Halaman

Tampilkan postingan dengan label bisexual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bisexual. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Agustus 2010

Beloq? Siapa? Gue? Elo kali

Nyambung tulisan Mithya di bawah, gue iseng nge-google "anak belok" dan dapat artikel berikut: belok kemane? kenape?
Sumpah ngakak-ngakak gue baca artikel plus commentsnya, gue forward linknya ke Mithya dan beberapa contact lainnya.
Ternyata reaksi Mithya berbeda, kalo dia malah mau mere - karena campy  alias kampungan. Hihi. 
Well, it is. *Grin*. Tapi ini fenomenal. Apa yang terjadi sebenarnya, perempuan-perempuan ini melek internet tapi kok cetek? ccck.cck.
 Informasi yang dihimpun dari para Belok Kota Padang, kelompok lesbian alias Belok di Indonesia yang paling banyak adalah di Kota Bandung. Tak heran beberapa Belok Padang memiliki pacar di Bandung dan sesekali mereka berkunjung ke sana.

--  beuuuuh. Bandung digoyaaang! hihihi. Padahal sebenarnya ke Bandung kan pada pengen belanja di FO. hehe
Ini comment fenomenal :
38 aim kudus Rabu, 17/03/2010 12:47 WIB
gw buchi jateng usia 17 th carii cewe yang mau di ajak hidup bareng. hub 085641616xxx contac fb; xxxxx@ymail.com
(man! 17 tahun! pengen living together, ngekost bareng kali, buat hematttt....ya kan ya kan?)
35 aline bandung Rabu, 07/04/2010 10:18 WIB
gw aline,bwt cewek"butchi yg ksepian,call gw,gw la butuh sosok yg baek,perhatian,mau berbagi,and mu biayain gw..call w z,(022)93xxxx
(butchi kesepian dan kere! masa minta dibiayain??! situ cantik?! cck cck.)
23 gw liena bali Sabtu, 01/05/2010 19:13 WIB
gw bner2 butuh anak belok..plizzz hub gw dgn cara kirim pesan di fb gw..ne alamat'a xxxxxx@yahoo.com
(nah ini kayanya ibu-ibu pengen ngadopsi anak belok.hehehe)
--
Oh man. Parah bangettttttt.
Apa yang bisa kita lakukan untuk menyadarkan mereka ya? hmmmm...tanya tetangga?

Minggu, 15 Agustus 2010

I’m not confused, OK

Kadang gue masih ngga ngerti dengan para homoseksual yang mengatakan para biseksual itu aneh. Well, guess what? Gue juga ngga ngerti dengan konsep menyukai seseorang karena jenis kelaminnya. Gue udah pernah bilang, gue ngga pacaran sama penis atau vagina seseorang. Gue pacaran dengan orang itu secara keseluruhan. Yes, gue ngga paham dengan apa yang dirasakan para homoseksual atau heteroseksual. Tapi gue ngerti, dari jenis kelamin itu, manusia terlahir dengan hormon-hormon tertentu yang sangat mempengaruhi bagaimana seseorang berperilaku. Apakah dia akan lebih condong ke hal-hal feminin atau maskulin. Begitu juga dengan daya tarik. Secara hukum alam, feminin akan tertarik dengan maskulin (gue ngga menggunakan kata-kata pria dan wanita, mind you). So, I guess mungkin orang-orang biseksual atau queer kayak gue hormonnya seimbang? Atau cukup seimbang sampai kami bisa menikmati feminisme dan maskulinisme? I dont know, ini cuma pemikiran asal aja. Belum pernah ada yang bisa memecahkan masalah orientasi seksual manusia. Freud did once said kalau seksualitas manusia sebenernya fleksibel. Gue termasuk penganut hal itu. Somehow gue percaya kalau kita ngga ada aturan untuk jadi hetero, manusia akan lebih bebas milih pasangan hidupnya tanpa harus memikirkan jenis kelamin seseorang terlebih dahulu.

Let's talk hypothetically. Membicarakan orientasi seksual ngga akan terlepas dari kegiatan seksual dong. Tubuh kita ini kan sebenernya "benda" yang berisi milyaran syaraf. Kalau pertanyaannya "what can turn you on?" Jawaban orang bisa berbeda-beda. Tapi let's say, kita tutup mata kita dan let someone (tanpa kita tau jenis kelaminnya) touch us in those places that turns you on. Ngga ngaruh kan orientasi lo sekarang? Boys will get stiff and girls will get wet. Tubuh kita cuma merespon. Makanya, kalau balik ke hormon yang gue sebut tadi, dibantu dengan mata yang bisa melihat, otak untuk memilah personal reference, serta doktrin agama atau peraturan yang ada di masyarakat, barulah kita akhirnya "memilih" dengan lebih baik pasangan ehm seksual kita.

Manusia juga terlahir dengan kemampuan mencintai keindahan. Bahkan keindahan itu aja subjektif kan? Gue suka keindahan pantai dibandingkan pegunungan. Gue lebih suka keindahan cipratan darah dibandingkan lukisan abstrak dan seterusnya. Dan gue menemukan keindahan baik dari sisi feminin maupun maskulin. Terlebih di perempuan yang sisi maskulinnya terlihat (tapi jangan berlebihan yaaa..just enough to make her look strong and independent) dan begitu juga sebaliknya di pria yang ngga takut dengan sisi femininnya (again, ngga berlebihan tapi ngga takut dengan yang namanya menunjukkan perasaan, ngga takut pake baju pink etc). I guess for me it’s all just as simple as how beautiful a person is. Baik apa yang di dalam dirinya dan apa yang terlihat di luar. Terlalu banyak keindahan di dunia yang sangat sayang untuk ngga dinikmati hanya karena masyarakat meminta label. “Oh, gue hanya menikmati film romantis” “oh, gue hanya menikmati film aksi” I can’t be that person. There’s always something we can enjoy from everything. Dan gue tau ini juga ngga berlaku untuk semua orang. Berapa kali harus gue ingatkan betapa kompleksnya manusia? Satu manusia ngga hanya punya satu kepribadian mutlak. Satu manusia bisa nunjukkin ratusan emosi. For the love of God, humans are such a beautiful creature. Bagaimana mungkin bisa gue sederhanakan hanya ke apa yang ada di antara kakinya.

Contohnya ya kalau ngomongin fisik. Gue suka banget dengan flat abs. Di perempuan, flat abs are curvy sedangkan di laki-laki akan lebih berotot. And I found both extremely sexy. Atau bentuk rahang perempuan yang lancip sedangkan laki-laki lebih bersiku. I dont know, gue ngga bisa menjelaskan “beauty”. Siapa yang bisa, coba? Both sex punya kelebihan yang sama-sama bisa gue nikmatin. Kalau ngomongin personality..I’ve talked about this in the previous post.

Gue masih menemukan para homoseksual yang mengatakan bahwa biseksual (atau queer) adalah orang-orang bingung. Gue kira ini pendapat yang cuma ada di luar negeri (how naive I am), ternyata gue menemukan beberapa homoseksual disini pun berpikir begitu. Well, I’m not dear. Some bisexual, might. But not all. Gue hanya menikmati keindahan tanpa harus dibatasi apa pun. Mungkin kalau di tahun 60’an gue masuk golongan Hippie hahaha...Bahkan kadang gue berharap hidup di masa para filsuf Yunani. Masa dimana konsep dan ide dihargai untuk menghidupi kebahagiaan manusia dan bukan sibuk menghujani diri dengan keterbatasan. Ini bukan usaha rekrutmen lo semua menjadi seorang queer ya (insert toaster jokes here), gue mau sharing apa yang gue rasain aja sebagai salah satu queer yang dikira bingung sama para homoseksual yang otaknya sempit. Kalian ngga lebih baik dari para homophobia kalau cara pikirnya masih seperti itu. Oh and dont let me start sama para homoseksual yang heterophobia! *groans*

Gue ngga akan melihat orang-orang yang berbeda orientasi seksual dengan gue dan mengecap mereka dengan sifat "aneh" atau "bingung". Gue melihat kalian cuma sebagai variasi manusia yang setelah menginjak masa dewasa punya alasan dan pilihannya sendiri. Semoga kalian juga bisa melakukan hal yang sama ke orang lain.

Sabtu, 14 Agustus 2010

Reconnecting

Dibandingkan dengan diri gue yang dididik dengan gaya militer dan mengutamakan kesempurnaan oleh bokap, adek gue ngga sempet ngerasain tumbuh ke usia remaja dengan “dibimbing” bokap. Bokap ngga dirumah semenjak dia berusia sekitar 6 tahun. Dia lebih banyak dibesarkan oleh gaya asuh nyokap yang jauh lebih santai dan mau ngga mau dipengaruhi dengan pandangan androgynus gue. Feminitas dia juga udah terlihat dari kecil. Bukan yang model kemayu atau lenje, tapi dia sangat memperhatikan penampilan mulai dari rambut sampai kesesuaian warna pakaian. Menggunakan produk-produk bermerek untuk perawatan tubuh juga udah dimulai dari SMP. Temen-temen gue sering bercanda kalau jiwa gue sebenernya kebalik sama ade gue. Harusnya gue yang jadi cowok dan dia yang jadi cewek, hehe..

Berhubung kita cuma dua bersaudara, dan gue masih punya sisi maskulin untuk mengganti peran bokap yang ngga ada dirumah, gue dan adek gue cukup deket. Walaupun usia kita cukup jauh, sifat childish gue juga ngebantu dia untuk bonding sama gue. Kita biasa ngobrolin games atau main games bareng, ngebahas film, mainan-mainan cowok dan punya selera musik yang sebagian besar sama. Ada masa-masanya gue adalah idola dia. The cool sister. Tapi seiring usia kita yang sama-sama semakin dewasa, prioritas hidup pun berubah. Gue fokus dengan kuliah dan teman-teman kuliah sedangkan dia memasuki masa remaja yang fokus ke geng pergaulan remaja gaul jaman sekarang. Bisa dibilang dia apa yang sering kita sebut “pentolan” jaman sekolahan dulu, hehe..Punya reputasi playboy karena gonta-ganti cewek tiap beberapa bulan sekali (ini juga kata temen-temen gue turunan gen bokap langsung ke gue dan ade gua haha). Kita masih deket, tapi koneksi yang dulu pernah ada, agak sedikit tulalit dan putus nyambung.

Di masa-masa keadaan psikologis gue yang ngga baik, ade gue jadi salah satu korban langsung. Masa-masa emosi gue paling ngga stabil, dia karung sansak gue. Semua kemarahan gue banyak gue tujukan ke dia. Jangan salah, he was not a saint either at the time. He was a big jerk too. But it does not mean I could do those things to him.

Sekitar sebulan yang lalu gue berhadapan dengan masalah keluarga yang fokus utamanya adalah adek gue. Dia akhirnya kena masalah besar. Alhamdulillah bukan masalah obat-obatan atau menghamili anak orang hahaha...tapi masalah ini pastinya sangat berpengaruh dengan kehidupan dia ke depan. Gue juga nge-drop waktu tau masalah ini. Rasanya kayak gue udah mengecewakan dia. Ngga jadi kakak yang baik, yang terus-terusan harusnya ngejaga dia dari hal-hal yang merugikan dirinya. Terlebih karena gue ngerasa kami pernah jadi duo bersaudara yang erat. Di masa-masa gue ngga percaya siapa pun dan ngga bisa sayang sama siapa pun, gue bisa dengan lantang bilang kalo satu-satunya manusia yang gue sayang di dunia cuma dia seorang. I love him more than I love myself.

Karena masalah ini dia dapet ultimatum dan berbagai macam wejangan dari orang tua kami dan orang-orang terdekat. Gue selalu ada di sekitar dia setiap wejangan-wejangan ini diutarakan ke dia. Tapi gue ngga bisa berhenti ngerasa kalau para orang tua ini ngga ngerti apa yang mereka sedang hadapi. Mereka ngga ngerti apa yang ade gue hadapi sebagai remaja dan keadaan rumah yang sangat tidak mendukung untuk perkembangan yang baik. But I do. Gue putusin waktu itu untuk reach out ke dia dan gue berniat untuk memperbaiki hubungan kami. Jadi malem itu gue ngajak dia untuk ngobrol.

Gue bukan orang yang bisa dengan mudah membicarakan perasaan secara face to face, makanya gue butuh tempat dimana gue ngerasa aman. Gue pilih untuk ngobrol di kamar gue. Pintu juga gue tutup. Selain untuk diri gue sendiri supaya ngga ada yang perlu tau gue lagi usaha bermain peran sebagai “kakak” gue, juga mau dia tau kalau apa pun yang kita obrolin ngga akan sampai ke kuping para orang tua yang sok tau itu.

Out of my expectation, dia masih menganggap gue sebagai tempat cerita yang bisa dipercaya. Dengan mudah kita ngobrol tentang kehidupan sekolah dan teman-temannya sekarang. Gue awali pembicaraan dengan menceritakan insekuritas gue dulu untuk nunjukkin kalau gue juga sama menderitanya sama dia. Gue pernah di posisi dia dan gue ngerti gimana beratnya jadi, well, kami. Pembicaraan serius tentang perasaan dan motivasi dan sebagainya akhirnya berubah jadi obrolan santai. Lucunya dia cerita tentang pacar-pacar dia dan udah sejauh mana gaya pacarannya dan masturbasi, hahaha...suer gue sempet salting ngga karuan dan ketawa-ketawa ngga enak dengan betapa jujurnya dia. Tapi semuanya gue ambil sebagai bentuk kepercayaan dia ke gue. Gue tekankan kalau gue ngga akan menjudge dia dan sesekali melempar nasihat tentang batasan-batasan yang udah diajarin ke dia dari kecil lewat orang tua maupun sekolah.

Yang lebih mengagetkan adalah....ketika dia tiba-tiba ngaku kalau dia suka ngebayangin kissing dengan temen-temen sesama jenisnya. DOENG, DHUAR, JEDERR, rasanya pingin ngecek sekeliling kamar.Ada kamera tersembunyi kah?? Hidup gue ngga cukup opera sabun sampai ade gue juga ada kecenderungan biseksual seperti gue??

Gue berusaha ngedengerin apa yang dia ceritain dengan tenang. Rasanya kayak pingin ngomong, “Dude! I dig ya, bro! I fancy both sex too. Give me five!” Hehe...Tapi dengan segala perhitungan, gue ngga mungkin ngomong seperti itu. Dia sih belum pernah kissing sama cowok, tapi dia bilang pikiran-pikiran itu ada dan cukup sering. Terlebih kalau dia lagi deket dengan seorang temen cowok lain. Atau kalau dia lagi cuma berdua sama si temen. Yang lebih parah lagi, dia ngomong ke temennya. “Eh, gue ko mikir pingin ciuman sama lo, ya?” Hwahahahaha.....Sinting! tapi untungnya temen-temen di lingkungan dia ngga ada yang homophobic dan kata-kata dia itu cuma dianggep jadi bahan bercandaan. Dia juga bilang kalo dibanding temen-temen cowooknya yang lain, dia ngga risih untuk peluk-peluk. *sigh* oh, brother... Dia juga jadi sering diledekin homo (tapi ini pure bercandaan, bukan dalam arti temen-temennya geli dan jadi takut sama dia).

Pertanyaan dia sangat ketebak “Gue homo ngga sih kalau mikir kayak gitu?”. Serius gue speechless. Akhirnya setelah ngumpulin pelajaran-pelajaran yang gue tau dari kuliah psikologi 6 tahun dalam waktu beberapa detik, gue jawab, “Ngga.” Memikirkan ciuman dengan teman sesama jenis bukan berarti dia homo. Itu sebenernya hal yang cukup wajar dipikirkan sama remaja. Gue menganjurkan dia jangan manjain pikiran dia yang seperti itu. Bagaimanapun juga, bukan ngga mungkin makin dipikirin, makin pingin, dan terjadilah. Gue tekankan kalau gue ngga punya masalah dengan homoseksualitas (Duh..hello? I’m queer) dan kalau sampai andaikan dia homo (and for god sake moga-moga ngga) gue ngga kan menjudge dia. Gue ingetin kalau jadi homoseksual itu bukan penyakit dan bukan orang aneh, tapi memang ajaran agama kita ngelarang. Dia ternyata bilang kalau temen-temennya banyak yang biseksual (disini gue kaget karena artinya dia cukup paham dengan istilah biseksual), dan dia sendiri juga ngga ngejudge temen-temennya itu. Dan gue merasa sangat lega kalau dia bisa menerima temen-temennya yang biseks.

Secara keseluruhan, gue ngerasa sangat bangga karena malem itu gue bisa balikin hubungan kami dulu. Betapa mudahnya kami berdua ngobrol tentang hal-hal yang sensitif atau pun memalukan untuk dibicarakan antara adek laki-laki dengan kakak perempuan yang jarak usianya jauh banget. Setidaknya di saat-saat dia jatuh, gue bisa ngingetin kalau gue masih ada dan akan selalu jadi orang yang bisa dipercaya untuk ngebantu dia bangkit lagi. Gue nunjukkin kalau gue masih perduli dan sayang sama dia. Tentu aja perasaan khawatir ada tentang pengakuan kecenderungan homoseksual dia. All he need is another gay and voila, the kiss that he only think about might come true. Gue mungkin double standard untuk masalah ini. Menurut gue cewek lebih mudah bermain-main di seksualitas, tapi ngga dengan cowok. I still stand on my believes that being gay is not allowed. I dont know. Mungkin kalau dia bisa beneran biseksual dan bukan gay, gue masih bisa lebih tenang. Alasan lainnya, gue ngga mau adek gue harus ngelewatin hal yang serumit itu. We all know being gay is not easy. It’s a torture for the rest of your life kalau ngga bisa menerima diri sendiri, ngga diterima masyarakat apalagi kalau sampe disowned by parents. I dont want him to get through more problem that he already is now. Yah, kalo sampe dia gay juga bukan berarti gue bakalan ngga suka dan ngga menerima dia apa adanya (duh, hello? Again, I’m queer myself).

Semoga seiring waktu, kebingungan dia bisa terjawab dan bisa jadi pribadi yang lebih baik. Coz seriously, he’s still a jerk lil boy right now. Dan semoga dalam keadaan apa pun gue bisa terus ngedampingin dia jadi kakak yang baik.

Dipikir-pikir, gue dan dia bisa jadi bahan penelitian nih kalau homoseksualitas bisa karena gen, hahaha...

Selasa, 14 Juli 2009

tobat jadi lesbian ? - http://www.narth.com -

Bok, http://www.narth.com adalah satu organisasi yang katanya bisa membantu bertobat dari perilaku homoseksual.



NARTH MISSION STATEMENT
We respect the right of all individuals to choose their own destiny. NARTH is a professional, scientific organization that offers hope to those who struggle with unwanted homosexuality. As an organization, we disseminate educational information, conduct and collect scientific research, promote effective therapeutic treatment, and provide referrals to those who seek our assistance.

NARTH upholds the rights of individuals with unwanted homosexual attraction to receive effective psychological care and the right of professionals to offer that care. We welcome the participation of all individuals who will join us in the pursuit of these goals.


Tertarik?
Well, feel free. Ini hidup lo, dunia lo dan masa depan lo.

Jangan merasa terjebak, terprovokasi, termakan isu bahkan merusak diri lo hanya karena satu keadaan.
Gue dan Mithya - ga ngeklaim diri kita murni lesbian tapi juga ga menolak kenyataan kalau saat ini gue berdua dalam hubungan sesama jenis. And we're happy on it.

Point gue, jangan tutup mata untuk semua opsi. Kalau sekarang lo menjadi lesbian dan merasa tidak nyaman, coba cari tau cara copingnya. Karena kebahagian lo tergantung sama elo, bukan orang lain. Bukan hasil denial.

Sekali lagi, jangan tutup mata, otak dan hati. Jangan cuma baca Fried Durian atau blog-blog lesbian yang tampak hijau dan menjanjikan kebahagiaan. Mungkin gue berdua atau pasangan lainnya yang ngeblog bareng tampak baik-baik saja. Jangan termakan euphoria kami. Cari kebahagiaan kalian sendiri.

Coba baca link dari Narth, mereka bilang being gay or heterosexual is a choice.
Kalo ternyata lo gay dan nyaman on it. We are happy for you.
Atau kalau ternyata lo gay curious dan lebih sejahtera menjalani sebagai hetero. We are happy for you.
Kalo lo terus baca fried durian sedangkan lo hetero dari awal dan tak berniat menjadi homo sesudahnya. Kami juga bahagia untuk itu. Hehehe.
*Gue ngomong apa sih???*


GILRS, use your brain, heart, mind dan jangan lupa Tuhan.

Rabu, 17 Juni 2009

America's Next Gay Top Models


I"ve been a fan of ANTM (America's Next Top Model) sejak cycle 5. Semenjak itu gue cukup ngikutin kalau ngga lupa dengan jadwalnya yang aneh di V channel. Since then I realize kalau diantara para kontestan calon model ini udah kesebut beberapa kali bahwa mereka openly gay. WOW...these are the few women yang punya profesi dan cita-cita jadi model terkenal di seluruh dunia dan mereka gay. Mungkin di luar sana lebih banyak lagi, gue kurang tau juga.

Masuk akal sebenarnya. To be a model you gotta love yourself. You gotta love women! Tapi yang gue suka dari mereka adalah they stick to their true women self. And God Damn they're beautiful! Apalagi alasan utama gue nonton ANTM kalo ngga buat ngeliatin cewek-cewek cantik hahaha...I'm amazed with these women.

Nilai plus dari reality show ini adalah ngajarin orang bahwa ngga bener yang namanya model itu brainless. Para kontestan ini juga ditempa untuk memiliki kepribadian yang oke selain memperbaiki sikap. You dont want bitches as a top model wontcha?

Sejauh ini kalau gue ngga salah hitung, udah tercatat 2 lesbian, 1 queer, dan 1 bisexual women di acara ini. The lesbians would be Kim Stolz & Megan Morris (the short hairs girls), the queer would be Michelle (top right picture) dan the bisexual would be Leslie Mancia (down left picture). Sebelum mereka announce that they're gay aja gue udah ngiler-ngiler ngeliatin mereka.

Buat yang belum pernah nonton, coba deh. Udah banyak kok DVD-nya. Atau yang punya TV kabel, cek jadwalnya di V channel setiap Senin atau Kamis malam. You might learn a thing or two from it. Most important thing of all is learning to love yourself as a women. That WE ARE FUCKING BEAUTIFUL just being a women. pssst..the straight models are heavenly beautiful too..hehehe

Minggu, 07 Desember 2008

Film Twilight + Chauvinis Mithya

Kemaren waktu telponan sama Lushka dengerin monolog dia tentang Twilight, tiba-tiba di MTV ada trailer filmnya. And OMG, baru 5 detik aja gue bisa komentar betapa cheesy, opera sabun, dan film ratting B film ini! What the hell was that? Versi remaja Bold and the Beautiful? Jujur yah, buku Twilight itu masuk ke list buku yang pingin gue beli kalau gue udah ngabisin SEMUA buku yang belum terjamah. Apalagi alasannya kalau bukan karena menceritakan vampir. I do remember kalau dulu, cover buku itu yang bikin gue ngga mau nyentuh karena terkesan murahan. Please dong, buku best seller kok ada gambar cewek komik gitu? Buatan amatir pula.

Lalu Lushka menambahkan info kalau film ini merebut posisi Quantum of Solace. Wow! Walaupun gue ngga pernah suka James Bond, tapi itu info yang cukup anomali. Mengingat betapa cheesy-nya trailer yang gue liat. Lalu mulai deh Lushka menganalisa about what happen in the world sekarang karena buku itu. Katanya novelis cowok itu udah banyak banget yang berhasil sukses menceritakan cerita-cerita romantis dari sisi mereka dan pengarang Twilight ini seperti semacam angin segar buat orang-orang. Kenapa? Lushka berhipotesa lagi, katanya untuk pengarang-pengarang cewek saat ini cuma menang di buku-buku chicklit..dan seperti pengarang-pengarang cewek general, mereka suka banget untuk menceritakan tema romantic fairy tale. Nah, twilight itu adalah versi lain, versi young adulthood fairy tale. Sukses lah dia memikat jutaan hati (khususnya) wanita. (please elaborate Lush if I’m mistaken)

What about me? Gue bahkan lebih ekstrem dari Lushka. Gue akan menjauhkan diri dari Twilight karena gue ilfil. Gue percaya art, lagu, film, atau buku yang diciptakan oleh kaum Adam jauh lebih menarik. Yep, gue chauvinis, hehehe... Karena mereka laki-laki and it is more interesting to see what the guys had in mind ketika mereka membicarakan tentang cinta. Kalo cewek, buat gue pribadi, apalagi yang perlu gue tau? Gue kan cewek. Ngga jauh-jauh lah paling. Gue suka banget ngeliat cara cowok menggambarkan jatuh cinta mereka. In part coz I believe it doesnt happen in the real world. Jatuh cinta laki-laki buat gue itu sebatas nafsu. Tapi mereka punya cappability untuk membayangkan jatuh cinta yang menurut gue jauh lebih keren daripada cara cewek membayangkan jatuh cinta.

Film vampir yang menurut gue keren dengan romantis picisannya adalah Buffy the vampire slayer..hahaha..I know, norak banget kan? But I dont care! Buat gue film itu keren banget. Karena pengarangnya Joss Whedon. Salah satu contoh cowok nerd, geblek, tapi kreatif yang sempet diremehkan oleh dunia film.

Ngeliat trailer film twilight ngingetin gue sama film The Covenant. Tapi Covenant aja menurut gue masih jauh lebih menyenangkan (cowoknya cakep-cakep! Hehehe..) walaupun jalan ceritanya agak retarded.

Why I think the way I think is beacause gue merasa bahwa mungkin sebenernya soul gue itu sebenernya dilahirkan sebagai cowok biseksual. Jadi untuk jatuh cinta dengan cewek itu normal tapi diem-diem dan takut-takut sangat tertarik dengan cowok lain (especially gay man). So, cara berpikir gue jadi seperti yang gue jabarkan di atas itu. (That’s the most ridicoulus thing I ever-finally-wrote down)

FYI, I wrote this dengan sadar mengetahui bahwa gue BELUM nonton filmnya dan BELUM baca bukunya. TAPI gue akan mengakui kalau nanti MUNGKIN setahun lagi I stumble upon them dan ternyata between those two gue suka ceritanya. Peace and out, guys!

Sabtu, 02 Agustus 2008

Pelabelan orientasi seksual


Sebagai orang yang belajar ilmu tentang manusia, gue sebenernya ngga setuju dengan yang namanya pelabelan manusia. Tapi di lain pihak, di dunia gue itu pelabelan sangat dibutuhkan. Karena di dunia profesionalisme semua hal perlu dikasih nama demi penghematan waktu, tenaga, dan biaya.

This thought occur to me ketika gue asik browsing internet dengan key ”lesbian”. Satu-satu web gue datangi dan berusaha mengerti apa yang dibahas di setiap web. Tapi kenyataannya ngga ada yang sesuai dengan yang gue cari.

Kita tinggal di negara yang memiliki norma serta ajaran agama yang sangat tinggi. Ngga usah gue jabarin lagi dimana letak pertentangan hal ini dengan kata ”lesbian”. So, let’s take a peek on this word definision.

Lesbian: Homosexuality among women
Homosexual: 1. Sexual intercourse between members of the same sex 2. Sexual attractions for members of the same sex (Chaplin, 1985)

Dimana letak batasannya? Apa fair satu buah intercourse atau rasa tertarik dengan satu orang sesama jenis menyebabkan dirinya dilabelkan dengan homoseksual?

Ada yang sadar ngga sih kalo banyak juga para ”lesbian” ini yang sebenernya ngga masuk ke kategori label ”lesbian” itu sendiri? Gue dikelilingin oleh banyak perempuan yang menyukai sesama jenis tapi punya rencana berkeluarga dan menikah dengan laki-laki. Hal ini juga belum bisa disebut terpaksa karena pada kenyataannya tinggal di negara ini memang menyebabkan seseorang akan tetap berpegang teguh dengan nilai leluhur maupun ajaran agamanya.

Do they like other women? Yes they do.
Do they like other men? Yes they do.
Can they have relationship with other women? Not really.

Terus kita mau masukkan lagi mereka ke label Biseksual. Of course they dont fit karena sebenarnya itu bukan orientasi seksual mereka yang sebenarnya. Siapa yang tau kalo wanita yang mereka cintai itu memang cuma satu-satunya dan ngga akan mungkin ada wanita lain yang bisa dia cintai? Kalau nantinya dia memang jatuh cinta dengan seorang laki-laki, menikah, and never look back, what is she?

Mungkin emang ngga akan pernah ada pelabelan yang perfect untuk suatu kondisi. Mungkin juga sebenarnya sudah seharusnya ada label untuk kondisi seperti ini.
As far as I know, di negara yang sangat timur ini masih banyak perempuan yang me’label’kan dirinya lesbian, padahal bukan.

Ingat, Freud said that sexual orientation is fluid. Now how can you lable something fluid.