Laman

Senin, 08 Desember 2008

Don't label yourself

I wrote this based on Lushka’s request that I should sometime share my knowledge that I got form college to other people. Biar gue ngga pinter sendiri, hehe..Awalnya gue nolak. Soalnya entar kalo gue bagi-bagi, entar semua orang jadi pinter terus gue biasa-biasa aja dong..hahaha..

So I was studying about social labelling dan gue jadi inget sama kata-kata gue sendiri kalo gue ngga suka memasukkan diri gue ke kategori mana pun di orientasi seksual maupun dalam dunia kategori lesbian (femme, butch, andro). I guess the description of this blog pun udah jelas kalo itu buatan gue.

Jadi dulu tahun 1973, seorang peneliti bernama Rosehan membuat suatu penelitian yang menurut gue cukup lucu, berani dan bagus buat dikasih tau ke orang-orang. Dia mengumpulkan 8 orang peneliti untuk dikirim ke 12 RSJ buat ngaku-ngaku kalau mereka mengalami halusinasi auditori (doang). Mereka ngaku-ngaku kalau mereka terus-terusan mendengar suara orang yang mengatakan “dull” dan “thud”. Terus diluar hal itu mereka menjawab jujur semua pertanyaan medis yang ditanyain sama psikiater, YANG SEHARUSNYA mengindikasikan bahwa mereka cuma pura-pura. Hasilnya? Lebih dari setengah peneliti itu didiagnosa Schizofrenia dan dimasukkan RSJ selama 7 hingga 52 hari. Padahal didalam RSJ mereka bertingkah normal dan BAHKAN orang-orang yang emang mentally ill di RSJ itu tau kalo mereka cuma pura-pura.

Penelitian ngga berhenti sampe situ. Rosehan lalu menghubungi RSJ-RSJ itu dan bohong kalau dalam beberapa bulan ke depan dia akan masukkin orang sehat yang pura-pura sakit jiwa tapi ngga akan ngasih tau siapa orang-orangnya. Hasilnya? Staff RSJ itu menganggap 1/5 pasien yang masuk cuma pura-pura sakit jiwa. Nah, liat hasilnya memberi label sama seseorang ngga? (Akhirnya gue menemukan dasar kepercayaan gue untuk ngga mengkategorikan diri!! Gue bukan pengecut, you assholes!!).

What Rosehan try to say is, betapa label itu bisa sangat merusak seseorang. Lo-lo pada pasti pernah dengar lah kalo kita ngga boleh sampe nyebut ke anak kita sendiri, “nakal”, “jahat”, “bego” dsb karena memang label menyebabkan seseorang merubah perilakunya sesuai dengan “harapan” masyarakat.

Nah, kembali ke orientasi seksual dan pengkategoriannya. Gue lebih suka mengelaborasi atau menggambarkan perilaku daripada menamai. Yep, saat ini gue in a relationship dan bahkan jatuh cinta dengan Lushka. Tapi saying myself a lesbian? Lah, I’m not that in to women juga. Masih bisa ngiler liat cowok berbadan atletis dan berwajah lutcu...Alam bawah sadar kita akan terus berusaha mengikuti apa yang udah kita kasih label ke diri kita. “I’m stupid and weak” dan voila! I’ll be stupid and weak too.

Jangan berpikir sempit juga lah. Suatu saat nanti kalo tiba-tiba lo naksir cowok, padahal lo udah PD banget yakin abeeezz you're a lesbian..paling jauh lo akan berpikiran bahwa lo kagum dengan cowok itu. Nah, pikiran lo terkotak-kotakkan dengan label kan? Ini salah satu alasan juga kenapa gue dan Lushka suka gatel sama cewek-cewek yang lulus SMA aja belom tapi udah ngaku-ngaku as a lez.

Kalo gue terdengar menegatifkan homoseksual,well, kenyataannya secara norma dan agama emang negatif. Ngga usah dipoles-poles lah. Let me give an example yang lebih netral dan positif. Pernah denger self-hypnotic? Lo diminta untuk berkaca tiap hari dan menyebutkan apa yang lo pingin ubah dari dulu. “Saya orang yang bahagia dan selalu bersemangat!” and voila again! Even if you dont change the behavior you intended to, you’ll finally believe what you said to yourself. Atau orang-orang yang sikap dan perilakunya HARUS TERGANTUNG dengan profesinya (Gue lupa contohnya, hahaha...). They are gonna be the most annoying and pityfull person in the world.

So give me a favor and ketika berkenalan di YM, jangan nanya apakah gue femme, butch, atau andro.

2 komentar:

Anonymous mengatakan...

wah mithya, keliatan dari dua tulisanmu yang terakhir kamu posmo berattt hehe.. ups sori..kamu gak mo dilabelin ya.. :D bener kata lushka, rajin2lah menulis di si duren ini, kasian dia jaga gawang sendirian akhir2 ini -robyn

Mithya mengatakan...

Haha..kalo boleh bilang 'OMG, Robyn!' gue emang ngerasa pemikiran posmo kok 'gue banget??' and yep,ngga bilang gue orang posmo juga. Kan positivisme modern juga masih dibutuhin =D thx 4 droppin a comment. Iya ni,kmaren mumpung libur panjang jadi nyempetin posting.hahaha..najis.sok sibuk.salam!