Laman

Rabu, 15 Juli 2009

For me, being gay is a choice

Ngebaca postingan Lushka sebelumnya gue jadi tergelitik untuk ngebahas dikit tentang the nature or the nurture of being Gay. Sejauh ini hasil-hasil penelitian terpercaya menemukan bahwa ada 2 alasan besar kenapa seseorang menjadi homoseksual.

1. Secara biologis, genetis, sampe hormon, tubuhnya sudah terporgram untuk suka dengan sesama jenis.
2. They live and breathe di lingkungan yang menghalalkan homoseksualitas ATAU di lingkungan dengan banyak orang homoseksual.

So YES people, memang ada orang-orang yang menjadi homoseksual karena keadaan, bukan karena terlahir sebagai seorang gay.

Gue tertarik dengan kata-kata yang dipilih sama website yang dibicarakan Lushka. Mereka mengatakan bahwa mereka siap membantu orang-orang yang ingin merubah "unwanted homosexuality". Bukan unwanted bagi orang lain, tapi unwanted bagi diri sendiri.

Sebagai seseorang yang belajar psikologi, salah satu hal terpenting yang gue pahami tentang manusia adalah goal kita untuk mencari kebahagiaan dan kenyamanan. It is something yang udah terprogram juga di DNA kita. Kita ini binatang yang menjauhi rasa sakit dan terus mencari kepuasaan sejak lahir sampai mati. Dari dasar pemahaman ini juga banyak teori-teori psikologis manusia dibuat. And so, sesuai kata Lushka, semuanya balik ke kenyamanan diri kita masing-masing. Lo merasa nyaman sebagai apa?

Homoseksualitas pada tahun 1974 dikeluarkan dari DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders). DSM ini adalah buku panduan para psikolog tentang gangguan mental. Dulu homoseksualitas masuk sebagai gangguan seksualitas. Kenapa dikeluarkan? karena ternyata esensi gangguan tidak terdapat pada orang-orang homoseksual. Gangguan pada DSM artinya mengganggu pribadi, kehidupan sosialnya, pekerjaannya, keluarganya, dan cintanya. Setelah ditelaah lebih lanjut ternyata orang-orang homoseksual di Amerika dan sekitarnya TIDAK mengalami gangguan.

Tapi bentar dulu.

Coba kita berhenti sebentar dan berpikir tentang kenyamanan tadi. Gue setuju banget bahwa homoseksualitas BUKAN penyakit atau gangguan TAPI bisa menjadi KEADAAN YANG MENGGANGGU. Homoseksualitas bisa menjadi gangguan ketika LO merasa terganggu, ketika LO merasa tidak nyaman dengan diri lo. Peraturan psikologi disini sederhana. Kalau lo merasa tidak nyaman dengan diri lo, artinya keadaan mental/psikis/jiwa lo sedang tidak sehat dan lo butuh bantuan orang lain. Pilihan seorang psikolog cuma bagaimana membuat seseorang merasa nyaman dengan dirinya.

Let's call orang-orang yang "terlahir" sebagai homoseksual dengan orang tipe 1. Gue yakin orang-orang tipe 1 merasa nyaman dengan dirinya sendiri sebagai gay. Mungkin kalau di negara-negara seperti kita ini dia akan dapet sedikit banyak tantangan dari lingkungan. Nevertheless, dia merasa nyaman dengan dirinya. Bagaimana dengan orang tipe 2? Some of them bisa saja merasa nyaman dengan dirinya. Sebagian lagi bisa terus berkoar-koar dirinya gay, coming out, mengaku proud, punya pasangan sesama jenis berpuluh-puluh tahun...tapi kalau dia terus-terusan berperang dengan jiwa dan hati nuraninya sendiri..I'm officially gonna say bahwa mereka sakit dan terganggu jiwanya.

Like what Freud believed, I believe that humans are born bisexual. Dalam arti, you already had it in you (your orientation) lalu digabungkan dengan ajaran-ajaran yang lo dapatkan seumur hidup dan ditutup dengan pilihan pribadi. Kita harus mengakui bahwa pada saat ini sepertinya orientasi seksual seseorang ditentukan oleh jenis kelamin dan norma budaya. I believe we can choose seperti orang yang berpuasa ngga makan, ngga minum selaper apa pun dia. We can choose seperti orang Islam yang memilih untuk ngga makan babi hanya karena dilarang oleh ajaran agamanya. Karena gue orang yang percaya dengan pilihan manusia. Kita makhluk yang dikasih kemampuan untuk memilih dan berpikir, bukan makhluk yang hanya dikendalikan oleh kebutuhan dan cetakan biologis.

Gue pingin temen-temen yang lain jangan membuat judgment terhadap orang-orang yang bingung, karena sebenarnya mereka tersiksa dengan keadaannya. Seperti kata Lushka juga, jangan asal mencari informasi dari satu hal aja. Kesannya karena udah terlanjur jadi lesbian, nemu teman-teman lesbian, artinya lo udah aman, tentram, dan damai. Dunia sebesar ini punya milyaran informasi yang perlu kita tahu dan telaah dari sisi mana pun. Take a look inside your head and your heart. What do I wanna be?

And right now I am choosing. I choose to be queer with all the consequences.

5 komentar:

Lushka mengatakan...

nicely written...aku suka Yang.

d` mengatakan...

Kapan buka praktek, Mith?

Anonymous mengatakan...

trus definisi queernya apa?

Mithya mengatakan...

Karin: Wow apaan rin? Wow ngga jelas ya? HAhaha..

Lushka: Thanks hun

D: InsyaAllah masih lama huehehe...

Thut: I'm still reading from a lot of place untuk bener-bener yakin bisa "sotoy" what Queer is. Karena definisi queer gua takutnya beda sama mainstream =) doakan gue cepet ngerti! hahaha

Rid: Go, Rid!

dforsaken mengatakan...

STRIKE 2 kak miith !!! anda sukses membuat saya BINGUNG!!!
now i dont even know how to identify myself... what am i?? im pretty sure im not a lesbo. rrrrr. jadi krisis identitas !!! x(