.com/ adalah tentang si Ani, 20 tahun, seorang mahasiswa, dan memiliki 3 bersaudara. Nanti dia buat lagi blog khusus berjudul www.anihomo.blogspot.com yang berisi tentang kehidupan lesbiannya dan segala hal yang berbau lesbianism.

I am no different. Karena gue Les..eh..queer Indonesia, hehe...Tapi setidaknya gue mau buat blog gue dengan Lushka ini ringan dan ngga bikin capek yang baca. Ngga pingin teriak-teriak tentang persamaan hak dengan hetero karena setiap orang itu punya keunikan sendiri dan ngga penting-penting amet sama yang namanya kebebasan suatu kaum. Gue cuma pingin jadi cewek yang punya pacar cewek dan gue juga manusia normal yang sama aja dengan semua manusia yang ada di muka bumi ini.

Ngga penting memperjuangkan hak hanya karena orientasi seksual yang berbeda kalau masih banyak hal yang lebih penting untuk diperjuangkan. I always thought kalau nantinya gue bisa bikin sedikit perubahan di dunia, make people proud or honour me for what I am, dan nanti suatu saat gue bisa bilang dengan tenang, “Hey, I have a girlfriend loh! Not such a freak am I?”