Halaman

Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Oktober 2011

Pelanggaran RUU

Suatu siang cerah...siang ini maksudnya.. gue dan Lushka saling merepet tentang kelakuan FPI akhir-akhir ini yang boleh seenaknya melakukan apa yang mereka mau lakukan. Terakhir kami dapet berita tentang mereka mengancam mau memporak porandakan gereja pantekosta tapi si Polisi cuma jadi satpam aja.

Lushka: Kok FPI bisa dibiarin gitu ya!?

Mithya: Iya, aku kesel deh. Tindakan mengancam itu kan udah tindakan pidana! udah boleh ditangkep.

Lushka: Iya, masa alesan polisi "hanya" karena upacara pernikahan?? Jadi kalau acara peribadatan boleh diserang??

Mithya: Iya, bego banget. Itu kan udah melanggar RUU!

Lushka: ...Kok RUU sih?? 

Mithya: Eh, UUD?

Lushka: UU aja! hahahaha...Kalau RUU mah ngga bisa dilanggar, belum disahkan!

Mithya:oh iya..aku tau kok..hahaha...ngasal aja ngomongnya...=P

Kamis, 23 Juni 2011

Faith is our own personal matters

Tadi baru dikomentarin sama Lushka, "Kalau sama kamu mah urusannya main dosa". LOL yeap, gue sadar banget makin tua ternyata gue malah makin..umm..religius? ngga jadi buta konservatif dan ekstrimis untungnya tapi hal-hal basic tentang keyakinan adanya tuhan dan Dia ngejaga kita setiap saat dalam keadaan baik maupun buruk. The ultimate power yang mengatur segalanya dan ngga perlu kita, makhluk yang dia ciptain sendiri untuk recok ngurusin Dia balik.

Komentar Lushka muncul waktu gue cerita ngerasa agak dimainin sama supir taksi. Rute perjalanan gue rada muter-muter ketika menuju Senayan city. Tapi alasannya untuk menghindari macet. Emang sih Alhamdulillah rute yang dia kasih ngga macet. Tapi kan mau ngga mau gue bertanya dalam hati, kalau gue pake rute biasa, emang saat ini rute itu macet? Gue udah kasih ancer-ancer yang lazim dimengerti tukang taksi biasa kok, tapi dia inisiatif muter-muter. Lalu pada akhirnya gue bilang dalam hati untuk nenangin diri "Kalau memang niat dia baik, alhamdulillah gue dibantuin. Tapi kalau niat dia buruk, dia dapet uang haram dan ngga akan pernah maju" that simple. Hahaha..iya, emang terdengar seperti sedikit menyumpah di akhir kalimat, tapi gue beneran ikhlas kok dan beneran berpikir urusan gue sama si taksi selesai setelah gue turun sampai di tujuan dan kasih uang.

Ini ngga kali pertama hal kayak gini muncul. Kalo Lushka nanya tentang adanya uang imbalan dari kantor, kadang-kadang dia nanya baiknya dan artinya uang imbalan itu apa. Gue pasti jawabnya ngga jauh-jauh dari moral dan iman. hahaha...

Terus gue mikir lagi, sepertinya masalah urusan agama kayak gini yang bikin gue dan Lushka juga cocok. Kita beda agama tapi kita menekankan bahwa kita sama-sama agama samawi. Tuhan kita satu, hanya saja kita memilih aturan dan cara yang berbeda yang dalam menjalankan keyakinan kita. Kenapa perlu diributkan? Gue dan Lushka juga sering saling diskusi tentang perbedaan dengan tujuan saling memahami satu sama lain dan belajar tentang ilmu baru.

Tau ngga kalau salah satu faktor kebahagiaan teratas dalam hubungan adalah persamaan keyakinan? Dalam hal ini, gue dan lushka yakin ngga ada yang perlu disalah-salahkan dari keyakinan kami berdua. Semua ajaran keyakinan mengajarkan kebaikan. Inti dari hidup adalah menjadi manusia sebaik-baiknya dan menghargai serta berguna bagi orang-orang di sekitar kita. Apakah kamu setuju, Lushka?

BTW, gue udah lama banget ngga ngeblog, tampilan dashboard blogger keren juga sekarang haha...APA KABAR TEMAN-TEMAN??

Jumat, 18 Februari 2011

Think you really know what they are?


Mau ngeluarin uneg-uneg sedikit, yang kemungkinan besar ngga sejalan dengan sebagian besar pendapat orang Indonesia. Hal ini terkait dengan maraknya pembicaraan tentang aliran “Islam” Ahmadiyah. Kalau tentang kekerasan yang terjadi sama mereka, gue pikir semuanya pasti setuju kalau itu merupakan tindakan biadab. Silahkan lihat sendiri videonya di Youtube, apa yang mereka lakukan terhadap para korban. Gue ngga bisa berhenti bilang “astaghfirullah” dan bener-bener ngerasa sepertinya rasa kemanusiaan mati waktu nonton video itu. Mayat yang udah tertelungkup, meninggal karena dikeroyok massa, masih dipukuli kepalanya berkali-kali. MasyaAllah..semoga tuhan membalas setiap perbuatan dengan adil.

Merasa topik ini dibicarakan berkali-kali, gue jadi penasaran dengan aliran Ahmadiyah ini. Apa sih yang membedakan mereka dengan Islam Sunni? Terutama sih karena gue tergelitik dengan SKB pemerintah. Gue terus bertanya-tanya kenapa sebuah Negara bisa menentukan agama dan ajaran apa yang diperbolehkan di sebuah Negara? Indonesia kan bukan negara agama seperti Vatikan atau Malaysia. Gue ngga naif. Gue tau kalau adanya peraturan agama yang DITERIMA di sebuah negara adalah untuk kestabilan dan keteraturan. Kalau andaikan memang benar Ahmadiyah mengaku Islam tapi ngga mengakui Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir, lalu diberikan larangan untuk ada di Indonesia, bagaimana dengan agama-agama lain yang ajarannya jelas tidak menerima Muhammad sebagai nabi? Apa yang membedakan mereka dengan kelima agama yang lain?

Gue ngga punya masalah dengan agama lain, makanya gue merasa ada logika yang sedikit nyeleneh ketika Ahmadiyah diberikan SKB. Walaupun secara psikologis gue mengerti kenapa para orang Islam yang mengaku paling tahu tentang agama Islam ini merasa kalau sudah bawa-bawa nama Islam dan ajarannya berbeda, maka itu sudah dinyatakan menyimpang. Lalu bagaimana dengan Islam Syiah? Aliran Syiah ada kok di Indonesia walaupun ngga banyak, tapi kenapa ngga dikeluarkan SKB juga? Amadiyah bahkan udah ada di Indonesia sejak 1920, dan dilindungi oleh pemerintahan Indonesia jaman dulu. Kenapa tiba-tiba baru diributkan? Buat gue terlalu banyak hal yang bertentangan dengan logika gue. Kebebasan beragama ini jadinya peraturan apa dong? Asal tidak mengancam? Mengapa harus merasa terancam Kalau merasa agamanya benar? Kok menyedihkan sekali bisa takut dengan ajaran lain?

Buat gue pribadi ya, selama suatu ajaran kepercayaan dan agama itu mengajarkan kebaikan dan ngga amoral, seharusnya bukan masalah. Bua apa ngurusin tetek bengek agama orang lain? Saya Islam yang menggunakan jilbab, situ Islam yang menggunakan taplak meja. Kita beda. Cape ngga lo?

Rasa penasaran gue ini bikin gue cari tahu sedikit tentang Amadiyah melalui internet. Ternyata kaget juga, ngga ada tuh yang namanya kitab suci mereka beda, ngga ada ajaran kalau nabi Muhammad bukan nabi terakhir, atau haji-nya bukan di mekkah..sigh..gue ngga tau kalau ada perbedaan praktek bagi masing-masing individu dalam ahmadiyah ya..mungkin saja diantara mereka ada yang menyimpang dari ajaran “Islam”, tapi coba kalau orang-orang mau mencari tahu dulu sebenar-benarnya apa ajaran mereka sebelum menilai, menghujat, bahkan menyerang. Yang gue baca, imam mereka bukan dianggap sebagai nabi, tetapi lebih sebagai guru besar. Apa bedanya dengan orang yang mengaku Islam di pesantren tapi mensucikan para ustadznya dong? Menurut gue pesantrennya harus di SKB juga tuh. Hanya mendengar apa yang MUI katakan atau apa yang pemerintah katakan, kita sama-sama melakukan penyebaran fitnah dan rasa benci diantara sesama warga negara. Berbeda-beda tapi satu, my ass.

Blunder atau pun ngga, buat gue ini pembodohan masyarakat dan kalian yang punya akses terhadap media informasi baiknya ngga menelan semua informasi bulat-bulat. Ngga hanya untuk masalah Ahmadiyah aja. Semua berita punya dua sisi.  

Pandangan gue mungkin terlalu liberal dan dengan mengeluarkan pendapat gue seperti ini, mungkin gue dianggap aneh. Gue pemeluk Islam Sunni (a.k.a aliran yang dipegang oleh sebagian besar orang Islam di Indonesia, bagi yang ngga tau) dan yang gue tau, gue diajarkan untuk merendahkan diri setiap saat. Siapa yang tau apa yang hakikatnya benar di mata tuhan?  Para ormas agama? Pemerintah? Urus aja dulu deh akidah lo dan akidah “orang-orang lo" yang bener. Ajarkan dulu ajaran yang menurut lo bener dengan cara yang bener. In the end, I always reminded myself, lakum dinukum waliyadin.

Senin, 31 Januari 2011

Asosiasi AIDS dengan gaya hidup homoseksual



Tulisan ini sebenernya mau gau post dari awal bulan desember, tapi karena berbagai macam hal yang berhalangan, jadinya setelah 2 bulan kemudian baru bisa terealisasi. Waktu itu jadi bahan pemikiran gue yang diawalin dari perbincangan sama beberapa temen. Kebetulan tanggal 1 Desember adalah peringatan hari AIDS sedunia dan gue teringat kalau penyakit AIDS ini sering sekali diasosiasikan dengan kelompok homoseksual. Bahkan untuk beberapa orang, homoseksual bukan hanya diasosiasikan, tetapi juga diangggap sebagai sumber asal penyakit ini. Yang lebih ekstrim lagi bahkan akan mengatakan kalau penyakit ini merupakan “kiriman” dari tuhan untuk menghukum kelompok homoseksual.
Gue sih ngga ada niat untuk membicarakan atau membela apalagi membuktikan benar atau salahnya pendapat dan asumsi beberapa orang ini. Gue jadi penasaran aja kenapa kok sepertinya kelompok homoseksual sering dikaitkan dengan segala hal yang buruk-buruk tanpa perlu dicek kebenarannya, ngga perduli betapa ngga masuk akalnya pendapat tersebut.
Gue pun akhirnya nyari tahu sedikit-sedikit sejarah AIDS. Gue yakin udah banyak yang mengangkat isu ini, tapi gue mau sharing dari sisi awal penelitian kedokteran dengan sedikit lebih rinci. Buat anak-anak kedokteran yang kebetulan mampir baca, tolong dikoreksi yang kalau ada kesalahan.
AIDS atau Acquired immune deficiency syndrome mulai dikenal pertama kali pada tahun 1981 dan dilaporkan diderita oleh 5 orang pria homoseksual. Kelimanya mengalami pneumonia pneumocystis, yaitu pneumonia yang terjadi karena serangan pneumocystis terhadap orang-orang yang memiliki daya tahan tubuh yang rendah. Sebenarnya pneumocystis ini merupakan parasit yang juga terdapat di paru-paru orang sehat, hanya saja ketika daya tahan tubuh menurun, pneumocystis bisa menjadi penyakit yang fatal. Seperti yang kita ketahui, pada akhirnya dimengerti bahwa AIDS menurunkan hingga sampai mungkin mematikan daya tahan tubuh manusia. Karenanya menyebabkan penderitanya mudah terkena penyakit-penyakit yang sifatnya menular atau tumor. Dari hasil jurnal CDC (Centers for Disease Control), fakta bahwa orientasi seksual kelima pria ini adalah homoseksual, memberikan satu sugesti bahwa penyakit ini berkaitan dengan gaya hidup homoseksual. Bukan itu aja, virus yang sama ditemukan di kelima pria ini (CMV) mudah dideteksi melalui sperma mereka dan tidak dapat dideteksi melalui urine. Karenanya para peneliti pada waktu itu membuat kesimpulan bahwa salah satu cara penyakit ini dapat menular adalah melalui sperma.
Penyakit ini diberikan nama GRID oleh para dokter pada waktu itu. Singkatan dari Gay-related Immune deficiency. Lalu setelah melalui penelitian yang lebih luas lagi, GRID sempat disebut dengan penyakit 4H, yaitu Haitians (asal mula virus ini muncul), homoseksual, hemophilia dan pengguna Heroin. Serta seiring perjalanan waktu dan melalui penelitian yang lebih baik lagi, kedua nama ini disadari memiliki sugesti hubungan negatif terhadap kaum homoseksual dan orang Haiti sehingga diubah menjadi AIDS yang lebih objektif.
Bisa dilihat, walaupun pada waktu itu gaya hidup homoseksual jauh lebih tidak dapat diterima daripada sekarang, pada awalnya para peneliti punya dasar yang kuat kenapa mereka mengira AIDS berhubungan dengan gaya hidup homoseksual. Mereka ngga pernah bilang secara langsung kalau gaya hidup Homoseksual penyebab AIDS, tapi hasil penelitian mereka mengatakan The fact that these patients were all homosexuals suggests an association between some aspect of a homosexual lifestyle or disease acquired through sexual contact and Pneumocystis pneumonia in this population”. Sangat wajar mengambil kesimpulan seperti itu dan sangat wajar juga ketika prejudice dicampur dengan minimnya pengetahuan, masyarakat menganggap bahwa AIDS adalah penyakit yang dibawa oleh para kaum homoseksual.
Sekali lagi gue mau menyatakan, gue ngga ada niat menggurui. Mau sharing aja apa yang gue dapet dari baca-baca sedikit tentang AIDS. Dari yang awalnya sedikit kesel dengan asosiasi negatif antar homoseksual dan AIDS sampai akhirnya sekarang gue mengerti kenapa asosiasi ini bisa terjadi. Gue juga mau mengingatkan sama temen-temen yang punya perasaan kesel dengan asosiasi negatif ini kalau pandangan ini ngga sepenuhnya salah. Terlepas dari apa orientasi seksual seseorang, tapi kalau perilaku seksualnya tidak dijaga, penyakit menular apa pun bisa menjadi ancaman. Seperti yang pernah gue bilang, fakta bahwa kalian (kita) ngga bisa menghamili satu sama lain, memudahkan hubungan seksual antar pasangan. Gue yakin ngga semua homoseksual atau queer seenaknya gonta ganti pasangan. Jadi, supaya ngga diasosiasikan lagi, coba deh jadi orang yang lebih dewasa dan smart dalam melakukan hubungan seksual.
Bagi yang tertarik dengan jurnal CDC tentang GRID pada saat itu, bisa klik kesini.
Semoga sharing gue bermanfaat ya ^^
Jurnal: Pneumocystis Pneumonia. Epidemiologic Notes and Reports. 1981; 30(21); 1-3


Kamis, 10 Juni 2010

Keep calm and share

Semenjak gue punya tumblr Glee, gue jadi kenalan dengan para Gleek lain. Mereka berasal dari segala macam negara dan jenjang usia yang cukup luas. Menyenangkan banget sebenernya karena rata-rata mereka ini kalau ngga sesama homo ya orang-orang yang toleran dengan homoseksualitas. Bonusnya lagi, orang-orang ini ngocolnya setengah mati. Hampir setiap adegan di episode bisa mereka jadiin bahan bukti para pemainnya sebenernya 50% gay =D. Berhubung sistem Tumblr mirip banget dengan Twitter, kita tinggal saling follow kalau mau dapet update gambar dari satu sama lain. Selain itu karena tumblr bentuknya juga terbuka untuk umum, semua isi tumblr kita bisa dilihat secara umum. Setiap gue difollow orang baru, gue biasanya akan ngecek apa tumblr follower gue ini bisa gue follow balik. Jelas karena tumblr gue khusus glee, gue ngga perlu dashboard gue penuh dengan hal-hal lain diluar itu (gue udah punya tumblr pribadi lain lagi untuk itu =P). Nah, selama sebulan ini gue nemu profil dua orang follower gue yang bikin gue sedikit kaget dan mikir. Gue kaget karena kedua follower gue ini usianya “baru” 14 tahun sedangkan gue jadi mikir karena tumblr gue isinya sebagian besar berisi pairing lesbianism. Ok, so they worship what I worship too. Bahkan salah satu profil si remaja menyatakan kayak begini: My Sexuality: Straight. For now. I might go bisexual when I grow up. Hihi..agak gimanaa gitu bacanya, soalnya tumblr gu..umm talking about anything that would be consider gay between the cast. Not to mention pictures with half naked women in bikinis hahaha..ngga, gue ngga pervert! Cuma ya tuhan, I cant help itu kalau itu gambarnya Naya Rivera hahahahaha....


Kembali lagi ke masalah tadi, gue bingung dan takjub dengan profil-profil itu. I have no oppose whatsoever dengan pemilihan sexuality mereka, tapi gue memang sedikit terganggu dengan betapa mudanya usia mereka. Siapa bilang 14 tahun belum tau suka dengan siapa? Gue mulai berasa homo waktu umur gue sekitar 12 tahun kok. Hell, my first kiss with a girl was when I was about 4 years old (and making out become weirdly regular after that with my bestfriend =P). Gue udah pernah ngomongin tentang betapa labilnya yang namanya masa remaja dan itu merupakan masa yang sangat penting dalam mencari jati diri. Jadi kalo ditanya, gue memang punya pendapat tersendiri tentang kapan sebaiknya seseorang menentukan seksualitas mereka. Tapi ini bukan inti dari perasaan ngga enak gue. Berawal dari penemuan gue itu, gue jadi mikir lebih jauh lagi. Tentang Glee itu sendiri. Tentang betapa HOMOnya acara itu. Buat kita-kita gleek yang queer tau banget kalo semua aspek dari acara itu berteriak “being gay is A-OK”. Dibalut manis dengan lagu populer dan cast cakep-cakep, Glee terlihat seperti acara TV seri remaja pada umumnya.

Pikiran itu berkembang ke media internet yang saat ini udah ngga punya bendungan sama sekali dengan yang namanya informasi. Waktu gue mulai berasa homo di usia 12 tahun, gue belum punya internet buat nyari tau lebih banyak tentang homoseksualitas (idih, koneksi ******net jaman itu bikin pingin banting komputer). Waktu itu gue masih dibombardir dengan informasi ilmu agama (sekolah gue dari TK sampe SMA adalah sekolah islam). I know, kalo gue suka sama cewek maupun cowok. Tapi gue ngga punya pikiran sampe bisa menyatakan I am bisexual. Sekarang gue bisa bilang semua informasi yang gue butuhkan, alhamdulillah gue dapetin seiring dengan pendewasaan gue. Tapi dengan anak jaman sekarang?

As my queer friends all know, gue menerima diri gue sebagai queer, tapi gue bukan salah satu yang bisa mengatakan bahwa menjadi queer itu ngga dosa. Itu masalah yang masih sangat membingungkan buat gue dan ngga suka untuk memperdebatkan. I choose to be queer like I choose to drink alcohol walaupun hukumnya haram. Karena gue tau walaupun ketertarikan gue dengan sesama jenis ngga bisa dihilangin, gue tau gue masih termasuk orang-orang yang dikasih tuhan pengendalian atas semua perilaku gue (Jangan ngomongin yang pure gay yah, itu diluar pengetahuan gue karena gue ngga punya hak berpendapat atas mereka). Tapi bagaimana dengan anak-anak yang dibombardir dengan segala informasi tanpa bendungan ini? (duh, tiba-tiba berkelebat segala teori yang saling adu kuat antara freudian dan behaviorism tentang orientasi seksual). Gue ngga bisa naif dan sok ignoran terus bilang kalau remaja udah bisa menggunakan logika dengan baik. Karena gue tau dengan fakta bahwa yang namanya remaja itu labil dan jelas belum dewasa. Segala sesuatunya masih dalam pembentukan karakter dan kepribadian. Mau dunia masih ada seribu tahun lagi, bayi akan tetapharus berkembang di kandungan ibu selama 10 bulan dan mau usaha sampe mulut berbusa pun, anak umur satu tahun ngga bisa diajak baca buku novel. Semua butuh proses baik secara fisik maupun psikologis. I’m a post-mo person, but I’m still heavily influenced with my religious upbringing.

Kesimpulan gue sebenernya balik lagi ke Glee. Acara ini sebenernya menyebar virus homo. Di satu sisi mereka memang membawa pesan-pesan yang baik tentang menghargai perbedaan, persahabatan dan teamwork, tapi ngeri juga kalau gue mikir jangan-jangan mereka udah convert beberapa anak ababil (Anak baru gede labil) untuk mempertimbangkan jadi homo. Bagus kalau si 14 tahun dapet informasi yang seimbang dari kiri kanan untuk akhirnya menentukan, tapi emang penontonnya cuma anak 14 tahun keatas? What about the kids that are younger than that? Omg, bahkan tumblr gue membantu menyebarkan hal itu LoL.

Ngga, gue ngga lagi menceramahi siapa pun atau apa pun. Gue juga ngga lagi menjudge sesama homo apalagi sebuah acara TV. Gue lagi pingin sharing pemikiran gue aja. Gue emang kaya duri dalam daging. I belong there, tapi kalau mau dimakan, rese. Hehehe...Meh, just another neurotic thoughts from me.

Sabtu, 28 Februari 2009

Tuhan gue

Membicarakan entity yang satu ini ngga akan ada habisnya, ngga akan ada kesepakatannya dan udah jadi sifat manusia untuk suka berdebat tentang hal-hal yang diluar kemampuan pemahamannya. So drop it guys, I'm here talking MY god.

Gue dan Lushka sendiri termasuk orang-orang yang percaya dengan keberadaan tuhan. Gue percaya dengan konsep tuhan Islam dan Lushka percaya dengan konsep tuhan Katolik. Kita berdua juga termasuk orang-orang yang masuk sekolah agama masing-masing dan di umur tertentu memulai pencarian kita juga tentang yang namanya tuhan. Gue mengambil jalan yang cukup ekstrem, berusaha memahami atheist terlebih dahulu. Alhamdulilah, gue mendapat satu opini dari bertahun-tahun membaca website-website atheist: atheist are idiots (dan hal ini sebenarnya juga berlaku sebaliknya buat mereka ke kita). Mereka orang-orang yang menyerah dari berusaha untuk mencari karena malas, sombong dan ignoran. Atau mungkin memang plain idiots, hehe..


Gue inget dengan salah satu pembicaraan dengan bokap gue tentang tuhan. I was about 12 years old dan kita sekeluarga lagi makan di restoran sunda. Tiba-tiba dia bilang,”Mit, pernah mikir ngga bagaimana kalau ternyata tuhan adalah sesuatu yang diciptakan oleh manusia?” Selanjutnya dia menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk yang rapuh. Kita butuh motivasi dan harapan untuk hidup. Di tengah-tengah keputusasaan mereka, mereka mencari-cari kekuatan yang lebih besar dari mereka yang bisa memberi mereka harapan akan kehidupan yang lebih baik. Diawali dari benda-benda angkasa seperti bintang, bulan, dan matahari sampai ke benda-benda yang mereka pahat sendiri. Berangkat dari hal tersebut, bokap memang mengajarkan gue salah satu bentuk paling sederhana dalam berpikir logis: Skeptis. And I am more than gratefull he taught me that.


Ngga, bokap gue ngga atheist. Dia muslim yang juga masih mencari jati dirinya, layaknya manusia normal. Dia hanya suka ngajak gue berpikir di luar dogma dan dikte.


Dari buku Dan Brown “Angel and Demons” gue diingatkan dengan cara berpikir orang Barat yang sudah terbentuk selama ribuan tahun. Ilmu dan agama ngga akan bisa bersatu. Salah satu opini paling aneh yang pernah gue denger, karena sepanjang sejarah hidup gue sebagai muslim, kitab agama gue ngga pernah bertentangan dengan yang namanya ilmu pengetahuan dan ngga pernah melarang perkembangannya. Sekali lagi ngga ada yang menyebabkan hati dan otak gue harus bertentangan.


Anyway, my old man sekitar setahun yang lalu juga pernah cerita tentang ditemukannya sebuah kelenjar/bagian di otak yang disebut dengan “kelenjar tuhan”. Dari hasil penelitian empiris, bagian otak ini hanya berkerja ketika seseorang merasa berada dalam keadaan paling dekat dengan tuhan, ketika mereka mencapai tingkat tertinggi dalam spiritualitas. Of course, pertanyaan mendasar empiris: mana yang lebih dulu? Apakah bagian otak ini yang menyebabkan kita “berilusi” tentang adanya tuhan atau memang tuhan menanamkan bagian itu untuk manusia tetap mengingatNya?


Bagi gue, terlahir dari keluarga Islam, disekolahkan di salah satu sekolah islam terbaik, menimbulkan pertanyaan, apakah agama yang gue pegang bukan karena terkondisikan? And it is not. I have, in all my power, trying to find out what is best for me. Gue dalam tingkat tertentu merasakan keberadaan tuhan dimana-mana. Gue percaya ngga cuma di tingkat logika, tapi juga di tingkat emosional.


Dalam satu buku milik Jeffrey Lang "Aku beriman maka aku bertanya", dia berpendapat bahwa asmaul husna adalah sifat-sifat sempurna tuhan yang dimiliki manusia. Buat gue, it’s another word bahwa bagian dari tuhan ada di dalam diri kita. Bagi orang kristen/katolik mungkin bisa digambarkan dengan roh kudus. I feel him inside of me.


6 bulan yang lalu gue menemukan satu quote yang blew me away. A say from Rene Descartes. Ide bahwa adanya tuhan adalah BUKTI keberadaan tuhan itu sendiri. Damn! Those words really run chills to my spine. Bahwa manusia ngga akan mampu memikirkan sesuatu yang begitu besar dan sempurna kalau bukan tuhan sendiri yang mengajarkan. Hik, hiks, terharu...huehehe


Ada satu pertanyaan paling bodoh yang sering disebut-sebut oleh para atheis. Kalau memang ada tuhan, kenapa dunia begitu penuh dengan kejahatan? Jawabannya simpel. Tuhan memang memberikan kita akal dan pikiran untuk berpikir dan memilih. Kalau ngga, ngapain dia menciptakan kita? Adanya baik dan buruk itu malah bukti keinginan tuhan agar kita memilih. Hal-hal garing udah diserahkan semua ke malaikat yang ngga pernah menentang keputusanNya. Lagian mana seru sih dunia yang adem ayem penuh kedamaian? Keindahan dalam hidup manusia adalah ketika kita mampu untuk memilih jalan yang terbaik untuk diri kita dan sekitar kita. Kalau orang kristen/katolik bilang bahwa kita adalah domba-dombanya, we are. Dan seperti para gembala, Dia boleh melakukan apa pun semau-maunya dengan para dombaNya. Pernah punya barbie? What you do to them, is what exactly God doing to us. Bedanya Barbie dan Ken ngga bisa milih, hehehe... Dunia cuma sebuah maket oversized.


Bla, bla, bla, gue berbicara seperti seserang yang sedang berceramah. I’m not. Gue menyatakan dengan pasti bahwa gue percaya keberadaan tuhan dan agama yang gue peluk, tapi gue punya rasa marah yang besar terhadap tuhan. Gue menyalahkan takdir yang diberikan tuhan ke gue. Not because i’m queer, it’s other personal things. Queer adalah pilihan gue dan bukan takdirNya. Terkadang bersyukur juga sih kalau semua cobaan yang dia kasih ke gue make me who I am today, make me stronger than other people. Hey, katanya kan tuhan ngga akan ngasih ujian di luar kemampuan makhluknya bukan? Lucunya gue marah seperti gue marah ke bos gue. Kenapa Dia harus menempatkan gue di posisi-posisi yang tidak menyenangkan? Cobaan Dia adalah tantangan buat gue dimana suatu hari gue pingin bisa berdiri di hadapanNya and said, “I made it, Bos. You can’t put me down.”


Kalau hidup gue lagi terasa kosong, gue akan sengaja dateng ke website-website agama untuk cari ribut. Bukan menghina agama lain, tapi mempertahankan kepercayaan gue, mencari tahu sejauh apa sih gue tau tentang kepercayaan gue, logika apa yang bisa gue gunakan ketika berdebat tentang agama? It gives me adrenaline rush dan rasanya panas membakar dada gue. Rasa marah gue bisa tersalurkan dan hidup gue ngga hambar lagi. Hihihi..ya, gue “menggunakan” tuhan dan agama untuk memberikan “rasa” di hidup gue. Maaf ya, tuhan..hehehe


Terkadang gue berdebat dengan tuhan seperti berdebat dengan seorang guru besar universitas. Terkadang gue berdialog dengan Dia layaknya seperti seorang teman. I believe he wouldn’t mind, hehehe...I believe Dia tau segala kelemahan makhluknya, I believe dia tau bagaimana cara bekerja otak gue yang absurd dan hal itu menenangkan gue. Bahkan gue pernah berpikir kalau di hari hisab, gue bisa ngobrol dan memperdebatkan dosa-dosa gue, hehehe...Of course it’s not gonna happen, tapi tuhan gue adalah tuhan yang menyenangkan.


Tuhan adalah suatu entity yang bisa membuat gue merasa kecil. Believe it or not, it’s something so beautiful if you can feel that too.


Sayang, met puasa yah. Jangan jadi orang “payah”. We’re grown ups yang bisa melaksanakan tantanganNya untuk kebaikan kita sendiri =)

Sabtu, 02 Agustus 2008

Pelabelan orientasi seksual


Sebagai orang yang belajar ilmu tentang manusia, gue sebenernya ngga setuju dengan yang namanya pelabelan manusia. Tapi di lain pihak, di dunia gue itu pelabelan sangat dibutuhkan. Karena di dunia profesionalisme semua hal perlu dikasih nama demi penghematan waktu, tenaga, dan biaya.

This thought occur to me ketika gue asik browsing internet dengan key ”lesbian”. Satu-satu web gue datangi dan berusaha mengerti apa yang dibahas di setiap web. Tapi kenyataannya ngga ada yang sesuai dengan yang gue cari.

Kita tinggal di negara yang memiliki norma serta ajaran agama yang sangat tinggi. Ngga usah gue jabarin lagi dimana letak pertentangan hal ini dengan kata ”lesbian”. So, let’s take a peek on this word definision.

Lesbian: Homosexuality among women
Homosexual: 1. Sexual intercourse between members of the same sex 2. Sexual attractions for members of the same sex (Chaplin, 1985)

Dimana letak batasannya? Apa fair satu buah intercourse atau rasa tertarik dengan satu orang sesama jenis menyebabkan dirinya dilabelkan dengan homoseksual?

Ada yang sadar ngga sih kalo banyak juga para ”lesbian” ini yang sebenernya ngga masuk ke kategori label ”lesbian” itu sendiri? Gue dikelilingin oleh banyak perempuan yang menyukai sesama jenis tapi punya rencana berkeluarga dan menikah dengan laki-laki. Hal ini juga belum bisa disebut terpaksa karena pada kenyataannya tinggal di negara ini memang menyebabkan seseorang akan tetap berpegang teguh dengan nilai leluhur maupun ajaran agamanya.

Do they like other women? Yes they do.
Do they like other men? Yes they do.
Can they have relationship with other women? Not really.

Terus kita mau masukkan lagi mereka ke label Biseksual. Of course they dont fit karena sebenarnya itu bukan orientasi seksual mereka yang sebenarnya. Siapa yang tau kalo wanita yang mereka cintai itu memang cuma satu-satunya dan ngga akan mungkin ada wanita lain yang bisa dia cintai? Kalau nantinya dia memang jatuh cinta dengan seorang laki-laki, menikah, and never look back, what is she?

Mungkin emang ngga akan pernah ada pelabelan yang perfect untuk suatu kondisi. Mungkin juga sebenarnya sudah seharusnya ada label untuk kondisi seperti ini.
As far as I know, di negara yang sangat timur ini masih banyak perempuan yang me’label’kan dirinya lesbian, padahal bukan.

Ingat, Freud said that sexual orientation is fluid. Now how can you lable something fluid.