Laman

Sabtu, 15 September 2012

Sakit/ Takut? Takut/Sakit?

Sebenarnya ide post ini udah lama main-main di kepala, tapi setiap kali mau dieksekusi secara formal, kepala gue menolak kerjasama. *buzz: Malas*

Pernah dengar 'what you don't know won't hurts you?'
Iya, orang kadang-kadang mengkaitkan istilah itu pada term 'kebohongan, kalau ga kebongkar ya bukan kebohongan" . Kebohongan masih valid sebagai fakta jika ga ada bukti yang bisa menyanggahnya.
Tapi bukan kebohongan yang mau gue bahas. Itu bukan jatah gue. I am a sinner, man. Hihi

Yang mau gue bahas, adalah 'rasa sakit dan korelasi pada sumber rasa sakit" halaaah.
Maksud gue gini, gue tergelitik waktu ngeliat anak-anak kecil yang eager banget nyoba segala sesuatu yang baru, baik yang (menurut kita) berbahaya maupun yang (menurut kita) kurang berbahaya. Anak-anak ini ga peduli akan resiko 'berpetualang' , mereka mungkin bahkan ga tau resikonya. Itu dasar pemikiran gue, rasa sakit yang ga lo kenal, ga akan bikin lo takut buat nyoba.

Kita sebagai orang dewasa, sering ragu-ragu buat bertindak karena udah kenal rasa takut itu. Takut patah hati bikin takut jatuh cinta. 
Takut sakit, jadi takut mandi hujan. Takut item, jadi jelek jadi takut keluar rumah, maen lari-larian di bawah matahari.  Takut ga punya duit, jadi bertahan di pekerjaan yang sucks.
Banyak hal yang bikin kita takut secara ga wajar. Karena kita mikir kejauhan.
(ini curcoool bok, hihi)

Rasa sakit yang tidak dikenal itu secara empiris memang berhubungan dengan dengan rasa takut yang kita miliki. Gue pernah baca satu buku yang membahas soal penggunaan peluru redam. Dulu di salah satu pertempuran di Asia antara tentara US versus pejuang gerilyawan, suku pedalaman. Suku Moro kalau ga salah. Para gerilyawan ini terkenal pantang menyerah, ditembak dengan membabi buta, tetap saja merangsek, maju menyerang, bahkan sampai 5 meter di depan si tentara.  Padahal secara wajarnya orang harusnya sudah roboh tertembak. 
Ternyata setelah dipelajari lebih lanjut, mereka ini seperti halnya binatang (singa atau badak atau hewan lain, walaupun sudah tertembak tetap punya keinginan untuk menyerang),  karena mereka ga kenal bahaya dari si peluru. Kolerasi antara rasa takut dan rasa sakit.

Pengujian lebih lanjut secara random sampling, pada subyek yang sudah "kenal" bahaya senapan/pistol/senjata api, tiba-tiba mereka di"tembak", kebanyakan menunjukan reaksi "sewajarnya" orang tertembak. Mati. Haha. Jadi orang-orang yang "tertembak" ini dengan asumsi mereka terluka, tiba-tiba pingsan / berfikir mereka mati, langsung rebah di tanah. Padahal ga ada yang terjadi mereka secara physical. Binatang kan juga gitu ya, karena udah tau kalau ada orang-orang yang akan mukul mereka, ngeliat tongkat pun mereka cenderung untuk takut lebih dulu. Mendeking atau ngapain gitu.

Weird isn't it , bagaimana kerja otak mengatur emosi dengan segala macam reaksi physical.

Pertanyaan gue, gimana caranya mengelola pengetahuan akan rasa sakit ini agar tidak menjadi hal yang mengganggu atau menghalangi kita mengambil kesempatan atau mencoba hal-hal baru?
I mean, man, we need to live the life, right?

4 komentar:

Anonim mengatakan...

gw lbh setuju kalo pake istilah resiko,bukan rasa sakit. dari resiko itu ada bad outcomenya yg blm tentu kita tau kaya apa rasanya. tp tau efeknya ga bagus.
menurut gw sih,ssh bgt 'dikelola',tgantung tipikal orgnya risk taker ato bukan. kalo ga ya ganti mindset,ngebebasin pikiran,tp org akan cenderung balik ke rootnya masing2. mkasih.
-ket

Lushka mengatakan...

hi Ket thanks for the comment.
Setuju soal resiko.
Tapi disini yang gue tekanin adalah kesadaran akan "resiko" yang diambil ternyata menimbulkan rasa sakit.
Rasa takut akan rasa sakit yang bisa timbul sebagai response dari resiko yang akan diambil.

Kaya yang gue contohin, orang yang ga tau bahaya, pasti akan serta merta ngelakuin. Karena ga akan mikir soal resiko.

Makanya gue bilang korelasi antara "pengetahuan akan resiko -sakit-" dan pengaruhnya pada keputusan diambilnya suatu tindakan.

Kalau soal kepribadian apakah risk taker atau engga, lets say, seorang risk taker adalah orang yang sudah berhasil mengelola rasa takutnya. hehe

Anonim mengatakan...

"Kaya yang gue contohin, orang
yang ga tau bahaya, pasti akan
serta merta ngelakuin".
ga tau itu maksudnya belum pernah ngalamin gt ya mbak? kalo kita ambil misal,saya ga pernah nyoba narkoba,tp saya ttp takut nyobain,itu gimana?

AL mengatakan...

Gw pernah baca kalo orang justru lebih bertahan dengan rasa sakit atau merasa lebih gak sakit kalau dia bener-bener tahu apa yang akan dihadapinya. Yah, itu sih berkaitan sama orang mau disuntik, hehe.. En, waktu mo operasi jantung juga gw merasa lebih okey pas setelah meeting dgn tim dokter bedah gw yang ngejelasin dengan detil pake gambar pula apa aja yg akan mereka lakukan dan ngasih tau kemungkinan sakitnya sedahsyat apa, dimana, kenapa, kapan, dan sampai kapan. Gw merasa lebih tenang. Tapi emang kasusnya beda sama org ditembak itu atau kl kita jatuh, selama blon liat lukanya, paling cuma tersentak aja. Begitu tau kalo sobek besar, misalnya, langsung dahsyat rasanya :p

Jadi mungkin itu pemecahannya. Misalnya, kita udah tau resikonya apa kalo kita mengundurkan diri misalnya, yang musti kita persiapkan adalah sejauh mana dampaknya kepada kita nantinya. Jadi kita sudah siap. Kalo kata Aung San Suu Kyi, mari berharap yang terbaik sambil mempersiapkan yang terburuk :)