Halaman

Tampilkan postingan dengan label QFF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label QFF. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 September 2012

"Viva L" by Ria Irawan



Tadi malem gue dapet kesempatan untuk nonton screening 2 film dengan tema LGBT karena dapet undangan mendadak dari Carmen. Acaranya sebenarnya terbuka untuk umum dan gratis. Namun sayangnya karena penyebaran undangannya bener-bener baru dilakukan sehari sebelumnya, banyak yang kurang tau tentang screening film ini. Lokasinya di sebuah restoran nyaman di daerah setiabudi bernama Rempah-rempah. Menurut jadwal sih mulainya jam 6, tapi karena masalah keterlambatan datangnya salah satu film, acara molor hingga lebih dari 1 jam. Kedua film itu berjudul Viva L dan Sanubari Jakarta. Bagi yang datang di QFF tahun lalu di acara pembukaan sih seharusnya udah tahu film Viva L. Sedangkan film Sanubari Jakarta udah pernah ditayangkan juga awal tahun ini di bioskop-bioskop Jakarta. Berhubung gue ngga sempat nonton dua-duanya, kesempatan untuk bisa nonton kedua film ini jadi surprise yang menyenangkan. Selain Carmen, kami datang dengan satu teman lagi.
Ketika datang kami langsung disambut hangat oleh beberapa orang yang kalau gue ngga salah lihat sih para pemain di film Viva L. Mba Ria Irawan sebagai sutradara film ini juga terlihat lalu lalang dan menyempatkan diri minta maaf karena molornya waktu screening. Tapi sembari menunggu si film datang, kami ditemani oleh salah satu dari pemain utama Viva L, Kak Dhadhe (kalau salah ketik namanya, mohon maaf ya). Kak Dhadhe sempat bercerita sedikit tentang behind the scene pembuatan film ini. Ternyata mulai dari brain storming hingga film jadi hasil editing terakhir hanya membutuhkan waktu semingu. Para pemain yang digunakan juga ngga ada satu pun yang seorang artis atau pernah sekolah akting. Jadi sebenernya gue udah siap dengan kualitas yang seadanya. Bener aja sih, film yang berdurasi hanya 9 menit ini kalau menurut gue pribadi kurang menunjukkan sisi emosional dari pesan yang berusaha dibawa oleh si film. Di akhir film disebutkan kalau film itu terinspirasi dari kisah nyata dimana seorang lesbian (L) yang menderita Leukimia bisa terus berjuang hidup, lebih dari prognosis dokter karena support dan cinta dari pasangannya.
Kualitas akting para pemerannya memang terlihat masih sangat mentah. Kak Dhadhe sih untuk ukuran seseorang yang katanya belum pernah berakting masih bisa memerankan L dengan cukup baik. Gue rasa pasangannya malah lebih better lagi aktingnya, tapi ngga banyak yang harus dia lakukan sih. Lalu antara satu act ke act lainya masih kurang smooth. Film ini termasuk “vulgar” karena menunjukkan banyak adegan making out antara kedua pasangan lesbian. Gue beberapa kali bingung kenapa kok tiba-tiba mereka udah langsung hap aja cium-ciuman ngga pake basa-basi apa gitu. Atau ada adegan-adegan dimana L tiba-tiba langsung pingsan di tengah-tengah making out. Gue sampe bercanda sama Carmen, jangan-jangan dia anxiety performance sampe passed out gitu hehe..tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat dan perduli ke individu yang jadi inspirasi ya. Kritik gue walaupun sependek apa pun si film, seharusnya dialognya bisa lebih berisi. Atau mungkin juga mba Ria Irawan emang ngga mau banyak dialog. Tapi ketika suatu film mau meminimalisir dialog, dibutuhkan pemain film yang memang udah biasa berakting sehingga memaksimalkan ekspresi dan bahasa tubuh untuk menyampaikan cerita. Gue rasa sayang aja masih banyak hal yang bisa dieksplorasi dari tema maupun plot cerita. Seorang lesbian yang menderita leukemia dan disupport oleh pacarnya sampai dia bisa terus kuat menjalani penyakitnya. Man, that’s a really good story waiting to be told. 
This movie is not a complete failure kok. At least nilai plus dari film ini adalah, gue bisa connect dengan bagaimana si pasangan memberikan perhatian sepenuhnya setiap saat ke L. Bagaimana setiap L harus kesakitan ketika dia harus meminum salah satu obat (yang mungkin merupakan obat Kemoterapi), sang pacar akan selalu memeluk dia dan mengucapkan sweet words to her ear dengan harapan meredakan sedikit rasa sakitnya. Gue rasa itu gambaran hubungan L yang cukup faktual. Tapi gue rasa ya balik ke kurang berisi itu tadi. Kalau yang nonton adalah para hetero, mereka ngga akan merasa ini suatu cerita yang pantas untuk dijadikan film. Mereka bisa berakhir dengan pertanyaan, “so what?”  Terlepas dari kekurangannya, film ini gue liat sebagai suatu langkah maju lagi untuk perfilman LGBT khususnya Lesbian di Indonesia. Satu judul lagi yang bisa ditambahkan dan dijadikan bahan untuk dilihat kelebihan dan kekurangannya.
Mba Ria Irawan di akhir film menambahkan bahwa beliau sedang merencanakan akan membuat beberapa film-film dengan tema LGBT lagi. Tapi degan genre yang berbeda-beda untuk setiap identitas. Misalnya seperti Viva L yang sudah menggunakan genre drama untuk Lesbian, beliau ingin menggunakan genre komedi untuk Gay, horror untuk Bisexual dan Musikal untuk Transeksual. Sounds very interesting right? Beliau juga menawarkan bahwa beliau akan dengan tangan terbuka menerima ide-ide dan transkrip film untuk tema LGBT ini. Gue sih kurang tau ya harus kontaknya kemana hahaha…paling sih ga jauh-jauh dari Qmmunity dan Om John Badalu. Anyone interested?
Untuk review Sanubari Jakarta-nya ngga malem ini deh. Puanjang bok. Sembilan film pendek dalam satu judul. Sekarang gue mau beraktivitas yang lain dulu hihi. Special thanks to Carmen yang udah mau ngajakin dan Kak Yas udah jadi a very nice company for the night. Good morning queers and have a nice rest or nice work =)

Note: Gue lagi nyesel banget ngga ambil foto lokasi atau poster filmnya karena ngga merencakan buat review haha...damn

Kamis, 24 Desember 2009

I'm gonna miss you right about...now

Seminggu yang lalu sebelum Lushka pulang kampung, kita sempet ketemuan. Pake ribut segala karena Lushka harus menyelesaikan setumpuk kerjaan sebelum long vacation, jalanan macet pula dan jadinya gue nunggu cukup lama di kampus. Tadinya gue udah mau nyerah aja, tapi Lushka ngotot mau ketemuan. Akhirnya kita ketemu jam 9 malem. Who would've known, ternyata Lushka ngasih gue surprise beberapa gift! Katanya coklat-coklatnya supaya gue ngga lupa sama dia selama dia pergi. Padahal sebenernya jarak antara dia pergi sampe kita ketemu lagi InsyaAllah cuma 12 hari hehehe...

She gave me 1 Toblerone BIG size yang abis dalam 2 hari dan Delfi-nya abis dalam 3 hari. Ayang, masih kurang coklatnya buat 12 hari. jadi kamu ngutang lagi yaaaa...

Yang paling lucu adalah kartunya. Amplopnya dia buat dari brosur unkl 347 dan kartunya dari brosur QFF tahun lalu. Dia sengaja sobek yang bagian foto Anita Schoepp. Dulu fotografer/sutradara ini sempet singgah di blog kita minta ditranslate review yang gue buat tentang film pendeknya.



Ngga cuma itu, Lushka juga niat banget ngasih gue 5 amplop yang dia buat dari brosur-brosur bekas. Katanya buat nyimpen uang atau buang pembalut, hihi. Pokoknya hebat banget deh. This coming from someone who is not creative at all, hahaha...

Udah gitu dia sengaja berangkat satu hari lebih cepet cuma karena weekend minggu lalu gue juga udah ada acara keluar kota bareng temen-temen. Duilee sayaaaang..segitunya hehe..

Makasih ya Sayang....hadiah-hadiahnya lucu bangetttt....=* Cepet pulang ya..I'm goin crazy here in mad town without you. Pulsa juga cepet banget abisnya. Muahaaall kaaan...Untungnya long weekend ini gue juga udah ada acara nginep lagi. Jadi ngga kangen terus sama Lushka =D

Definitely cant wait for Monday.

Kamis, 09 Juli 2009

Queer Film Festival 2009


QFF udah lewat yang di Jogja dan akhir bulan ini baru akan dimulai di Jakarta...Dont miss it this time. Buat yang mau dapet jadwalnya dan segala serba serbi infonya bisa ke http://qfilmfestival.org . Tapi kayaknya masih gelap gulita disana hehehe..
Me and Lushka will be there. Are you?

Minggu, 30 November 2008

Fast recap of the 3rd week of november 2008

1. Lushka nelponin gue cuma buat nanya, "Ayang, boleh beli burger king ngga?" atau "Ayang, boleh beli hop-hop bubble ngga?" atau "Ayang, boleh beli susu?" ...

2. Jumlah Lushka beli hop-hop beda tipis dengan jumlah banyaknya gue ketemu dia.

3. Lushka wisuda pake kebaya gue

4. Lushka's birthday was one of those days on that week

5. Kita nonton 3 film INAFF, di 2 Blitz yang berbeda

6. Dapet komentar dari Anita (salah satu sutradara film QFF), dan gue panik plus belum ada waktu buat reply emailnya...duuuhh...review gue tentang filmnya kan ngga oke.. aaarrghhh

7. I'm loving Lushka more each day. period.

ya, ya, I know..gini nih orang kalo udah datar, kebanyakan tugas kuliah..ngga bisa elaborasi informasi...

Selasa, 26 Agustus 2008

Queer Film Festival, 15 Agustus 2008; Kineforum & Goethe

Setelah menderita sakit cukup lama, gue niat banget untuk keluar dari rumah. Away from my bed and the internet. Tujuan utama gue tetep QFF karena of all the choiches for my free time, QFF satu-satunya pilihan yang paling menarik. Tadinya sih mau pergi sama salah satu temen fag hag gue atau sama temen-temen kampus tapi gagal gara-gara gue terkapar di tempat tidur.

The choice was either Kineforum atau CCF karena mereka dua venue yang nayangin film mulai dari jam 14.30. Berhubung minggu lalu gue ke CCF, begitu juga tahun lalu, dan mengingat betapa garingnya tempat itu, sekarang saatnya untuk mencoba Kineforum.

Kineforum itu jaraknya cukup jauh dari rumah gue. Gue berangkat dari rumah jam 11 dan sampe disana jam 13.45 hehehe...seharusnya gue udah nyampe Bandung tuh. Seperti yang diprediksi Lushka, yang nonton di Kineforum sedikit banget. Terhitung cuma 5 orang waktu film dimulai dan ketika gue selesai nonton paling nambah sekitar 7 orang lagi.

The next pit stop was Goethe Institute. Lushka tertarik dengan Q Gossipnya setelah ngebaca review Silat Lidah Binan. So, gue nunggu dulu Lushka pulang kantor dan kita sama-sama ke Goethe.










Film ini adalah sebuah film documenter wawancara para homoseksuals yang berwarganegara Jerman. Jadi mereka of course menggunakan bahasa Jerman dan penonton dibantu dengan subtitle Inggris. Sesuai dengan judulnya, the gay men are already deceased and the lesbians are still alive. Karena para gay men disini udah pada tua. Umurnya rata-rata 80 sampai 90 tahun. Sedangkan para Lesbians-nya berumur 30 s/d 40 tahun. Here are the stars of the movie:

Emanuela Kay (40 tahun)
Pelopor banyak hal yang bertema Lesbian di Berlin. Mulai dari film sex Lesbian dan awareness dengan safe sex, fotografi lesbian sex, buku lesbian sex, dan akhirnya di bulan Januari 2005 dia berhasil menerbitkan majalah Lesbian pertama di Jerman. Perawakannya Butch banget. Dykes on bikes gitu deh. Motornya Harley yang segede alaihim gitu. Tapi gue suka waktu dia bilang mau gimana pun penampakannya dia, dia tetep orang yang feminin banget di dalem. Prikitiuw...Minusnya nih orang, dia berasa keren banget karena berani come out. Bahkan dia sempet ngomentarin ada artis yang baru come out di Jerman kalau come out-nya is not surprising and she is a not suppose to be a role model between Lesbians, karena come out-nya udah telat. Weleh, weleh, udah sukur she finally got the balls to say it out loud.

Walter Schawrze (1914-1998)
Salah satu gay yang ditangkep sama tentara SS Jerman di tahun 1940 dengan alasan orientasi yang menyimpang. Dia dipenjara di kamp konsetrasi selama 4 tahun. Selama di dalam kamp itu dia diharuskan mengenakan lambang segitiga pink kebalik yang sekarang udah dipake sama gay men sebagai lambang official. Perilaku yang diterima dia dan gay yang lain of course yang paling parah. Pekerjaan yang dikasih ke mereka adalah pekerjaan-pekerjaan yang paling jorok. Misalnya ngebersihin kamar mandi dan toilet. FYI ya, toilet kamp konsentrasi itu ngga kaya toilet jaman sekarang yang ada saluran pembuangannya. Jadi tugas dia itu ”menyendok” kotoran yang udah numpuk, dibawa di dalem ember besar, dan dibuang ke tempat pembuangan yang ada di luar gedung. Pernah sekali waktu dia kepeleset dan seluruh isi embernya tumpah ke dia dan nyiprat ke tahanan yang lain. Hihihi...

Pengalaman kesiksa di kamp lama-lama bikin Walter jadi mati rasa. Mau sakit kek, laper kek, dingin kek, lama-lama ngga kerasa lagi buat dia. Sempet sih ketemu dengan cowok yang akhirnya sempet jadi pasangan dia di dalem kamp. He even say when he saw Sepp, ”This is the man”. So sweeeet……Sayangnya hubungan mereka sepertinya ketahuan dan Sepp dipindahkan ke kamp yang lain. Walter never saw Sepp again.

Walter dikeluarin dari kamp dengan menandatangani perjanjian kalau dia harus jadi tentara. Setelah sempet dipanjara lagi sama tentara Rusia selama another 4 years, Walter was finally free.

Di umurnya yang ke-50 Walter ketemu dengan Ali, his bisexual partner. Ketika diwawancara they’ve been together for 17 years. It’s funny how he honestly confess that for the last 7 years they haven had sex. Ngga tau juga ya alasannya, umur kali ya? Hehehe..
Sebagai penutup, Walter bilang kalo sebenernya dia agak menyesal dengan orientasi seksual yang dia miliki. It made him experienced things he didn’t want to. Karena buat dia sebenernya dia cuma pingin a man to love and not for sex only.

Silke Radosh Hindel dan Laura Radosh
Pasangan lesbian yang udah mengadopsi a pretty litlle baby girl secara legal. Kinda reminds me of Lushka and me. Soalnya mereka berbeda kepercayaan. Silke is a Catholic dan Laura is a Jew. Ada kata-kata Laura yang menarik waktu dia ditanya how they meet. “It’s typically lesbian”. Ternyata mereka kenalan di suatu forum milis sukarelawan. Laura fell in love dengan pendapat-pendapat dan tulisan Silke di email-emailnya. Jadi kata Laura to fall in love with another’s words is so typically Lesbian. Hahaha…

The main interview was asking them about the adoption. Waktu ditanya how they conceive the baby, secara teknis, Laura udah siap cerita panjang lebar. Tiba-tiba Silke motong dan melototin Laura. Hahahaha…..kayaknya dia ngga suka banget kalo hal seintimate itu harus diceritain kemana-mana. My guess is I think they did with some kind of syringe by them selves.
Gue pribadi bukan pendukung gay parents. Sebagai orang yang belajar ilmu psikologi, I learn how tough it is to raise childrens. No matter how small you think the problem, you never know how big the impact is for the kids. Heck, ngga harus jadi anak psiko kok untuk tahu hal itu. Anyway, ketika mereka ditanya bagaimana kalau nanti anak mereka mulai besar dan mulai dikenalkan dengan keluarga nuklir mayoritas jawabannya....”We dont care” uh oh..how selfish they are! Begitu juga ketika mereka ditanya gimana kalau anak mereka harus menghadapi diskriminasi. Jawabannya, ”what important is she know that her parents love her and will always love her unconditionally”. Duh, semua anak yang orang tuanya hetero juga gitu kaleeee….
Ipek dan Anke
Satu-satunya pasangan yang gue suka dengan how the manage their relationship di film ini. They are so sweet! Ipek is a Turkish-German girl yang bekerja sebagai seorang DJ di gay bar. Anke kerja sebagai social worker. Ipek orangnya lebih kocak dan santai dibandingkan Anke yang kayaknya lebih dewasa.

Mereka ditanya gimana rasanya being openly gay di Jerman. Ternyata mereka bilang banyak yang ngasih mereka senyum di jalan kalau mereka PD-PD aja pegangan tangan. Pernah sih sekali-kali dibicarain cowok-cowok di pinggir jalan. Kira-kira gini conversation yang terjadi if its happen:

Cowok: Hey, look. A lesbian couple.
Ipek: Are you gay?
Cowok: Eugh..liking another guy? That’s disgusting!
Ipek: Now why would I want to be with something you consider as disgusting?

Hahaha…nancep.

Anke bilang kalau selama ini her way being openly gay malah sangat membantu ketika dia harus face off dengan anak-anak remaja yang bermasalah. Karena dia merupakan contoh orang yang merasa safe dan content about herself.

Orang tua Ipek belum tau tentang hubungan mereka tapi kakek-neneknya ngedukung banget. Lucu ya..malah kakek-neneknya yang baik banget sama mereka. Bahkan kakek Ipek pernah ngebuatin tempat tidur buat mereka pas nginep di rumah kakeknya. Ibu Anke juga tau tentang hubungan mereka dan ngga masalah juga asal Anke bahagia. Lucunya si ibu masih sempet bercanda kalo dia masih ngarep its just a phase for Anke dan kalau bisa Ipek operasi kelamin aja..Hahahahaha.......

Albert Brecker (ketika diwawancara berusia 90 tahun)
Nah, kalo yang ini menurut gue gay yang agak-agak sakit. Dia sih mengakui kalo dia seorang sadomasochism tapi gue belum ngeh sampe gue ngeliat what he did to his own body. Like Walter, Albert juga pernah dipenjaran di kamp karena gay dan dilepasin untuk jadi tentara Jerman. Selama 5 tahun dia jadi tentara, ngga ada yang tau kalo dia gay dan selama lima tahun itu dia ngga pernah sekali pun have sex. Makanya dia develop a habit yang menguatkan sadomasochism dia. He like to tatooed himself in bed tanpa sepengetauan temen-temennya then he would masturbate. Yang dicari of course rasa sakit dari mentato dirinya sendiri itu. Untungnya sih dia emang punya skill art jadi hasil tato-nya berupa gambar-gambar tribal. Parahnya tato-nya ada di seluruh tubuh, even on his dick. Tapi kalo pake baju tentara yang berupa celana panjang dan kemeja, tatonya tersembunyi dengan baik.

Selesai perang Albert work as a set designer untuk setting film dan punya partner another set designer terkenal di industri film Jerman. But his partner died at the age of 80.

Albert like to masturbate sampe sekitar umurnya 85 tahun. Entah kenapa dengan anu-nya (berhubung dia pake bahasa Jerman, dan inggris gue ternyata pas-pasan masalah mekanisme ”anu”) sampe dia harus menyuntik semacam cairan kosmetik ke Mr.P nya. Alhasil, his 7 inches dick shrunk to 2,5 inches and now there’s a big tumor like on top of Mr.P. Trust me, it doesn’t look good at all. Serius deh Mr.P nya berubah jadi tas pinggang, hehehe…

Emang dasar masochis, dia minta seorang head-hunter dari Kalimantan untuk ngebolongin anunya buat dipasangin cincin emas. Waktu ditanya sakit atau ngga, dia bilang emang itu yang dia cari. Ckckck…

Berhubung sex udah ngga mungkin dilakukan, dia akhirnya beli dildo and use it to pleased himself by sticking it up to his a**. Dasar emang udah gila, while he’s doing it, he took a picture of it. Huahaha..kebayang ngga lo ngeliat foto-foto kakek-kakek berumur 90 tahun sticking an enourmous dildo up to his a**?

My favourite quote, “Selama masih ada kedua tangan saya, saya ngga perlu apa-apa lagi supaya bahagia.”

3 orang terakhir yang diwawancara ngga terlalu menarik. Mahakelein is a 40ish Lesbian yang berawal punya cafe untuk para gay, hooker, dan orang-orang yang baru di-institusionalized. Obviously not a famous cafe for ”other people”. Sekarang dia sebagai manager utama untuk para LGBT dari daerah Afrika yang bisa perform all kinds of art di Jerman. FYI, afrika juga salah satu negara yang sangat menekan kaum LGBT dan mereka bisa dapet green card di Jerman just because of it. Di film ini sama sekali ngga diceritain tentang love lifenya. Joe Luga (80 tahun) is a pedophile yang berkali-kali ditangkep dan di penjara karena have sex dengan anak-anak belasan tahun. Dia juga pernah serve as soldier dan selalu jadi drag queen di acara-acara hiburan tentara. Bisa dibilang, dia ngga pernah ketemu masalah karena dia gay, kecuali ya pedophile-nya itu. Terakhir Maren Kroymann, an artist yang semenjak come out as a lesbian sempet punya masalah dengan karirnya sebagai aktris. Sekarang dia bekerja sebagai comedian plus singer di cafe-cafe. But in a year dia udah dapet kontrak lagi untuk main film as a hetero dan kemungkinan penerimaan masyarakat terhadap dia bisa berubah.









Kalo gue pribadi sih agak kecewa dengan Q Gossip yang ini. Agak terlalu khusus komunitas binan sendiri. Iya sih, yang dateng hanya para binan bahkan menurut gue sekelompok binan yang udah saling main sehari-hari. Buat yang dari ”luar” langsung berasa terasing. Gue sih ngerasa kayak tiba-tiba masuk ke rapat imternal Qmunnity. Padahal sebenernya sih ada juga orang-orang yang dateng hanya karena pingin tahu bahasa binan itu seperti apa.

Rasa ngga nyaman gue ini juga di”suarakan” sama salah satu orang yang hadir. Tapi dia bahasanya lebih bagus dan lebih spesifik. Dia bilang kalo seharusnya ada perkenalan yang lebih baik dengan bahasa Binan dan contoh-contoh penggunaaannya. Mengingat ada juga orang-orang yang ngga familiar dengan bahasa binan ini baik LGBTIQ maupun bukan. Personally, menurut gue acara ini gagal. Karena kebayang ngga kalau yang dateng banyak juga dari orang ”luar”. Pasti mereka bakalan bingung banget.

Si ”ahli” ada dua orang di depan. Gue lebih suka sama Mas Danny karena cara penjelasannya jauh lebih santai dan ”FYI-FYI” nya menarik. Dia ngasih contoh-contoh banyak tentang bahasa gaul-nya binan di daerah lain Indonesia atau sampai Eropa. Sedangkan si ”ahli” yang namanya mas Abduh (gue liat dimana ya ni orang?) menurut gue dan Lushka orangnya terlalu ngotot dan agak ngga bisa nerima kritikan orang. Standar sih orang-orang yang berasa ”profesional” dengan ilmu socio-linguistik yang dipelajarinya. Jadi si Abduh asik ”Tau apa sih lo? Kan gue yang baca buku-buku teorinya dan buat penelitian di lapangan.” and para penonton asik ”Sok tau deh lo, yang binan kan gue, yang pake bahasanya gue!” Hihihi....










Gue dan Lushka lagi-lagi beruntung nonton film yang dihadiri sama directornya. Bahkan ada artistnya. Karena gue ngga tau film-nya tentang apa, gue Cuma liat ada dua orang bule yang diminta maju ke depan. Si cewek director-nya dan si Cowok aktornya. Gue udah nyubit-nyubit Lushka dan bilang kalo cowok itu GUANTENG BERATS.

Ehh, ternyata pas dia ngomong...loh? Kok suaranya cewek? And I was constantly reminded with Moira, tokoh trans di TLW. Tapi yang ini ngga sekedar jadi cowok manis. Dia jadi cowok ganteng. Hehehe...his name is Ocean Leroy.

Untuk itungan tema, film ini cukup jarang karena menceritakan tentang kehidupan seorang transeksual wanita. Sejauh ini yang gue udah nonton selalu tentang transeksual laki-laki. Secara statistik memang transeksual laki-laki lebih banyak dan lebih lazim ditemuin. Jadinya gue cukup interested lah buat nonton.......sampe setengah jam.

Kekurangan film ini adalah terlalu ‘sempit’. Kayak nonton dengan ’tunnel vision’ dan Ocean berkesan ”me, me, me...and of course..wait...me.” Memang sih penjelasan dia di akhir film bilang kalo dia orangnya secretive banget. Obviously Ocean belum siap untuk open ke dunia kalo dia adalah transeksual. Kita bahkan ngga tau nama aslinya sebagai cewek padahal kita ngeliat proses perubahan nama dia jadi cowok di passport. Kita juga ngeliat meja kantornya..doang…tapi kita ngga tau perusahaannya apa atau rekan-rekan kerjanya gimana. There were no interaction between Ocean dengan orang lain kecuali transeksual lain yang cowok.

Isinya cuma Ocean ngomong, ngomong, ngomong, ngomong, dengan shoot close up biar sekelilingnya ngga terlalu kentara. Adegan lain yang cukup banyak adalah dia nyanyi di trans bar. I think she is some kind of performer. Apakah dia penyanyi yang bagus? Not even close.=D

Oiya, dia cewek bule kedua yang mempertontonkan dirinya yang bugil di film dan voila! orangnya berdiri langsung di depan gue. Hahahaha……

Kamis, 14 Agustus 2008

Queer Film Festival, 9 Agustus 2008; Central Cultural Francais; L Word

Sabtu kemarin gue dan Lushka jadi pergi ke salah satu acara QFF. Awalnya sih gue minta kita ke Blitz aja karena gue nih orangnya tukang nge-Mall banget. Tapi Lushka lagi butuh survey motor. She would like to have one. Jadinya gue pikir ya lebih baik pake kompromi aja toh? Lushka bisa tetep survey motor dan gue bisa tetep dateng ke salah satu acara QFF.
Jadi perjanjiannya adalah after dia udah netapin motor idamannya, we could go to the nearest place and time to QFF.

So we went to CCF in time to watch the 17.30 show. Perasaan sih di jadwal judulnya women on top, tapi ternyata the whole theme was L word. Agak-agak pusing juga tuh kita, soalnya kita berdua orangnya sama-sama ngga kuat sama hal-hal yang terlalu Lesbian. In some point, too many of women could really make us feel nausea. Sepanjang film gue masih usaha untuk nonton sedangkan Lushka berkali-kali bilang ngantuk. Tapi hebatnya gue yang berkali-kali nanya tiap satu film pendek selesai, ”Filmnya maksudnya apa sih?” dan Lushka bisa loh jawab..hahaha...

Gue ngga dongo-dongo amat sih sebenernya. Pas dijelasin gue ternyata emang udah nangkep, Cuma gue pikir ada deeper meaning dari yang obviously stated in the screen or the dialouge.

So here is the review. I’m trying OK. Jangan dilempar tomat busuk.

Bend it

Judul filmnya kayaknya sih sama kaya judul lagunya yang jadi pengiring film. Just a film about two butches dancing on top of a box imitating sex. Maju-mundur-depan-belakang-puter puter-hadap depan-hadap belakang. Boring at some point tapi masih bikin gue ketawa ngeliat si cewek sebelah kiri layar niat banget jogednya. Gue punya rasa ngga suka pribadi ngeliat cewek ngebebet toketnya. Jadinya agak-agak ngga nyaman nontonnya.

Dedicated to Rebelsexuals


Ms. Anita Schoepp as director and writer hadir juga di CCF. Gue ngga tau tuh kalo ini filmnya dia. Dari awal dateng ke CCF gue CCP ngeliatin ni bule cantik juga, Hahaha...ampunn yaaanng...Tapi filmnya juga ngebosenin banget. Cuma sekelebat foto-foto polaroid dari seorang cewek yang touching herself. Lushka sih kayaknya ngerti dan ngejelasin ke gue. Gue yang dablek kali ngga ngerti-ngerti. Soalnya durasi 9 menit itu terlalu lama untuk tema ini. Sound yang dipake sih keren. Soalnya spooky banget. Jadi layarnya gelap untuk beberapa detik terus ada sekilas sekelebat atau bagian dari still photograph dari si cewek. Gitu aja berulang-ulang dengan pose-pose yang berbeda.

Gue sih asik ngebayangin sendiri kalo yang muncul lama-lama foto-foto pembunuhan....ehehehe..maafkan...tapi it would be more interesting for me that way.

Eeehh..ternyata cewek di film ini ya si Anita Schoepp itu sendiri. Wow, as she was trying to explain the meaning of the movie in front of me, gue asik takjub menyadari bahwa gue baru ngeliat foto-foto dia bugil. Hahaha…..Setelah mendapat penjelasan dia, gue lebih tertarik dengan cara pengerjaannya. Dia butuh satu tahun buat ngerjain tu film! Duh susah gue ngejelasinnya disini. Intinya dia harus ngeliat hasil film-nya satu-satu untuk bisa dapetin snap shot diri dia. Sedangkan jarak waktu layar gelap dengan si foto polaroid adalah penggambaran jarak waktu dia butuhin untuk dapetin snap shot itu. Ngga ngerti? Bagus.

You and Me

About two young lesbians in China yang udah tinggal bareng. Si tomboy kerja sebagai penjaga tiket di dalem bis kota dan si feminin student pengangguran yang ngga lulus-lulus. The point of the story sih kalo lo pasangan lesbian dan mau tinggal bareng, lo harus siap untuk nerima segala resikonya. Harus punya pekerjaan yang cukup tetap dan bagus supaya idup ngga cuma supaya bisa makan setiap hari doang. Si tomboy juga kalo pulang ke rumah, ibunya kayak pura-pura ngga tau kalo anaknya lesbian dan nanya dia udah punya pacar cowok atau belum. Ending film ini si feminin akhirnya nyerah dan ikutan temennya jadi cewek penghibur buat bapak-bapak kaya.

Director and writer film ini, Siqi Sun, juga jadi bintang tamu. Kekurangan film ini menurut gue minimnya lagu sebagai background supaya penonton ngga berasa budek sama shot-shot panjang yang ngga penting. Lagi-lagi penjelasan pembuatan filmnya yang lebih menarik buat gue. Kata Siqi film ini seharusnya berdurasi 90 menit. Tapi karena kekurangan dana, dia harus memotong filmnya jadi 23 menit. Fakta lainnya yang menarik adalah negara RRC itu ternyata anti pati banget sama yang namanya homoseksual. Semua film-film yang mengandung unsur homoseksual pasti disensor, dipotong, atau dibuat rancu. Begitu juga dengan film Siqi ini. Dia masukkin naskah film ini ke universitasnya yang lagi nyari director muda berbakat untuk ngebiayain filmnya. Tapi naskahnya ditolak karena tema lesbian. Wuih...gue sih ngga nyangka. Gue pikir RRC udah open masalah beginian. At least dibanding Indonesia gitu. Wong foto-foto gay asia yang beredar di internet itu lo kira darimana kan.

Nah, karena Siqi membangkitkan rasa ingin tahu gue, gue jadinya nanya cerita lengkap 90 menit filmnya, hehehe...Ternyata endingnya si Tomboy dan feminin ini kan putus karena kelakuan si feminin jadi cewek penghibur ini. Si Tomboy akhirnya mau nikah dengan seorang cowok pilihan ibunya. On wedding day ternyata si feminin dateng dan menyatakan penyesalannya dan minta second chance sama si Tomboy. Terus mereka kawin lari deh...hahaha...kaya film komik banget ya...

FYI: Gue, Siqi, dan Lushka foto bareng loh!!! Terus jadi deh fotonya berjudul Tiga Babi Beranjak Dewasa...hahaha

In the Theme.

Isinya adalah wawancara dua pasangan butch dari Rusia, Olga and Rechnja. Masing-masing cerita tentang how their relationship is. Mereka udah nikah selama setahun dan tinggal bareng di samping kamar ibunya Olga. Ibu Olga jauh menerima hubungan mereka dibanding ibunya Rechnja yang ngga tau apa-apa. Dan menurut hemat kami (taela), sepertinya Olga agak-agak ”kurang” atau mungkin masih terlalu childish lah kalo sampe udah punya marriage kaya gitu. Judul in the theme ini ternyata merupakan bahasa lokal Rusia untuk menyebut Lesbian karena menggunakan kata Lesbian di Rusia termasuk kata yang cukup jelek maknanya.

Ini salah satu film yang bisa masuk ke kategori bagus buat gue ama Lushka. Soalnya bisa bikin kita ketawa. Gue juga suka dengan gaya interview film ini. I guess gue dan Lushka lebih suka dengan cerita yang lebih menyentuh ke kehidupan nyatanya daripada film-film lesbian yang terlalu melankolis, dramatis dan menye-menye. Ada juga sih sempet kita ketawa bareng pas Olga bilang dia mau mengandung anak mereka berdua. Duuhh..I know itu ngga sopan bangeeeeddd....

Sebenernya agak mengerikan waktu mereka ngeliatin kebiasaan mereka di waktu senggang: GULAT. Hahaha...two big butch pushin each other trying to pinned her partner in bed. Dan ini bukan gulat lucu-lucuan..ini beneran gulat kasar!! OMG!! Ternyata buat mereka itu bentuk latihan kalo mereka harus menghadapi gay basher yang udah biasa terjadi di Rusia. Weleh- weleh...disini religion basher, disana gay basher yah...

Rechnja nambahin kalo bentuk mereka yang kaya lekong itu ternyata supaya dia bisa merasa nyaman di deket-deket Olga karena orang bakalan melhat mereka seperti pasangan hetero. Talkin about insecurities....hmm..

At the end of the streets

A break up story between Alexandra and her girlfriend yang udah punya cewek baru. Ceritanya ngga butuh informasi lengkap of how they break up, why etc, tapi cuma sepenggal moment di kehidupan Alexandra untuk malem itu. Cukup real menurut gue karena ngegambarin how a girl would react if she is being dumped.

Pertama tama Alex beneran ngotot nungguin mantannya yang menolak keluar dari rumahnya sampe mau tiduran di jalan raya. Setelah dia sadar kalo mantannya ngga bakal keluar-keluar, dia akhirnya nekat masuk juga pake kunci punya dia. Alex ngedapetin mantannya lagi dinner sama pacar barunya dan teman-teman lamanya, nice huh? Sambil shock Alex masih punya senjata terakhir buat bikin mantannya kesel. Dia bilang kalo dia mau ngambil barang dia yang masih belum dikeluarin dari rumah mantannya. And guess what? Barang Alex itu ternyata meja makan yang lagi dipake dinner! Hahaha...

Selagi temen-temen mereka berusaha ngeluarin meja itu keluar, mantannya malah masih ngasih kesan kaya dia masih sayang Alex dengan cara kiss her on the lips. Huh! Standar Lesbian bangeeeeddd..ngga tau batas physicall allowed kalo udah putus.

Sisanya adalah gimana keadaan Alex pas lagi depresi-depresinya dan ketemu polisi cowok yang menunjukkan interest ke dia.

A thumbs up dari gue untuk pembuatnya yang bisa bikin sepenggal kehidupan manusia jadi terasa menarik.

Salome
Astagaaa...ngga karuan banget deh ini film. Ceritanya adaptasi dari cerita klasik Oscar Wilde yang dibalut sama all kind of lesbian way you can think of. Murahan, tua, dan norak. This movie only remind me of an old porn movie I have yang judulnya twin killers, hihihi…

Londres-London

Ngga ngasih gue impression apa pun. Paling yang gue inget cuma monolog si tokoh utama yang diulang-ulang. Berusaha ngebuat suatu statement dari seseorang yang kesepian.

Aly M

Another interview. Kurang menarik dibanding In the theme. Kisah hidupnya sih interesting karena apa yang dia rasain pasti happens pada kebanyakan lesbian yang berusaha come out. Battle antara komunitas agama, keluarga, dan dirinya sebagai lesbian. Aly is a lesbian campuran India yang tinggal di Aussie dan akhirnya mendirikan suatu komunitas queer muslim di Aussie. Sepanjang dia cerita, adegan berubah-ubah ke adegan dia main squash like some kind of analogy dari cerita hidupnya.

Seeya Rach
Ini nih baru yang namanya film lesbian yang bagus, ngga perlu pake menye-menye dan melankolis tapi touching banget dengan cara yang agak kasar di ending film, hehe...ceritanya tentang a girl, Mel, yang ngebuat video goodbye buat pacarnya Rachel yang mau sekolah keluar negeri. Isi videonya lucu-lucu banget. Mel usaha buat ngingetin Rachel tentang hal-hal yang menyenangkan selama mereka in relationship. Bahkan di tengah-tengah film pas Mel lagi asik monolog di tempat tidur mencurahkan segala perasaannya buat Rachel, gue jadi ngga tahan buat cium pipi Lushka, hehehe... 5 star for this movie.

Buat gue sih ini merupakan suatu pelajaran ngga lagi-lagi nonton film indie bertemakan lesbian. Sekarang gue agak ngerti kenapa Lushka ngga tahan nonton The L word. Hahaha...

PART II
OPENING PHOTO EXHIBITION: WHAT’S QUEER?
Gue ngga bakal ngomentarin tiap foto kok, tenang aja, Hahaha…kesan gue tentang foto-fotonya: AMATIR. Kadang-kadang MENTAH. Gue ngga nangkep apa yang berusaha dikatakan sama si fotografer atau foto itu sendiri kecuali of course judul pagelarannya dan beberapa line kalimat di bawah foto, hehehe...

Mungkin faktor tiap foto berukuran kecil dan dikasih frame hitam yang terlihat murahan yang bikin ilfil. Tapi kalo dipikir-pikir emang fotografi yang bagus ngaruh sama hal-hal kaya gitu? Thumbs di internet aja bisa bikin kita nge-click kalo gambarnya emang udah ketawan bagus kan?

all pictures above are taken from http://www.qfilmfestival.org/

Selasa, 12 Agustus 2008

I finally saw the living legend!

Di awal masa pacaran, Lushka pernah cerita kalo dia sering liat dua kakek-kakek yang selalu bergandeng tangan jalan-jalan di sekitar daerah Menteng. Katanya dia udah liat kedua kakek itu dari beberapa tahun yang lalu. Lushka bilang sepertinya dua orang kakek itu adalah dua orang sahabat yang masih temenan sampe hari tuanya.

Lushka juga cerita dia pernah liat kejadian lucu si kedua kakek itu. Katanya dia pernah ngeliat kedua kakek ini sama-sama nangis tarik-tarikan karena yang satu mau ke kanan, yang satu mau ke kiri. Hihihi...mungkin temennya sama-sama udah jadi tongkat penyangga kali ya? Ngga pegangan ya jatoh.

Malem minggu kemarin sehabis pulang dari nonton QFF di CCF, gue dan Lushka lagi on the way home naik taksi. Tiba-tiba mata gue nangkep dua orang kakek-kakek di pinggir jalan yang lagi gandengan.

Gue langsung excited nanya ke Lushka, ”Itu-itu! Kakek-kakek yang kamu bilang suka pegangan berdua ya?”

Sayangnya Lushka ngga liat karena taxi udah keburu jalan jauh. Gue juga ngga bisa liat wajahnya karena mereka lagi naik trotoar dengan arah memunggungi taxi. Tapi setelah confirm ciri-ciri fisik si kedua kakek, ternyata yang gue liat emang para kakek-kakek yang pernah diceritain Lushka. Yang satunya lebih kurus dan lebih tinggi dari temennya. Hiii...kok gue malah agak merinding ya? Hahaha....

So nice isnt it kalo bisa temenan seperti itu sampe masa tua? Jarang-jarang hari gini masih bisa liat peristiwa seperti itu. Kalo kata Lushka mereka sahabatan, kalo kata gue jangan-jangan gay couple yang masih setia sampe akhir hayat, hehehe...
So has anyone seen them?