Laman

Rabu, 14 Januari 2009

My “mom”, my “psychologist”, my object

Semenjak SMP gue ngerasa bahwa sisi maskulin dan sisi buruk gue ada di dalem diri gue dan “hidup”. Karena ngerasa bahwa ngga wajar punya sisi maskulin yang sama kuatnya dengan sisi feminin, maka gue menciptakan kepribadian lain yang bahkan gue kasih nama sendiri. Ngasih nama kepribadian maskulin ini juga memudahkan gue untuk ngobrol dengan sisi lain ini dan seiring usia, kepribadian maskulin (yang gue anggap buruk) ini semakin punya “diri” yang kongkrit. Sisi “yang lain” ini bukan apa yang lo sebut dengan “mind”. It is a “self”. Tapi bukan kepribadian ganda juga. Gue belum seaneh itu, hehe..

Baru sampe kuliah di psikologi semester 6 gue baru sadar apa yang terjadi sama diri sendiri. Gue punya masalah dengan apa yang istilah klinisnya “splitting”. Secara ngga sadar gue ngga mampu menerima bahwa dalam satu diri bisa terdapat dua sifat yang berlawanan. Hal ini juga berlaku ke orang lain. Gue bisa dekat dengan seseorang dan menganggap orang itu baik dan oke banget, tapi ada saat tertentu dimana kalau orang itu melakukan hal kecil yang menurut gue tercela, gue bisa tiba-tiba benci setengah mati dengan orang itu dan lupa (misalnya) kalau dia temen baik gue. Semua memori gue tentang kebaikan orang itu seakan-akan ngga masuk perhitungan dan dia pantes buat gue musuhin. Tiba-tiba ngerasa jijik ke seorang temen deket udah jadi kewajiban anually dan ngga aneh buat gue. Tanpa perlu panjang lebar ngasih detil kesembilan gejala, gue ngerasa bahwa gue sebenernya salah satu orang yang disebut mengalami masalah borderline.

Gue juga jadi lebih mudah menyalahkan segala sesuatu ke sisi gue yang maskulin dan buruk ini. Semua hal buruk yang gue lakukan dan yang gue pikirkan sampai tentang kelesbian-an gue, gue anggap sebagai kesalahan sisi maskulin ini. Waktu kenal Lushka, gue masih “berteman” baik dengan sisi maskulin dan sisi buruk gue yang sebenernya semakin hari bikin gue stres karena ngga ada hari tanpa battle siapa yang harus gue menangin dalam suatu situasi. Tapi seiring waktu, gue ngerasa kalau sisi maskulin yang biasanya “teriak-teriak” di kepala ini semakin blurry dan mulai conform dengan sisi feminin gue. Gue mulai menerima bahwa sisi maskulin ini memang kepribadian gue yang ngga perlu gue pisahin dan ngga perlu gue jadiin kambing hitam. Gue juga mulai merasa nyaman dengan keanehan cara berpikir gue yang “jahat” dan mimpi-mimpi gue yang temanya ngga pernah jauh dari maskulinitas, kepahlawanan, sampai hal yang serem-serem. I’m starting to accept that this is me and I’m OK with it.

Gue tau kalau perubahan di gue itu sebagian besar karena adanya Lushka. Dia selalu nganggep bahwa keanehan cara berpikir gue atau mimpi-mimpi horor gue sebagai suatu hal yang unik dan menyenangkan (walaupun dia kadang-kadang masih bilang, “kamu mengerikan” hehe..). Lushka selalu jadi jaring pengaman gue supaya gue ngga jatuh berdebam ke tanah dan nyakitin diri gue sendiri. Lushka juga selalu jadi orang yang ngingetin gue untuk narik napas, sabar, dan istighfar kalau-kalau perasaan marah gue udah ngga sehat dan mampu nyakitin orang lain juga. Kata-kata paling top dari Lushka kalau gue udah ngomong yang ngaco-ngaco cuma, “HEH!” Hahaha....

Tapi tetep ada moment-nya juga gue lepas kontrol dan cuma bisa nangis nyesel karena udah nyakitin orang lain. Lushka yang selalu ada disana dan ngedorong gue kalau gue bisa jadi orang yang lebih baik. Swear to God she’s my guardian angel. Bukan suatu hal yang aneh atau berlebihan kalau gue bilang gue sadar sisi maskulin gue mulai menyatu dengan sisi feminin gue. Setiap gue bilang ke Lushka kalau I’m thankfull for what she had done, dia pasti nanya kenapa dan bagaimana. Tapi gue ngga pernah tau jawabannya sampai kuliah S2 ini dan belajar tentang teori relasi objek.

Teori relasi objek adalah salah satu teori turunan psikoanalisa yang super nyeleneh, abstrak, sok tau, kepedean, dan ajaib. Tapi teori psikoanalisa mana sih yang ngga kayak gitu? Teori relasi objek adalah teori yang berusaha menjelaskan bagaimana seorang manusia yang ngga tau apa-apa ketika bayi bisa sampai melakukan kontak dan komunikasi dengan objek lain (benda mati, manusia, orang tua dll) di dunia, hence the name Object Relation. Gue akhirnya mampu menjawab pertanyaan Lushka dengan teori relasi objek yang dikembangkan oleh Melanie Klein.

Melanie Klein ternyata ngebahas tentang proses splitting di masa bayi. Bahwa sebenarnya bayi yang ngebawa death instinct maupun life instinct (teori dasar Freud) awalnya juga ngga mampu menganggap bahwa dalam diri manusia itu bisa ada yang namanya keburukan dan kebaikan jadi satu.Terus terjadi apa yang disebut dengan proses projection identification, yang males gue jelasin, hehehe. Jadi, intinya kalau pada masa ini terjadi gangguan (hubungan bayi dan ibu ngga terbentuk sempurna), maka proses splitting akan tetap ada hingga dewasa. Teori Melanie Klein ini memang ternyata jadi dasar penjelasan psikoanalisa terhadap gangguan borderline.

Nah, tugas psikolog untuk memperbaiki keadaan ini adalah untuk menjadi objek sementara si individu ketika dewasa, jadi “ibu” buat si individu yang bermasalah, mengembalikan keadaan ke masa-masa ketika splitting seharusnya diatasi dengan sempurna. And Lushka ternyata jadi psikolog gue, “ibu” gue (eww), objek gue yang ngebantu gue pelan-pelan, walaupun ngga sempurna, ngelewatin proses splitting.

Ngga, gue ngga bakalan sampe bunuh diri kok kalau tetep di proses splitting (I hope) hahaha....paling cuma stres seumur hidup “berantem” terus sama sisi maskulin gue yang suka seenak jidat dan kelakuannya kayak iblis. Paling parah paling gue bakalan jadi papan parut berjalan. Perjalanan gue ngebenerin mental masih jauh, but I know I wouldn’t get there kalo ngga ada Lushka.

And Lushka, walaupun terdengar mengerikan, I need to say: bukan ngga mungkin kalau aku bakal balik “sakit” lagi kalau ngga ada kamu..ehehehe...

3 komentar:

Lushka mengatakan...

Kamu mengerikan! :-*

But i don't want anybody else but you..Tequiro.

Anonymous mengatakan...

lus..kasih tau mitha ya..i need ur help..
walopun gue blum kenal kalian...tapi gue sepertinya bisa jd pasien tetap nya mba mitha..
plis email in gue ya kalo bisa..di haru_no_tya@hotmail.com
thx banget

Mithya mengatakan...

Kenapa lewat Lushka? =) what's up? email aja ke email gue emailmithya@yahoo.com

salam kenal tya...