Just a place to share thoughts and opinions. We are definitely not a part of any factions than the truth finders.
Selasa, 18 Februari 2014
Vampire Academy is ON, VADDICTS!
Finally..FINALLY setelah bertahun-tahun cuma bisa NGAREP bukunya diadaptasi jadi film dan ratusan vaddicts pledged to push some producers (pada masanya, gue takjub ngeliat fans dedikasi banget ngasih ide-ide siapa aja aktor yang cocok memainkan peran-peran yang ada di buku ini dan di-upload di youtube), film ini akhirnya keluar jugaaaaaaa...and of course me and Lushka are planning to watch it together. YAY!!! (kegirangan sendiri ngeliat website 21 pake mereka sebagai layout).
Filmnya ini disutradai oleh Mark Waters, yang terkenal karena sukses dengan film Mean Girls (kalau belum nonton, coba cari deh. Dijamin bakalan ngakak dengan humornya yang cerdas dan fresh) dan Freaky Friday. Kakaknya, Daniel Waters yang juga terkenal sukses dengan film Heathers di tahun 1988 diangkat sebagai penulis skrip film ini. Kenapa nama-nama ini penting? Karena mereka penulis dan sutradara Hollywood yang terkenal dengan kecenderungan mereka untuk support dan ngebuat film-film dengan girl power yang kuat. Couldn't ask for a better crew for this adaption, me think.
Sebagai Vaddict, I can't help berharap film ini sebagus bukunya. But who am I kidding? Sejak kapan adaptasi film pernah sebagus bukunya hehe..
Jadi kapan nih Lush kita mau nonton bareng? =D
Senin, 17 September 2012
"Viva L" by Ria Irawan
Minggu, 01 April 2012
Pro minoritas
Nah, hari ini gue keinget tentang hal serupa yang kejadian sama diri gue sendiri. Gue punya sifat pro-minoritas yang mungkin lebih parah dari Lushka. Gue udah lama denger kalau Titanic mau dibuat 3D dan ditayangin ulang. Akhirnya kejadian juga tuh. Mulai minggu depan, Titanic 3D bakal ditayangin di bioskop-bioskop Amerika. Hal ini mengingatkan gue kalau dulu gue anti banget nonton Titanic. Lebih tepatnya SEMUA film Leonardo DiCaprio. Pada jamannya, Mas Leo ini mulai terkenal luas lewat perannya di film Romeo and Juliet versi remaja. Walaupun karir filmnya udah dimulai jauh lebih muda dari itu. Standar lah, pada masa Mas Leo muda ini, tabloid remaja Jakarta demen banget ngebahas betapa GANTENGnya para aktor-aktor muda yang lagi terkenal pada masa itu beserta poni pirang belah pantat mereka. Oh the gruesome men's hair in the 90's. Inget JTT atau Devon Sawa? Hahaha...nyebut nama mereka bikin inget umur deh..jadi ngga enak sendiri. Intinya waktu itu gue kesel banget ngeliat gimana cewek-cewek seumur gue bisa tergila-gila dengan para aktor yang aktingnya aja baru beberapa kali, cuma karena GANTENG BERATS BOW...
JTT sama Devon Sawa waktu itu nga terlalu signifikan karena mereka emang cuma muncul sekali-dua kali di film dan hilang entah kemana rimbanya. Si Mas Leo ini yang bikin gue gregetan. namanya muncul dalam beberapa film yang muncul hampir saling berdekatan seperti Titanic, The man in the iron mask dan The Beach. Gue waktu itu bertekad ngga bakalan nonton film-film "sampah" Mas Leo ini. Karena gue yakin banget dia cuma jual tampang DAN karena semua orang sepertinya suka banget sama dia.
Akhirnya setelah hampir 10 tahun film Titanic keluar, gue iseng nonton Catch me if you can di RCTI. Gue pikir yasudahlah ya..ngga ada kerjaan, ada Tom Hanks sebagai pemeran utama, dan mulai nyadar betapa kekanak-kanakannya alasan gue ngga mau nonton film-filmnya Mas Leo. Belum nonton kok udah sibuk menghakimi. Ternyata gue cukup terkesan dengan aktingnya di film itu. Pelan-pelan kalau ada film dia di TV, gue mau nonton. Gue nonton Titanic lengkap setelah hampir 10 tahun ditayangin di bioskop. Pendapat gue ngga bener-bener salah sih...dulu jaman dia main di Titanic atau jaman dia masih terhitung muda, aktingnya biasa aja. Cenderung ngga berarti. Tapi sepertinya semenjak Catch me if you can, dia mulai nunjukkin kalau dia bisa jadi aktor watak yang bagus. I can name a few after that seperti Inception atau Blood diamond.
Intinya, gue sebenernya ngerti banget perasaan Lushka yang pro-minoritas ini. Gue bisa bener-bener ngga suka sama Mas Leo karena semua cewek pada masanya tergila-gila sama dia. Ngga cuma dalam hal aktor/aktris. Jangan harap gue akan pernah ngebela Manchester United. Sampe detik ini gue benci banget sama tim itu hanya karena pada masanya (dan sekarang masih agak juga sih), mereka tim yang punya nama paling disebut diantara semua tim bola lainnya. Di saat hampir semua orang pilih tim eropa di World Cup, gue bela-belain tim afrika dan asia (walaupun pada akhirnya untungnya ternyata tim non-eropa mainnya GAHAR bos hihi..). Dari tim Jepang belum punya gigi, gue udah bela mereka abis-abisan sebelum akhirnya mereka juga jadi salah satu tim favorit dunia akhir-akhir ini.
Bedanya sama Lushka..gue kalau udah sempet jadi minoritas yang ngefans sama sesuatu terus tiba-tiba si "sesuatu" ini jadi kesukaan banyak orang, gue bukan ilang rasa sama si "sesuatu". Gue bakal kesel berat sama orang-orang yang baru melek. Gue kesel sama orang-orag yang baru jadi suporter Jepang atau Korea , gue kesel sama orang-orang yang baru suka sama hoobastank atau semisonic. Pokoknya gue duluan, itu punya gueeee...hahahaha...ga kurang childish apa lagi coba? Kalau sampe gue suka sesuatu yang disukain orang banyak, si "sesuatu" itu harus bener-bener berkesan dan worth it.
Tapi itu dulu. Sekarang sih nyisa dikit-dikit aja. Gue rubah dari kesel sama orang-orang yang baru melek, jadi belagu karena gue yang suka dan tau duluan hahaha...penting ngga sih jadi minoritas untuk hal-hal sepele? ngga kan? yang matters itu hanya lo suka atau ngga. That's it.
Jadi, note to self: Pro-minoritas bisa jadi bikin ngerasa keren tapi kalau berlebihan bisa kekanak-kanakan. =P
psst..lagian Mas Leo kan sekarang udah gendutan tuh..tua dikit dia bisa mirip banget sama Jack Nicholson. Jadi kalo cewek-cewek masih pada suka, artinya ngga cuma karena tampangnya aja huahahaha...
Selasa, 29 Juni 2010
NOT FOR SALE ON SALE (the movie)
Senin, 31 Mei 2010
Kamis, 29 Oktober 2009
Indonesia International Fantastic Film Festival 2009

INAFFF is here!! YAY!
INAFF ini dulunya dikenal dengan nama Screamfest Indo di tahun 2007. Awalnya mereka hanya menayangkan film-film horor dan anime. Tapi di tahun berikutnya they got better. Mereka memperluas genre film yang mereka tayangkan dengan menambahkan genre film-film kreatif dan indie. Makanya mereka ubah namanya jadi Indonesia International Fantastic Film atau disingkat jadi INAFFF. Pokokke film-film yang way out of your imagination.
Tahun lalu gue dan Lushka nonton INAFFF 08 dan kita bener-bener having a great time. Apa cuma gue doang ya? hehe..kita dalam sehari nonton 3 film, yaitu los cronocrimenes, the screen, dan les revenant. Dari 3 film itu yang temanya horor cuma the Screen.

Tahun ini INAFFF 09 kembali dengan film-film yang pastinya lebih banyak yang original dan kreatif daripada tahun-tahun sebelumnya. Mereka bekerjasama dengan Blitz megaplex selama 3 tahun berturut-turut. Gue sendiri udah ngelirik 4 judul yang udah gue pastiin mau nonton. REC 2 dan Descent 2 adalah dua film yang paling gue tunggu-tunggu karena film pertamanya gue suka banget. Sedangkan Skeleton Crew (Finlandia) dan Death Bell (Jepang) jadi dua film pilihan gue yang pastinya ngga bakalan masuk teater indonesia kalo ngga lewat festival film ini (DVD bajakan sih bisa aja, tapi apa serunya nonton film gore di tv berlayar kecil?). Gue sebenernya juga pingin nonton Pandorum dan George A Romero's Deadtime Stories. Sayangnya jadwal tayangnya ngga memungkinkan buat gue. Hiks..padahal George Romero itu salah satu director tercinta gue..THE FATHER of the greatest zombie movies ever!! Kalo Pandorum gue masih ngga terlau kecewa lah. Pandoruma "cuma" film hollywood yang kemungkinan besar akan masuk bioskop kita juga nantinya.
Pre-sale akan dimulai besok tanggal 30 Oktober 2009 - 12 November 2009 di Blitz Grand Indonesia dan Mall of Indonesia. Kenapa pre-sale? Soalnya gue yakin kalo dijual di hari H, orang bakalan desak-desakkan ngga karuan rebutan milih film. Yang niat yang bakalan beli jauh-jauh hari untuk film pilihannya. And that's us =P Lushka bahkan ngebuatin jadwal yang super rapih pake excel. Niat abis! Soalnya jadwal yang dikasih di web officialnya ngga terlalu enak buat diliat kalo mau pilih-pilih film dan waktu. Buat kita festival film yang ini jauh lebih menarik dari QFF yang gagal kita hadiri kemarin karena tiba-tiba ilfil hihi...
Untuk semua jadwal dan sinopsis film, bisa langsung ke web official mereka di www.inafff.com and here are the trailers for Skeleton Crew dan Death Bell. Hope to see you there!
Selasa, 23 Desember 2008
Twinkle-twinkle little star on his pale skin
Last week I finally watched the infamous movie Twilight. Fortunately gue ngga harus mengeluarkan uang sepeser pun karena nonton itu rame-rame dibiayain sodara. I really gotta put this movie to the test. Karena katanya box office, bagus, menyentuh, romantis etc.The verdict: Film ini tai banget! Gara-gara film ini, gue harus berantem sama Lushka. Setelah nonton, Lushka mengharapkan gue menjelek-jelekkan film ini sesuai dengan pendapat dia. Tapi karena gue ngga ngerasa segitu jeleknya sampe harus dihina-hina, eeehh gue kena aksi nyolotnya yang fenomenal itu. Jadi film ini tai banget! hehehe...
Anyway, terlepas dari jadi biang ribut gue dan Lushka, gue ngga menghina (banget) film ini hanya karena I’ve seen worst. Pemain-pemain (what they called vampire) film ini kayak pemain kabuki (cari aja gih di google image what kabuki is). Sangat-sangat irritating untuk dilihat (the people in the movie, not the kabuki players). I dont complain about the acting. Ngga jelek, ngga bagus juga. Standarnya ukuran pemain film remaja lah. Tapi gue salut cara Bella dan Eddie tatap-tatapan penuh cinta SELAMA itu. Pasti butuh banget segala perasaan dari dalam perut dan hati untuk melakukan adegan sebanyak dan selama itu.
Umur penulisnya berapa sih? Gue bener-bener kebayang film ini dibuat sama seorang cewek berumur 15 tahun (17 tops) yang membayangkan “Apa sih imajinasi teromantis gue tentang seorang pria yang mencintai gue?”. Ngga salah juga orang mau buat cerita apa sih. Cuma buat gue kebayangnya gitu. She’s married right?
Nonton film ini kaya disuruh minum sekaleng penuh susu kental manis rasa coklat (gue suka coklat). Awalnya lo punya ekspetansi, terus rasanya enak, nikmat, hmmm...HOEK...dan berakhir dengan WHAT THE FUCK!? Hahaha... Kayak nonton Meet the robinsons, you watch it, enjoy the feeling of watching it, stuck in that moment for an a hour, terus lupa. Intinya film ini ngga memberikan suatu hal yang....nothing! Kayak nonton film-film disney remaja..semua dibuat manis dan ngga menyeramkan, karena penonton yang diharapkan of course young adult or younger with lovey dovey feeling-love illusions-and shits and stuff. Udah gitu sejak kapan vampir bergelimangan sparkling thing kalau kena cahaya??? Make a new creature who sucks blood and eats humans, you moron! Freakin dissastrous!
Tech? Not really great. Mungkin budget-nya terbatas. Adegan Eddie manjat pohon kaya film-film silat cina 20 tahun yang lalu. Tapi teteeeepp jauh lebih baik dari film-film Indonesia, hehehe...
Gue ngga tau apa hanya karena film ini harus memotong segitu banyak lembar di buku satu, tapi how Eddie drawns to her terlalu “maksa”. Istilahnya, “its just happened coz you know its gonna happen, so cut the crap and let the guy get to her pants. Dont ask why!” kinda way.
Gue kalo udah kehilangan interest dengan jalan cerita atau dialog, bakal usaha nyari hal-hal fun dari film itu. Gue suka dengan Carlisle (the Dad). Imut-imut dan kayaknya baik beneeerrr...dia main film apa ya? Familiar banget mukanya. I’d take him as a husband, hahaha. Gue juga suka sama ayahnya Bella. Karakter-nya sebagai ayah yang baik, sukses. Gue juga suka gaya pacaran Bella dan Eddie yang seperti monyet, bercengkrama di atas pohon. Satu-satunya dari film ini yang original kayaknya. Sempet mengharapkan Bella tiba-tiba balik badan dan Eddie mulai nyari kutu..but it didnt happened. Hhh... Bella juga menarik dan agak boyish, which is yummy..=D
Anyone read Darren Shan? Kenapa ya teringat dengan buku ini waktu nonton film twilight? Dan kalau berikutnya ada perseteruan dengan “serigala”, a lil bit underworld isnt it? Atau memang ada legenda dunia antara vampir dan serigala?
I feel sorry for the girl, by the way. Eddie drawned to her just because he wants to eat her, and the only person in the world (by far) ngga bisa dia denger isi pikirannya, and eventually weird enough to accept him as a vampire.
Well, postingan ini hanya untuk memuaskan hasrat gue benar atau tidaknya judgement gue atas trailernya yang cheesy, soapie dan B-rated. And it is! Too bad...=( But I’ll watched the next movie and so on, kalo ada yang mau bayarin.
Oiya, buat yang suka film cloverfield atau 28 days later, try watching Quarantine. Sangat menghibur! Lushka lompat dari kursinya beberapa kali dan gue puas ketawa. Terus terang tadinya gue mau bilang Twilight BIASA BANGET, eh, besoknya nonton Quarantine...ancur deh tuh film. Hahaha....
eh, eh ada satu comment dari rottentomatoes.com yang sebel banget sama film ini dan sebel banget sama cewek-cewek yang belain film ini. I like the way he expressed it (hanya copy paste, ngga ada yang diubah satupun):
"Notice how everyone disagreeing with this review is a ****ing woman, probably a feminist still in High School who is single and looking for the love of their ****ing life. You just pretend to like the movie because you're in your stupid dream world with the book and since a woman wrote it, the movie HAS to be amazing, like the book. **** you, disgrace to society, sexist *****. "
HUAHAHAHAHAHA......Rock on!!
Minggu, 07 Desember 2008
Film Twilight + Chauvinis Mithya
Kemaren waktu telponan sama Lushka dengerin monolog dia tentang Twilight, tiba-tiba di MTV ada trailer filmnya. And OMG, baru 5 detik aja gue bisa komentar betapa cheesy, opera sabun, dan film ratting B film ini! What the hell was that? Versi remaja Bold and the Beautiful? Jujur yah, buku Twilight itu masuk ke list buku yang pingin gue beli kalau gue udah ngabisin SEMUA buku yang belum terjamah. Apalagi alasannya kalau bukan karena menceritakan vampir. I do remember kalau dulu, cover buku itu yang bikin gue ngga mau nyentuh karena terkesan murahan. Please dong, buku best seller kok ada gambar cewek komik gitu? Buatan amatir pula.
Lalu Lushka menambahkan info kalau film ini merebut posisi Quantum of Solace. Wow! Walaupun gue ngga pernah suka James Bond, tapi itu info yang cukup anomali. Mengingat betapa cheesy-nya trailer yang gue liat. Lalu mulai deh Lushka menganalisa about what happen in the world sekarang karena buku itu. Katanya novelis cowok itu udah banyak banget yang berhasil sukses menceritakan cerita-cerita romantis dari sisi mereka dan pengarang Twilight ini seperti semacam angin segar buat orang-orang. Kenapa? Lushka berhipotesa lagi, katanya untuk pengarang-pengarang cewek saat ini cuma menang di buku-buku chicklit..dan seperti pengarang-pengarang cewek general, mereka suka banget untuk menceritakan tema romantic fairy tale. Nah, twilight itu adalah versi lain, versi young adulthood fairy tale. Sukses lah dia memikat jutaan hati (khususnya) wanita. (please elaborate Lush if I’m mistaken)
What about me? Gue bahkan lebih ekstrem dari Lushka. Gue akan menjauhkan diri dari Twilight karena gue ilfil. Gue percaya art, lagu, film, atau buku yang diciptakan oleh kaum Adam jauh lebih menarik. Yep, gue chauvinis, hehehe... Karena mereka laki-laki and it is more interesting to see what the guys had in mind ketika mereka membicarakan tentang cinta. Kalo cewek, buat gue pribadi, apalagi yang perlu gue tau? Gue kan cewek. Ngga jauh-jauh lah paling. Gue suka banget ngeliat cara cowok menggambarkan jatuh cinta mereka. In part coz I believe it doesnt happen in the real world. Jatuh cinta laki-laki buat gue itu sebatas nafsu. Tapi mereka punya cappability untuk membayangkan jatuh cinta yang menurut gue jauh lebih keren daripada cara cewek membayangkan jatuh cinta.
Film vampir yang menurut gue keren dengan romantis picisannya adalah Buffy the vampire slayer..hahaha..I know, norak banget kan? But I dont care! Buat gue film itu keren banget. Karena pengarangnya Joss Whedon. Salah satu contoh cowok nerd, geblek, tapi kreatif yang sempet diremehkan oleh dunia film.
Ngeliat trailer film twilight ngingetin gue sama film The Covenant. Tapi Covenant aja menurut gue masih jauh lebih menyenangkan (cowoknya cakep-cakep! Hehehe..) walaupun jalan ceritanya agak retarded.
Why I think the way I think is beacause gue merasa bahwa mungkin sebenernya soul gue itu sebenernya dilahirkan sebagai cowok biseksual. Jadi untuk jatuh cinta dengan cewek itu normal tapi diem-diem dan takut-takut sangat tertarik dengan cowok lain (especially gay man). So, cara berpikir gue jadi seperti yang gue jabarkan di atas itu. (That’s the most ridicoulus thing I ever-finally-wrote down)
FYI, I wrote this dengan sadar mengetahui bahwa gue BELUM nonton filmnya dan BELUM baca bukunya. TAPI gue akan mengakui kalau nanti MUNGKIN setahun lagi I stumble upon them dan ternyata between those two gue suka ceritanya. Peace and out, guys!
Jumat, 05 Desember 2008
lagi nyela bareng pacar
Terus gue bilang kalo gue ga suka sama acting yang jadi Bella, cara dia ngomong itu ngingetin gue - perpaduan gaya bicaranya Neve Campbell dan Katie Holmes.
Annoying.
Neve dengan desahan ‘aa..uu..aa..uu", Katie dengan bibir yang suka miring-miringnya..dduh maaf.
Terus Mithya ketawa ngakak setuju.
Gue seneng banget, akhirnya ada yang ngerti juga seberapa ngeselinnya akting Jeng Neve dan Bu Cruise ini. Temen-temen gue ga ada yang ngerti maksud gue kalo mereka berdua ini nyebelin.
Emang, pacar gue paling connected ama gue =)
Enihei, i wonder - ada-yang-setuju-ama-kita-ga?
*maaf ya klo yang suka ama Twilight, mungkin emang bukan genre gue - journey to the centre of the earth lebih menghibur menurut gue. Peace!*
Rabu, 03 Desember 2008
Twilight?
tapi nonton Twilight berasa kaya nonton galih dan ratna.romeo dan juliet. capek.
(apakarenaguenontonsendirian?)
Kamis, 14 Agustus 2008
Batman: Dark Knight

Film Batman sekarang terlalu usaha memanusiawikan cerita Batman. Semuanya dibuat senyata mungkin melalui drama yang dark, sehitam setting kota Gotham. Tapi adegan di siang harinya banyak which is the contrary dengan film-film Batman terdahulu. Buat gue sih dua film Batman terakhir ini produk gagal. Gue lebih suka dengan versi Batman yang dulu. Tetep dark tapi punya sense of humor yang satir. Warna-warna terang yang dipake dengan kontras dengan background hitam seperti baju hijau terang Riddler, muka ungu two-face, make up ”gila” penguin dan joker jadi paduan yang pas. Usaha mereka untuk ngebuat film ini manusiawi malah jadi terlihat bodoh.
Bandingin aja Joker dan two-face dari film jaman dulu dan sekarang. Mana yang menurut lo paling bisa menggambarkan sifat mereka seperti aslinya? Heath acting was great. Tapi buat gue dia ngga mengingatkan gue sama the real Joker. Heath cuma sukses ngebuat versi lain Joker yang lebih mengerikan.
Positifnya, untuk ukuran film dua setengah jam, gue ngga bosen sama sekali. Action-nya keliatan banget dibuat macem film Die Hard atau Wanted. Penuh dengan bak-buk-bak-buk, ledakan besar, dan diakhiri dengan decakan kagum penonton. But is it the real Batman??
Enough for the review, gue pulang tengah malem setelah nonton film itu dan gangguin Lushka yang udah tidur. Dengan segenap usaha dan tenaga yang tersisa, Lushka berusaha ngedengerin gue ngomong panjang lebar pendapat gue tentang film Batman.
”Aku ngga suka filmnya. Satu, bla bla bla bla. Dua, bla, bla, bla. Dan tiga, bla, bla, bla! Kalo menurut kamu gimana? Gimana film-film Betmen yang dulu? Lebih bagus kan ya?”
”Ngga”, jawab Lushka.
”Kenapa?”, tanya gue yang ngga rela. Mengharap dia bakalan ngasih alasan panjang lebar untuk ngebantah pendapat gue like she like to do.
”Aku ngga suka Batman.”
DOOEEENNGG!! Rasanya mau kejengkang ngedenger jawaban Lushka yang singkat dan bikin nge-Drop. Pupus deh harapan gue beradu pendapat ngomongin film Batman jam 1 pagi. Gue tetep usaha dong bikin dia keep awake dengan nodong jawaban yang tepat guna dan bermanfaat tentang Batman.
”Kenapa ngga suka!? Bukannya aku nge-Fans ya sama Betmen. Aku pengikut aliran Spider-man murni. Tapi Betmen ngga jelek kok”
Dengan gaya asalnya Lushka ngejawab,”Betmen itu cowok kaya manja yang punya banyak mainan dan dibantuin sama kakek-kakek pula. Contoh dong Iron men. Dia beneran punya lab, bukan goa bawah tanah tersembunyi. Asistennya juga cewek cantik.”
No, no, buat gue Lushka mengeluarkan pendapat seorang penikmat superhero amatiran, hehehe...Makanya gue perlu untuk ngejelasin panjang lebar kalo Bruce Wayne itu sebenernya pernah punya trauma watching his parents dibunuh sama pencopet di depan matanya waktu kecil. Dia jadi agak-agak sakit jiwa mau jadi penegak kebenaran dan keadilan semenjak itu. Dengan warisan yang buanyak dan buttler setia khas bangsawan jadilah seorang Batman.
Ternyata Lushka masih ngga mau kalah dan ngejawab tambah asal,”Ih, tapi apaan tuh pahlawan kok celana dalemnya di luar. Temenan sama anak kecil juga yang celana dalemnya diluar!”
At this point gue ngalah aja deh. Gue cuma bisa bilang that’s the gay thing about superheroes and that is why I love them! Hahaha!
Buat penutup gue bilang thanks udah mau gangguin tidurnya cuma buat ngomongin Batman jam 1 pagi.
Jawabnya,”Supaya ngga diomelin kamu pagi-paginya kalo aku ngga ngeladenin kamu, hehehe..”
Queer Film Festival, 9 Agustus 2008; Central Cultural Francais; L Word
Jadi perjanjiannya adalah after dia udah netapin motor idamannya, we could go to the nearest place and time to QFF.
So we went to CCF in time to watch the 17.30 show. Perasaan sih di jadwal judulnya women on top, tapi ternyata the whole theme was L word. Agak-agak pusing juga tuh kita, soalnya kita berdua orangnya sama-sama ngga kuat sama hal-hal yang terlalu Lesbian. In some point, too many of women could really make us feel nausea. Sepanjang film gue masih usaha untuk nonton sedangkan Lushka berkali-kali bilang ngantuk. Tapi hebatnya gue yang berkali-kali nanya tiap satu film pendek selesai, ”Filmnya maksudnya apa sih?” dan Lushka bisa loh jawab..hahaha...
Gue ngga dongo-dongo amat sih sebenernya. Pas dijelasin gue ternyata emang udah nangkep, Cuma gue pikir ada deeper meaning dari yang obviously stated in the screen or the dialouge.
So here is the review. I’m trying OK. Jangan dilempar tomat busuk.
Bend it

Judul filmnya kayaknya sih sama kaya judul lagunya yang jadi pengiring film. Just a film about two butches dancing on top of a box imitating sex. Maju-mundur-depan-belakang-puter puter-hadap depan-hadap belakang. Boring at some point tapi masih bikin gue ketawa ngeliat si cewek sebelah kiri layar niat banget jogednya. Gue punya rasa ngga suka pribadi ngeliat cewek ngebebet toketnya. Jadinya agak-agak ngga nyaman nontonnya.
Dedicated to Rebelsexuals

Ms. Anita Schoepp as director and writer hadir juga di CCF. Gue ngga tau tuh kalo ini filmnya dia. Dari awal dateng ke CCF gue CCP ngeliatin ni bule cantik juga, Hahaha...ampunn yaaanng...Tapi filmnya juga ngebosenin banget. Cuma sekelebat foto-foto polaroid dari seorang cewek yang touching herself. Lushka sih kayaknya ngerti dan ngejelasin ke gue. Gue yang dablek kali ngga ngerti-ngerti. Soalnya durasi 9 menit itu terlalu lama untuk tema ini. Sound yang dipake sih keren. Soalnya spooky banget. Jadi layarnya gelap untuk beberapa detik terus ada sekilas sekelebat atau bagian dari still photograph dari si cewek. Gitu aja berulang-ulang dengan pose-pose yang berbeda.
Gue sih asik ngebayangin sendiri kalo yang muncul lama-lama foto-foto pembunuhan....ehehehe..maafkan...tapi it would be more interesting for me that way.
Eeehh..ternyata cewek di film ini ya si Anita Schoepp itu sendiri. Wow, as she was trying to explain the meaning of the movie in front of me, gue asik takjub menyadari bahwa gue baru ngeliat foto-foto dia bugil. Hahaha…..Setelah mendapat penjelasan dia, gue lebih tertarik dengan cara pengerjaannya. Dia butuh satu tahun buat ngerjain tu film! Duh susah gue ngejelasinnya disini. Intinya dia harus ngeliat hasil film-nya satu-satu untuk bisa dapetin snap shot diri dia. Sedangkan jarak waktu layar gelap dengan si foto polaroid adalah penggambaran jarak waktu dia butuhin untuk dapetin snap shot itu. Ngga ngerti? Bagus.
You and Me

About two young lesbians in China yang udah tinggal bareng. Si tomboy kerja sebagai penjaga tiket di dalem bis kota dan si feminin student pengangguran yang ngga lulus-lulus. The point of the story sih kalo lo pasangan lesbian dan mau tinggal bareng, lo harus siap untuk nerima segala resikonya. Harus punya pekerjaan yang cukup tetap dan bagus supaya idup ngga cuma supaya bisa makan setiap hari doang. Si tomboy juga kalo pulang ke rumah, ibunya kayak pura-pura ngga tau kalo anaknya lesbian dan nanya dia udah punya pacar cowok atau belum. Ending film ini si feminin akhirnya nyerah dan ikutan temennya jadi cewek penghibur buat bapak-bapak kaya.
Director and writer film ini, Siqi Sun, juga jadi bintang tamu. Kekurangan film ini menurut gue minimnya lagu sebagai background supaya penonton ngga berasa budek sama shot-shot panjang yang ngga penting. Lagi-lagi penjelasan pembuatan filmnya yang lebih menarik buat gue. Kata Siqi film ini seharusnya berdurasi 90 menit. Tapi karena kekurangan dana, dia harus memotong filmnya jadi 23 menit. Fakta lainnya yang menarik adalah negara RRC itu ternyata anti pati banget sama yang namanya homoseksual. Semua film-film yang mengandung unsur homoseksual pasti disensor, dipotong, atau dibuat rancu. Begitu juga dengan film Siqi ini. Dia masukkin naskah film ini ke universitasnya yang lagi nyari director muda berbakat untuk ngebiayain filmnya. Tapi naskahnya ditolak karena tema lesbian. Wuih...gue sih ngga nyangka. Gue pikir RRC udah open masalah beginian. At least dibanding Indonesia gitu. Wong foto-foto gay asia yang beredar di internet itu lo kira darimana kan.
Nah, karena Siqi membangkitkan rasa ingin tahu gue, gue jadinya nanya cerita lengkap 90 menit filmnya, hehehe...Ternyata endingnya si Tomboy dan feminin ini kan putus karena kelakuan si feminin jadi cewek penghibur ini. Si Tomboy akhirnya mau nikah dengan seorang cowok pilihan ibunya. On wedding day ternyata si feminin dateng dan menyatakan penyesalannya dan minta second chance sama si Tomboy. Terus mereka kawin lari deh...hahaha...kaya film komik banget ya...
FYI: Gue, Siqi, dan Lushka foto bareng loh!!! Terus jadi deh fotonya berjudul Tiga Babi Beranjak Dewasa...hahaha
In the Theme.

Isinya adalah wawancara dua pasangan butch dari Rusia, Olga and Rechnja. Masing-masing cerita tentang how their relationship is. Mereka udah nikah selama setahun dan tinggal bareng di samping kamar ibunya Olga. Ibu Olga jauh menerima hubungan mereka dibanding ibunya Rechnja yang ngga tau apa-apa. Dan menurut hemat kami (taela), sepertinya Olga agak-agak ”kurang” atau mungkin masih terlalu childish lah kalo sampe udah punya marriage kaya gitu. Judul in the theme ini ternyata merupakan bahasa lokal Rusia untuk menyebut Lesbian karena menggunakan kata Lesbian di Rusia termasuk kata yang cukup jelek maknanya.
Ini salah satu film yang bisa masuk ke kategori bagus buat gue ama Lushka. Soalnya bisa bikin kita ketawa. Gue juga suka dengan gaya interview film ini. I guess gue dan Lushka lebih suka dengan cerita yang lebih menyentuh ke kehidupan nyatanya daripada film-film lesbian yang terlalu melankolis, dramatis dan menye-menye. Ada juga sih sempet kita ketawa bareng pas Olga bilang dia mau mengandung anak mereka berdua. Duuhh..I know itu ngga sopan bangeeeeddd....
Sebenernya agak mengerikan waktu mereka ngeliatin kebiasaan mereka di waktu senggang: GULAT. Hahaha...two big butch pushin each other trying to pinned her partner in bed. Dan ini bukan gulat lucu-lucuan..ini beneran gulat kasar!! OMG!! Ternyata buat mereka itu bentuk latihan kalo mereka harus menghadapi gay basher yang udah biasa terjadi di Rusia. Weleh- weleh...disini religion basher, disana gay basher yah...
Rechnja nambahin kalo bentuk mereka yang kaya lekong itu ternyata supaya dia bisa merasa nyaman di deket-deket Olga karena orang bakalan melhat mereka seperti pasangan hetero. Talkin about insecurities....hmm..
At the end of the streets

A break up story between Alexandra and her girlfriend yang udah punya cewek baru. Ceritanya ngga butuh informasi lengkap of how they break up, why etc, tapi cuma sepenggal moment di kehidupan Alexandra untuk malem itu. Cukup real menurut gue karena ngegambarin how a girl would react if she is being dumped.
Pertama tama Alex beneran ngotot nungguin mantannya yang menolak keluar dari rumahnya sampe mau tiduran di jalan raya. Setelah dia sadar kalo mantannya ngga bakal keluar-keluar, dia akhirnya nekat masuk juga pake kunci punya dia. Alex ngedapetin mantannya lagi dinner sama pacar barunya dan teman-teman lamanya, nice huh? Sambil shock Alex masih punya senjata terakhir buat bikin mantannya kesel. Dia bilang kalo dia mau ngambil barang dia yang masih belum dikeluarin dari rumah mantannya. And guess what? Barang Alex itu ternyata meja makan yang lagi dipake dinner! Hahaha...
Selagi temen-temen mereka berusaha ngeluarin meja itu keluar, mantannya malah masih ngasih kesan kaya dia masih sayang Alex dengan cara kiss her on the lips. Huh! Standar Lesbian bangeeeeddd..ngga tau batas physicall allowed kalo udah putus.
Sisanya adalah gimana keadaan Alex pas lagi depresi-depresinya dan ketemu polisi cowok yang menunjukkan interest ke dia.
A thumbs up dari gue untuk pembuatnya yang bisa bikin sepenggal kehidupan manusia jadi terasa menarik.
Salome
Astagaaa...ngga karuan banget deh ini film. Ceritanya adaptasi dari cerita klasik Oscar Wilde yang dibalut sama all kind of lesbian way you can think of. Murahan, tua, dan norak. This movie only remind me of an old porn movie I have yang judulnya twin killers, hihihi…
Londres-London

Ngga ngasih gue impression apa pun. Paling yang gue inget cuma monolog si tokoh utama yang diulang-ulang. Berusaha ngebuat suatu statement dari seseorang yang kesepian.
Aly M

Another interview. Kurang menarik dibanding In the theme. Kisah hidupnya sih interesting karena apa yang dia rasain pasti happens pada kebanyakan lesbian yang berusaha come out. Battle antara komunitas agama, keluarga, dan dirinya sebagai lesbian. Aly is a lesbian campuran India yang tinggal di Aussie dan akhirnya mendirikan suatu komunitas queer muslim di Aussie. Sepanjang dia cerita, adegan berubah-ubah ke adegan dia main squash like some kind of analogy dari cerita hidupnya.
Seeya Rach
Ini nih baru yang namanya film lesbian yang bagus, ngga perlu pake menye-menye dan melankolis tapi touching banget dengan cara yang agak kasar di ending film, hehe...ceritanya tentang a girl, Mel, yang ngebuat video goodbye buat pacarnya Rachel yang mau sekolah keluar negeri. Isi videonya lucu-lucu banget. Mel usaha buat ngingetin Rachel tentang hal-hal yang menyenangkan selama mereka in relationship. Bahkan di tengah-tengah film pas Mel lagi asik monolog di tempat tidur mencurahkan segala perasaannya buat Rachel, gue jadi ngga tahan buat cium pipi Lushka, hehehe... 5 star for this movie.
Buat gue sih ini merupakan suatu pelajaran ngga lagi-lagi nonton film indie bertemakan lesbian. Sekarang gue agak ngerti kenapa Lushka ngga tahan nonton The L word. Hahaha...
PART II
OPENING PHOTO EXHIBITION: WHAT’S QUEER?
Gue ngga bakal ngomentarin tiap foto kok, tenang aja, Hahaha…kesan gue tentang foto-fotonya: AMATIR. Kadang-kadang MENTAH. Gue ngga nangkep apa yang berusaha dikatakan sama si fotografer atau foto itu sendiri kecuali of course judul pagelarannya dan beberapa line kalimat di bawah foto, hehehe...
Mungkin faktor tiap foto berukuran kecil dan dikasih frame hitam yang terlihat murahan yang bikin ilfil. Tapi kalo dipikir-pikir emang fotografi yang bagus ngaruh sama hal-hal kaya gitu? Thumbs di internet aja bisa bikin kita nge-click kalo gambarnya emang udah ketawan bagus kan?
all pictures above are taken from http://www.qfilmfestival.org/




