Halaman

Jumat, 21 Maret 2014

Dear diary, I think I want to marry a donut one day







Hampir sekitar 15 tahun yang lalu, gue pertama kalinya mulai ngerasa kalau gue punya ketertarikan yang beda ke temen-temen sekolah perempuan gue. Perawakan gue yang tomboy dan kadang ngga bisa dibedain dengan anak cowok asli ngga membantu, karena temen-temen sekolah perempuan gue ngga merasa aneh kalau ngungkapin ketertarikan mereka dengan gue. Pada masanya, seorang Mithya ngga dilihat sebagai anak cewek. Mungkin di masa-masa yang serba labil dan tabu, temen-temen gue “memudahkan” keadaan yang membingungkan itu dengan merubah gender gue ke cowok dan semuanya kembali ke “normal”. Gue ngga tau dengan keadaan sekarang, tapi gue yakin sekitar sepuluh, dua puluh tahun yang lalu, gue bukan satu-satunya yang ngalamin ini. Walaupun di satu sisi keadaan itu “menenangkan” kebingungan gue, tapi di sisi lain gue tetap harus dipaksa menghadapi kenyataan kalau rasa ketertarikan gue dengan temen-temen sesama jenis gue itu…”aneh”?

Masa sekolah menengah gue adalah waktunya gue “menikmati” kebingungan gue sebagai seorang queer yang berjuang untuk nyari jawaban. Belum ada internet (LOL), setidaknya tidak dengan akses seperti sekarang atau konten yang mudah dengan buka google.com untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan gue. Bahkan harus ngaku kalau otak gue mungkin belum nyampe untuk paham seutuhnya apa yang bikin gue bingung.

Sebenernya pertanyaan-pertanyaan yang ada mendasar banget. “Perasaan ini apa?”, “Gue harus tanya atau cerita ke siapa?” Lucunya 15 tahun kemudian, gue juga belum dapetin akses yang mudah yang membahas tentang Queer/LGBT itu sendiri untuk pre-teen atau remaja yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Seringnya adalah tulisan-tulisan para queer yang sudah menerima diri mereka atau sama-sama bingung hahaha…atau yang paling mengganggu menurut gue, adalah para queer yang sudah mapan, berdamai dengan diri, lalu tanpa sadar “memaksa” mereka yang bingung untuk bangga sebagai queer kalau perlu mendeklarasikan diri. Ibarat duren yang belum mateng tapi udah dipaksa mau dibelah. Keras dalemnya bok..hehe hush, siapa yang otaknya langsung ngeres?!

Setiap orang punya waktunya sendiri-sendiri untuk belajar tentang dirinya, terlebih kalau masa kebingungan ini di masa remaja. Gila kalau lo pikir ada sedikit perasaan ketertarikan dengan sesama jenis di usia tersebut artinya dia udah pasti homoseksual. Ada alasan yang jelas kenapa masa remaja disebut dengan masa labil. Percaya atau ngga, berlawanan dengan pendapat para homo aliran keras, manusia BOLEH bingung dan bahkan nyoba-nyoba di masa itu. Bahkan melakukan aktivitas seksual dengan sesama jenis di kisaran usia tersebut belum tentu artinya seseorang queer.

Sulitnya jadi queer di Indonesia, tema queer itu tabu- tabu ngga. Apalagi yang tinggal di kota-kota besar karena udah banyak komunitas yang ngga bikin jadi queer itu forever alone LOL tapi pertanyaannya masih sama. Komunitas-komunitas ini seringnya hanya nyeburin para manusia bingung atau beneran ngebuka tangan untuk ngobrol? Untuk sharing? Ngeluarin unek-unek dan segala kebingungan? Bahkan ada queer yang dengan sadis mentah-mentah menolak ngebantu para ababil, diulang-ulang disebut di forum, padahal banyak yang menghormati dia sebagai salah satu queer terkenal di Indonesia. Not me, bro. Gue ngga mau dekat-dekat orang yang empatinya perlu diperiksa psikiater apalagi menghormati si queer ini.

Punya perasaan yang kata banyak orang ngga boleh itu menakutkan. Apalagi dengan iming-iming neraka bagi sebagian besar orang Indonesia yang dibesarkan dengan nilai-nilai agama. Jadi coba deh dibayangin, sedang ketakutan dan bingung tapi malah dijorokin aja tanpa diajakin katarsis tentang apa perasaan dan mau mereka. Dijorokin bisa dua cara pula; Perasaan homo-nya ngga dianggap sama sekali atau langsung disodorin orang-orang yang berpotensi jadi pacar homo. Weleh-weleh…sama-sama ngga bener itu.

Young queers, ngga papa untuk takut ketika lo bingung dengan perasaan lo. Itu wajar banget dan trust me, perasaan itu sayangnya ngga akan hilang gitu aja seiring lo masuk usia dewasa muda. Lo bahkan mungkin makin disodorin potensi-potensi pacar homo yang lebih banyak hahaha…

Saran gue, cari temen yang bisa lo ajak ngobrol. Tanya sebanyak-banyaknya. Kalau lo percaya orang nikah paling lambat 30 (which is a stupid opinion btw), bayangin berapa lama waktu yang lo punya untuk ngerti siapa diri lo sebenernya. Bayangin berapa lama waktu yang lo punya untuk nanya dan cari tau sebanyak-banyaknya (di tempat-tempat yang tepat pastinya). Terkadang rasa takut bisa bikin kita lumpuh dan rasanya kayak ngga ada jalan untuk keluar dari rasa takut itu, padahal bisa diatasi dengan semudah bertanya dan cari tahu. Kalau lo udah punya temen yang sesama queer, ajak untuk sharing. Ngobrol tentang perasaan itu ngga aneh, bahkan PENTING. Jangan dibegoin dengan penyakit orang Indonesia yang malu-malu tentang segala hal tapi ngga punya malu pas berbuat salah.

Lo tau lo ngga sendiri. Dan queers, jangan cemooh mereka yang bingung. Kalian pernah di posisi itu di suatu waktu dan kalian tau rasanya ngga nyaman dan menakutkan. Sebagai manusia kalian akan lebih berguna kalau membantu daripada menjatuhkan orang lain. Cheers.

Selasa, 18 Februari 2014

Vampire Academy is ON, VADDICTS!



Finally..FINALLY setelah bertahun-tahun cuma bisa NGAREP bukunya diadaptasi jadi film dan ratusan vaddicts pledged to push some producers (pada masanya, gue takjub ngeliat fans dedikasi banget ngasih ide-ide siapa aja aktor yang cocok memainkan peran-peran yang ada di buku ini dan di-upload di youtube), film ini akhirnya keluar jugaaaaaaa...and of course me and Lushka are planning to watch it together. YAY!!! (kegirangan sendiri ngeliat website 21 pake mereka sebagai layout).

Filmnya ini disutradai oleh Mark Waters, yang terkenal karena sukses dengan film Mean Girls (kalau belum nonton, coba cari deh. Dijamin bakalan ngakak dengan humornya yang cerdas dan fresh) dan Freaky Friday. Kakaknya, Daniel Waters yang juga terkenal sukses dengan film Heathers di tahun 1988 diangkat sebagai penulis skrip film ini. Kenapa nama-nama ini penting? Karena mereka penulis dan sutradara Hollywood yang terkenal dengan kecenderungan mereka untuk support dan ngebuat film-film dengan girl power yang kuat. Couldn't ask for a better crew for this adaption, me think.

Sebagai Vaddict, I can't help berharap film ini sebagus bukunya. But who am I kidding? Sejak kapan adaptasi film pernah sebagus bukunya hehe..

Jadi kapan nih Lush kita mau nonton bareng? =D

Selasa, 11 Februari 2014

"Dear Straight People" - Denice Frohman


Dear straight people,
Who do you think you are?
Do you have to make it so obvious that I make you uncomfortable?
Why do I make you uncomfortable?
Do you know that makes me uncomfortable?
Now we both uncomfortable.

Dear straight people,
You're the reason we stay in the closet.
You're the reason we even have a closet.
I don't like closets, but you made the living room an unshared place, and now I'm feeling like a guest in my own house.

Dear straight people,
Sexuality and gender, two different things, combined in many different ways.
If you mismatch your socks you understand.

Dear hip hop,
Why are you fascinated with discovering gay rappers?
Gay people rap.
Just like gay people ride bikes, and eat tofu.

Dear straight people,
I don't think god is a sexual orientation, but if she were straight, she'd be a dope ally.
Why else would she invent rainbows?

Dear straight women,
I mean 'straight' women.
Leave me the fuck alone.

Dear straight men,
If I'm flirting with you, it's 'cuz I think it's funny, just laugh.

Dear straight people,
I'm tired of proving that my love is authentic, so I'm calling for reparations on your ass.
When did you realize you were straight?
Who taught you?
Did it happen because your parents are divorced.
Did it happen because your parents are not divorced?
Did it happen because you sniffed too much glue in 5th grade?

Dear straight people,
Why do I have to prove that my love is authentic?
Why do I have to prove that my love is authentic?
Why do I have to prove that my love is authentic?
Why do you have to stare at me when I'm holding my girlfriend's hand like I'm about to rob you?

Dear straight people,
You make me wanna fucking rob you.

Dear straight allies,
Thank you, more please.

Dear straight bullies,
You're right, we don't have to same values.
You kill everything that's different, I preserve it.
Tell me, what happened to José Mengavo, Tikea Gun, Lawrence King?
What happened to the souls alienated in between too many high school walls, who plan the angles of their deaths in math class.
Who imagine their funerals as ticker tape parades.
Who thought the afterlife was more like an after party.
Did you notice that hate is alive and well in too many lunchrooms.
Taught in the silence of too many teachers.
Passed down like second hand clothing from too many parents.

Dear queer young girl,
I see you.
You don't want them to see you, so you change the pronouns in your love poems to 'him' instead of 'her'.
I used to do that.

Dear straight people,
You make young poets make bad edits.

Dear straight people,
Kissing my girlfriend in public, without looking to see who's around, is a luxury I do not fully have yet.
But tonight, I am drunk in my freedom.
Wrap her hand on the busiest street corner in Philadelphia, zip my fingers into hers, and press our lips firmly, until we melt their stares, into a standing elevation.
Imagine that we are in a sea of smiling faces, even when we're not.
And when we're not, we start shuffling, looking deep into each other's eyes.
We say "hey baby, can't nothing stop this tonight, because tonight this world is broken, and we're the only thing that's going to keep it together."

- Denice Frohman


(((AMEEN)))

Sabtu, 01 Februari 2014

Social privilege bukan berarti lo diatas angin dari lahir sampe mati

Seperti yang sebagian besar dari kita tau, Grammy award baru aja diselenggarakan beberapa hari yang lalu. Salah satu pemenang yang jadi bahan pembicaraan adalah Macklemore yang menang 4 nominasi: Best New Artist, Best Rap Performance dan Song untuk lagu "Thrift Shop", dan
Best Rap Album. Terlebih ketika dia melakukan performance penutupan, 34 pasangan gay dan hetero muncul sebagai bagian dari performance melangsungkan pernikahan di acara Grammy (yea, yea, Americans are so dramatic and that is one of the reasons why I'm writing this). Buat yang melek lagu rap, Macklemore sangat menarik perhatian peminat dunia hiphop karena:

1. Orang kulit putih pertama setelah Eminem yg dianggap punya kualitas dan bakat untuk nge-rap
2. Lagu "Same Love" yg intinya mendukung gay marriage (di dunia hiphop, gay masih dianggap tabu. Check out the song though) dan,
3. Sampai sekarang Macklemore belum tanda tangan kontrak dengan record label besar mana pun (ini ngga biasa mengingat besarnya industri musik amerika dan sudah terkenalnya Macklemore. Biasanya orang-orang kayak gini dianggap masih original dan down to earth)




Segera setelah Macklemore jadi bahan pembicaraan lanjut dan berujung dengan tingkat kepo yg tinggi dari masyarakat internasional, diubek-ubek lah timeline twitter-nya sampai 4 tahun yg lalu (or so..) dan ditemukan 1 atau 2 tweet yg isinya bernada homophobic. Heboh lah sekian orang yang dramatis. But DUDE!!!! Here's the thing, berdasarkan point nomer 2 di atas, Macklemore adalah satu-satunya (at least yg terkenal secara internasional) rapper hiphop yg terang-terangan buat satu lagu KHUSUS tentang marriage equality dan sangat vokal. Entah kenapa orang-orang ini stuck in the past dan mempermasalahkan Macklemore PERNAH homofobia.

(insert long silent of confusion and facepalm here........................................................................)

Gue pun mengeluarkan opini pribadi dong di twitter. Gue bilang SO WHAT kalau dia PERNAH homofobia. Masih banyak yang lebih parah dari itu, salah satunya adalah orang-orang yang MASIH homofobia. TERNYATA...ada satu ID twitter yg bernama homophobiaphobe (lo ngerti dong ya objektifnya akun twitter ini apa?) yang ngga setuju dengan opini gue. Katanya intinya homofobia itu SALAH banget. Jadi mau di masa lalu kek, itu sama aja dengan masih terjadi. eng ing eng..bingung dong gue...ni orang ngga ngerti suatu keadaan yang dinamakan pembelajaran diri ya...???? (Atau mungkin orang bule kagak ngerti istilah insaf dan tobat hehe)

Berhubung gue ngga suka dengan yang namanya debat kusir di twitter karena itu media yg sangat tolol untuk bertukar ide panjang lebar, gue pilih untuk mereply satu kali aja dan kalau direply dengan opini tolol lagi, gue ngga mau respon. Gue jawab kalau setiap orang bisa aja berbuat kesalahan dan sepertinya Macklemore belajar sesuatu (makanya berubah jadi suporter LGBT). Apa iya kita harus nyalahin orang terus-terusan yang udah ngga melakukan "kejahatan" lagi? eehh..jawabannya orang ini malah "Tau darimana lo dia udah belajar sesuatu?"

(insert long silent of confusion and facepalm here........................................................................)

Gue kalau udah memantapkan hati (caelah) untuk tidak menjawab, maka gue ga mau jawab reply orang ini lagi. Males bok, kebayang ngajarin anak TK belajar bahasa Prancis lewat Twitter gituh XD. Lucunya pacar gue malah panasan sama ni orang dan melanjutkan "diskusi" menggunakan akunnya sendiri. Kebodohan orang ini pun semakin terbuka. Dia bilang Macklemore mungkin saat ini jadi suporter vokal kaum LGBT, tapi menurut dia Macklemore melakukannya dengan banyak cara yang salah...

Pacar pun bertanya..."Banyak salah gimana ya...?"

homophobiaphobe menjawab: Macklemore itu cowok, kulit putih, dan hetero. Jadi dia punya banyak social privilege.

(insert long silent of confusion and facepalm here........................................................................)

TERUS APA HUBUNGANNYA SAMA CARA DIA DUKUNG LGBT, NYET? Jadi begini ya kengkawan queer dan non-queer yang baik hati dan pinter-pinter...di tumblr beberapa tahun terakhir ini banyak user yang salah asuhan. Umumnya asuhan sesama user goblok tumblr dan kitab mereka mungkin ngga jauh-jauh dari wikipedia dan social privilage diartikan serta digunakan secara bebas, sebebas-bebasnya udel bodong mereka. Menurut para salah asuhan ini, ada trait-trait manusia yang menyebabkan secara otomatis hidup mereka PALING MUDAH diantara semua bentuk manusia di dunia. Tingkat yang paling tinggi itu ya kayak Macklemore: Kulit putih, Pria, dan Hetero (+ sosial ekonomi atas). Secara otomatis pula, para user goblok ini yang sebagian besar trait-nya kebalikan dari itu langsung menghakimi dan ngga suka (bahasa sederhananya sih 'IRI' dan "Krisis PD"). Gue kayaknya ngga perlu menjelaskan kenapa cara berpikir kayak gitu cetek banget. Apa betul kalau lo cowok, kulit putih dan hetero artinya hidup lo udah pasti otomatis MUDAH? Yes, I FUCKING KNOW what social privilege is, but it's not that fucking simple. Kata kaum sosialita jakarta, "Ngga ejuketet benjet deh ni orang".

Supaya kita sepaham, definisi social privilege menurut wikipedia adalah advantages that one group accrues from society as on the disadvantages that another group experiences. Ya, gue setuju bahwa social privilege ini adalah fakta dan realita sosial. Ya, gue setuju bahwa kala lo terlahir cowok, kulit putih, hetero, dan berduit memang lo dapet privilege lebih dari yang bukan. Yang gue ngga setuju adalah sikap membenci, cepat menghakimi dan sok taunya para user goblok ini terhadap orang-orang dengan social privilege. Siapa yang tau masalah-masalah apa yang setiap individu hadapi terlepas dari warna kulit, sex, orientasi seksual dan isi kantongnya?

Kebodohan berikutnya orang ini adalah, dia menyatakan bahwa orang-orang yang punya social privilede ini ngga perlu ikut-ikutan jadi suporter kaum minoritas (LGBT) dan dia sangat menolak uluran tangan dari orang-orang seperti Macklemore. Kenapa? Mana gue tau hahaha...Intinya buat mereka yang boleh jadi aktivis dan suporter kaum LGBT itu ya hanya boleh kaum LGBT.

(insert long silent of confusion and facepalm here........................................................................)

Ironis, ID twitternya benci sama homofobia padahal yang dia lakukan PERSIS dengan sifat yang dia benci.

Dalam beberapa jam tweet Macklemore yang katanya mengindikasikan dia homofobia itu ternyata bisa dijelaskan karena dia ikut suatu event LGBT dan orang keburu main tuduh dengan arti twitter dia. Tapi sekali lagi, kalau dia PERNAH homofobia terus kenapa? Gue malah lebih suka orang-orang yang bisa merubah cara berpikir dan sikap yang salah.

Gue sih cuma bisa geremet-geremet smartphone gue, nahan diri ngga ngasih ceramah panjang lebar ke orang itu. Dasar orang gila. Dia terus-terusan usaha mention gue karena menurut dia gue salah ngerti. Serah apa kata lo deh, nyet. Gue anti orang-orang yang rasis, dongo, ngga nyadar pula. Dadaaaahhhh....


Rabu, 29 Januari 2014

Because.

Kadang sebagai gay masih ngumpet di lemari suka bingung ngadepin temen homophobic atau mereka sebenernya mereka ga homophobic tapi juga ga segitu friendly.

Pernah di situasi ngobrolin kenalan yang gay tanpa mereka tau lo juga gay?
Cara mereka ngomong kaya lagi ngomongin tikus.
"Ya gapapa si tikus ada, tapi geli"


Di tempat kerja sekarang, ditekankan semua orang sama ga memandang suku, ras, agama, gender, orientasi seksual dan bertujuan menciptakan lingkungan yang inklusif.
Ya tapi, di Indonesia sih ya, dimana secara luas gay adalah peristiwa menyimpang.

Gue suka jadinya nge-test air, nunggu mereka mau ngobrol kemana. kalo masih urusan personal si temen yang gay, ya udah gue diem aja. karena gue juga anak baru dan ga juga masih cemen untuk coming out di kantor.
Dan menurut gue kinerja  ga ada hubungannnya sama orientasi seksual gue. 
Tapi kalau sudah main generalisasi, gue gatel nyemplung. 

 "emang apa hubungannya dengan dia gay?"
dan jawaban yang gue terima adalah suara angin dari AC. 

Mereka kaum berpendidikan dan pintar ini sebenarnya tahu bahwa perilaku gay ga melulu berkaitan dengan personalitynya.
Tapi karena masih "nganggep" gay itu kaya tikus jadinya ga dianggep manusia  yang mana, ga ada manusia yang identik satu sama lain.

I am sloppy not because I am gay. It is because I am, ME




Jumat, 17 Januari 2014

PENGHAKIMAN *judul ini nipu, sumpah*

Otak gue jarang dipake kerja kali ya, jadi ini gue lagi agak-agak puyeng mikirin facebook.
hihi. Iya. Facebook.
Gara-gara artikel ini , penulisnya menceritakan tentang teman sekolahnya yang sekarang  temenan di Facebook 

Si Paula, teman yang diceritakan ini adalah tipe yang ngumbar segala macem hidupnya di FB. Dan si penulis Madeline Grimes yang sebenarnya juga emang ga deket pas sekolah pun cuma jadi pengamat saja. Madeline menceritakan tentang Paula post di FB nyeritain suaminya yang di penjara, kehamilannya, ataupun nanya waktu anaknya sakit perlu dibawa ke RS ga atau adakah yang tau soal penyakit X, Madeline bilang dia ngerasa ga enak buat komen, karena rasanya agak ga sopan untuk tiba-tiba SKSD ngasih saran atau respons

Well, gue sepaham dengan yang dirasain Madeline, bawaan  nyinyir gue ngangguk-ngangguk setuju. Di sisi lain, gue juga Madeline agak keji, kaya ngomongin orang susah di belakang dan ga melakukan apa-apa. TAPI. Itu juga yang gue lakuin. Kadang gue lebih kejam malah, orang curhat gue jadiin bahan blog. Itu kan Madeline ga dicurhatin, cuma lihat, nah gue, udah orang curhat malah dibahas di khalayak ramai. hihi

Back to FB, Gue ga aktif di FB, login cuma buat maen game, itu juga kalo bosen nunggu updatean CCS di android. But then, tiap kali gue login, gue akan mengembara ngeklik post temen-temen (?) gue, sodara-sodara gue, komentar di belakang kepala gue.
NGETAWAIN usaha mereka buat bikin image tentang diri mereka (makan di: liburan di:, menikah di:, bla-bla-bla-yada-yada) , NGETAWAIN doa-doa mereka. NYINYIRIN foto-foto  ga lucu anak atau keluarga mereka.
Kadang gue dengan sembrono akan ngerasa superior baca postingan mereka bagaimana buat  gue  mereka  udah jadi pelacur jempol.  (Sampai sekarang ga habis pikir ada yang ngasih jempol ke postnya sendiri).  Dan reaksi gue ya sejauh Madeline, ga cukup berani untuk nyinyir frontal ataupun unfriend kalau emang ga suka. 

Kenapa gue sampai niat buat jadiin tulisan di Salon.com karena gue ngerasa lucu, pas gue baca di kolom komen, banyak yang nyinyir ngomelin Madeline karena dianggap songong, egonya gede ngomentarin orang tapi ga bantuin dan teganya bilang kalau "penderitaan" Paula menjadikan hidupnya kelihatan lebih mudah.  

Buat gue baik tulisan ataupun komen atas tulisan Madeline itu brutal. Menunjukan sisi  gelap egonya manusia. Cela-cela'an atas nama kelayakan. Madeline "menghakimi" Paula karena Paula mengais perhatian dengan segala postingan "menyedihkan" di FB dan Madeline "dihakimi" oleh komentatornya karena menjadi schadenfreude - berbahagia di atas penderitaan orang

Yah. Siapa yang ga pernah, walaupun ga secara literal bahagia, tapi kalo ngeliat orang susah kita bilang "untung gue........"

Who am I to judge?
But, yeah. I'll keep yapping. And please feel free to give your (silent) comments.

Kamis, 28 November 2013

"Ni santas, ni putas, solo mujeres"

(Neither saints nor whores, only women)

Gue ga ada niat sebetulnya ngeblog, niatnya kerja di kantor ini mah. hihi. Tapi tadi iseng-iseng ngedit image amatiran dan nemu gambar ini lagi dan memutuskan untuk membaginya, sama kalian, wahai teman-teman.

Gue lupa nemu image ini dimana, tapi pas ngeliat langsung gue save,
jadi credit belongs to the photo owner. The message is so strong for me.

Apa yang di kepala lo pas baca tag line and foto itu?
Kebebasan? Pengakuan? Kebanggaan? Percaya diri? 
 
Dari jaman gue baru lahir sampai sekarang, isu emansipasi wanita sudah menemukan ruhnya, hidup.Mungkin dari jaman Ibu Kartini (idolakuu) atau Cleopatra bahkan. 

Tadi pagi, di motor gue mikir, di dunia yang sangat modern ini, kita sebagai bagian dari peradaban yang sangat sangat maju kok masih ada aja yang memutuskan untuk ngurusin hal-hal primitif.
Itu terpicu dari kemarin baca tulisan soal perlakuan diskriminatif LGBT di Rusia. 
Disana kayanya parah banget, Ngomongin doang bisa ditangkap.
Defensif amat sih pada manusia ini.

Terus gue jadi mikir lagi, jangankan soal LGBT yang udah punya natural haters (hihi), jadi perempuan aja di sebagian dunia masih diperlakukan sebagai kaum difabel.

dari Wikipedia:

Disabilitas adalah istilah yang meliputi gangguan, keterbatasan aktivitas, dan pembatasan partisipasi. Gangguan adalah sebuah masalah pada fungsi tubuh atau strukturnya; suatu pembatasan kegiatan adalah kesulitan yang dihadapi oleh individu dalam melaksanakan tugas atau tindakan, sedangkan pembatasan partisipasi merupakan masalah yang dialami oleh individu dalam keterlibatan dalam situasi kehidupan. Jadi disabilitas adalah sebuah fenomena kompleks, yang mencerminkan interaksi antara ciri dari tubuh seseorang dan ciri dari masyarakat tempat dia tinggal.

Disabilitas atau Cacat (bahasa Inggrisdisability) dapat bersifat fisik, kognitif, mental, sensorik, emosional, perkembangan atau beberapa kombinasi dari ini.

Kenapa gue bilang difabel? Ya kalau KARENA lo perempuan lo dibatasi berpartisipasi di masyarakat (ga boleh nyetir, ga boleh keluar sendiri, ga boleh ikut pemilu, ga boleh orgasme - karena alat kelamin disunat, ga boleh kerja, ga boleh pake rok, ga boleh pake celana panjang, dll) , GENDER lo menjadi batasan, jadi cacat lo.

Kok sedih amat ya, padahal kita mahluk ciptaan Tuhan itu kalo lo ga atheis. 

Jadi perempuan aja susah, ditambah lagi lesbian. hihi. 
Lo mau gimana sekarang? Kalau gue mau mensyukuri, gue di Indonesia, keluarga, teman-teman dan lingkungan masih menerima "keperempuanan" gue.
Gender gue bukan cacat, bukan stigma negatif.

I am accepting. I, Woman.










Rabu, 30 Oktober 2013

Banteng inside me.

Gue mau sharing, etapi ya sebenernya ini postingan buka aib ya. hihi
Ini lagi-lagi tentang trait negatif gue.
Kalau dulu, gue bisa ngeklaim gue adalah manusia yang tenang, bijaksana, sabar dan tabah menjalani hidup. 
Ni ya,  dulu gue kalau marah akan diem . Menenangkan diri. Kemudian mencari solusi, kenapa gue marah dan bagaimana supaya ga marah dan terulang lagi.
Sekarang. 
Please jangan tanya. Jangan. Ntar gue marah.
Maksa banget sih lo?! mau tau banget?! HA!!

Ya kurang lebih gitu, sumbu si dari dulu emang pendek tapi outburstnya beda.
Mungkin karena umur gue nambah banyak, jadi makin ga takut sama orang. hihi. (bisa lho ini)

Gue dulu (sampai sekarang) nganggep orang marah-marah ga kontrol seperti teriak-teriak, banting-banting itu memalukan. SANGAT MEMALUKAN.
Makanya (dulu) sehebat apapun marah gue, kalau cewe-cewek pada naikin suara melengking, gue justru akan merendahkan suara gue dan menjadi tenang dan dingin. 
Datar dengan pandangan mata melecehkan. Nangkep kan. 
Jenis marahnya psikopat. haha. (ngarang sok teu)

Dulu gue mutusin salah satu mantan karena dia bikin gue marah dengan kategori ga kontrol. Gue meninggikan suara. Di depan umum.
Di parkiran yang sebenernya sepi. Tapi buat gue itu udah engga banget.
Gue ga punya toleransi berarti sampai gue ga bisa ngontrol diri.

*kenapa gue terlihat sangat uptight yak*

lanjut.
Hubungan gue kelar. 
Terus beberapa tahun belakangan ini kondisi mental gue memburuk. Mood swings parah. Katub emosi bocor. 
Ya salah satunya di bagian marah-marah itu.
Di satu peristiwa jahanam, gue mengalami frantic histeria (ini istilah gue buat sendiri. Jangan protes, nanti gue marah)
Keluar deh tu banting-banting barang. Badan gemetar tapi bukan karena meriang. Tangan mengepal. Aku mengHULK. 
Agak lama buat ditenangin.
Itu batasan paling mengerikan gue marah.
Trauma dan kapok. Sekarang kalau inget masih lemes - gemeter dan malu.
Ya udah lah ya, gue bilang ke diri gue sendiri.
Ngalamin juga kan lo marah-marah kaya orang gila.

Makin kesini, makin better, thanks untuk support dari orang-orang tersayang.
Gue pikiiiiir, peristiwa jahanam itu adalah satu-satunya emosi negatif paling mengerikan yang akan gue alami. 

Ternyata tidak, Jose.
Kalaupun peristiwa ini tidak mengerikan  ini menggelikan.

Aku marah-marah sama tukang rujak.
He eh. Tukang rujak.

wkekekekeke.

Jadi ceritanya gue baru pindah kerja, adaptasi dan setelah 2 tahun di kantor lama gue berasa liburan, sekarang baru berasa kerja. hihi.
Hari itu capek deh pokoknya.
Emosyong.

Eh gue tanya dulu ya, rujak abang-abang daerah lo berapaan?
Di Jakarta udah Rp 10rb'an. Itu juga masih kaget-kaget kita. Giling. Dulu sepuluh ribu udah bisa buat arisan rujaknya.

Nah sore itu. pulang kerja, gue dititipin C (my gf) beli rujak. 
Biasanya deket Alfamart seberang kost ada. eh ternyata tutup. Berhubung akika udah berjanji, muter dulu lah gue.
Dapat. Di depan satu warung sunda-sundaan. Ada gerobak rujak buah potong tapi kayanya buahnya ga lengkap. Nanya C, katanya ga papa. Ya udah.
Gue ga turun dari motor.  Cuma teriak "bang. Satu!" sambil mengangsurkan lembaran lima puluh ribuan.
Sambil tetap nangkring aku menanti, helm tetap dipakai.

Tak lama berselang, setelah si abang melakukan transaksi tukar menukar pecahan uang dengan abang tukang rujak ulek datanglah dia ke gue.
Membawa rujak dan kembalian.

Rujak yang tiny winny bity dan uang tiga puluh lima ribu.

THE FOG!
Gue mendidih seketika. RUJAK LIMA BELAS RIBU! DI ABANG-ABANG!

Suara gue melaki-laki "ABANG!!! yang bener jualan lo! gila lo ya ngasih harga!! rujak lima belas ribu!!mana ada!!!!! GILA LO!!"

Abangnya jiper. dia hadap kanan, uwek-uwek tangannya sendiri.
"tapi biasanya juga segitu..mba"

Gue melotot , otak lagi mikir. ini mau lempar helm apa tebalik-tebalikin gerobak. 

Kalau bisa gue jabarkan kondisi fisik gue adalah : 

Mata memerah, nafas memburu, dada naik turun, hidung kembang kempis.
kaya pelem-pelem kacangan, dimana si jagoan marah karena tunangannya diperkosa tentara penjajah.
hahaaha

Bagusnya gue adalah seringnya di situasi apapun, masih ada yang bisa gue ketawain.
Gue sadar gue lagi lebay marahnya. itu ga bisa gue kontrol.
Tapi sisi badut juga lagi cekakan menyadari gue lagi ajaib dan menyuruh gue cabut dari abang rujak.

Sampai kost, buka pintu.
C kaget ngeliat gue. Mendengus-dengus, idung kembang kempis, pundak naik turun terus nyerocos soal abang rujak

Gue diketawain, 
Gue sambil marah jadi ketawa juga.
"Kamu kaya banteng"

hahahhaa.
Pernah ga lo jadi banteng?




Jumat, 20 September 2013

suatu sore

Semalem gue ketabok lagi, paling ngga di kepala gue sendiri.

Gue sadar banget, gue itu kritis. (hah!) Sangat peka &  kritis malah, kalau di bikin skala, udah di ambang batas toleransi manusia.

 Bagus dong? Doh Sama sekali engga!

 "Pola kritis" gue ga bikin orang maju, karena pola pikir "peka , kritis dan kreatif"  gue terjadi dengan berbagai kondisi,  syarat utamanya adalah KRITIS "hanya" buat orang lain dan secara negative.

 Maksud gue, gue pinter banget kalau disuruh nyari kesalahan orang dan nyela, gue mampu secara sadar nyerang secara verbal, mengena, tepat menusuk di jantung korban. (kalau dia dengar)

Ataupun cuma "sekedar" bikin list dosa orang dalem hati dan otak dan nyela abis-abisan. (Alasan utama mungkin karena gue ga kenal ama korban secara personal, ini juga karena gue cemen kali ya…Kalo nyela di otak, ga akan dapet perlawanan)

 Eh, tapi biar gitu , tiap kali gue mengkritisi orang , gue ga cuma ngejudge, gue  juga bisa bikin pledoi kalo gue ntar di serang balik. Huh.

 Yang sering gue cela secara ga sadar, hal-hal kecil kaya "manner" orang yang ga bener menurut kaca mata gue. Kaya, buang sampah sembarangan, ngeludah sembarangan, makan sambil bunyi, bersendawa abis makan, ga ngasih duduk orang lebih tua, anak kecil, ibu-ibu hamil. Gue selalu nganggep "secara sepihak" orang – orang ini ga manner, tidak berperasaan, tidak berbudaya (berlebih ga gue?)

Then, voila, I am part of them. Bagian dari kaum marjinal tak berbudaya di kepala gue.

 Jadi ceritanya, gue adalah pengguna trans Jakarta di sore hari, lo tau sendiri deh, kalau di terminal-terminal transit, orang banyak banget yang berjubel. Apalagi musim ujan begini, semua orang buru-buru mau kabur-kaburan. Sore itu, gue ama temen gue mau menuju Plangi, naik dari Harmoni, kebetulan kita dapet tebengen ampe situ.

 As usual, Jakarta sore itu abis diguyur ujan deres, gue berdua menggigil dan pengen banget buru-buru masuk Trans. Sambil berebutan masuk, mata nyalang nyari duduk. Temen gue dapet duluan, so gue berdiri aja dulu. Agak-agak lepek thu. Dingin pula. Brr.

Sampai Bunderan HI ada yang turun, gue secara refleks langsung sigap duduk, gue bersaing ama perempuan lain.Dan yang di kepala, horre duluan gue!! Gue duduk di sebelah mbak-mbak yang menatap ke perempuan 'saingan' gue itu. Mba sebelah gue nanya ke perempuan itu " hamil?" terus dia berdiri ngasih duduk "perempuan saingan" gue itu. She sits next to me. Ternyata dia emang hamil gedhe.

Oh GOD. Gue ngerasa nista banget, apalagi dapet tatapan "ccck..cck. keterlaluan lo" dari ex sebelah gue.Gue pengen ngebela diri " gue ga tau kalo dia hamil…sumpah, gue ga sekeji itu kok…", tapi ga mungkin kan. Once its stated, its stated. Apalagi from a stranger.

hhh…gue malu banget, ketabok dua kali rasanya,

1st, gue ga ngasih duduk orang hamil, pride gue remuk, gue ngelakuin hal yang dilakuin orang-orang tercela…

 2nd gue diingetin kalo otak ama mulut gue yang sering tajem banget nyela kelakuan orang lain tanpa mau tau kenapa orang mungkin bisa ngelakuin itu. (kasus gue, gue pasti akan berbuat yang sama kaya Mba "ex" sebelah gue, gue akan menatap keji si pelaku tindakan amoral itu, tanpa mau tau, kalo mungkin si pelaku ga tau kalo korbannya lagi hamil)

Another lesson for me. Belajar antri mikir, diurutin, liat situasi, mikir yang bener dan secara positif, baru deh boleh komentar.

Kamis, 19 September 2013

Kepada hujan

Aku suka hujan

Kecuali di pagi di hari kerja

Aku suka hujan

Jika aku tidak harus pergi keluar rumah dan terpaksa berteman dengannya. Basah.

Aku suka hujan

Hanya jika ia tidak mengubah supir roda empat jadi setan, seenaknya memandikan mereka yang terpaksa berteman dengannya dengan air lumpur dari aspal. Setan.

Aku suka hujan

Jika ada tempat empuk untuk meringkuk, makanan- minuman hangat, tubuh untuk dipeluk tanpa harus ribut mencari ember menampung bocor. Atau berburu jemuran di tali lapuk.

Aku suka hujan, waktu aku masih bisa berlari memakai kaus dalam dan kancut di tengah hujan dan keramas di pancuran talang rumah.

 

13Feb08