Laman

Selasa, 27 Januari 2009

Pacaran murah meriah menyenangkan part 1

Sabtu kemarin akhirnya niat kita berdua untuk jalan-jalan ke museum kesampaian. Walaupun paginya pake ribut dulu gara-gara gue ‘paginya’ pulang jam 4 dan ada perselisihan berapa banyak waktu yang gue butuhin untuk istirahat. Maksud Lushka sih baik, tapi namanya juga orang sama-sama capek pasti emosian ngadepin hal remeh kaya gitu.

Museum pertama yang kita jelajahi adalah museum nasional a.k.a museum gajah. Buat yang ngga punya transportasi pribadi, naik trans Jakarta dan berhenti di halte monas udah bisa langsung nyebrang ke museum itu. HKM (Harga Karcis Masuk) untuk dewasa Rp. 750 saja. Murah kaaann..?? Tapi HKM yang murah ini jadi awal gue dan Lushka ngomentarin banyak hal tentang preservasi benda-benda bersejarah yang ada di dalam museum.

Ada yang bilang kalau satu museum ngga akan bisa selesai dijelajahin dalam satu hari buka. Tapi nyatanya bisa kok, bahkan kita mulai dari jam 12 siang (museum tutup jam 14.30). Itu kalau kita ngga sambil baca semua penjelasan benda satu-satu ya..hehehe. Museum nasional ini isinya benda-benda prasejarah yang ada di Indonesia plus beberapa benda-benda seni nasional kita. Dijamin buat yang masih inget, gambar-gambar yang ada di buku sejarah kita waktu SD dan SMP ada semua disini.


Dari awal masuk gue dan Lushka agak-agak heran dengan cara mereka ‘menyimpan’ tugu dan arca. Semuanya diletakkan gitu aja di sekeliling museum. Bahkan ada yang dijemur matahari. Gue ngga gitu ngerti tentang preservasi benda bersejarah, tapi agak ngeri juga kalo yang namanya batu ratusan tahun diterpa angin, ujan dll gitu. Bukannya lama-lama nanti terkikis ya? I think they could do better. Penggunaan papan penjelasannya juga usianya entah berapa lama. Mungkin kejar-kejaran sama arcanya. Banyak yang udah rusak, ngga kebaca, bahkan ngga ada. Lebih kelewatan lagi ada yang cuma berupa tempalan kertas laminating usang. I think they could do better. Terkadang penjelasannya juga agak oon. Kayak papan penjelasan ini, bikin lo pingin komentar “Yaiyalaaah...gue juga tau...”.



Di semua arca dan prasasti mereka juga mengukir nomor inventori terus dicat putih. Duh, is that how you handle sebuah benda bersejarah? Mending sih kalau diletakkan di kaki atau di tempat yang ngga obviously ngerusak, kebanyakan semau yang ngukir aja.

Kita nemuin beberapa hal yang pantes dikomentarin. Waktu di ruang Thailand, Lushka berhasil memperhatikan bedanya arca budha kita dan mereka. Gue cuma nyadar kalo budha mereka itu ramping-ramping dengan tampang cenderung mirip Guruh Soekarno Putra, hehe...Lushka lebih detil lagi. Dia sadar kalo arca budha orang Thailand bibirnya bohai-bohai. Tebal, ranum, dan monyong, hehehe....hmm...gambaran masyarakat unisex-nya sekarang kah? Hmm....

Di ruang seni nasional kita, ada dua benda yang sangat menarik buat kita berdua. Pertama, helm perang yang dibuat sama orang Sumatera (iya bukan sih? Mohon dibetulkan kalau salah). Kueren buanged! Mirip dengan helm perang samurai. Yang menakjubkan buat kita, besinya tipis tapi detil, desain dan niat mereka untuk ngebuat helm ini. Buatan tangan gitu! (pikiran lompat ke borobudur...)

Nah, kalo yang ini bukan foto dari museum seks Belanda, hehehe....ini beneran sebuah patung buatan orang Nias. Big, huh? Hahaha.....ada dua patung sebenernya. Patung yang badannya lebih besar dan berwajah culun “itu”nya lebih kecil. Nah, kalo yang ini badannya kecil dan tampangnya lebih jahat. Hayooo...apakah gambaran masyarakat lagi? Huahahaha.....


Informasi yang nambah adalah tentang kendaraan masing-masing dewa tertinggi hindu. Mereka punya patung ketiga dewa itu. Dari kanan, itu Dewa Shiva dengan kendaraan Garudanya. Tengah, Dewa Wishnu dengan kendaraan singanya. Dan yang paling kiri, dewa
tertinggi, Brahma dengan kendaraan bebeknya....hihihi....Seriously, HE could do better. Tapi lagi-lagi, ini harusnya gambaran masyarakat seharusnya. Semakin tinggi, semakin sederhana...hihihi...Gue paling suka shiva dengan jabatan dia sebagai perusak. Sayang penggambaran dia sebagai orang tua gendut mirip judge Bao agak bikin ilfil.




Gue punya beberapa display favorit sendiri. Of course display kepala tengkorak manusia purba dan patung-patung kecil dewa-dewa. Sumpah itu kalau dijadiin pion catur keren abis! Menghina ngga ya kalau dijadiin pion catur?

Oiya, gue sama Lushka juga rada sebel dengan diskriminasi orang lokal dan bule. Buat kita, semua peraturan tentang tas dll tetep berlaku, tapi para bule-bule itu melenggang kangkung dengan tas segede-gede arca dan foto-foto kiri kanan. Hhhhh....gimana maju kalo ampe hari gini kelakuan masih sama kaya dijajah?? Selama di dalam museum Lushka yang dengan seksama ngebacain penjelasan satu-satu dan gue yang lompat-lompat ngga sabaran dari satu display ke display yang lain. Kayaknya jiwa kita ketuker di museum itu, hehe...

Anyway, gue dan Lushka sempet berdiskusi seru di ruang gentong (ruangan paling membosankan buat gue). Lushka bilang harusnya HKM jangan cuma Rp.750 supaya kondisi pemeliharaan museum bisa diperbaiki dan ditingkatkan, tapi menurut gue kalau mau lebih mahal lagi, gue rasa makin ngga ada yang kesana. Rp.750 aja dikit yang dateng. Well, mungkin butuh ada pengorbanan sementara dan ngumpulin dana terus setelah museum diperbaiki HKM-nya bisa diturunkan lagi (Yeah, like that’s gonna happen!).

And people, believe it or not...there’s something wrong dengan foto-foto museum gajah...I’m havin a hard time to upload it to blogger..it keep on showing with the wrong angle..untuk upload satu gambar gue harus upload minimal 5 kali untuk dapet yang bener. Jadi kalau gambarnya miring-miring, it wasnt my fault. It's blogger's fault and whatever that did it. Gue cape..huehehe...

1 komentar:

Lushka mengatakan...

Ayo pacaran murah meriah lagii..