Halaman

Selasa, 07 Juli 2009

Project 1.1

Ini lanjutan…postingan sebelumnya

 

 

Pada tanggal 05/05/09, siska menulis:

"AAAAAKH!" ini jeritanku yang ketiga. Sepertinya kali ini berhasil, baru saja aku merasakan sesuatu meluncur dari selangkanganku. Aku tergolek lemas sekarang. Tubuhku mati rasa. Rohku seakan lepas dari raganya.

 

From: lushka love
To: siska
Sent: Wednesday, May 6, 2009 6:04:21 AM
Subject: Re: project.05.05.20009

Angin semilir menghembus wajah dan  pelan kubuka mata takut-takut. Masih terasa perih dan letih di sekujur badanku. Kukerjap-kerjapkan mata, menyesuaikan dengan cahaya sekitarku. Terang, benderang.Udara bercampur asin laut dan tanah segar. Camar berterbangan di kejauhan. Oh. Shit. Not again. Aku mimpi buruk. Kuusap peluh di dahi dan menghela napas lega.

Setidaknya tadi cuma mimpi. Aku sepertinya tertidur di teras rumah pantai milik adikku ini. Sayup kudengar tangis bayi. Jantungku berdegup kencang.Tap. Tap.Tap.Tap.Tap. God, please, not that babies. Punggungku kaku seketika. 

Dari jendela yang ada di sebelah kiriku,  sesosok wajah melongokkan kepalanya. Anjing!. Aku tau siapa dia, dia laki-laki dalam mimpiku.Aku cuma bisa melongo. Dia menyunggingkan serangai terbaiknya dan berkata...."sayang...waktunya anak-anak kita makan..."

 

Pada tanggal 06/05/09, siska  menulis:

Otakku kukerahkan untuk menguras memori yang ada. Hayo cepat! Tanpa sadar kubenturkan kepalan tanganku ke kepala berkali-kali.
"Sayang..kamu kenapa?" Laki-laki itu menghampiri aku.
"Kalo sakit istirahat aja, biar aku yang nyuapin Damian dan Damina, biar Mamanya istirahat aja"
Tenggorokanku tercekat. Ini bukan mimpi. Ini nyata. Cepat kuhampiri kedua bayi itu, mereka tampak normal, bahkan lucu.

Si kecil dengan kaus biru yang kuasumsikan Damian kuangkat tubuhnya dan kuraba kepalanya. Dia tertawa kegirangan. Meskipun belum percaya ini kenyataan, aku menarik nafas lega. Damina yang masih tergeletak di tempat tidur menggapai-gapai aku hendak dipeluk juga.
Ya Tuhan, ini anak-anakku. Tapi aku tak pernah merasa tidur dengan bapaknya. Aku menoleh kebelakang dimana "suami"ku sedang mengamatiku.

 

 

From: lushka love
To: siska
Sent: Thursday, May 7, 2009 6:32:53 AM


Subject: Re: project.05.05.20009


"Sayang....kamu ga papa?", laki-laki itu mendekat dan mengambil Damian dari pelukanku, "Sini, Damian sama Papa aja. Mama sakit kayanya" katanya ke Damian, "Devi, kalo kamu masih sakit, kamu tidur aja..Biar anak-anak ama aku" matanya beralih ke aku.

Dzing. Aku menangkap kegelapan di matanya, pupilnya menghitam, aku terhuyung-huyung mundur. Kepalaku sakit lagi. Tiba-tiba Damian menangis kencang sekali. Oh God. Matanya. Aku semakin panik, laki-laki itu mendekat, mengulurkan Damian kepadaku.

 

Pada tanggal 07/05/09, siska  menulis:

Terbirit-birit sambil memegangi perutku, aku melarikan diri ke ruangan kecil yang langsung kutandai sebagai kamar mandi. Segera kukunci pintu dan pantatku langsung ambruk ke dudukan kamar mandi.

 

Belum waktunya untuk panggilan alamku. Aku hanya merasa harus melarikan diri. Entah permainan lakonku berhasil atau tidak tadi aku tidak perduli. Toilet ini satu-satunya tempat yang aman untukku saat ini. Pfuhh..Apa yang harus aku lakukan? Apakah tadi hanya imajinasiku? Tapi aku merasa dalam keadaan yang sesadar-sadarnya.

 

 Kucubit-cubit pipiku, pahaku. Hahh, bodoh. Tentu saja sakit. Apa yang harus aku lakukan? Pertanyaan itu terus menggelantungi pikiranku. Aku mulai meneliti sekeliling. Aku harus mencari sesuatu untuk mencari petunjuk.

 

What do we have here? Toilet duduk yang aku duduki tampak biasa saja, kelihatan masih baru, warnanya belum kusam dan sepertinya rajin dibersihkan. Olehku? Hah, simpan saja dulu pertanyaan itu. Lanjut, ada satu handuk besar berwarna biru warnanya agak pudar dan ada noda pink di ujungnya. Mungkin tertumpah tinta.

 

Satu lagi handuk kecil putih juga ada noda pink di ujungnya. Hmm..Lanjut, ada sikat gigi, sabun, pasta gigi, dan ada satu gelas bening ukuran kecil yang diletakkan di dudukan kaca wastafel. Mungkin untuk menyikat gigi. Tapi, ada yang aneh. Gelas itu berisi cairan berwarna merah.
 

 

From: lushka love

To: siska

Tok tok tok..'Dev....sayang..." laki-laki itu mengetuk halus pintu kamar mandi.  "Hmmm" jawabku, sok tenang. Padahal sumpah mati aku takut.

 

"Kamu kenapa sih? Kamu sakit? Dari tadi kok kamu aneh sekali. Kamu ga nyaman ya ada disini?". tanyanya lagi.

"Engga, engga papa kok, cuma agak ga enak badan, sakit perut" jawabku asal.

"Mau aku pakaikan balsem?"

Iiiih. No. Thank you. Go away, don't touch me.  Jawabku, tentu saja hanya dalam hati. "mmm, engga, makasih, ga papa."

 

"ya udah, kalo gitu cepetan keluar dong. Makan yuuk"

 

"yaa.." jawabku sambil lalu sambil berdiri menuju meja disamping wastafel.

 

Aku lebih tertarik dengan gelas berisi cairan merah itu.Dasar bodoh, aku malah menyenggol sikat gigi dan menumpahkan gelas kecil itu. Setengah isinya tumpah ke lantai dan bajuku.Shit.Untung gerakan refleksku cukup bagus, jadi aku masih bisa menangkap gelas itu sebelum terguling dan pecah berantakan di lantai.

 

Pintar, Dev. Bisikku sendiri. Tapi sesaat aku tertegun dengan pikiranku sendiri. Dev? Devi? Apa benar itu nama asliku? Aku kok ga ingat sama sekali siapa aku ya. Arrgh. Rasa marah mulai menjalar membakar dadaku. Naik ke leher. Wajahku terasa panas. 

 

Terhuyung-huyung aku melangkah ke wastafel, mengucurkan airnya dan mencuci muka untuk menenangkan diriku, tepat saat itu aku melihat diriku di cermin. 
 

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!"

 

Setengah detik kemudian, disusul bunyi pintu digedor-gedor dibuka paksa dan laki-laki itu
berteriak panik.."Devvv....Deviiiiiiiii!!..Dev! Buka pintunya Dev!"

 

 

Tidak ada komentar: