Laman

Rabu, 07 Oktober 2009

Terima kasih seribu

Familiar dengan ini? Menahan diri untuk merasakan kebahagiaan, tapi menikmati saat kejatuhan. Standard manusia banget sih. People tend to set for the highest standards for their happiness, tapi setiap hal kecil yang tidak sesuai keinginan mereka bisa breakdown habis-habisan.

Dari hampir 28 hidup gue, gue seringnya mandang hidup gue di versi gloomy, model film perang tahun 20’an. Mungkin juga pengaruh orang-orang sekitar gue yang sama caranya mandang hidup, jadi terkondisikan begitu. Kumpul keluarga jadi ajang complain,sirik-sirikan, saling ngeluh, instead bersyukur masih ada yang bertalian darah ama kita. Lupa ama orang-orang di pinggir jalan. Anak-anak yatim piatu.

Seharusnya gue punya banyak alasan buat bahagia, gue ga cacat, fisik ataupun mental, sehat – ga pernah sakit yang mengharuskan gue nginep di rumah sakit, gue ga pernah kelaparan, kehausan, bukan korban perang, bukan korban bencana alam, bukan yatim piatu, punya banyak saudara, ga pernah jadi gelandangan, gue punya kerjaan, punya baju, punya segala fasilitas yang sebenarnya ga perlu untuk sekedar bertahan hidup (emang perlu high-heels, hape, internet buat sekedar hidup?), keluarga gue utuh walaupun ga gitu rukun , thu kan pake kata sanggahan, ga bisa berhenti di kalimat positif: Keluarga gue utuh. Perlu ditekanin, tapi ga sebahagia itu….arrrrrgh. Parah gue. Gue sekolah, kuliah, sarjana, punya pacar, punya mantan, bisa mikir, punya koleksi buku, punya teman-teman, masih punya cita-cita. Gue seharusnya bahagia. Harus bahagia dengan semua yang gue punya.

Tapi, coba deh kalau gue disuruh complain atau menceritakan penderitaan gue, wuih, gue bisa drama berderai-derai air mata ceritanya, setiap cerita yang bahagia yang keluar dari mulut selalu dibumbui dengan “tapi….”, “walaupun…”….Hhh, gue jadi bingung, sebenarnya gue benar-benar merasakan itu semua atau gue sekedar cari perhatian, cari dukungan? The more the merrier? Mengajak orang untuk mengasihani gue?

Why I can not be happy just because?

Why do I need tons of reasons to smile and appreciate things in my life?

Why every bad thing that happened in my life affected me that much?

Saat gue nulis ini semua, gue masih sehat, semua utuh dengan kondisi di atas dan seharusnya gue bahagia. Hal buruk yang terjadi dan udah gue lewati dengan selamat, harusnya jadi tonggak rasa bersyukur dan penyebab kebahagiaan gue.

Kalau Tuhan mau, sedetik lagi gue bisa saja jatuh dari kursi, breaking my back bone dan selamanya cacat. Dan gue pasti ngarep kembali ke detik sebelumnya. Gue pasti mikir,gue nyesel pernah complain dan gue ikhlas nerima semua hal buruk yang udah terjadi asal gue ‘normal’ lagi. Cck. Cck.Ccck.

Gue butuh pengakuan dosa tampaknya. Mulai pening euy. Maaf Tuhan.

Terima kasih seribu pada Yesus Tuhanku, aku bahagia karena dicinta, terima kasih.

*semoga lagu ini akan jadi lagu syukur gue yang ga cuma sekedar lip service. Tolong selalu diingatin ya Tuhan*

Pacar, makasih yaaaa. Aku bahagia punya kamu.

3 komentar:

Mithya mengatakan...

Hal-hal kaya gini yang harus diinget setiap saat kita merasa jatuh...

You're welcome...sayang kamu juga =)

blackgoat mengatakan...

uhwaaaaw...tiba tiba merasa sangat kecil..meskipun emang mini size,ckckckck..ampun tuhan..dan makasih atas semua pemberianmuuuu,amiiin,sering lupa bilang gitu,hehehehehe,terima kasih sudah mengingatkan bulusssh

Lushka mengatakan...

@D, thanks
@Mithya, iya sayang...terima kasih
@dek maul....semangat!