Laman

Rabu, 04 November 2009

The Pink Posse QAF S402

Kejadian ini terjadi beberapa bulan yang lalu waktu gue lagi kangen nonton Queer as Folks. Kalau mood gue lagi drop, nonton cowok-cowok ganteng ini ML bisa bikin mood gue sedikit naik, hehe. Ceritanya gue akan ambil satu DVD dan ganti-ganti episode dan season yang gue mau lihat. Satu episode yang cukup berkesan malem itu adalah episode ke-2 dari season 4. Episode ini mengangkat isu tentang diskriminasi terhadap kaum homoseksual, khususnya yang sampai dipukuli atau apa yang disebut dengan Gay Bashing. Ceritanya komunitas gay di Pittsburgh sedang menghadapi masalah Gay bashing yang semakin lama semakin brutal dan mereka akhirnya berkumpul untuk mencari solusi supaya hal itu ngga terulang lagi. Menurut episode ini, para praktisi hukum dan undang-undang di Amerika kurang membantu mereka. Wuih, kebayang ngga, di negara yang sudah punya hukum dan aware banget akan adanya komunitas gay aja masih sabodo teuing...apalagi di negara yang jelas-jelas benci dengan kaum gay. Polisi yang seharusnya membantu, tapi kalo pada dasarnya memang udah biggot ya cuma setengah hati dalam menyelesaikan suatu kasus gay bashing.

Di episode ini dikenalkan satu karakter bernama Cody yang masih muda dan emosional. Di dalam pertemuan itu dia akhirnya angkat bicara karena ngga tahan dengan para "tetua" yang ngasih ide (menurut dia) terlalu lembek. Misalnya seperti memasang banyak lampu di jalan supaya mengurangi lokasi-lokasi gelap yang bisa dijadikan tempat pemukulan atau para homo masing-masing membawa priwitan/sempritan (whistle maksudnya, gue ngga tau bahasa baku Indonesianya apa ya?). Dia memberikan satu pidato singkat dengan berapi-api bahwa udah waktunya bagi para gay untuk melawan balik. Ngga pake neko-neko, ngga pake bahasa manis lagi, ngga pake demo atau ngomel-ngomel dibelakang apalagi lewat jalur hukum yang ngga bisa dipercaya. Dia akhirnya membentuk suatu tim/gang yang diberi nama Pink Posse yang tujuannya adalah nunjukkin kalau kaum gay bukan cuma orang banci atau lemah yang akan diam aja kalau dipukulin. Sayangnya mereka ngga hanya jadi pembela. Pink Posse ini dengan sengaja mendatangi para homophobic dan melakukan kekerasan balik.

Dulu waktu pertama kali nonton episode ini gue kesel banget sama si karakter Cody yang nafsu banget pingin balas dendam. Bahkan mungkin waktu itu jadi episode yang ngga nyaman buat gue tonton karena rasanya mau marah denger pidato Cody dan kesel banget ngeliat kelakukannya yang brutal. So over-reacting. Dan mungkin saat itu sikap homophobic gue langsung meradang. At that time gue berpikir bahwa kaum homo yang direpresentasikan oleh Cody adalah orang "luar" yang di pandangan gue sok tahu dan berlebih.

Lain cerita waktu gue nonton lagi beberapa bulan yang lalu itu. Ternyata waktu denger pidato Cody lagi, gue ikutan berapi-api lho. Nafsu juga. Bahkan rasanya kayak pingin ikutan teriak, "You go, cong! Bash 'em back!" hehehe...terus abis itu gue takut sendiri hahaha....kenapa? Gue dengan cepat sadar kalau perubahan cara berpikir gue adalah karena gue merasa semakin belong di dunia homoseksual. Gue adalah salah satu dari anggota kaum yang didiskriminasikan itu. Orang-orang yang dipukuli itu adalah orang-orang yang punya kesamaan dengan gue dan bukan ngga mungkin terjadi pada gue juga. *sigh*

Gue bukan termasuk homoseksual (dalam arti definisi literal) tapi memang masuk ke komunitas Queer yang dalam pandangan masyarakat umum ya sama. Gue mulai ngerasa iritasi waktu itu, gue mulai sadar kalau gue terlalu sering bergaul dengan para homo. is it a good thing? you judge it. Buat gue sih ngga sehat. Menjadi Mithya yang queer memang menyenangkan dan bebas, padahal gue semakin terikat ke golongan tertentu yang sebenernya cara pandangnya sempit. Maksudnya bukan semua orang homo itu punya keinginan melakukan kekerasan, maksud gue cara berpikirnya ya cara berpikir homo. Mulai melihat diri ya sebagai homo aja. tok.

Hal ini ngga hanya berlaku ke kaum homoseksual kok. Ini bisa berlaku pada golongan dan komunitas apa pun. Semakin sering kita mengikat diri ke suatu kelompok, kemungkinannya akan semakin besar kita melihat segala sesuatu dari sudut pandang itu.

Melihat reaksi gue kemarin yang berubah drastis itu sih jadi tolak ukur gue sendiri tentang seberapa dalam gue mulai berkenalan dengan lingkungan homo. Mengingatkan diri gue juga bahwa gue sebagai manusia ini ngga boleh hanya berpikir sebagai seorang homo/gay/queer. Harus buat jarak aman. Dunia gue luas. Peran sosial gue banyak banget. Pacar, anak, mahasiswi, kakak, adik, sepupu, keponakan, psikolog, warga negara dll.

Ini gue salin pidato singkatnya Cody. Sampai sekarang menurut gue pidatonya keren dan cukup setuju. Jangan sampai para gay cuma bisa diinjek-injek doang. Dikira gay itu isinya banci doang yang ngga berani ngapa-ngapain. Caranya aja kali ya si Cody di film ini salah...so, what do you think?

Woman: We should wear little whistles around our necks that way if someone attacks us, all we have to do is blow!

[There’s a whistle from the back of the room. It’s Cody. He’s angry.]

Cody: Like that?

Mel: Would you like to say something?

Cody: Who do you think will come running? Them? They cant even defend themselves. The cops? If a bunch of homo haters wanna beat the shit out of you, you’re not gonna stop them by blowing a little whistle.

Ben: Then what do you suggest?

Cody: We protect ourselves. Patrol the streets.

Lindsay: You mean a vigilante group?

Cody: Yeah! The Pink Posse!

Mel: Isn’t that taking the law into your own hands?

Cody: Which law is that? The one that says you can’t get married? That if they find out you’re gay, they can fire your ass? That you can’t adopt kids? Hell, they can even arrest you for fucking!

Ben: That was changed.

Cody: Riiight. You can now copulate in Texas. Whoa, yippee-yi-yo-ki-yay!

[laughter]

Cody: You think anyone would dare call a black man a nigger? And try calling an Israeli a kike! Man, they’d blow your ass right off the face of the earth. But they have no prob calling us fags. Why? Because they can. Because they know we’re all sissies, that we’re too chickenshit to do anything. So go on. Sign your petitions and write your letters. And blow your little whistles. But nothing’s going to change until you fight back. Until you learn to say: Don’t. Fuck. With. Me!

2 komentar:

cesca mengatakan...

gw ga pernah bc qaf sih, cm dr cerita lo ttg episode itu,gw sebagai yg ngaku queer jg ikut belain cody,hehe,kynya sih lbh ga rela aja kaum lemah diinjek2,bkn krna merasa satu geng gong.
FYI, gw ga dukung gay marriage, wehehe..maap pemirsa.

Tapi ya bok ya, sejak bgaul dgn homo, jd seneng liat cewe leluncang, padahal dulu ga jelalatan, huahaha *yang bener looh*

Mithya mengatakan...

Hihi..iya kan..emang terlalu lama bergaul dengan "sesama" ngaruh banget sama kehidupan dan cara pandang kita pada akhirnya. Ya ampuunn...gue mo reply ini comment dari jaman kapan yaa?