Laman

Minggu, 07 Desember 2008

Film Twilight + Chauvinis Mithya

Kemaren waktu telponan sama Lushka dengerin monolog dia tentang Twilight, tiba-tiba di MTV ada trailer filmnya. And OMG, baru 5 detik aja gue bisa komentar betapa cheesy, opera sabun, dan film ratting B film ini! What the hell was that? Versi remaja Bold and the Beautiful? Jujur yah, buku Twilight itu masuk ke list buku yang pingin gue beli kalau gue udah ngabisin SEMUA buku yang belum terjamah. Apalagi alasannya kalau bukan karena menceritakan vampir. I do remember kalau dulu, cover buku itu yang bikin gue ngga mau nyentuh karena terkesan murahan. Please dong, buku best seller kok ada gambar cewek komik gitu? Buatan amatir pula.

Lalu Lushka menambahkan info kalau film ini merebut posisi Quantum of Solace. Wow! Walaupun gue ngga pernah suka James Bond, tapi itu info yang cukup anomali. Mengingat betapa cheesy-nya trailer yang gue liat. Lalu mulai deh Lushka menganalisa about what happen in the world sekarang karena buku itu. Katanya novelis cowok itu udah banyak banget yang berhasil sukses menceritakan cerita-cerita romantis dari sisi mereka dan pengarang Twilight ini seperti semacam angin segar buat orang-orang. Kenapa? Lushka berhipotesa lagi, katanya untuk pengarang-pengarang cewek saat ini cuma menang di buku-buku chicklit..dan seperti pengarang-pengarang cewek general, mereka suka banget untuk menceritakan tema romantic fairy tale. Nah, twilight itu adalah versi lain, versi young adulthood fairy tale. Sukses lah dia memikat jutaan hati (khususnya) wanita. (please elaborate Lush if I’m mistaken)

What about me? Gue bahkan lebih ekstrem dari Lushka. Gue akan menjauhkan diri dari Twilight karena gue ilfil. Gue percaya art, lagu, film, atau buku yang diciptakan oleh kaum Adam jauh lebih menarik. Yep, gue chauvinis, hehehe... Karena mereka laki-laki and it is more interesting to see what the guys had in mind ketika mereka membicarakan tentang cinta. Kalo cewek, buat gue pribadi, apalagi yang perlu gue tau? Gue kan cewek. Ngga jauh-jauh lah paling. Gue suka banget ngeliat cara cowok menggambarkan jatuh cinta mereka. In part coz I believe it doesnt happen in the real world. Jatuh cinta laki-laki buat gue itu sebatas nafsu. Tapi mereka punya cappability untuk membayangkan jatuh cinta yang menurut gue jauh lebih keren daripada cara cewek membayangkan jatuh cinta.

Film vampir yang menurut gue keren dengan romantis picisannya adalah Buffy the vampire slayer..hahaha..I know, norak banget kan? But I dont care! Buat gue film itu keren banget. Karena pengarangnya Joss Whedon. Salah satu contoh cowok nerd, geblek, tapi kreatif yang sempet diremehkan oleh dunia film.

Ngeliat trailer film twilight ngingetin gue sama film The Covenant. Tapi Covenant aja menurut gue masih jauh lebih menyenangkan (cowoknya cakep-cakep! Hehehe..) walaupun jalan ceritanya agak retarded.

Why I think the way I think is beacause gue merasa bahwa mungkin sebenernya soul gue itu sebenernya dilahirkan sebagai cowok biseksual. Jadi untuk jatuh cinta dengan cewek itu normal tapi diem-diem dan takut-takut sangat tertarik dengan cowok lain (especially gay man). So, cara berpikir gue jadi seperti yang gue jabarkan di atas itu. (That’s the most ridicoulus thing I ever-finally-wrote down)

FYI, I wrote this dengan sadar mengetahui bahwa gue BELUM nonton filmnya dan BELUM baca bukunya. TAPI gue akan mengakui kalau nanti MUNGKIN setahun lagi I stumble upon them dan ternyata between those two gue suka ceritanya. Peace and out, guys!

9 komentar:

alex mengatakan...

OMG!!! Mithya, ke mana aja dikau selama ini??? Buat gue, Joss is God!

Gue juga FBB (Fans Berat Buffy), nggak ada yg lbh keren daripada Buffy, walaupun gue jg FBT. Kalau lg bete, nonton DVD Buffy itu pelipur lara banget. :))

Mithya, km nonton Serenity nggak? waaah, itu jg keren abis. Summer Glau di sana wow, sampe bela2in nonton Sarah Connor Chronicle cuma buat liat dia.

IMO, Covenant is a stupid movie, segalanya ttg Covenant is stupid dan nggak cerdas... gue mendingan baca twilight 12x deh... sampe hafal.

Eniwei, thanks ya atas tulisan ini. Gue jadi semangat selesain tulisan gue yg gue pikir malas gue post krn nggak bakal ada yg mahfum... tp setelah gue baca ini, yeah-yeah, what the heck. akhirnya gue post deh:)

Mithya mengatakan...

Ah,you know laa..mencari ilmu hingga ke alam lain,hehe. Duh,alex! Kita kayaknya harus diskusi hebat nih tentang Buffy! Huahaha..

I never heard of Serenity. Bagus? Ada dijual DVDnya? Boleh deh nanti gue cari tau. BTW, sempet bingung juga sama sarah conor chronicle, tiba2 muncul sebagai seri terminator (?)

Your welcome =) senang meng-inspire. Gue dulu bahkan konsul dulu sama Lushka karena takut tulisan-tulisan gue terkesan 'nyari musuh'. Padahal yang namanya memberi pendapat-seaneh apapun-hak setiap orang. Asal jangan lupa kalau orang lain juga punya hak kebebasan aneh (HKA) yang sama =P. Konsekuensi ya terima aja. Malah bisa jadi media nemuin orang yang 'seiman'. Karena gue tau tulisan gue kadang ngga ada yang ngerti kecuali Lushka. Pokoknya PD,hehe..Jadi penasaran Alex mau nulis apa..hmm

alex mengatakan...

add gue deh di ym deh, hehehe... secara kita "seiman". kita bisa diskusi hebat nih soal Buffy.

Ngomong2 soal vampir, td aku baru baca majalah Time. Review Twilight. Budaya pop banget dah tuh film, katanya, where foreplay was the climax and a kiss was never just a kiss. Ouch...

Abis ini mau nonton True Blood, ttg vampir jg, kalo nggak salah diputar di HBO. Yg main Anna Paquin.

Ada dong DVDnya si Serenity itu, check the web http://www.serenitymovie.com/
Kalau penggemar Joss Whedon, kudu mesti ntn Serenity.

Sarah Connor itu emang bgn dr Terminator. Itu settingnya antara Terminator 2 dan 3. Hehehe...

Otak gue penuh dgn junk spt ini. Biasanya Lax sampe termabok2 dengerin teori gue yg asal. Untungnya kalo abis diskusi sama Lax, dia bisa nemuin point of view aneh ala dia juga. Huehehe...

Lushka mengatakan...

Ngomongin Buffy ya?

Gw minggir cari kegiatan dulu deh hehehe.
Kursus apa yaaaa?

Anonymous mengatakan...

Mithya, aku harus memberi komentar di sini.

Pertama-tama, aku tidak punya masalah sama orang yang punya guts to tell her opinion se-nyeleneh apapun atau orang yang stand up for her belief. Secara aku juga seperti itu dan aku tidak takut menulis aneka kritik tentang apapun. Aku lugas, to the point, dan tidak suka dengan basa-basi yang penuh bunga-bunga. Tidak percaya? Silakan baca tulisan2ku dan komentar-komentar pedas dari mereka yang tersinggung denganku.

Namun...

Tulisan kritik atau opini yang tidak di-back up dengan pengetahuan dan ilmu yang memadai atau mumpuni akan menjadi opini atau kritik yang seperti gelembung sabun, pecan berhamburan di udara tanpa ada isinya. Dengan kata lain, tong kosong nyaring bunyinya.

Aku senang membaca tulisan opini pribadi yang berani, satire, maupun argumentatif... sesederhana apapun cara menulisnya. Dunia sosial, sastra, seni, ekonomi, bahkan politik, bahkan lesbian, sangat butuh kritik untuk mem-balance keadaan. Untuk menjadi kritikus atau penulis opini yang sah, ada baiknya mereka tidak melakukan kecurangan-kecurangan yang kekanak-kanakan.

Apa bentuk kecurangan itu?

Kecurangan yang paling jelas adalah saat seseorang mengkritik karya sastra atau seni TANPA menuntaskan membaca atau menonton karya sastra/seni tersebut sampai selesai. Mengambil kesimpulan dari sejumput info di sana, segulung info di sini, bahkan menafsirkan isi tanpa membaca kata-katanya. Jika hendak melakukan tulisan opini yang cerdas, berwawasan, dan dewasa, lakukan dengan anggun dan terhormat.

Aku menulis ini BUKAN karena aku tidak setuju dengan argumentasi dan kritik kamu pada film ini, apapun isinya. Aku menulis ini karena terganggu dengan orang-orang yang berusaha keras menjadi kritis dan beropini tapi tidak patuh dengan hukum menulis kritik sastra/seni. Aku harap kamu bisa lebih cerdas daripada yang telah terjadi. Tulisan ini adalah tulisan kritik film/opini pribadi yang terburuk yang pernah aku baca. Bukan karena ketidaksukaanmu terhadap Twilight, tapi sebab kamu tidak melakukan hal dasar yang wajib kamu lakukan sebelum mengupasnya: menonton sampai selesai.

It's true, it's your blog, you could write anything. But why did I waste my time, rumbling here?

It's simple.

One, because I know you are smart and a fast learner.

Two, because I do care.

*Lakhsmi

Mithya mengatakan...

Ini nih contoh dari maksud gue konsekuensi.

Well, I thought it was clear when I said di akhir post, paragraf terakhir, that I HAVEN’T read the movie and I HAVEN’T read the book, tapi aku ngga akan malu setelah menghina-hina TRAILER film twilight, dan menonton atau membacanya di kemudian hari, ternyata bagus, aku akan mengakui.

Kalo boleh berpendapat lagi, I dare kalau film yang aku bahas bukan twilihght, you wouldnt even care to touch that comment link down there to reply. Kebetulan menyinggung film yang dianggap Mba Lax pantas untuk jadi bahan post di blog.

Mau ngebahas secara “cerdas”? I didnt care to do it “the smart way” coz I thought it wouldnt matter. It was only a soapie-cheesy movie. It wasn’t the Matrix, it wasn’t ID4, hell, it wasn’t even Saw. You should’ve known that people have different standards about movies. And as people normally do, they judge movie negative easily if it is a different kind of what they favored. Ngga perlu jadi seorang kritikus film berlisensi untuk tahu bahwa salah satu cara untuk menarik penonton adalah melalui trailer.

NAH, (1) Film ini gagal (buat aku pribadi) dalam hal pemasarannya karena trailernya terlihat seperti film murahan -that eventually or supposed to be- cara produsernya membuat khalayak ramai menilai film ini layak tonton. Jadi aku memang membuat komentar sekedar dari trailer kurang dari semenit itu. (2) I never took interest with female novelist karena berkali-kali dikecewakan dengan jalan cerita yang “penuh perasaan” si penulis awewe. And I said it clearly, (3) that I’m a chauvinist. So ketika aku mengatakan bahwa I’m not interested dan akan menjauhi film itu, dengan alasan yang sudah jelas terpapar panjang lebar, can’t I wrote it down? You made it sounded like one of the seven deadly sin. Mau aku nonton atau ngga, baca atau ngga, tidak akan merubah fakta kalau trailernya murahan. Memangnya peraturan darimana yang mengatakan kita ngga boleh berkomentar kalau belum baca atau nonton? Peraturan dunia sastra?? Hellow..we live in the real world where first impressions are everything! And for me, sekali lagi, Twilight’s first impression are soapie and cheesy. I dont live in your poetic world with your poetic rules. Dasar wajib kritik sastra? Anggun dan terhormat? Not in my book sista if you’re merely talking about a movie. So I’ll take your comment as a mere comment and not a critique to build. I hope you understand karena obviously how you look at things and how I look at things are completely different. Dont get to worked up and read the first paragraph again.

You’re the one who should’ve chosen “smarter” words coz it’s obvious that your reply was influenced by a lil bit wee of emotion. And to be honest, as I am now, hehehe.. And this is stupid for me wasting my time replying a comment about a movie that I judge as a soapie-cheesy movie karena sebuah trailer. Grr—aarrgh..ehehe..!! Anyway, thanks lho mba, udah lama aku ngga ngerasa kesel karena hal-hal ngga penting. Hahaha....Tetep komentar disini ya.

Anonymous mengatakan...

Hell I would, Mithya! I would care to comment if it weren't Twilight!!

Like I said earlier, I am simply disturbed dengan orang-orang yang mengatakan ini-itu tanpa mencoba mengetesnya dulu (either read or observe it). I don't give a bit care if you and the rest of the world have different standards on specific movies. To tell you the truth, I am not a big fan of ANY movie, anyway. Who care if that movie is rated A or D? May be you are the one who is missing my point. But here the things that I would explain to you desperately, so-called-kritik -- the word I used earlier -- have greater range of meanings, from kritik yang serius-us-us sampai ocehan gak penting di kafe atau blog like this. NAH (juga), when someone start talking blah-blah-blah and semua craps-nya, the first thing come out from my mouth adalah, "pernah dicoba?" Dan kalau jawabannya "nggak", buuuzzz... wrong answer. I seriously think it is pathetic and uncool. And it is frustating to talk to a person who view things like this. I can’t believe you reply my comment sampe melebar ke sana kemari, padahal intinya from me was very simple, plis deh, nonton dulu nape? Deeply I wish you were not a person like that, tapi kayaknya seperti berharap batu berubah jadi kue ya.

FYI, I use bahasa Indonesia as proper as possible, but if you think it is way too poetic, now I start wondering if my father were Chairil Anwar.

I am amazed with the speed of reply coming from you. Last I heard from Lush, you were completely burn out with your school projects. I don't know the meaning of this; was it you were easily work up with my comment or you really did think that I am an important lady that need to be entertained ASAP. But, anyway untuk terima kasihnya, I would say you are very welcome. Hahaha... And rest assure, I would write more exciting comments whenever I have interest on you :))

*Lakshmi

Mithya mengatakan...

Nah,pertanyaanya adalah ketika mba membicarakan 'kritik',berarti mba menganggap aku mengkritik twilight.padahal sih aku engga ngerasa.aku nge-judge trailer dan cover bukunya sehingga terlihat cheesy. That's it. That's two different thing. Aku dibilang 'mengupas' dan 'membahas isi'. Which one? Reply aku itu untuk memperjelas maksud aku. Atau mba Lax lagi kesel sama orang lain yang kalo ngasi kritik ngasal?

Kalo cuma mau ngomentarin bagaimana mengkritik dengan benar,coba dipakai bahasa yang lebih enak diterima dan bukan implisitly mengomentari intelegensi orang tentang tulisan yang 'cerdas'. apalagi kalau ga ngerti isi postingannya. Bagi aku itu ngga sopan lho mba =).Memberi komentar balik posting orang juga ada dasar wajib-nya =P

Maaf kalo bahasa inggris aku menyinggung. Aku cuma terbiasa nulis spontan tanpa ada maksud menganggap mba buah hati chairil anwar.

Wah,terus terang kalo mba Lax deep down berharap aku bisa menjadi kue,aku juga berharap mba Lax bisa seperti padi.

Mungkin lebih baik ngga dilanjutkan karena medianya ngga cocok. Aku rasa mba salah paham dgn postingan aku dan aku mungkin salah paham dgn komentar mba. Peace and out.

Anonymous mengatakan...

Now I'm switching to proper bahasa Indonesia and trying my best to be polite as opposed to be assertive and honest :P

Nggak banyak yang bisa dikatakan. Bila (sekali lagi) aku tertarik menjelaskan panjang lebar tentang point of view-ku, aku akan berakhir dengan melakukan pengulangan dari kata-kataku di komen atas. Bagiku pengulangan adalah sesuatu yang membosankan dan juga melelahkan. Belum lagi buang-buang waktunya.

Btw, apologia Mit tentang bapakku yang terkenal dan melegenda itu sudah kuterima dengan baik =)

Seperti kata-kataku di sms tadi pagi, semua komenku adalah isi kepalaku. Kalau menurut kamu menyimpang dan salah dalam berkata-kata apalagi gak mengikuti hukum ilmu padi yang merunduk-runduk melulu, percayalah maksud awalku sebenarnya sederhana. Maaf kalau bahasa Indonesiaku menyinggung hati dan pikiran. Bahasa ibuku bukan bahasa Inggris melainkan bahasa Indonesia, segalanya menjadi serba spontan (pinjam kata tersebut) dan apa adanya, ehm, bukan serba puitis:)) Yang puitis pastinya bonus :P Cheers.

*Lakhsmi