Halaman

Tampilkan postingan dengan label kerja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kerja. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Maret 2011

Balada jalan Sudirman

Sekitar 4 tahun yang lalu gue sempet kerja di daerah Sudirman. Gue udah diperingatkan dari wawancara awal kalau jam kerjanya gila-gilaan, bahkan hari Sabtu pun bisa masuk. Padahal kantor gue itu sebenernya tutup hari Sabtu. Cuma divisi gue emang rada-rada. 5000 account diserahin ke sekitar 5 sampai 7 orang. Itu juga yang bikin ngga jelas gue pulang jam berapa. Tergantung kecepatan gue berkerja plus tim gue. Mau santai, hayo pulang jam 10 malem. Kalau siap kayak robot, hayo pulang jam 8 hahahaha. Tapi perbedaan dua jam itu artinya banyak banget lho untuk waktu istirahhat kita, mengingat ini dilakukan 5/6 hari seminggu dan kami mulai dari jam 8.30 pagi.

Tapi satu alasan terbesar kenapa gue nerima pekerjaan ini adalah karena lokasinya. Di daerah Sudirman yang kurang lebih lokasi ternetral antara lokasi gue dan Lushka yang jauhnya amit-amit. Gue rela kerja di tempat kayak lubang neraka gitu demi bisa sering ketemu Lushka hampir setiap hari. Dan memang pada prakteknya kami jadi sering makan malam, nonton sampai karaoke berdua sepulang dari kantor. Walaupun waktu ketemu kami rata-rata hanya sekitar 2 jam.

Ngga cuma gue yang berkorban tenaga untuk sering ketemu waktu itu. 4 tahun yang lalu Lushka belum punya motor, sehingga kalau dia mau ke Sudirman, dia harus menggunakan jasa trans Jakarta. Jaraknya juga masyaAllah…minimal satu jam. Sedangkan dia pulang kira-kira bersamaan dengan jam kantor pulang. Yap, kebayang kan halte busway mulai jam 4 sore seperti apa? Ngantri di dalam halte lalu seringnya berdiri dalam perjalanan ke Sudirman, semuanya dalam keadaan terjepit dan bau sedap orang pulang kantor (Lushka sih tetep harum, soalnya kan mau ketemu pacar hehe).

Hal ini juga sempet bikin kita agak adu emosi. Biasa lah, sama-sama capek habis kerja seharian. Gue dengan ketidakpastian bisa keluar kantor jam berapa adalah salah satu masalah terbesar. Sekali waktu kami ribut karena ternyata gue baru bisa keluar dari kantor hampir mendekati jam 9 dan Lushka udah nungguin dari sejam sebelumnya. Ngga ada yang salah padahal, tapi waktu akhirnya kita ketemu yang ada cuma berantem dan pulang tanpa ngucapin perpisahan sama sekali. Sakiiiittt banget rasanya hehe.

Peristiwa itu gue inget banget karena itu ngerusak prinsip gue ke Lushka “Kalau ketemu aja susah, dalam keadaan se-ngga enak apa pun, jangan dirusak dan dibuang-buang dengan emosi percuma”. Untungnya punya pacar yang –sebagian besar waktu- bisa diajak kompromi secara logis hihi..aku juga kok hun, kalo udah emosyiong sama aja kepala batunya.

Mengingat masa kerja gue waktu itu jadi bikin gue mikir betapa banyak hal yang udah gue dan Lushka korbanin dan usahain untuk kita berdua. So I wanna thank you for US. Karena gue ngerasa di hubungan gue dan Lushka, gue belajar jadi dewasa juga. Pacaran kita udah kayak rumah asrama, soalnya sambil tersiksa, kita juga bisa belajar banyak =)

Makasih ya Lushka. Sayang kamu. 

oh, BTW, H-1 ke anniversarry 4 Tahun kami *\(^_^)/* 

Selasa, 03 Maret 2009

Hanya 9 bulan

Sepertinya kalimat. "telah mengandung kalian selama 9 bulan" is getting too much credits. Masa hanya karena telah mengandung selama 9 bulan, si Ibu harus kita hormati tanpa pengecualian? Iya, kalo ibu-nya bener, menyapih anaknya selama dua tahun dan ngurus anaknya denga penuh kasih sayang dari beresin popok yang penuh kotoran sampai masalah kehidupan anaknya walaupun udah dewasa. Tapi kalau abis mengandung 9 bulan terus anaknya dibuang? atau di-abuse?

Banyak yang kurang mengerti bahwa istilah abuse itu ngga hanya bisa dilakukan secara fisik maupun seksual. Banyak orang yang masih belum ngerti bahwa abuse secara mental juga menyakitkan dan berdampak sangat buruk terhadap anak. Abuse secara mental ngga bisa juga diartikan secara explisit, misalnya seperti membentak-bentak anak setiap hari. Ibu yang bekerja seharian dan ngga punya waktu untuk anaknya, ibu yang ngga ngasih perhatian atas achievement anaknya, ibu yang selip ngomong ke anaknya "dasar bego kamu!", ibu yang selingkuh, ibu yang berbohong, ibu yang drug addict, ibu yang alkoholik..itu semua cuma contoh kecil dari abuse secara mental ke anak.

Dan apakah kita harus menghormati ibu-ibu seperti ini HANYA karena dia telah mengandung selama 9 bulan? Gajah aja hamil jauh lebih lama.

Moms, be careful with what you do or say, karena dampak pada anak juga ngga akan terlihat langsung. Luka pada anak ngga harus berbentuk koreng dan berdarah. So, dont think too highly about yourself kalau kalian masih melakukan abuse terhadap anak kalian.

Kamis, 21 Agustus 2008

Frustasi

Permasalahannya adalah gue frustasi dengan hubungan LDR gue dan Lushka. Kalo menurut lo itu masalah kesabaran, that’s bullshit. Gue cuma di Jakarta bagian sini dan Lushka di Jakarta bagian sana. Now how would that make you feel kalo lo harus menjalani hubungan LDR?

Lushka punya jam kerja layaknya orang-orang kerja kebanyakan. 8 to 5. Layaknya orang-orang kebanyakan juga, seringnya dia harus lembur melewati jam 5 kalau masih ada pekerjaan yang harus diselesein hari itu juga.

Gue sendiri saat ini masih nunggu kuliah gue mulai. Jadi basically gue di rumah 24 hour kecuali penyakit nongkrong gue lagi meradang. Baik self-inflicted atau karena dicucuk-cucuk sama temen-temen gue.

The only time we had left udah pasti malem. Let’s just say jam 6 ke atas. Tapi nyokap gue itu model orang tua yang cukup killer. A single parent yang sangat conservative. Gue punya jam malam yang cukup jelas dan perlu laporan A sampe Z kalau gue harus pergi. Pergi tiap hari juga perlu persetujuan nyokap. Yah, bayangin aja kaya gue anak kelas 1 SMP jaman sekarang. Antara bebas-ngga bebas.

Dulu gue sempet kerja. Jujur gue bilang ke Lushka, gue memilih kerja di Sudirman semuanya supaya gue bisa ketemu sama dia lebih gampang. Padahal kerjaannya sendiri ngga 8 to 5. It was 8 to 8 atau kadang lebih. But it gives time to Lushka untuk sampe ke Sudirman dari kantornya. Hasilnya? It was a great and happy moment walaupun kita berdua sama-sama capek harus sampe rumah sekitar midnight.

You see now kenapa ini hubungan LDR? Gue pernah ngitung, naik mobil aja untuk sampe ke daerah rumah Lushka gue butuh waktu hampir 2 jam. While I don’t have my own personal car. Begitu juga dengan Lushka.

The phone call? Lo pikir kita ngga cukup telponan setiap hari? Udah kaya panu. Gatel dikit, garuk. Pagi, siang, sore, malem. Tapi lagi-lagi, yang kerja saat ini Lushka. So she’s the one who feel she got the responsibility to call. Tapi emang gampang ngisi pulsa terus tiap 2 hari sekali? You think that’s not a burden for me too? Kalau giliran dia punya free talk pun, Lushka udah ngga punya tenaga lagi untuk stay awake. She got another day waiting for her to squeeze everything she got. Dan gue yang insomnia tinggal bingung ngerasa ditinggal sendirian.

Akhir-akhir ini frustasi gue nambah. Perasaan kangen gue lagi ada di tingkat paling tinggi. Perasaan gue lagi apa yang kita sebut “berbuncah-buncah”, “meluap-luap”.Coz there is nothing we can do, I decided to do what Mithya would do di keadaan tanpa solusi kayak gini. Lari.

Jelas kok biang masalahnya gue. Mithya yang pengangguran, mithya yang nga bisa keluar malem, Mithya yang ngga bisa nelpon.

Tadi malem puncak rasa kangen dan muak sama diri sendiri. I’m a fucking useless girlfriend.

Kamis, 14 Agustus 2008

selasa,12-08-08



Seneng.shock.takut.seneng.takuuuuut.

*gue bengong, dalam hati nungguin pintu dibuka terus temen-temen gue pada bilang..."KENA LOOOOOO!!"
God.Mama.Papa.Ayang.Hellllllllp meeee.

aku bisa kan?ya kan?ya?..bisa ga siyh?
uuuh.

Sabtu, 02 Agustus 2008

Surviving nelpon pacar di kantor sambil kerja

Semenjak Lushka beli HP baru, dia punya earphone yang bisa bikin lebih leluasa telponan sama gue. Dulu kalo mau telponan sambil kerja ribeeeeeeet banget karena the big boss kantor Lushka bawel banget sama masalah kerja sambil nelpon. Dulu cuma gue yang bisa kerja sambil telponan karena gue bisa pake bluetooth. Nah, berhubung si bos tiba-tiba pindah duduk persis di belakang meja Lushka, dia harus banyak gaya supaya bisa tetep survive telponan sama gue.

Dengan earphone di kuping, Lushka bisa ngakalin si bos kalo dia lagi ngedengerin MP3 di HP. Semua kertas kerjaan di mejanya di tumpuk bolak-balik. Dari kiri ke kanan, kanan ke kiri, dan sesekali ngambil jeda diam supaya terkesan Lushka lagi baca dokumen, hihihi...padahal mulutnya terus komat-kamit ngobrol sama gue.

Untuk variasi, layar komputer dia pasang di email kantor. Terakhir sih dia bilang lagi display email-email tahun 2007, hehehe...

Don’t get caught ya, hun..