Halaman

Kamis, 19 September 2013

A convo - 1 (Didod / Edith)

Didod            : "Toket ga mewakili feminisme"

Edith               :"neither does penis,bukan tentang maskulinitas, mereka cuma tempelan"

Didod             : "hahahaha, sumpah lo thu ya"

Edith               : "Dod, terakhir ML kapan?"

Didod                : "he..?..kenapa Jeng?"

Edith               : "Ya..ga papa.Nanya doang, kalo ga mau jawab juga ga papa..Duh, khas gue banget ya?"

Didod               : "hehehe…yup.Beneran  mau tau?"

Edith               : (ngangguk)."he'eh"

Didod             : "barusan.."

Edith               : "He..?"

Didod             : "Gue baru aja ML ama lo di otak gue…"

Edith               : "Shut Up!..mana bisa…lo kan ga capable.."

Didod             : "anjeng!..mau bukti?"

Edith               : "No,thanks. Gue udah tau kok, dari muka lo gue udah tau, lo ga mampu."

Didod             : "aaargh! Siyal lo Dith!"

Edith               : "hehehehe…lo kan banci Dod, mana bisa ama gue"

Didod             : "Hehe! Siyalan enak aja. Lo aja yang ga doyan laki"

Edith               : "Eits, I've had enough penises kalo lo mau tau. Pengen detailnya?. Gue ga bisa recall secara exact sih. Tapi kalo describe global masih bisa..hehehehe. Mau diceritain punya siapa?"

Didod             : "Cck.cck.cck..sinting! Berarti…lo udah..ga…..itu?"

Edith               : "virgin?"

Didod             : "ehm..iya"

Edith               : "physically, technically, or..?"

Didod             : "apa kek…"

Edith               : "kalo bolong apa ga, masih utuh,Setau gue sih gitu. Tapi di kepala gue, gue udah bersetubuh ama seluruh dunia..hehehehehe"

Didod             : "Alah…! Was it good?"

Edith               : "Always"

Didod             : "Diithhh…doh! Lo thu.."

Edith               : "Lho,kenapa sih Dod?.Eh , Ga usah muna ya, gue tau lo ama siapa kok dua hari yang lalu. Wong,anaknya cerita sendiri ama gue. Dan gue sempet juga…"

Didod             : "Sempet apaaa?...eh, emang siapa? Sok tau lo…"

Edith               : "Yee..dibilangin. Mau nyebut nama ni?"

Didod             : "Anjing! Lo embat juga..? Keterlaluan lo.."

Edith               : "Yang bilang gue ngembat juga siapa. Otak lo thu negative, nuduh aje. Gue sempet ngeliat lo berdua keluar dari satu tempat. Lo bisa tau orang abis ngapain dari cara jalan, cara saling ngeliat, your gestures…haha"

Didod             : "You did? Ah! Siyal! Lo juga ngapain ada disitu?"

Edith               : "Ada deh"

Didod             : "Lo ama siapa?"

Edith               : "Kenapa harus ama siapa?"

Didod             : "…..aah! Tolol ah. Sekarang lo mau cerita apa ga? Ga ada orang kesana sendirian, kecuali…."

Edith               : "Kecuali…"

Didod             : "sakit. Gila.."

Edith               : "Lo ga tau kalau gue gila?"

*

2007

Dear Readers,

Gue mau mulai post tulisan-tulisan lama.
Dulunya ada di blog friendster gue dan mithya, sayang kalo dibiarin ngejogrok. 
Kalau ada yang langganan di email, maaf ya kalo flooding. hehehe
Soooo...
Nantikaaan.

(kaya masih ada yang baca hihi)

Kamis, 12 September 2013

Benarkah para lelaki kaya akan memiih wanita cantik untuk diperistri?

Dicomot dari artikel mas Yusran Darmawan, mengenai Zaskia & Vicky,

"""
......
Namun benarkah para lelaki kaya akan memiih wanita cantik untuk diperistri? Dalam satu terbitan di harian
New York Post, saya membaca seloroh seorang ekonom bahwa wanita cantik hanya cocok dipacari, bukan untuk dinikahi. Benarkah? Di satu artikel di
Wall Street, seorang wanita cantik mengumumkan bahwa ia mencari pria eksekutif yang kaya-raya. Tiba-tiba, salah seorang konglomerat Amerika, JP Morgan, menjawab dengan rinci:
"Dari sisi bisnis, merupakan keputusan salah untuk menikahimu. Jawabannya mudah saja. Coba tempatkan "kecantikan" dan "uang" bersisian. Pihak A menyediakan kecantikan, dan pihak B membayar untuk itu. Tapi kecantikan anda akan menghilang, sementara uang saya tidak akan hilang tanpa ada alasan yang kuat. Faktanya, pendapatan saya mungkin akan meningkat dari tahun ke tahun, tapi anda tidak akan bertambah cantik tahun demi tahun. Dari sudut pandang ekonomi, saya adalah aset yang meningkat, dan anda adalah aset yang akan menyusut. Nilai anda akan sangat mengkhawatirkan 10 tahun mendatang. Di Wall Street, jika nilai tukar turun, kita akan menjualnya dan ide buruk untuk menyimpan dalam jangka panjang, seperti pernikahan yang anda inginkan."

 Nah, bukankah aspek substansi atau jiwa lebih penting dari apa yang tampak?
Baubau, 7 September 2013
www.timur-angin.com

__
------
Powered by The Brain®

Rabu, 11 September 2013

Iya, buat gue ini awkward didengar

Baru saja menjadi saksi awkward di bangku belakang mobil atas sebuah percakapan yang harusnya R-rated untuk kuping gue yang sangat perawan:

Megatron (alias bokap, bagi yang tidak awam dengan alias-alias gue di Twitter): Ibu kamu model wajahnya seksi ya.

Queen Alien (alias nyokap): Oo..tapi kalau istri kamu ga seksi ya? (Sambil nyengir-nyengir gitu memandang Megatron penuh harap)

Megatron: Wah..kalau kamu itu bukan cantik (lah kok cantik? Kan ditanya seksi), tapi manis.

Queen Alien pun tertawa cekikik dengan nada nenek lampir

Lalu gue bingung..opo toh iki? O_0



~the nature is cruel, therefore we are entitled to be cruel (A. Hitler)~

Sabtu, 07 September 2013

Self Esteem

Minggu ini salah satu temen kantor gue ke kantor dengan rambut baru, kruwel-kruwel. Bagus gitu.

Selama ini kita selalu ngeliatnya rambutnya lurus bondingan.

Rules diantara cewe itu ya, kalo udah muji berarti ya beneran, apalagi diulang-ulang. Itu yang kita (gue dan temen-temen cewek lainnya) lakukan. "ih jie, rambutnya baru, abis dari salon yaa".

Yang dipuji malah salting, jadinya ngiket rambut, sambil bilang "ah kriting gini, kribo", terus kabur.

Di lain waktu, pas lagi ngumpul di kubikel gue, sambil ngobrol, gue muji (lagi), "rambut lo bagusan gini tau, daripada lurus kemarin, rusak kan kalo dibonding terus". Dan akhirnya terbongkar  ternyata rambut kruwel-kruwel itu rambut aslinya.

Temen gue yang lain langsung ekstrim reaksinya "ah begooo looo, ini baguuuus. Ngapain lo catok segala? Lo bonding, hair extension gitu. Begoo". Gue manggut-manggut (baca: membenarkan, tapi dalam hati). Hihi.

Pas pergi bareng, si temen cerita, dia usaha ngelurusin rambut dari SMA, dari SD sampai SMA rambut kruwel-kruwelnya itu ga pernah dilepas, selalu dikuncir. Alasannya? Malu.

Malu karena dulu waktu SD dia suka diledekin "yang kribo kaya kebo", kebetulan dia sekolah di tempat mayoritas cewe-cewenya berambut lurus tergerai, karena dia beda so she's easly been picked up. Itu bikin dia malu, hingga akhirnya malah memutuskan merusak meluruskan rambut pas SMA. Jaman itu masih smoothing – rebonding masih mahal, pengorbanannya keriting papan demi bisa diterima di pergaulan /  sosial. Since then, dari SMA sampai sekarang umur 27, dia baru ngebiarin rambutnya tanpa paksaan buat lurus.

Sedih ya.Padahal rambutnya sebenernya bagus.

Seandainya temen-temennya ga ngeledekin, mungkin dia ga jadi minderan, cuma gara-gara rambut.

Gue jadi mikir, seberapa banyak manusia di luar sana yang ngerusak dirinya sendiri hanya agar diterima di pergaulan? Itu luka batin anak SD (tsaah) kebawa sampai dia dewasa. Berpengaruh pada kepercayaan diri.

Gue juga pernah ngalamin yang sama. Waktu gue SMP. Gue itu ugly duckling be'ud. Pendek, item, rambut kruwel (juga). Hahaa. See gue juga ga menghargai diri gue sendiri. Eh tapi emang gue jelek deng waktu SMP dibanding sekarang udah jelita gini. (note : jelita menurut gue, keluarga gue dan pacar gue).  Batin gue juga terluka. Halah. Jadiii, di sekolah gue, gue minoritas, yang lain putih-putih, tinggi dan gue item – pendek, tapi gue pinter. Lah.


Di suatu siang, di sebuah angkot sepulang sekolah, tersebutlah gue dan 2 temen gue yang lain di dalamnya, aku duduk di pojokan, ke dua cewe ini ngobrol di sisi ujung dekat supir, sebut saja Santi dan Sinta. Si Santi cerita soal gebetannya, yang menurut gue yaa, itu jelek. Iya biar gue jelek, selera gue ga jelek kali. Pret.

Jadi Santi ini kesel karena si cowo ganjen banget, terus dia bilang gini, "itu yaa, si santo, sama kambing atau sama LUSHKA dibedakin, dia juga mau". Dalam hati gue. WHOT. DIA YANG MAU AMA GUE! GUE SIH OGAH!! . Tapi lil lushka ga sebitchy ini dulu, jadi gue pura-pura ga dengar dan merenung makin mendlep di pojokan dan terjatuh dalam lautan luka yang paling dalam..

Years later, walaupun gue tau temen gue itu asal, dan gue YAKIN, gue bukan kambing, gue kadang masih suka sakit hati. Tapi untung gue juara kelas, jadi mau sekambing apapun, gue punya kelas. OPO.

Berapa banyak dari elo yang masih nyimpen sakit karena ngerasa ga diterima?. Saran gue? Shake it off. Liat Putri, ternyata rambutnya yang dia pikir sumber penghinaan itu sekarang sumber pujian.

Liat gue. Gue bukan kambing ternyata. Dan gue baru keterima kerja di tempat baru. Yiiiiihaaa. Sabtu libuuuuur. Hihihi.

What matter is, you gotta love your self.

Gue tiap hari musti nguncir precil keponakan gue buat ke sekolah. Udah 3 pagi, dia minta kuncir tiga. Dua di kanan kiri, satu di bawah. Di hari pertama, sebagai tante yang pedulian , gue bilang, nanti kamu dibilang orang gila. Tapi si precil tetap pede. Dia bilang kalo diledekin tinggal dicopot  yang paling bawah terus diiket jadi satu. And I admire her guts and her way to bounce from peer pressure. . Besokannya gue tanya pas dia minta kuncir yang sama lagi, temen-temennya komentar apa. Dia dengan cengirannya bilang "bagus kata temen aku, tant. Pada kunciran gitu juga". Hahahaha. sekumpulananakSDgilak.

 

 

Senin, 26 Agustus 2013

Surat cinta untuk community

Gue mau sharing kegembiraan dikit. Kegembiraan pribadi sih. Ngga penting-penting amat. Tapi gue happy sama aktivitas gue yang satu ini hehe...Gue di awal tahun ini masuk suatu komunitas yang sebenarnya ngga begitu dikenal bahkan mungkin orang-orang ngga tau keberadaannya. Komunitas ini berdiri atas kecintaan mereka terhadap suatu judul franchise. Bukan Glee kok hehe..walaupun kalau gue bisa nemuin komunitas gleek indonesia yg serius, gue jabanin juga nih. Anyway, gue pilih untuk ngga menyebut nama komunitas ini demi keamanan anonimus pribadi dan supaya ngga dikira gue punya agenda lain untuk masuk komunitas tersebut. Because, nope, I dont have any other agenda. I'm a big fan of this franchise. Tapi gue juga punya sedikit uneg-uneg dan kritik yang bisa berlaku untuk komunitas apa pun.

Gue sebut "kecintaan" karena dari yang gue amati, mereka bukan hanya sekedar "suka" lagi. Beneran CINTA. Kenapa? Karena sebagian besar "pentolan" mereka adalah fans hardcore dari franchise ini. Usia "pengikutnya" beneran dari anak SD sampai yang udah masuk usia kakek gue. Tapi kalau udah ngomongin si franchise..BEH. Gue beneran minder. Berasa baby banget. Di lain sisi, ngeliat betapa antusiasnya para anggota komunitas ini, gue jadi terpacu untuk belajar lebih lanjut tentang si franchise. I am determined to be one of them tahun ini juga!


Secara keseluruhan, ketika gue awal berkenalan, mereka orangnya sangat open dan ramah dengan anggota baru. And I couldn't be more happier to be welcomed in such a warm way. Walaupun gue grogi gila waktu pertama kali hang out, dikelilingi sama yang usianya rata-rata cuma dibawah dikit sama usia ortu gue, gue ngerasa bisa join dengan mereka lebih lanjut.

THE PROBLEM IS. Sesuai dengan yang gue takuti, ketika ada sekelompok orang yang ngefans gila dengan sesuatu, atau kalau mau disebut lebih sederhananya, fanatik, biasanya sekelompok orang itu akan merasa lebih keren atau lebih baik dari orang-orang yang bukan kelompok mereka. Gue ngga bilang semua komunitas gitu lho..bahkan di komunitas ini pun, ngga semuanya seperti itu juga. Tapi gue menemukan beberapa fanatik melalui komentar mereka tentang franchise lain. Ironisnya, si franchise sendiri paling terkenal dengan nilai-nilai persamaan hak mereka. Tapi para fanatiknya yang mengelu-elukan nilai tersebut malah berlaku sebaliknya. hihi...kok gue berasa kayak ngomongin sekte agama ya? Ngga jauh sih menurut gue. Kalau si particular franchise ini diibaratkan dengan agama Islam, gue bisa bilang kalau gue sama dengan JIL. Kalau perlu agnostik deh.

Hal lain yang menurut gue lebih lucu lagi, adalah ketika para fanatik menjatuhkan franchise lain yang sebenernya masih masuk dalam satu genre. Yaa..kalau sekedar bilang "gue ga suka franchise itu karena sekian sekian dan sekian" sih normal ya. Setiap orang punya minat masing-masing. Contoh, gue seorang VAddict yang ngga minat sama sekali dengan Twilight. Tapi se-ngga suka-nya gue dengan Twilight, bukan berarti gue harus terus-terusan ribut sama Twihard dong? Lah, masih sama-sama satu genre gitu. Young Adult Fantasy. Bedanya, gue ngga minat sama cerita yang terpusat pada drama romantis. Para Twihard minat sama yang begituan ehehe..yaudah lah yaaa... Kayaknya yang ngikutin FD udah tau juga kalau gue dan Lushka ngga demen banget sama Twilight hehe..but please feel free to be a Twihard. Not our problem or business at all. Betul? Betul!

Karena gue masih terhitung anak baru di komunitas ini..baru kenal setengah tahun, dibanding yang udah kenal tahunan, gue masih hati-hati dalam berkomentar dan memberikan opini. Masih clingak-clinguk observasi karakter masing-masing anggota. Karena gue yakin pasti ada "agnostik" dan "JIL" yang lain di komunitas ini hwehehe....Mungkin yang seumuran gue atau yang lebih muda dikit. Maunya sih bisa nyentil sama yang hardcore. Ngga ada yang sempurna om, tante, mas, mba, dik. Apalagi franchise doang. SUDAH PASTI punya kelemahan di sana sini. Tadinya di sesi tanya jawab yang pertama kali, gue mau nanya "Bagaimana posisi anda semua tentang franchise lain?" terus nyebut-nyebut tentang nilai persamaan hak gitu LoL tapi lagi pada asik ngomongin topik yang lain dan gue belum nemu celah yang tepat untuk nyentil *masih aje setengah tahun bawa misi hahahaha*

Buat yang sudah ada di dalam sebuah komunitas spesifik, semoga ngga fanatik-fanatik amat ya..masih banyak lho hal yang menarik di luar sana yang bisa kita suka dan pelajarin dibanding buang energi untuk nyela komunitas lain. Lagian, lebih enak punya banyak temen daripada banyak musuh kan? Cape, gila *ketawa gaya iklan frozz*

Yosh! Salam olah raga!


Selasa, 18 Juni 2013

"Bangsa Kasihan"

by Khalil Gibran

Kasihan bangsa yang memakai pakaian yang tidak ditenunnya, memakan roti dari gandum yang tidak dituainya dan meminum anggur yang tidak diperasnya

Kasihan bangsa yang menjadikan orang bodoh menjadi pahlawan, dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah.

Kasihan bangsa yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur, sementara menyerah padanya ketika bangun.

Kasihan bangsa yang tidak pernah angkat suara kecuali jika sedang berjalan di atas kuburan, tidak sesumbar kecuali di runtuhan, dan tidak memberontak kecuali ketika lehernya sudah berada di antara pedang dan landasan.

Kasihan bangsa yang negarawannya serigala, falsafahnya karung nasi, dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru.

Kasihan bangsa yang menyambut penguasa barunya dengan trompet kehormatan namun melepasnya dengan cacian, hanya untuk menyambut penguasa baru lain dengan trompet lagi.

Kasihan bangsa yang orang sucinya dungu menghitung tahun-tahun berlalu dan orang kuatnya masih dalam gendongan.

Kasihan bangsa yang berpecah-belah, dan masing-masing mengangap dirinya sebagai satu bangsa.

****
My notes:

Semoga kita tidak terjebak lama-lama sebagai Bangsa Kasihan

*Copy-paste dr sebuah milis.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Senin, 10 Juni 2013

Sponge Pink Cantikku


Alkisah hari ini gue dan adik gue pergi belanja kebutuhan kamar mandi di sebuah supermarket. Dasar gue udah jadi calon ibu-ibu rese sambil merhatiin adik gue nyari-nyari sabun mandi, komentar, "Lah, bukannya kayaknya baru dibeliin? Kok udah abis? Lo pake sponge ga sih kalau pake sabun cair?" Dan tepat kecurigaan gue dijawab dengan "Ngga". Langsung lah si calon ibu-ibu rese ini (menunjuk ke diri sendiri) merekomendasikan adik gue untuk beli sponge. Sambil nambahin komentar panjang lebar layaknya SPG sponge mandi merk terkenal (emang ada?) "Kalau pake sabun cair itu harus pake sponge. Lo cuma butuh sedikit sabun dan busanya wuah banget. Karena emang lo ga butuh banyak-banyak. Kalau cuma pake tangan ya iyalah ga berbusa dan bikin si sabun cair cepet abis."

Kebetulan gue sendiri baru aja milih sponge baru berwarna biru. Di rak display-nya memang hanya tersedia dua warna, Biru dan Pink. Gue pikir ya sudahlah ya kalau kita sama-sama punya sponge warna biru karena kamar mandi kita kan terpisah. Kenapa gue berpikir adik gue akan milih warna biru? Karena saudara-saudaraku setanah air yang tercintah, kita ini terdoktrin untuk berpikir bahwa biru adalah warna cowok dan pink adalah warna cewek. Kenapa gue pilih warna biru dong? Ya karena cewek lebih bebas milih hihihi...

Namun ternyata...! Adik gue ngambil sponge yang berwarna pink sambil komentar, "Ah, ga penting kan ya warnanya apa? Lagian siapa juga yang ngomongin warna bath sponge-nya ke orang-orang.", lalu dia masukin si sponge pink ke dalam keranjang belanja kami sambil melengos cuek. Diem-diem sebenernya gue pingin tepuk tangan dan ngayal beberapa pengunjung di sekitar kami ikutan tepuk tangan atas cara berpikir adik gue yang melepaskan diri stereotipe XD Mungkin memang komentarnya masih ada nuansa "menyembunyikan sebuah sponge warna pink" yang rasanya aib banget kalau ketahuan khalayak banyak, tapi yang terpenting dia berani ngga dikatain bencong hanya karena sebuah sponge pink hihi..

Iya, iya, ini adik gue yang dulu sempet curhat kalau dia suka mikirin cium temen cowoknya kalau cuma berduaan hahaha...tapi terlepas dari kemungkinan adik gue sama androginus dan/atau queernya dengan gue, GUE AJA OGAH BELI SPONGE PINK KARENA ITU CEWEK BANGET =P

So, salut for you Bro! Semoga semakin banyak anak cowok yang kayak lo. Semakin banyak anak-anak cowok yang pake kaos pink karena menurut mereka itu keren dan ngga mengurangi "kejantanan" mereka. Kalau lo cowok dan lo takut warna pink bikin titit lo mengecil, mungkin sebenernya titit lo emang udah kecil hehe..Warna ngga punya gender, bung. Warna ngga bikin jenis kelamin lo berubah jadi cewek. Lagian apa yang salah dengan jadi cewek? Apa kita gender yang lebih rendah dari cowok? Jangan racuni anak-anak kita dengan stereotipe dan pengkotak-kotakan yang sifatnya superficial banget. OK? Sip.

Senin, 22 April 2013

Kartini, Idola gue. =D

Mumpung masih anget. Nulis tentang R.A Kartini pas hari Kartini.
Sebenarnya tulisan ini "utang " yang udah lama banget baru bisa gue bayar hari ini. Hehe.

Tiap tahun, setiap tanggal 21 April, bangsa ini merayakan hari Kartini sebagai pahlawan nasional.

Dan tiap tahun juga terjadi perdebatan "kelayakan" apakah R.A Kartini layak diangkat sebagai seorang pahlawan, kenapa ga pahlawan-pahlawan perempuan lainnya yang dianggap "lebih keliatan" perjuangannya.

Mereka, perempuan-perempuan hebat yang punya dedikasi "fisik" dengan beneran angkat senjata atau keliatan hasilnya yang berguna dalam perjuangan kemerdekaan hingga akhirnya negeri ini mengukuhkan dirinya menjadi NKRI.
Back to Kartini.

Duluuu, sebelum gue baca kumpulan surat-surat Kartini, gue juga mikir sama. Kenapa Kartini? Kenapa harus banget punya hari khusus? Emang cewe 20 tahunan ini ngapain? Nulis surat doang. Apa gunanya juga.

Sampaaaai, akhirnya gue dengan umur yang telat banget, 8 tahun yang lalu dibukakan kedegilannya dengan membaca salah satu kumpulan surat Kartini pada Stella Zeehandelaar (1899 – 1903) yang dialih bahasakan oleh Vissia Ita Yulianto, terbitan IRB Press, 2004  (Indonesia) – Monash Asia Institute, Monas University (Internasional). Buku dengan judul "Aku Mau, Feminisme dan Nasionalisme"

Setelah membaca kumpulan surat ini, gue cuma ngerasain satu. Minder. Kagum. Canggih banget perempuan ini. 

Terlepas dari layak dan tidaknya gelar pahlawan nasional yang diribetin orang banyak, tulisan Kartini inspiratif dan tidak lekang jaman. Jangan main-main dengan kekuatan tulisan. 

Setelah berkesempatan membaca kumpulan suratnya Kartini, gue meradang tiap tahun, tiap mendengar orang-orang maju ini yang melek informasi (katanya) yang memilih memperdebatkan gelar yang sebenarnya ga penting-penting amat TANPA pernah membaca apa yang ada di benak Kartini. Esensi tulisan Kartini jadi mandul di kepala mereka yang dengan entengnya "menghina" lompatan waktu buah pikiran Kartini. 

Well. Tulisan ini bukan membela Kartini, karena beliau,  gue yakin sesuai dengan pendapatnya yang ditulis di salah satu suratnya tidak mengagungkan pujian.  "Mungkin mereka menganggap aku berpura-pura tapi, sungguh, aku tidak suka dipuji".

Adoh. Di kepala gue banyak banget sliweran ide Kartini yang inspiratif menurut gue. Gue ga punya idola sampai gue baca tulisan Kartini. Haha. Iya segitu lebaynya gue kagumnya sama perempuan ini. 

For the record, yang akan gue bahas hanya dari buku yang gue baca, karena gue belum baca kumpulan surat-surat lainnya.

Sejarah hidup R.A Kartini pasti udah pada tau semua. Lahir di Mayong, Jawa Timur, 21 April 1879,  putri kedua dan anak ke-4 dari 11 bersaudara R.M.A.A Sosroningrat seorang Bupati Jepara dari salah satu selir beliau. Kartini memiliki 5 saudara laki-laki dan 5 saudari perempuan.

Kecerdasan dan besarnya kecintaan Kartini pada dunia pendidikan tidak terlepas dari jasa kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro, Bupati Demak yang juga Bupati pertama di Jawa Tengah yang memberikan pendidikan barat kepada anak-anaknya yang menurun pada ayah Kartini.  

Paman-paman dan kakak-kakak laki-laki Kartini semuanya lulusan HBS (Hogere Burger School – kalau sekarang setingkat SMU), bahkan ada tiga saudara laki-laki Kartini yang sekolah/ kuliah di Belanda. Walaupun kisah Kartini berakhir tragis, dengan kematian beliau, empat hari setelah melahirkan putera pertamanya. 17 September 1904 di usia 25 tahun. Too soon, too young.

Kartini itu hobbynya membaca dan menulis juga bisa melukis walaupun tidak sebaik dua adik perempuannya, dari penuturan Kardinah (adik Kartini) dalam buku kenangan Kartini (1958), beliau menuliskan bahwa Kartini terkenal pandai memasak, bahkan sudah menulis buku ala Jawa dan Belanda.

(menghela nafas. Bakal jadi tulisan yang puanjang ini kalo ga segera mengurai simpul kekaguman gue pada Kartini. Hihi)

Mari kita kembali ke jamannya Kartini. Ga ada internet, ga ada media sosial, informasi terbatas,  pendidikan untuk anak perempuan bumiputra sangat ekslusif, hanya orang-orang tertentu yang cukup punya strata sosial untuk menyekolahkan anak perempuannya, itupun juga kalau orangtuanya cukup peduli untuk memberi kesempatan kepada anak-anak perempuannya.

Kartini dan adik-adiknya sebagai putri Bupati cukup beruntung, karena ayah mereka peduli untuk memberi kesempatan belajar pada anak-anak perempuannya walaupuuuun hanya sampai berumur 12 tahun. Setelah itu, sesuai adat jawa – bangsawan, anak perempuan dipingit, menunggu cukup umur untuk dilamar.

Dalam kumpulan surat ini, bolehlah gue simpulkan dalam satu kata; Menggugat. Kartini menggugat.

Kartini sangat cakap dan berani untuk mengungkapkan kegelisahannya pada aturan aturan feodal  Jawa yang mengikat perempuan. Menggugat apartheid bahasa pada kaum bumiputra. Kegelisahan pada isu yang sangat sensitif, agama. Kerinduan pada kesetaraan gender. Ketidakberdayaan pada nasib.

Melalui pena, melintasi benua dan samudera, Kartini membagi hatinya. Tulisan-tulisan Kartini personal, sensitif terkadang defensif juga kaya pada keindahan sastra.

Ingat, Kartini hanya sekolah formal sampai dengan umur 12 tahun, sejak itu dia mengedukasi dirinya sendiri dengan bantuan kemudahan yang dimiliki ayahnya. Majalah, jurnal, novel dalam bahasa Belanda dilahapnya. Kaya anak-anak muda jaman sekarang, yang hobby ngeblog, Kartini menulis, menjalin korespondesi dengan orang-orang asing yang dia anggap mampu mengerti apa yang di kepalanya.

Kartini dengan telaten menjelaskan isu-isu yang mengganggu kepalanya, rindunya pada "kebebasan" dan kesetaraan. Tidak hanya untuk dirinya sendiri. Dia menginginkan pendidikan untuk kaumnya. Dia percaya perempuan yang berpendidikan dapat membantu dirinya sendiri juga kemajuan pemerintahannya.

Cerdas. Serius, Kartini itu cerdas banget. Mana ada orang yang ga cerdas yang tekun membuat ringkasan/catatan atas jurnal yang dia baca?. Kefasihannya membaca surat kabar/majalah pergerakan perempuan dalam bahasa Belanda ataupun melayu. Cita-citanya untuk belajar literatur, karena Kartini ingin menunjukan bahwa sejago-jagonya ahli Indologi (ilmu tentang Hindia- Belanda) ga akan sejago kalau yang menuliskan orang jawa sendiri.

Kartini juga sudah berkesempatan menorehkan tulisannya di beberapa harian penting yang berbahasa Belanda. Walaupun dengan kegalauan, karena status sosialnya, ia beresiko dicap sebagai nyeleneh, Kartini tidak ingin jadi figur publik karena rasa hormatnya pada orangtuanya. Jauh sebelum lo pada pake nick name/pseudoname, Kartini sudah duluan memakainya, nama yang dia pilih "tiga saudara", merujuk pada ikatan persaudaraan dengan 2 saudara perempuannya.

Kalau lo belum tau, Kartini belajar bahasa lain selain bahasa Belanda, di suratnya, Kartini bercerita saat itu dia sedang belajar bahasa Perancis dan sedang menerjemahkan buku cerita sederhana dalam bahasa Perancis sebagai latihan. Ayahnya juga menghadiahi kursus bahasa Jerman setelah menguasai bahasa Perancis tapi beliau lebih memilih bahasa Inggris.
Anak perempuan pingitan yang jengah pada feodalisme. Pada satu suratnya Kartini mencela pernikahan yang diatur, poligami, yang ironisnya nantinya harus ia hadapi. Sebagai anak manusia, Kartini menginginkan pernikahan atas nama cinta, mengenal antar pribadi, jatuh cinta dan menikah.

Tentang poligami, di suratnya pada tanggal 6 Nov 1899, Kartini menuturkan, dia tidak akan pernah bisa mencintai. Karena untuk mencintai, pertama kali harus bisa menghargai pasangannya. Kartini mempertanyakan bagaimana mungkin menghargai seorang laki-laki yang sudah menikah tapi sudah menjadi seorang ayah hanya karena sudah bosan dengan istri lamanya, bisa membawa perempuan lain ke rumah dan menikahinya.

"Meski banyak orang mengatakan ini bukan dosa, tapi aku, selama-lamanya akan tetap menganggap ini sebuah dosa. Bagiku, semua benih perbuatan yang menyakitkan orang lain (termasuk menyakiti hewan) adalah dosa. Bisa kau bayangkan derita seorang istri yang melihat suaminya pulang membawa perempuan lain yang kemudian harus diakuinya sebagai istri sah suaminya? Sebagai saingannya?"

Protes pada stigma lemah yang diberikan pada perempuan juga ia suarakan, seperti yang bergema di kepala gue, Kartini sudah lebih dulu berjanji, jika suatu saat nanti ia memiliki keturunan, Kartini akan memberikan pendidikan dan perlakukan yang sama. Kartini berujar;

"...dan sudah semenjak masa kanak-kanaknya, laki-laki sudah diajari untuk merendahkan perempuan. Sering sekali akku mendengar  ibu-ibu yang mengatakan pada anak laki-lakinya, jika mereka menangis saat jatuh : "waduh, anak laki-laki kok menangis seperti anak perempuan saja!". Aku akan mengajari anak-anakku, baik laki-laki maupun perempuan, untuk saling menghomati sebagai sesama dan membesarkan mereka dengan perlakuan yang sama, sesuai dengan bakat mereka masing-masing."

Kartini juga peka pada isu sosial yang saat itu menghantui masyarakatnya, maraknya ketergantungan pada miras (dia menyindir orang-orang yang beragama tapi hanya melekat saja, tanpa menjalankannya), bebasnya perdagangan opium yang membuat sengsara rakyat yang ironisnya diatur oleh pemerintah. 

"..Bisnis opium adalah bisnis yang paling menjanjikan untuk pemerintah Hindia Belanda. Mereka untung tapi rakyat buntung, beribu-ribu bahkan berjuta-juta keping emas bisa mereka dapatkan namun rakyatlah yang menanggung penderitaan akibat opium. Apakah rakyat menjadi lebih baik atau tidak, mereka peduli apa? – yang paling penting Pemerinta untung!" – 25 Mei 1899
Pada keterbatasan gerak perempuan, Kartini dengan indah melukiskan mirisnya berada dalam pekarangan yang sangat luas dan indah, tapi tetap saja terkukung oleh tembok-tembok keputren yang kokoh dan dingin. Yang menghalanginya berhubungan dengan dunia luar.  

Sikap anak dara ini pada aturan-aturan yang menurutnya konyol seperti tradisi penghormatan pada mereka yang berstatus bangsawan. Kartini menolak untuk dihormati secara berlebihan oleh adik-adiknya. Dia dijuluki kuda kore/kuda liar karena sering tertawa keras dengan memperlihatkan gigi.  Haha. Hipster yak?

Apartheid bahasa. Bahasa Belanda di jaman kolonialisme hanya boleh dipergunakan oleh orang-orang Belanda, orang-orang Bumiputra dilarang menggunakannya, bahkan walaupun orang-orang Bumiputra ini lebih cakap daripada orang-orang Belanda sendiri. Kartini mengolok-olok hal ini, dengan sarkasme, Kartini menceritakan kesombongan orang Belanda pada penggunaan bahasa ini, diceritakan seorang laki-laki Belanda menggunakan bahasa melayu yang berantakan pada seorang Raden Ayu yang fasih berbahasa Belanda, sang putri menjawab dalam bahasa Belanda "Tuan, maafkan saya, saya minta Anda berbicara dalam bahasa Anda sendiri. Saya bisa mengerti dan bisa berbahasa Melayu, tapi sayangnya hanya bahasa Melayu tinggi, saya tidak bisa bahasa Melayu pasaran". Haha. Si Londo pun malu sendiri.

Kakak laki-laki Kartini, RM Pandji Sosro Kartono, juga ga kalah hebatnya, beliau pada Oktober 1899, sebagai seorang mahasiswa beasiswa Sastra Belanda, pada Kongres Bahasa Belanda dan Sastra XXV, mengajukan dalam presentasi papernya, pentingnya kesetaraan dalam penggunaan bahasa Belanda untuk anak-anak laki bumiputra sebagai sarana memajukan pengetahuan dan kemajuan pemerintahan. Karena di jaman itu, hanya orang-orang Belanda yang bisa menduduki posisi strategis dalam pemerintahan. Ditambah ketidakmampuan juga tidak adanya kesempatan berbahasa Belanda makin merendahkan posisi tawar bagi anak-anak Bumiputra.

Kartono juga menyindir, dalam 2,5 abad belenggu pemerintahan kolonial Belanda, kebaikan apa yang sudah didapat kaum Bumiputra. Cool. Pidato itu tamparan yang cukup kenceng bagi kaum intelektual Belanda di Kongres itu.

Kartini sering sekali menuliskan tentang ketidak adilan yang dialami kaum Bumiputra pada kedudukannya di tatanan masyarakat waktu itu. Orang-orang Bumiputra yang harus laku jengeng/jalan jongkok pada orang Belanda yang lebih tinggi kedudukannya, hanya karena orang Belanda ingin dihormati seperti layaknya bangsawan Jawa. 

Bapaknya Kartini digambarkan sebagai pribadi hangat yang peduli pada rakyatnya, macam Jokowi gitu,  hihi. Bupati ini menekan korupsi dan suap di tataran pemerintahannya dengan kunjungan dinas dengan biaya kabupaten. Bekal dibawa sendiri, tidak merepotkan pegawai daerah dengan jamuan-jamuan yang menelan biaya besar, yang pada akhirnya mendorong pegawai untuk menerima suap dari rakyatnya.

Masih banyak banget yang bisa gue ceritain tentang Kartini, ada ga sih media menggambleh lisan aja hihi.

Kartini saking getolnya pengen belajar, dengan semua keterbatasan yang ada, bisa mendapatkan beasiswa pelatihan guru, yang sayangnya karena gender dan status sosialnya membuatnya melepas kesempatan itu. Sekolah perempuan berhasil diwujudkannya.
Moto hidupnya "aku mau", menjaganya untuk tidak pernah berhenti belajar. Sampai akhir hidupnya.

"Jika hukum yang berlaku mengizinkan , aku tak ingin apapun kecuali mengabdikan diriku secara utuh untuk melakukann hal-hal seperti yang telah dilakukan kaum perempuan di Eropa. Namun tradisi disini sungguh teramat kita mencengkeramku. Aku yakin ,saat itu akan tiba, tapi tidak tiga atau empat generasi setelahku!" ... 

Jaman yang Kartini rindukan sudah tiba,kebebasan untuk berfikir, berkarya untuk kita, perempuan Indonesia. Apakah kita akan membiarkan mimpi-mimpi Kartini gugur di tangan kita yang kurang bisa menghargai anugerah yang begitu Kartini dambakan? Bahkan dia ingin tidur panjang 100 tahun dan terbangun saat semua sudah berubah. Ironis jika masih ada perempuan yang justru ingin kembali pada kembali di 'jaman kegelapan", menerima bahwa perempuan selama-lamanya hanya istri yang manut pada suaminya tanpa punya hak untuk didengarkan, pasrah dipasung kesempatan untuk berprestasi hanya karena jendernya.

Kartini buat gue layak banget jadi pahlawan, karena gugatannya 'pun masih sangat relevan pada kehidupan perempuan di jaman ini. Bahwa perempuan itu penting. Perempuan bukanlah hanya konco wingking, teman di belakang,  perempuan harusnya bebas bergerak menentukan langkahnya sendiri, ikut bergerak dalam laju jaman, berkonstribusi pada kemajuan pemerintahan, memberikan sumbangsihnya pada keluarga dan sesamanya. 

Orang yang menyalakan pelita di hati orang-orang untuk terus maju dan bergerak ke depan itu adalah seorang pahlawan.  

"Kartini ada bukan karena gagasan feminisme, tapi karena Kartini ada,maka ia seorang feminis (GM, pada catatan pengantar buku ini)"

Sabtu, 13 April 2013

21days

it's weird I constantly have this feeling every saturday.
the day my dad passed away.
three weeks ago.
baru 21 hari yang lalu.
di kepala terus menerus muter kejadian hari Sabtu itu.
dari tengah malam tadi, sampai nanti jam 16.27
I can recalled each minutes of it. How do I feel.
Cuaca saat itu, bau yang menguar hari itu.
Bunyi tombol-tombol telp. 
Perasaan masgyul telp ga diangkat.
Perasaan i know this is it. this is the time.
The look on the doctor face.
the sweat on his palm
the eyes of my mom the minutes the doctor told her that my dad was gone already.
The gestures she made against the wall.

I failed to hold my tears, setiap kali inget hari itu.
I still able to recall how warm my dad was, though they said he's gone already.
I still able to remember every inch of his skin the time we bathe him for the last time.
how i feel ashamed that it has to be witnessed by so many people.
how I want to scream to them, It's someone took a bath, god damn it! go away!
i want to protect my father's pride. 
but it's not my dad anymore, it's the body.
and they're paying respect for him for the last time.

masih inget di kamar jenazah , ngurusin ini itu, ditemenin sepupu, sampai mindahin jenasah papa ke peti. berat. my dad was a heavy man. haha.
masih inget tangan papa terkulai lemas waktu dipindahkan dari bed ke peti.
how i have to put it back on his chest
How i signed his dead certificate, the receipt to brought him home.

apa Papa juga melakukan hal yang sama di hari anak-anaknya lahir, datang ke dunia?
dan sekarang gue yang harus tanda tangan di surat keterangan kematiannya, mengiyakan kalau kami sekeluarga tau papa udah pergi?


i failed to say the pray.
gue ga tau apa yang musti didoakan. he's gone for good.
udah ga sakit lagi kan, Pa?

I miss you so, so, so

*thanks for everything abt me. you gave me a lot of you inside me.
*probably i would never be able to stop to grieve, but I wont stop to live the life.